Sudah lama Simone ragu menulis tentang perempuan, karena topik ini sangat sensitif. Perdebatan soal feminisme sudah banyak terjadi, tapi sedikit yang benar-benar menyelesaikan masalah perempuan. Pertanyaannya: apakah memang ada masalah? Kalau ada, masalah apa, dan apakah semua perempuan mengalaminya?
Ada yang beranggapan perempuan selalu tetap sama, ada yang bilang perempuan sekarang kehilangan arah. Bahkan ada yang mempertanyakan: apa sebenarnya perempuan itu?
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan Perempuan", Yogyakarta: Narasi & Pustaka Promothea, 2016, hlm. iii.
Identitas Buku
- Judul Buku: "Second Sex: Kehidupan Perempuan"
- Pengarang: Simone de Beauvoir
- Penerbit: Narasi & Pustaka Promothea, Yogyakarta
- Terbit: 2016
- ISBN: (10) 979-168-474-x | (13) 978-979-168-474-3
- Tebal Halaman: xxx+658
- Lebar: 16 cm
- Panjang: 24 cm
Diterjemahkan dari The Second Sex, Book Two: Women's Life Today
Terbitan: Vintage, New York, 1989
SECOND SEX: KEHIDUPAN PEREMPUAN
oleh Simone de Beauvoir
Diterjemahkan oleh Toni B. Febrianto, Nuraini Juliastuti
Disunting oleh Toni Setiawan, Nuraini Juliastuti
Desain Cover oleh Buldanul Khuri
Foto Sampul: Icons of The 20th Century, Konemann, Cologne, 1999
Cetakan Pertama, 2016
Daftar Isi "Second Sex: Kehidupan Perempuan"
Pengantar (iii)
Bagian I. Tahun-Tahun Pertumbuhan (1)
- Masa Kecil (3)
- Gadis Muda (85)
- Inisiasi Seksual (143)
- Lesbian (189)
Bagian II. Situasi (219)
- Perempuan Menikah (221)
- Sang Ibu (301)
- Kehidupan Sosial (359)
- Pelacur dan Hetaira (397)
- Dari Usia Matang sampai Usia Lanjut (425)
- Situasi dan Karakter Perempuan (455)
Bagian III. Justifikasi (501)
- Narsisis (503)
- Perempuan dalam Cinta (521)
- Mistik (559)
Bagian IV. Menuju Pembebasan (573)
- Perempuan Bebas (575)
Kesimpulan (623)
Indeks (647)
Pengantar
Dulu orang sering berpikir bahwa perempuan itu identik dengan rahim, jadi seluruh jati dirinya ditentukan oleh fungsi biologisnya. Tapi pandangan itu dianggap terlalu sempit. Sifat atau "femininitas" perempuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan sejak lahir dan tetap selamanya. Menurut ilmu pengetahuan modern, sifat perempuan terbentuk dari pengalaman hidup, lingkungan, pendidikan, dan budaya—bukan hanya dari tubuh atau biologinya.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. iv.
Kalau begitu, apakah femininitas benar-benar ada? Atau hanya konstruksi kata dan imajinasi budaya? Pertanyaan inilah yang terus menjadi perdebatan: apa arti menjadi perempuan sebenarnya?
Di Amerika, banyak orang mulai menolak pandangan lama tentang perempuan. Kalau ada yang masih terlalu menekankan identitas “perempuan”, sering dianggap aneh atau disuruh ke psikoanalis—untuk menyingkirkan obsesi itu. Dorothy Parker—dalam "Modern Women: The Lost Sex"—menegaskan bahwa perempuan seharusnya dipandang sama seperti laki-laki, yaitu sebagai manusia. Tapi kenyataannya, perbedaan laki-laki dan perempuan tetap ada, meski mungkin hanya bersifat sementara dan dangkal.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. v.
Masalahnya, menjadi perempuan tidak bisa dijelaskan hanya lewat fungsi biologis atau mitos femininitas*. Kita harus tetap bertanya: apa sebenarnya perempuan itu? Pertanyaan ini penting karena, berbeda dengan laki-laki yang bisa langsung dianggap sebagai “manusia” tanpa menyebut jenis kelaminnya, perempuan selalu dipandang sebagai “yang lain.”
*Mitos feminitas adalah cara laki-laki (dan masyarakat) menciptakan “citra ideal” perempuan. Akibatnya, perempuan terjebak untuk hidup sesuai harapan orang lain, bukan sesuai pilihan dirinya sendiri.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. vi.
Masyarakat sering menjadikan laki-laki sebagai ukuran “manusia normal,” sedangkan perempuan hanya dilihat dari sisi biologisnya. Karena itu laki-laki dianggap wajar, netral, dan benar, sementara perempuan dipandang subyektif, terbatas, emosional, dan sering dianggap salah.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. vi-vii.
Sejak dulu, banyak tokoh besar memandang perempuan sebagai makhluk “kurang sempurna.” Aristoteles menyebut perempuan sebagai hasil ketidaksempurnaan alam. St. Thomas menyebut perempuan sebagai “laki-laki yang gagal” atau makhluk yang tercipta secara kebetulan. Dalam Kitab Kejadian, Hawa bahkan digambarkan diciptakan dari tulang rusuk Adam.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. vii.
Akibatnya, kemanusiaan selalu diidentikkan dengan laki-laki. Laki-laki mendefinisikan perempuan bukan sebagai dirinya sendiri, tapi hanya sebagai pendamping laki-laki. Michelet menyebut perempuan sebagai makhluk “relatif.” Benda—seorang tokoh publik—menulis bahwa laki-laki bisa memahami dirinya tanpa perempuan, tapi perempuan tidak bisa memahami dirinya tanpa laki-laki. Perempuan dianggap hanya “seks,” selalu didefinisikan lewat laki-laki, bukan sebaliknya. Maka laki-laki dipandang sebagai subjek utama, sementara perempuan hanya “yang lain.”*
*E. Lévinas dalam esainya Temps et l'Autre menyatakan bahwa perempuan adalah "yang lain" (altérité) dalam arti yang mutlak. Baginya, perbedaan laki-laki dan perempuan bukan sekadar perbedaan biasa, tapi sebuah oposisi yang absolut. Namun, ia melihat perempuan hanya dari sudut pandang laki-laki: ketika ia menyebut perempuan sebagai "misteri", maksudnya perempuan adalah misteri bagi laki-laki. Jadi, tulisannya yang terlihat objektif sebenarnya tetap mencerminkan sudut pandang maskulin.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. vii-viii.
Gagasan tentang “yang lain” ini sudah ada sejak dulu. Bahkan dalam mitologi kuno, selalu ada dualitas: siang–malam, matahari–bulan, baik–jahat, kanan–kiri, Tuhan–Lucifer. Jadi, “perempuan sebagai yang lain” hanyalah salah satu bentuk dari pola pikir manusia yang selalu membagi dunia ke dalam pasangan-pasangan yang berlawanan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. viii-ix.
Manusia selalu membedakan dirinya dengan “yang lain.” Misalnya, orang luar kota disebut “orang asing” dan dicurigai, Yahudi dianggap berbeda, orang kulit hitam dianggap rendah, atau kelas pekerja dipandang lebih rendah. Intinya, suatu kelompok hanya merasa dirinya “utama” dengan cara membandingkan dan menempatkan kelompok lain sebagai “bukan utama.”
Levi-Strauss menjelaskan bahwa sejak dulu manusia cenderung melihat dunia dalam dua hal yang berlawanan (kontras), misalnya siang–malam atau kita–mereka. Dari perbedaan itu, orang jadi sadar akan dirinya sendiri karena merasa “berbeda dari yang lain.” Tapi, perbedaan itu tidak selalu absolut—karena dalam kenyataannya manusia sering saling berhubungan, saling bergantung, dan bekerja sama meski berbeda.
Masalah muncul ketika perbedaan ini tidak dianggap setara. Dalam relasi laki-laki dan perempuan, laki-laki menempatkan dirinya sebagai pusat (Yang Satu), sedangkan perempuan hanya dianggap “yang lain.” Pertanyaannya, mengapa perempuan sering menerima posisi ini, padahal mereka bukan minoritas—jumlahnya sama banyak dengan laki-laki. Dari mana asal kepatuhan itu?
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. ix-x.
Dalam sejarah, sering ada kelompok yang menindas kelompok lain, biasanya karena jumlah atau kekuasaan yang tidak seimbang. Misalnya perbudakan orang kulit hitam di Amerika, penindasan bangsa Yahudi, atau penjajahan bangsa imperialis. Kelompok yang ditindas biasanya punya sejarah, tradisi, atau identitas bersama yang membuat mereka bisa melawan.
Tapi perempuan berbeda. Mereka bukan minoritas, jumlahnya sama dengan laki-laki. Dibandingkan dengan kaum proletar yang muncul karena sejarah sosial-ekonomi tertentu, perempuan justru selalu ada sepanjang sejarah sebagai “yang lain” di bawah laki-laki.
Kaum proletar dan kelompok tertindas lain bisa bersatu, menyebut diri mereka “kami”, lalu melawan penindasnya (misalnya lewat revolusi). Tapi perempuan tidak pernah sungguh-sungguh bersatu. Mereka tidak punya tradisi atau solidaritas khusus sebagai kelompok. Perempuan hidup tersebar di tengah laki-laki, lebih dekat dengan ayah atau suami mereka daripada dengan perempuan lain. Karena itu, mereka sulit merasa sebagai satu kesatuan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xi-xii.
Karena itu, perempuan tidak bisa membayangkan untuk “menghapus” laki-laki. Hubungan laki-laki dan perempuan terlalu mendasar dalam kehidupan manusia. Maka perempuan tetap jadi “yang lain” dalam sebuah sistem totalitas, di mana laki-laki dan perempuan saling terkait, tapi tidak setara.
Hubungan timbal balik antara laki-laki dan perempuan tidak otomatis membebaskan perempuan. Dalam mitos dan cerita, kadang perempuan terlihat punya pengaruh (seperti Omphale, Medea, atau Lysistrata), tapi semua itu hanya bersifat sementara atau simbolis. Pada kenyataannya, perempuan tetap terikat pada kebutuhan laki-laki—seks dan keturunan—sehingga laki-laki tidak pernah benar-benar kehilangan kuasanya.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xiii.
Hal yang sama berlaku pada hubungan tuan dan budak. Walau ada saling membutuhkan, itu tidak membuat budak bebas. Tuan tetap berkuasa, sedangkan budak sadar bahwa hidupnya bergantung pada tuannya. Karena itulah pembebasan kelas tertindas, termasuk pekerja, selalu berjalan lambat.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xiii-xiv.
Begitu juga dengan perempuan. Mereka selalu bergantung pada laki-laki, hampir seperti budak. Sejarah menunjukkan, keduanya tidak pernah benar-benar hidup setara. Bahkan ketika hukum sudah mengakui hak-hak perempuan, kebiasaan lama tetap membatasi mereka. Dalam ekonomi, politik, dan industri, laki-laki masih menguasai jabatan penting, bergaji lebih tinggi, dan punya lebih banyak kesempatan. Dunia tetap dianggap milik laki-laki, sementara perempuan sering tidak menyadarinya.
Banyak perempuan tetap menerima peran sebagai “yang lain” karena dianggap aman: mereka mendapat perlindungan materi dan pembenaran moral dari laki-laki. Tapi akibatnya, mereka sulit menegaskan diri sebagai subjek yang mandiri. Hubungan dengan laki-laki pun tidak benar-benar timbal balik, dan perempuan sering puas hanya dengan peran tradisional itu.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xiv-xv.
Kenapa sejak dulu laki-laki selalu menang dalam hubungan dua jenis kelamin? Padahal, perempuan sebenarnya juga bisa menang atau setidaknya konflik itu tidak harus selesai dengan dominasi laki-laki. Mengapa dunia selalu jadi milik laki-laki, dan baru belakangan ini mulai berubah?
Apakah perubahan itu akan benar-benar membawa keadilan bagi laki-laki dan perempuan?
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xv.
Sebenarnya, anggapan perempuan sebagai “yang lain” membuat semua alasan yang dipakai laki-laki untuk membenarkan dominasinya patut dicurigai, karena jelas didasari kepentingan mereka. Seperti kata feminis abad ke-17, Poulain de la Barre: “Semua yang ditulis laki-laki tentang perempuan harus diperiksa ulang, karena mereka adalah hakim sekaligus penuntut.”
Sejak dulu, laki-laki selalu merasa dirinya lebih tinggi. Dalam doa Yahudi misalnya, laki-laki bersyukur tidak diciptakan sebagai perempuan, sementara perempuan hanya bisa pasrah menerima keadaannya. Plato juga menilai lebih beruntung dilahirkan sebagai laki-laki daripada perempuan. Untuk bisa menikmati keistimewaan itu, laki-laki menganggap dominasinya sebagai hak yang sah dan abadi. Mereka membuat hukum sesuai kepentingan mereka sendiri, lalu mengangkatnya sebagai prinsip yang harus ditaati. Sekali lagi mengutip Poulain de la Barre: “Semua yang ditulis laki-laki tentang perempuan harus diperiksa ulang, karena mereka adalah hakim sekaligus penuntut.”
Pendeta, filsuf, penulis, dan ilmuwan berusaha membuktikan bahwa posisi rendah perempuan itu wajar, adalah kehendak Tuhan dan bahkan bermanfaat. Agama, filsafat, dan mitologi sering dipakai untuk meneguhkan pandangan itu. Contohnya dalam kisah Hawa atau Pandora, perempuan dianggap penyebab masalah. Filsuf seperti Aristoteles dan St. Thomas juga menegaskan hal ini. Dari dulu, perempuan dicap lemah, dungu, dan tidak stabil. Banyak literatur bahkan berisi hinaan terhadap mereka. Kebencian ini sering muncul tanpa alasan jelas, tapi biasanya untuk membenarkan kepentingan laki-laki.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xvi.
Contohnya, hukum Romawi membatasi hak perempuan demi menjaga kepentingan laki-laki dalam keluarga. Begitu juga ajaran gereja abad pertengahan menegaskan perempuan sebagai makhluk yang tidak tegas. Padahal, perempuan yang belum menikah dianggap mampu mengurus dirinya. Montaigne sendiri menyadari ketidakadilan ini, ia berkata wajar kalau perempuan menolak aturan yang dibuat tanpa persetujuan mereka. Namun, ia tidak sampai benar-benar membela atau memperjuangkan hak-hak perempuan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xvii.







0 komentar:
Posting Komentar