Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Selasa, 16 Desember 2025

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 01: Sebuah Pengantar

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Mahasiswa, sistem politik, dan negara adalah tiga hal yang berbeda. Mahasiswa adalah kelompok anak muda terpelajar yang berkesempatan kuliah di perguruan tinggi. Di dunia ini muncul etos dan pola hubungan sosial yang khas.

Sistem politik berbeda lagi. Ia adalah aturan dan mekanisme yang mengatur interaksi kekuasaan, aktor politik, kelompok masyarakat, serta lembaga-lembaga resmi maupun tidak resmi dalam kehidupan berbangsa.

Sementara itu, negara adalah lembaga tertinggi yang berdiri di tengah masyarakat. Negara memiliki kewenangan sah dari masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan bersama. Karena itu, negara bersifat paling otonom, terutama dalam mewakili masyarakat saat berhubungan dengan negara lain.

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Identitas Buku

  • Judul Buku: Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara
  • Pengarang: Fachry Ali
  • Penerbit: Inti Sarana Aksara
  • Tanggal Terbit: 1985
  • ISBN: -
  • Tebal Halaman: xvi+156
  • Lebar:
  • Panjang:


MAHASISWA, SISTEM POLITIK DI INDONESIA DAN NEGARA

oleh Fachry Ali

Desain sampul oleh Rony Kaloke

Penata Letak oleh Sarwoko

Jakarta, 1985—Cetakan Pertama


Daftar Isi "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Sekapur Sirih (vii)

Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara

  • Sebuah Pengantar (ix)

Bagian Pertama: Gerakan Mahasiswa, Politik dan Pendidikan

  • Politik dan Gerakan Mahasiswa: Suatu Tinjauan Sejarah (3)
  • Membentuk Kesadaran Eksistensial Pemuda dan Mahasiswa (31)
  • Sistem Pendidikan Indonesia dalam Kaitan Global (39)

Bagian Kedua: Pembangunan dan Sistem Politik

  • Dilema dan Pilihan-pilihan dalam Pembangunan (79)
  • Pembangunan, Politik dan Alienasi di Indonesia (93)
  • Sistem Politik dan Dunia Kepartaian di Indonesia (111)

Bagian Ketiga: Posisi Negara dan Proses Pembentukan Sosial

  • Pengantar tentang "Kapitalisme Pinggiran" (127)
  • Negara dan Bentuk-bentuk Formasi Sosial di Indonesia (137)

Riwayat Hidup


SEKAPUR SIRIH

Hal yang paling pantas diberikan pada buku ini adalah kritik. Buku ini mencoba membahas isu-isu penting yang sering dianggap krusial: gerakan politik mahasiswa, pendidikan, sistem politik, negara, dan proses pembentukan sosial. Karena itu, buku ini lebih tepat dipandang sebagai pengantar untuk membuka diskusi umum dengan pembaca yang luas. Harapannya, dari sini bisa muncul perdebatan sehat di kalangan mahasiswa maupun masyarakat, sesuatu yang selama ini kita rindukan.

Isi buku ini berasal dari beberapa makalah yang pernah disampaikan dalam forum diskusi, namun belum pernah dipublikasikan secara luas, hanya di kalangan terbatas. Meski dibuat terpisah, karena dilandasi kesadaran yang sama, pembahasan-pembahasan di dalamnya tetap konsisten.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Inti Sarana Aksara yang telah bekerja sama menerbitkan buku ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.


Jakarta, 7 Juni 1985

Fachry Ali


MAHASISWA, SISTEM POLITIK INDONESIA DAN NEGARA

Sebuah Pengantar

Mahasiswa, sistem politik, dan negara adalah tiga hal yang berbeda. Mahasiswa adalah kelompok anak muda terpelajar yang berkesempatan kuliah di perguruan tinggi. Di dunia ini muncul etos dan pola hubungan sosial yang khas.

Sistem politik berbeda lagi. Ia adalah aturan dan mekanisme yang mengatur interaksi kekuasaan, aktor politik, kelompok masyarakat, serta lembaga-lembaga resmi maupun tidak resmi dalam kehidupan berbangsa.

Sementara itu, negara adalah lembaga tertinggi (supra-institusi) yang berdiri di tengah masyarakat. Negara memiliki kewenangan sah dari masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan bersama. Karena itu, negara bersifat paling otonom, terutama dalam mewakili masyarakat saat berhubungan dengan negara lain.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara", Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985, hlm. ix.

Kalau mahasiswa, sistem politik, dan negara dilihat hanya sebagai hal yang terpisah, maka kita tidak akan bisa menjelaskan naik turunnya gerakan mahasiswa, perubahan politik, dan perkembangan suatu negara, terutama di negara-negara Dunia Ketiga.

Gerakan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh sistem politik. Jika sistem politik longgar, gerakan mahasiswa, khususnya politik, akan lebih berkembang. Sebaliknya, jika sistem politik ketat, gerakan mahasiswa cenderung melemah. Jadi, hubungan mahasiswa dan sistem politik sangat erat.

Namun, sistem politik sendiri ditentukan oleh karakter negara. Dalam masyarakat pluralis, negara dianggap terbuka sehingga semua orang bisa masuk dalam arena kekuasaan. Karena itu, negara tidak terlalu dominan dan biasanya sistem demokrasi liberal berkembang, membuat gerakan mahasiswa lebih bebas.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. x.

Sebaliknya, dalam masyarakat integralis (umumnya negara baru merdeka), negara sangat dominan dan menguasai hampir semua proses politik. Akibatnya, lembaga-lembaga resmi seperti DPR, MPR, pers, atau partai politik tidak berfungsi maksimal. Negara mengambil alih peran mereka, sehingga kekuatan negara jauh lebih besar daripada kekuatan masyarakat. Kondisi ini membuat sistem politik menjadi ketat—lebih menekankan aturan yang kaku daripada proses dan refleksi politik dari masyarakat.

Dengan demikian, penekanan berlebihan pada aturan politik yang kaku—dalam konteks Indonesia dikenal sebagai "stabilitas politik dan keamanan"—membatasi ruang bagi perkembangan politik yang sehat. Akibatnya, sistem politik gagal menjadi reflektif, malah cenderung integralis, yaitu menyatukan dan menyeragamkan semua unsur masyarakat di bawah kendali negara. Dalam sistem seperti ini, negara memegang kekuasaan paling besar.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xi.

Dampaknya, gerakan rakyat, kelompok masyarakat, maupun kekuatan di luar negara jadi mandek. Mereka tidak mampu menyampaikan aspirasi politiknya untuk memengaruhi keputusan di tingkat nasional. Dengan kata lain, kekuatan non-negara hanya jadi kekuatan pinggiran.

Salah satunya adalah mahasiswa. Gerakan mahasiswa biasanya bangkit ketika negara sedang lemah. Misalnya pada 1965–1968, saat negara goyah. Walau sistem politik sudah cukup ketat, masih ada ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Kondisi itu semakin terbuka karena militer Angkatan Darat—setelah jatuhnya Soekarno dan PKI—menginginkan perubahan politik. Kehendak militer ini sejalan dengan aspirasi teknokrat dan mahasiswa. Karena itu, gerakan mahasiswa saat itu mendapat dukungan, baik terbuka maupun terselubung, dari Angkatan Darat.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xii.

Setelah runtuhnya Orde Lama dan lahirnya Orde Baru, negara menjadi semakin kuat. Hal ini karena kebijakan utama yang dijalankan adalah politik pembangunan, yaitu pengumpulan kekuasaan ekonomi, politik, dan pertahanan di tangan negara. Logikanya, pada masa Orde Lama pembangunan gagal, terlihat dari kemiskinan massal di kota dan desa, hancurnya infrastruktur ekonomi, utang yang menumpuk, serta rusaknya sarana transportasi, komunikasi, dan modernisasi.

Penyebab utama kegagalan itu adalah lemahnya negara di hadapan masyarakat. Banyak partai politik dengan kepentingan berbeda, konflik politik tinggi di kota dan desa, serta birokrasi yang tidak berjalan karena birokrat lebih mementingkan partainya masing-masing. Inilah yang membuat pembangunan tidak bisa terlaksana.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xiii.

Belajar dari kegagalan Orde Lama, Orde Baru membangun kekuatan negara untuk melaksanakan "pembangunan". Namun, kekuatan itu tidak didukung oleh massa rakyat, melainkan oleh aktor-aktor internasional. Dari mereka, negara mendapat modal, keahlian, keterampilan, dan teknologi yang dibutuhkan. Dengan bantuan itu, negara memperkuat legitimasi dan kekuasaan politik-ekonominya di dalam negeri.

Artinya, pembangunan Orde Baru sebenarnya lahir dari kerja sama antara negara dan kekuatan internasional, bukan dari hubungan negara dengan masyarakat. Untuk menjalankan pembangunan, Orde Baru menciptakan sistem politik integralis yang menekankan aturan-aturan ketat demi terciptanya stabilitas politik dan keamanan. Stabilitas inilah yang dianggap syarat utama bagi pembangunan.

Perkembangan politik Orde Baru membuat negara menjadi sangat kuat dan mendominasi semua kekuatan masyarakat. Sebaliknya, kekuatan masyarakat makin lama makin melemah. Negara masuk ke berbagai lembaga, mulai dari partai politik dan Golkar, organisasi sosial dan keagamaan, organisasi profesi dan pemuda, hingga ke kampus dan universitas. Akibatnya, peran politik mahasiswa semakin menyusut di bawah bayang-bayang kuatnya negara.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xiv.

Namun, kondisi ini tidak serta-merta harus dipandang negatif. Pertanyaannya, jika Orde Lama tetap bertahan, apakah hasilnya akan lebih baik daripada Orde Baru? Tidak ada yang bisa menjamin. Karena itu, perkembangan Orde Baru perlu dipahami secara jernih dan objektif. Apalagi, dalam banyak hal, Orde Baru menghasilkan pencapaian yang cukup mengesankan, terutama bagi kelompok menengah kota yang berkembang pesat pada masa itu.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xv.

Pembahasan dalam buku ini ingin melihat gerakan mahasiswa, pendidikan, sistem politik, proses sosial, dan peran negara dari sudut pandang rakyat biasa. Karena itu, analisis yang muncul juga lebih bersifat kerakyatan, bukan resmi atau akademis. Bisa dibilang, isi buku ini merefleksikan rasa kehilangan terhadap peran kekuatan non-negara yang semakin hilang di masa Orde Baru. Jadi, kalau ada kritik terhadap sistem politik dan negara, itu hanyalah bentuk tanggung jawab seorang rakyat kepada masyarakat, negara, dan bangsa.

Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Pertama, Gerakan Mahasiswa, Politik, dan Pendidikan. Kedua, Pembangunan dan Sistem Politik. Ketiga, Posisi Negara dan Proses Pembentukan Sosial. Ketiga bagian ini saling terkait: gerakan mahasiswa dipengaruhi oleh sistem politik, sistem politik dipengaruhi oleh corak negara, dan perkembangan negara pada akhirnya membentuk proses sosial yang juga memengaruhi gerakan mahasiswa. Jadi, isi buku ini lebih sebagai refleksi deskriptif untuk menyadarkan kita akan dinamika yang terus berlangsung.

Harapannya, refleksi ini bisa memberi manfaat sekaligus bahan kritik. Dan tentu saja, kritik itulah yang sangat ditunggu.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xvi.


Daftar Isi:

  1. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 1: Sebuah Pengantar
  2. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 2: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search