Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Jumat, 21 November 2025

Buku: Franz Magnis Suseno "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral" - Part 01: Tugas Etika

Buku: Franz Magnis Suseno "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral"

Perkembangan etika atau filsafat moral di Eropa dan Amerika saat ini sudah sangat khusus dan rumit, sehingga sulit dipahami oleh orang yang belum ahli. Karena itu, buku ini ditulis untuk memperkenalkan pembaca pemula pada masalah-masalah utama dalam diskusi etika masa kini. Kami ingin memberikan dasar-dasar teori agar pembaca dapat ikut serta dalam pembahasan ini.


PRAKATA

Bagi yang ingin memperdalam pengetahuan tentang etika, tersedia daftar bacaan di akhir buku beserta petunjuk singkat. Dalam teks buku ini juga ada berbagai arahan untuk studi lebih lanjut.

Kami berharap buku ini bisa menjadi bantuan bagi pecinta filsafat, khususnya filsafat moral, agar dapat mengikuti perkembangan etika sekaligus ikut berperan dalam perkembangannya.


Jakarta, 4 Juni 1975

Franz von Magnis


Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral", Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1984, hlm. 5.


Buku: Franz Magnis Suseno "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral"

Identitas Buku

  • Judul Buku: "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral"
  • Pengarang: Franz Magnis Suseno
  • Penerbit: Yayasan Kanisius, Yogyakarta
  • Tanggal Terbit: 1984
  • ISBN:
  • Tebal Halaman: 118
  • Lebar:
  • Panjang:


ETIKA UMUM: MASALAH-MASALAH POKOK FILSAFAT MORAL

oleh Franz Magnis Suseno

Cetakan Kelima, 1984



Daftar Isi "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral"


Pendahuluan (11)

  1. Tugas Etika (11)
  2. Maksud buku ini (14)
  3. Obyek Etika (15)
  4. Metode Etika (17)


Bagian Pertama: Fenomologi Kesadaran Moral (19)

I. Macam-macam norma kelakuan dalam masyarakat (19)

  1. Persoalannya (19)
      a. Tiga macam norma kelakuan umum (19)
      b. Norma-norma moral norma-norma yang paling dasar (21)

II. Fenomen kesadaran moral (22)

  1. Persoalan dan cara menghadapinya (22)
  2. Kesadaran moral (22)
  3. Unsur-unsur pokok dalam kesadaran moral (23)
  4. Struktur kesadaran moral (24)

III. Kemutlakan kesadaran moral (25)

IV. Rasionalita kesadaran moral (27)

  1. Kesadaran moral mengandung pernyataan (27)
      a. Norma moral berlaku umum (28)
      b. Terbuka terhadap pembenaran dan penyangkalan (29)
  2. Kesadaran nilai dalam kesadaran moral (31)
  3. Mentaati suara batin? (31)
  4. Beberapa sikap moral yang tidak mencukupi (33)
      a. Legalisme (33)
      b. Menilai orang lain dari luar (34)
      c. Maksud yang baik (34)

V. Relativisme dan Irasionalisme Moral (35)

  1. Relativisme moral (35)
      a. Relativisme deskriptif (35)
      b. Relativisme normatif (38)
  2. Irasionalisme moral (39)
      a. Emotivisme (39)
      b. Preskriptivisme R. M. Hare (41)

VI. Kewajiban moral dan kebebasan (42)

  1. Bebas untuk melaksanakan kewajiban (42)
  2. Kebebasan (43)
      a. Faham negatif dan positif kebebasan (44)
      b. Tiga macam kebebasan (47)
  3. Kewajiban mengandaikan kebebasan (49)
  4. Kebebasan dan tanggung jawab (51)
      a. Mencari makna kebebasan manusia (51)
      b. Kebebasan berhadapan dengan kewajiban moral (53)
      c. Kebebasan yang bertanggung jawab (57)

VII. Tentang struktur kesadaran manusia (58)

  1. Id—Ego—Superego (58)
  2. Superego (60)
      a. Superego: pengawas batin kita (60)
      b. Terjadinya Superego (61)
      c. "Ideal Ego" (62)
  3. Ego (63)
  4. Superego dan suara batin (64)
  5. Kesadaran moral yang dewasa (65)

    Sisipan I: Rasa bersalah dan rasa malu (66)

    Sisipan II: Sigmund Freud tentang Suara Batin (68)

    Sisipan III: Friedrich Nietzsche dan Kesadaran Moral (70)

    Sisipan IV: Penentuan diri manusia (72)

    1. Keputusan-keputusan sehari-hari (72)
    2. Keputusan dasar (74)
    3. Kematian manusia (75)


Bagian Kedua: Etika Normatif (77)

Pendahuluan (77)

I. Peninjauan teori-teori normatif pokok (79)

  1. Egoisme Etis (81)
      a. Hedonisme egois (82)
      b. Eudemonisme (83)
  2. Teori-teori Deontologis (85)
      a. Hedonisme egois (86)
        Sisipan: Arti perintah dan larangan-larangan moral (88)
      b. Tentang teori-teori deontologis peraturan (90)
        Sisipan I: Formalisme Immanual Kant (92)
        Sisipan II: Etika Nilai (93)
  3. Utilitarisme (94)
      a. Utilitarisme Tindakan (96)
      b. Utilitarisme Peraturan (97)
  4. Etika Teonom (98)
      a. Etika teonom murni (99)
      b. Teori Hukum Kodrat (100)

II. Usul pemecahan masalah norma moral dasar (101)

  1. Titik tolak (102)
  2. Dua kaidah dasar moral (103)
      a. Kaidah sikap baik (103)
      b. Kaidah keadilan (104)
  3. Penentuan-penentuan lebih lanjut (105)
  4. Dasar kaidah-kaidah dasar (107)

Penutup (109)

Daftar bacaan terpilih (111)

Daftar nama (113)

Daftar masalah dan istilah (114)


PENDAHULUAN

1. Tugas Etika

Zaman sekarang ditandai oleh perubahan cepat dalam cara hidup masyarakat. Modal internasional, teknologi, transportasi, dan komunikasi membuat kota-kota besar di dunia semakin mirip, baik di Arab, Amerika, Afrika, maupun Asia. Lewat radio, film, sekolah, dan perusahaan modern, pola hidup "modern" menyebar sampai ke pelosok, berbeda jauh dari cara hidup tradisional.

Perubahan ini memengaruhi cara pandang orang. Kesatuan budaya lama hilang. Orang semakin sering bergaul dengan mereka yang berbeda adat dan pandangan. Akibatnya, pola hidup tradisional dipertanyakan, nilai-nilai lama diragukan, dan kepastian moral goyah. Norma tentang baik dan buruk jadi tidak jelas. Pengaruh adat, agama, dan keluarga melemah. Generasi muda ingin menentukan nasibnya sendiri, termasuk soal jodoh. Pergaulan pun berubah jauh dari standar lama. Dengan kata lain, norma tradisional kehilangan kekuatan.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 11.

Namun hilangnya kepastian norma juga menghilangkan kepastian hidup. Timbul kebingungan dan kekosongan. Dalam kondisi itu, orang mencari pegangan baru. Berbagai ideologi masuk menawarkan "jalan keluar" dan sistem nilai baru. Tanpa sadar, orang yang lepas dari aturan lama justru tunduk pada aturan baru.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 11-12.

Agar tidak mudah dipengaruhi kepentingan pihak lain, kita harus kritis terhadap ideologi-ideologi baru. Jangan langsung menerima, tapi perlu menilai dulu. Pertanyaannya: bagaimana kita bisa menilai norma-norma perilaku yang ada di masyarakat?

Pertanyaan ini penting, bukan hanya karena persaingan ideologi, tetapi juga karena kita harus menilai norma tradisional, bahkan semua aturan yang membatasi tindakan kita. Memang kita merasa bebas bertindak sesuai rencana, tetapi sebenarnya rencana itu sudah dibatasi oleh kondisi sekitar. Ada batas fisik, misalnya manusia tidak bisa menyelam seperti lumba-lumba atau mengangkat batu seberat satu ton. Tapi batas fisik ini biasanya tidak jadi masalah karena wajar adanya.

Batas yang lebih penting adalah batas sosial: larangan, kewajiban, dan aturan. Misalnya:

—Saya haus, ada bir di warung, saya kuat mengambilnya, tapi tidak boleh karena tidak punya uang.

—Saya ingin mencium wanita, tapi tidak boleh karena kami masing-masing sudah menikah dengan orang lain.

—Saya ingin beli mobil baru, tapi uangnya harus dipakai bayar pajak.

—Saya enak duduk di kursi, tapi harus bangun untuk menyambut tamu.

Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan tapi dilarang. Sebaliknya, banyak hal yang tidak kita inginkan tapi terpaksa dilakukan, seperti suntik vaksin sebelum ke luar negeri, atau berjabat tangan dengan orang yang sebenarnya ingin kita jauhi.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 12.

Hidup kita berada dalam jaringan norma: aturan, kewajiban, larangan, dan sebagainya. Norma-norma itu kadang terasa membelenggu, mencegah kita melakukan apa yang kita mau, bahkan memaksa kita melakukan hal yang tidak kita sukai. Karena itu, muncul pertanyaan: dengan hak apa orang menuntut kita untuk taat pada norma-norma itu? Bagaimana kita bisa menilai norma-norma tersebut?

Mencari jawaban atas pertanyaan ini adalah tugas etika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas kewajiban manusia serta apa yang baik dan buruk. Jadi, etika adalah filsafat tentang moral. Bedanya dengan cabang filsafat lain, etika tidak hanya membahas keadaan manusia, tetapi tentang bagaimana manusia seharusnya bertindak.

Sifat utama etika adalah kritis. Etika mempertanyakan norma-norma yang berlaku: apa dasar norma itu, dan apakah dasar tersebut benar-benar membuat kita wajib taat. Norma yang tidak bisa dipertanggungjawabkan lewat pertanyaan kritis akan kehilangan kekuatannya. Hal yang sama berlaku untuk lembaga-lembaga seperti keluarga, sekolah, negara, atau agama. Etika tidak menolak adanya norma atau wewenang lembaga, tapi meminta pertanggungjawaban. Tidak ada orang atau lembaga yang boleh memaksa begitu saja; wewenang harus bisa dibuktikan.

Dengan begitu, etika membantu manusia bersikap kritis dan rasional, membentuk pendapat sendiri, serta bertindak sesuai keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan. Etika membuat kita lebih otonom. Otonomi bukan berarti bebas dari semua norma atau berbuat sewenang-wenang, melainkan kebebasan untuk mengakui norma yang diyakini sendiri sebagai kewajiban.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 13.

Di tengah persaingan ideologi dan semakin kuatnya lembaga-lembaga yang menuntut kepatuhan, etika penting untuk melatih pemikiran kritis dan dewasa. Etika membantu kita membedakan mana yang sah dan mana yang palsu, sehingga kita bisa mengambil sikap sendiri dan ikut menentukan arah perkembangan masyarakat. Etika menjadi alat berpikir rasional dan bertanggung jawab, bermanfaat bagi ilmuwan sosial, pendidik, politikus, penulis, maupun siapa saja yang tidak ingin hanya terbawa arus perubahan norma masyarakat.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 13-14.


2. Maksud Buku Ini

Buku ini membahas pertanyaan-pertanyaan utama dalam etika dan meninjau berbagai jawaban yang pernah diberikan dalam sejarah filsafat. Karena itu, beberapa pandangan etika dari masa lalu juga akan dibicarakan, tetapi tidak secara kronologis. Fokus buku ini bukan sejarah etika, melainkan sejauh mana pandangan-pandangan itu masih relevan dengan masalah yang kita hadapi sekarang.

Kami menyajikan masalah etika dari sudut pandang perkembangan etika modern, khususnya etika analitis yang berkembang sejak awal abad ke-20 di Inggris dan Amerika. Etika analitis sangat membantu menjernihkan persoalan etika. Sejak tahun 1960-an, etika analitis kembali memberi perhatian pada masalah normatif, bukan hanya soal metode. Kami sepakat bahwa inti etika adalah soal norma dasar, tetapi kami tidak terikat pada satu aliran tertentu. Kami mengajukan pendapat sendiri atas tanggung jawab ilmiah kami.

Berbeda dari banyak filsuf analitis, kami berpendapat bahwa masalah etika normatif tidak bisa diselesaikan tanpa analisis fenomenologis tentang moral. Kelemahan etika analitis justru ada pada kurangnya pendekatan fenomenologis, meskipun seringkali mereka mengandaikan segi itu. Dalam menguraikan fenomen moral, kami banyak berutang pada Prof. N. Drijarkara, yang berhasil menggabungkan formalisme Kant dengan fenomenologi nilai Scheler.

Kami juga menyesalkan bahwa Etika Timur hampir tidak dibahas di sini. Kekurangan ini semoga dapat dilengkapi di masa depan. Namun, bagi perkembangan filsafat di Indonesia, pembahasan tentang masalah pokok etika dalam filsafat Barat saat ini sangat penting dan tidak bisa ditunda.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 14.

Perlu ditegaskan, buku ini tidak menyajikan sistem norma moral baru atau memberi nasihat tentang bagaimana hidup baik. Jika pembaca mencari itu, sebaiknya jangan melanjutkan membaca. Maksud buku ini adalah menyediakan alat analisis agar pembaca dapat menilai secara kritis tuntutan moral yang dihadapinya. Buku ini tidak memberi jawaban tentang bagaimana seseorang harus bertindak, melainkan membantu agar pembaca bisa menemukan jawabannya sendiri.

Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 15.


Daftar Isi:

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search