Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Rabu, 26 November 2025

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part B"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part B"

Saat melihat mereka menuju Desa Klaten, Bandung segera keluar dari persembunyiannya. Ia harus segera memberitahu Adipati Darmamaya. Fitnah itu tidak boleh dibiarkan karena bisa merusak nama baik Pengging yang baru akan memulai kekuasaan di Prambanan.

Sesampainya di perkemahan, Bandung langsung melaporkan semua yang ia lihat. Darmamaya terkejut mendengar ceritanya. Ia pun segera menyusun rencana untuk menggagalkan fitnah itu dan menangkap para pelakunya.

"Kita akan menangkap mereka saat beraksi agar rakyat Klaten bisa menyaksikannya sendiri. Dengan begitu, mereka tahu kita berada di pihak yang benar dan pantas memimpin mereka!" kata Darmamaya.

Rombongan itu lalu bersiap dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh para prajurit Prambanan.

Ketika tiba di Desa Klaten, mereka melihat para penyamar itu sedang beraksi. Mereka memeras warga dengan kasar, bahkan ada yang memperkosa gadis-gadis yang sedang sendirian di rumah. Emas, perak, dan barang berharga dikumpulkan dalam buntalan besar. Mereka tertawa puas di tengah tangisan rakyat yang ketakutan.

Menjelang siang, mereka bersiap kabur, tapi tiba-tiba beberapa orang berpakaian biasa berdiri berjajar di tengah jalan menghadang mereka. Para prajurit palsu itu pun terkejut dan berhenti melangkah.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 69.

"Siapa kalian? Cepat minggir! Kami mau lewat!" bentak Gagak Rodra marah.

"Kami hanya pengembara yang lewat di desa ini. Bolehkah kami tahu siapa Tuan?" jawab Bandung tenang.

"Aku Gagak Rodra, pemimpin pasukan Pengging! Ini para prajuritku yang baru saja memungut pajak dari desa ini. Sekarang minggir! Kalian menghalangi tugas kami!" serunya sambil melangkah maju.

Namun, Bandung dan rombongannya tetap berdiri di tempat. Melihat itu, Gagak Rodra makin marah. Matanya berkilat, wajahnya merah, dan tangannya menarik golok dari balik bajunya.

"Berani kalian menantang Gagak Rodra? Minggir atau kubantai kalian satu-satu!" teriaknya sambil mengayunkan golok.

Bandung maju selangkah, sementara yang lain mundur, memberi ruang. Sesuai rencana, hanya Bandung yang akan melawan.

"Hiaaat!" Gagak Rodra menyerang cepat, mengayunkan golok ke dada Bandung.

Namun, Bandung dengan gesit menghindar dan memukul tangan lawannya hingga goloknya terlepas. Ia lalu melancarkan serangan bertubi-tubi sampai Gagak Rodra jatuh tak berdaya di hadapan prajuritnya dan warga Desa Klaten.

Saat Gagak Rodra mencoba bangkit, Bandung sudah menempelkan goloknya di leher lawan itu. Gagak Rodra pun terdiam, menahan malu karena kalah.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 70.

“Berdirilah, Gagak Rodra!” titah Bandung tegas sambil menempelkan golok di lehernya.

Gagak Rodra bangkit tertatih-tatih, menahan sakit.

“Suruh anak buahmu letakkan semua hasil jarahan di dekatku — sekarang juga, atau kubunuh kau!” ancam Bandung.

“Tentu…!” kata Gagak Rodra lalu memerintahkan prajuritnya. Dengan ragu, salah satu prajurit meletakkan buntalan berisi perhiasan dan barang rampasan di depan Bandung.

“Sekarang katakan siapa sebenarnya kau!” desak Bandung.

“Aku Gagak Rodra… Sebenarnya kami bukan prajurit Pengging. Kami prajurit Prambanan yang menyamar. Tujuannya memeras rakyat agar mereka membenci Pengging…” aku Gagak Rodra terbata-bata.

Warga Klaten yang mendengar pengakuan itu kaget dan bingung, memandang bergantian antara Bandung dan Gagak Rodra.

“Warga Klaten yang terhormat, aku Bandung Bandawasa, Senapati Pengging yang baru. Di sampingku Adipati Darmamaya, Adipati Prambanan. Kami sedang dalam perjalanan ke Prambanan dan kebetulan menemukan para pemalak ini. Pengging tidak akan berlaku seperti mereka. Kami datang untuk membawa kedamaian dan memulihkan kesejahteraan Prambanan,” kata Bandung lantang.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 71.

Warga Desa Klaten terdiam mendengar penjelasan Bandung. Meski sedih karena kehilangan negeri Prambanan, mereka juga merasa bahagia karena kini ada pengganti yang lebih baik. Kehadiran Bandung dan para prajurit Pengging yang telah menyelamatkan mereka membuat warga semakin percaya dan simpati padanya.

“Kalau begitu, sebagai Kepala Desa Klaten, aku berterima kasih atas bantuan kalian. Kami sangat menghargainya,” ucap seorang bapak dengan bijak.

“Aku serahkan para penjahat ini kepadamu. Mereka harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Kami akan melanjutkan perjalanan. Jika mereka berbuat jahat lagi, datanglah ke Istana Prambanan untuk menemuiku,” kata Bandung sambil beranjak pergi bersama rombongannya.

Kepala Desa lalu memerintahkan warganya menahan Gagak Rodra dan teman-temannya. Setelah itu, mereka mulai memperbaiki kerusakan akibat ulah para penjahat. Semua perhiasan dan barang berharga dikembalikan kepada pemiliknya. Menjelang sore, Desa Klaten pun kembali tenang.

Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi Bandung Bandawasa dan Adipati Darmamaya yang melanjutkan perjalanan menuju Prambanan. Setidaknya kini satu desa telah mengenal mereka dan menaruh kepercayaan setelah melihat kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Prambanan sendiri.

Sambil melangkah, Bandung berharap agar seluruh rakyat Prambanan mau menerima kehadirannya dan bekerja sama membangun kembali negeri yang telah hancur. Ia menerima semua kejadian itu sebagai takdir dan jalan hidup yang harus dijalaninya setelah meninggalkan Gunung Lawu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 72.

Putri Rara Jonggrang sedang duduk termenung di taman keputren ketika Emban Sriti datang menghampirinya.

“Tuan Putri, kemarin ada utusan dari Pengging. Mereka mengumumkan bahwa Prambanan kini menjadi Kadipaten lagi dan akan dipimpin oleh Adipati Darmamaya. Rencananya, mereka akan datang beberapa hari lagi untuk memulai pemerintahan baru,” ujar Emban Sriti sambil duduk bersimpuh di samping sang putri.

“Oh, begitu? Lalu siapa yang menjadi senapati baru menggantikan Tuan Darmamaya?” tanya Rara Jonggrang, kini tampak lebih bersemangat.

“Kalau tidak salah dengar, namanya Bandung Bandawasa. Ia juga dikenal dengan sebutan Putra Gunung Lawu,” jawab Emban Sriti sambil berpikir sejenak mengingat nama itu.

Hati Rara Jonggrang berdebar saat mendengar nama itu. Ia teringat pertemuan mereka di taman pemandian sebelum perang terjadi.

“Putra Gunung Lawu diangkat menjadi senapati karena berhasil membawa kemenangan bagi Pengging. Katanya, dialah yang mengalahkan Senapati Suralangu, Suradenta, dan para pemimpin pasukan Prambanan lainnya. Termasuk… Prabu Kalakarung,” kata Emban Sriti perlahan.

“Apa? Jadi, dia yang membunuh ayahku?” seru Rara Jonggrang sambil berdiri terkejut.

“Tenangkan diri, Tuan Putri. Dalam pertempuran, membunuh atau terbunuh adalah hal yang biasa. Mereka berjuang sebagai prajurit sejati, dan Tuan Prabu gugur dengan terhormat,” hibur Emban Sriti lembut.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 73.

Putri Rara Jonggrang kembali menunduk. Ucapan Emban Sriti membuatnya sadar untuk lebih lapang dada, tapi hatinya tetap terasa sesak saat membayangkan Putra Gunung Lawu sebagai pembunuh ayahnya.

“Katanya, dia juga pemuda yang tampan. Banyak yang berpendapat, sebaiknya Tuan Putri menikah saja dengan Putra Gunung Lawu agar hubungan Pengging dan Prambanan bisa membaik,” ujar Emban Sriti sambil tersenyum kecil. Ia memang berharap Putri Rara Jonggrang bisa berjodoh dengan pemuda itu, meski baru mengenalnya dari cerita orang.

“Bibi, jangan bicara begitu! Aku tak akan mau menikah dengan pembunuh ayahku!” kata Putri Rara Jonggrang dengan nada keras, membuat Emban Sriti terkejut.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 74.

“Tuan Putri, belum tentu dia yang membunuh Ayahanda Prabu. Dalam perang, setiap prajurit hanya berusaha mengalahkan lawannya,” ujar Emban Sriti mencoba menenangkan.

“Namun tetap saja, dia ada di pihak musuh yang membunuh Ayahku! Aku tidak mau menikah dengan orang dari pihak itu! Sudahlah, untuk apa kita membicarakan hal ini?” kata Putri Rara Jonggrang sambil mengibaskan tangannya. Ia merasa malu karena tanpa sadar membahas hal itu dengan Emban Sriti, padahal di dalam hatinya, ia diam-diam ingin mengenal Putra Gunung Lawu lebih dekat.

Suasana pun menjadi hening. Keduanya terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi.

“Bibi, aku ingin tahu siapa sebenarnya yang membunuh Ayahku dalam perang itu. Bisakah Bibi menyelidikinya untukku?” tanya Putri Rara Jonggrang pelan, dengan tatapan kosong.

“Baik, Tuan Putri. Bibi akan mencoba mencari tahu. Tapi siapa pun pelakunya, Bibi harap Tuan Putri tetap bijaksana, demi kebaikan dan masa depan Tuan Putri sendiri,” jawab Emban Sriti sebelum meninggalkan sang Putri yang masih termenung.

Rara Jonggrang menarik napas panjang setelah kepergian Emban Sriti yang telah mengasuhnya sejak kecil. Pikirannya pun melayang pada sosok Putra Gunung Lawu. Di hatinya, rasa penasaran, suka, dan dendam bercampur jadi satu. Ia mencoba membayangkan pertemuan mereka nanti di Prambanan, namun tiba-tiba merasa malu sendiri. Menyadari hari telah senja, ia pun beranjak masuk ke keputren, meninggalkan taman yang perlahan diselimuti angin sore.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 75.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search