Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Rabu, 26 November 2025

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung "Part B"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung "Part B"

Suradenta segera bangkit. Kali ini ia lebih berhati-hati karena tahu lawannya sangat kuat dan sulit dikalahkan. Ia teringat kekalahan kakaknya, Suralangu, yang membuat rasa takut sempat muncul, tapi segera tergantikan oleh dendam yang membara.

Dengan cepat, ia menebaskan pedangnya ke arah leher Bandung yang berdiri tenang. Namun Bandung lebih cepat — ia memukul pergelangan tangan Suradenta hingga pedangnya terlepas. Saat lawannya mengerang kesakitan, Bandung menendang dadanya keras-keras. Suradenta pun terlempar jauh dan berguling di tanah.

Bandung segera mengambil pedang yang terjatuh, lalu mendekati Suradenta yang sudah tak berdaya. Ia menempelkan ujung pedang ke lehernya.

“Menyerahlah, Senapati! Atau kau lebih memilih mati daripada jadi tawanan seperti kakakmu?” kata Bandung tegas.

“Bedebah! Kalau berani, bunuh saja aku sekarang!” balas Suradenta dengan lemah.

“Prajurit! Bawa Senapati Suradenta. Mulai sekarang, dia tawanan perang kita!” perintah Bandung.

Beberapa prajurit Pengging segera mengangkat tubuh Suradenta dan membawanya ke barisan tawanan.

Sementara itu, Senapati Darmamaya hampir kalah melawan Patih Basuketi. Pedang Basuketi nyaris mengenai lehernya saat ia terjatuh, tapi tiba-tiba sebuah pedang lain menahan serangan itu, menimbulkan percikan api. Basuketi dan Darmamaya sama-sama terkejut melihatnya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 55.

Orang yang menahan pedang itu ternyata Patih Tambakbaya. Ia bergerak cepat begitu melihat Darmamaya tak sanggup lagi menghadapi serangan Basuketi, yang kekuatannya memang di atas sang senapati.

“Rupanya kau, Patih Tambakbaya! Untung kau datang tepat waktu. Kalau tidak, nyawa senapatimu itu pasti sudah melayang!” kata Basuketi dengan sombong.

“Jangan terlalu bangga, Basuketi. Wajar kalau seorang patih menang melawan senapati. Tapi kalau melawan sesama patih, belum tentu kau bisa menang,” balas Tambakbaya.

“Jangan harap bisa mengalahkanku dengan mudah! Nasibmu akan sama dengan senapatimu. Bedanya, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dari pedangku! Ciaaat!” teriak Basuketi sambil menyerang cepat.

Tambakbaya menangkis serangan itu dengan seluruh tenaganya. Ia memilih bertahan sambil memperhatikan matahari yang mulai tenggelam — tanda pertempuran akan segera berhenti. Ia ingin mengukur kekuatan Basuketi untuk persiapan esok hari.

Benar saja, tak lama kemudian suara sangkakala terdengar, menandakan perang harus dihentikan. Dengan napas tersengal, Basuketi mundur dan melompat menjauh, diikuti pasukannya.

Suasana menjadi hening. Kedua pasukan kembali ke posisi masing-masing. Debu beterbangan di antara langkah para prajurit yang kelelahan. Mereka lega masih hidup, tapi juga cemas, karena tahu esok hari pertempuran akan berlanjut sampai titik darah penghabisan.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 56.

Prabu Kalakarung kembali kecewa dengan hasil perang hari kedua. Senapatinya kalah dan ditawan lagi oleh pihak Pengging. Dipenuhi amarah, Sang Prabu memutuskan turun langsung memimpin pasukannya pada pertempuran besok. Ia bertekad merebut kembali kekuasaan Prambanan, bahkan ingin menaklukkan Pengging. Tumenggung Bayubajra ditugaskan memimpin pasukan sayap kiri, sedangkan Patih Basuketi memimpin sayap kanan.

Perubahan pimpinan juga terjadi di pihak Pengging. Karena Darmamaya terluka, Bandung ditunjuk memimpin pasukan utama. Patih Tambakbaya memimpin sayap kiri, dan sayap kanan dipimpin Tumenggung Mayangkara serta Setrajali untuk memperkuat pertahanan.

Hari ketiga pertempuran dimulai dengan hujan anak panah dari kedua pihak. Pasukan Pengging yang sudah membentuk barisan tameng berhasil menahan serangan itu dan merusak pertahanan Prambanan. Melihat hal itu, Prabu Kalakarung makin marah. Ia menunggangi kudanya dan menyerang membabi buta dengan pedang besar di tangan. Banyak prajurit Pengging tumbang dan barisan depan mereka kacau.

Melihat rajanya menyerang, pasukan tombak Prambanan langsung maju. Kedua pihak pun saling serang dengan tombak dan pedang. Pertempuran semakin panas, darah mengalir di mana-mana. Banyak prajurit tewas, dan perang hari itu makin dipenuhi kebencian serta amarah.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 57.

Bandung yang semula membantu pasukannya menahan hujan anak panah, segera maju mendekati Prabu Kalakarung yang mengamuk dan membunuh banyak prajurit Pengging. Ia menunggang kudanya untuk menandingi kecepatan kuda Sang Prabu.

“Aku pemimpin pasukan ini! Lawanlah aku, bukan mereka!” seru Bandung lantang dari atas kudanya.

Prabu Kalakarung menghentikan kudanya dan menatap tajam pemuda yang berani menantangnya. Ia tahu inilah Bandung Bandawasa — pemuda Gunung Lawu yang telah mengalahkan para senapati dan tumenggung Prambanan. Namun, Sang Prabu tak menyangka lawannya ternyata masih sangat muda.

Keduanya turun dari kuda dan langsung bertarung tanpa banyak bicara. Pukulan pertama dari keduanya sama-sama kuat hingga membuat mereka mundur beberapa langkah, tapi segera berdiri kembali siap melanjutkan serangan.

Prabu Kalakarung menyerang dengan pukulan-pukulan keras yang disertai tenaga dalam, membuat setiap serangannya begitu dahsyat. Bandung pun harus mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menghindar dan menangkis.

Tiba-tiba, Sang Prabu meraih busur dan dua anak panah dari prajuritnya, lalu menembakkannya ke arah Bandung. Bandung terkejut, tapi segera mengambil busur dari prajurit Pengging dan membalas dengan arahkan panahnya pada Prabu Kalakarung.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 58.

Prabu Kalakarung segera melepaskan anak panahnya ke arah Bandung Bandawasa. Bandung juga memanah untuk menangkis serangan itu. Kedua anak panah bertemu di udara, dan panah milik Bandung berhasil membelah panah Prabu Kalakarung hingga terjatuh ke tanah.

Melihat hal itu, Prabu Kalakarung tak mau menyerah. Ia memasang dua anak panah sekaligus, yakin kali ini salah satunya akan mengenai sasaran. Namun, saat kedua panah itu melesat ke arah Bandung, pemuda Gunung Lawu itu memanah sekali lagi. Hasilnya, kedua panah Sang Prabu terpatahkan di udara oleh satu panah Bandung yang melesat sangat cepat.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 59.

Prabu Kalakarung terkejut melihat panahnya dikalahkan. Rasa malu dan marah bercampur di dadanya. Namun sebelum sempat meluapkan amarah, Bandung sudah melepaskan panah ke arahnya.

Kalakarung cepat merunduk, tapi panah itu tepat mengenai mahkotanya hingga terlepas dari kepala. Keringat dingin mulai menetes karena malu dan takut. Ia tahu Bandung masih punya satu panah tersisa, tapi pemuda itu justru melemparkan busurnya dan berjalan mendekat.

“Aku tidak menyerang lawan yang tak bersenjata. Terserah Tuan, mau menyerah atau lanjut bertarung?” kata Bandung tegas.

Kalakarung terpaku oleh sikap ksatria Bandung, tapi harga dirinya tak mau menyerah pada anak muda itu. Ia pun bersiap mengerahkan ajian gelap ngampar—jurus yang bisa menghancurkan batu sebesar apa pun. Menyadari hal itu, Bandung segera menyiapkan ajian sasrabirawa, jurus pemusnah gunung.

Keduanya berdiri saling berhadapan. Kedua tangan mereka bergerak mengumpulkan tenaga dalam. Perlahan, cahaya berwarna api muncul dan makin lama berubah menjadi bola api besar yang siap dilepaskan.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 60.

Kedua telapak tangan mereka terbuka dan saling menghantam, menimbulkan dentuman keras dan cahaya api besar yang menyilaukan. Ledakan itu begitu dahsyat hingga Bandung Bandawasa terdorong beberapa langkah, sementara Prabu Kalakarung terpental jauh dan jatuh tak sadarkan diri.

Ketika asap dan cahaya api mulai hilang, tampak Bandung duduk sambil memulihkan tenaganya, sedangkan Prabu Kalakarung tergeletak tak bergerak dengan luka besar di dadanya. Semua prajurit yang melihat yakin Sang Prabu telah tewas.

“Kalakarung gugur! Kalakarung gugur!” teriak para prajurit Pengging dengan gembira. Mereka lega karena pemimpin musuh tewas dan Bandung selamat tanpa luka.

Teriakan itu membuat pasukan Prambanan kehilangan semangat. Tak lama kemudian, kabar datang bahwa Patih Basuketi juga tewas di tangan Patih Tambakbaya. Para prajurit Prambanan pun mengangkat tangan dan melempar senjata mereka sebagai tanda menyerah. Mereka dikumpulkan bersama para tawanan perang lainnya.

Bandung Bandawasa dan pasukan Pengging akhirnya bisa bernapas lega. Pertempuran pun berakhir, meninggalkan kebahagiaan bagi pihak yang menang dan kesedihan bagi yang kalah. Kekuasaan Pengging kini kembali sepenuhnya, tinggal menata kembali Kadipaten Prambanan yang hancur akibat kekuasaan Kalakarung dan pengikutnya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 61.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 4: Persiapan Pertempuran
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search