Menurut Karl Jaspers, tujuan filsafat adalah “mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri.” Ia (1883–1969) dikenal sebagai salah satu filsuf Jerman paling penting abad ke-20. Sebelum menjadi profesor filsafat, ia sudah terkenal sebagai psikolog dan psikiater. Bagi Jaspers, filsafat tidak memberi ajaran yang pasti atau sistematis. Ia lebih melihat filsafat sebagai cara berpikir yang membebaskan manusia, bukan sekadar kumpulan doktrin. Baginya, pertanyaan sama pentingnya dengan jawaban. PENGANTAR
Filsafat bukan sebuah doktrin. Filsafat adalah "tindakan batin", cara berpikir yang membebaskan manusia.—Karl Jaspers
Jaspers sering digolongkan sebagai eksistensialis bersama Heidegger, Marcel, Camus, dan Sartre, meski ia sendiri lebih suka menyebut pemikirannya “filsafat eksistensi”—karena Jaspers tak suka dengan istilah "eksistensialisme." Menurutnya, orang yang hendak berfilsafat harus mulai dengan mempelajari ilmu-ilmu. Dan filsafat mulai berperan ketika ilmu pengetahuan sudah mencapai batasnya—muncul ketidaktahuan. Di saat itulah manusia harus membuat keputusan untuk mengisi kebebasannya. Dari keputusan-keputusan itu, manusia menentukan siapa dirinya.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers", Jakarta: PT Gramedia, 1985, hlm. ix.
Filsafat Jaspers akhirnya bermuara pada sesuatu yang ia sebut “kepercayaan filosofis.” Ini bukan agama atau pengganti agama, melainkan ajakan agar manusia berani menjadi dirinya sendiri. Ia menyebut filsafatnya sebagai “seruan” untuk mengingat martabat luhur manusia.
Sebagai dokter, Jaspers juga menilai bahwa zaman modern mengancam martabat manusia. Menurutnya, pertanyaan terpenting adalah: apakah manusia bisa tetap bebas? Karena martabat hanya bisa dijaga jika kebebasan terjaga, dan itu mungkin hanya jika manusia percaya pada dirinya sendiri.
Buku ini menjadi pengantar pemikiran Jaspers, dimulai dari riwayat hidupnya, dasar pemikirannya, tema-tema penting seperti penerangan eksistensi, metafisika, periechontologi, dan kepercayaan filosofis, lalu diakhiri dengan evaluasi.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. x.
Identitas Buku
- Judul Buku: Filsafat Eksistensi Karl Jaspers
- Pengarang: Harry Hamersma
- Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
- Tanggal Terbit: 1985
- ISBN:
- Tebal Halaman: x+65
- Lebar:
- Panjang:
FILSAFAT EKSISTENSI KARL JASPERS
oleh Harry Hamersma
Desain sampul dan lay-out oleh Purnama Sidhi
Cetakan Pertama, 1985
Daftar Isi "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers"
Pengantar (ix)
Bab I: Hidup dan Karya (1)
- Riwayat Hidup (1)
- Tulisan-tulisan (4)
Bab II: Titik Pangkal Filsafat Jaspers (7)
- Filsafat dan Ilmu Pengetahuan (7)
- Filsafat Eksistensi (9)
- Filsafat sebagai Kepercayaan (11)
Bab III: Penerangan Eksistensi (12)
- Eksistensi (12)
- Saat Keputusan (13)
- Situasi-situasi Batas (13)
- Kekurangan-kekurangan Dunia (17)
- Kegagalan (18)
- Nasib (14)
- Kematian (14)
- Penderitaan (15)
- Perjuangan (16)
- Kesalahan (16)
Bab IV: Metafisika (19)
- Chiffer-chiffer (19)
- Transendensi (21)
- Kebebasan (22)
- Filsafat Eksistensi dan "Philosophia Perennis" (24)
- Penyerahan dan Perlawanan (24)
- Naik dan Turun (25)
- Hukum Siang dan Nafsu Malam (25)
- Kesatuan dan Kekayaan Keanekaragaman (26)
- Membaca Chiffer-chiffer (26)
- Bahasa Chiffer-chiffer dan Ontologi (28)
- Peranan Seni (28)
- Argumen-argumen untuk Adanya Allah (29)
- Kegagalan sebagai Chiffer Transendensi (30)
Bab V: Periechontologi (32)
- Logika Filosofis (32)
- Kierkegard dan Nietzsche (34)
- Periechontologi (35)
- Dasein (36)
- Bewusstsein überhaupt (36)
- Geist (36)
- Existenz (36)
- Welt (37)
- Transzendenz (37)
- Vernunft (38)
- Kebenaran (38)
- Allah (39)
- Penyempurnaan kebenaran (39)
Bab VI: Kepercayaan Filosofis (41)
- Agama Wahyu dan Kepercayaan Filosofis (41)
- Operasi Dasar (42)
- Perlunya Mitos (43)
- Filsafat dan Teologi (44)
- Filsafat, Teologi, dan Ilmu Pengetahuan (44)
- Perjuangan dalam Kerajaan Chiffer-chiffer (46)
- Keesaan Allah (46)
- Allah Pribadi (47)
- Inkarnasi (47)
- Trinitas (48)
- Allah dan "Ada" (49)
- Mengatakan yang Tak Terkatakan (48)
- Theologia Negativa (48)
- Coincidentia Oppositorum (49)
- Pemikiran Transenden (50)
- Prinsip Homoion (50)
- Dialog antara Agama Wahyu dan Kepercayaan Filosofis (50)
Bab VII: Filsafat sebagai Tindakan Batin (52)
- Karl Jaspers dan Eksistensialisme (53)
- Filsafat sebagai Kepercayaan akan Keilahan Tersembunyi (55)
- Kebebasan (56)
- Filsafat Eksistensi dan "Philosophia Perennis" (58)
Bibliografi (61)
Riwayat Singkat Pengarang (65)
BAB I: HIDUP DAN KARYA
1. Riwayat Hidup
Karl Theodor Jaspers lahir di Oldenburg, Jerman Utara, 23 Februari 1883. Ia anak sulung dari Carl Wilhelm Jaspers, seorang ahli hukum yang juga pernah menjadi direktur bank dan pemimpin dewan kota, dan ibunya bernama Henriette Tantzen. Keluarganya beragama Protestan Liberal.
Sejak kecil Jaspers sering sakit paru-paru dan lemah jantung. Karena itu ia tidak banyak ikut kegiatan sosial di sekolahnya, Gymnasium Oldenburg (1892–1902). Ia juga menolak ikut organisasi siswa yang hirarkis, sehingga hidupnya lebih menyendiri. Kesendirian ini ia isi dengan minat pada ilmu pengetahuan, sastra, seni, dan alam. Pada akhir hidupnya, Jaspers heran bisa berumur panjang. Akan tetapi karena penyakitnya itulah ia justru hidup dengan teratur dan keteraturan itu membuatnya sangat produktif.
Jaspers bertubuh kurus dan tinggi. Ia sempat kuliah hukum di Heidelberg dan München, tetapi berhenti setelah tiga semester dan beralih ke kedokteran di Berlin, Göttingen, lalu kembali ke Heidelberg. Tahun 1908 ia lulus dan setahun kemudian meraih doktor dengan disertasi Heimweh und Verbrechen (Kerinduan dan Kejahatan). Dari 1909–1915 ia bekerja di klinik psikiatri Heidelberg. Tahun 1910 ia menikah dengan Gertrud Mayer, seorang Yahudi, kakak temannya Ernst Mayer (Ernst Mayer: dokter sekaligus filsuf). Lewat pekerjaannya sebagai psikiater, Jaspers makin tertarik pada psikologi dan filsafat, hingga akhirnya menjadi dosen psikologi di Universitas Heidelberg.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 1.
Tahun 1921 ia diangkat sebagai guru besar filsafat di Heidelberg. Saat itu ia berteman dengan Martin Heidegger, tetapi persahabatan berakhir karena berbeda sikap terhadap Nazi: Jaspers menolak, sementara Heidegger mendukung Hitler—suatu hal yang kemudian disesali Heidegger. Tahun 1937 Jaspers dipecat dan dilarang menerbitkan karya—karena politik. Bahkan tahun 1945 ia dan istrinya nyaris dikirim ke kamp konsentrasi, namun selamat karena Kota Heidelberg dibebaskan tentara Amerika dua minggu sebelum tanggal eksekusi.
Tanggal eksekusi: 14 April 1945.
Kota Heidelberg dibebaskan tentara Amerika: 30 Maret 1945.
Sesudah perang, kariernya kembali gemilang. Ia diangkat lagi menjadi profesor dan senator universitas. Banyak karyanya yang diselesaikan saat masa larangan diterbitkan kemudian. Namun, karena situasi politik Jerman tetap sulit, tahun 1948 ia pindah ke Universitas Basel di Swiss, lalu menjadi warga negara Swiss. Ia meninggal di Basel, 26 Februari 1969, dalam usia 86 tahun.
"Supaya manusia mencapai umur panjang, ia harus menderita suatu penyakit."—Jaspers mengutip peribahasa Cina.
Sebelum jadi filsuf di usia 38 tahun, Jaspers lebih dulu dikenal sebagai ilmuwan. Ia selalu gelisah terhadap ilmu yang dianggap tidak lengkap, sehingga berpindah bidang, dari hukum ke kedokteran, kedokteran ke psikiatri, psikiatri ke psikologi, psikologi ke filsafat. Ia menjadi filsuf karena ingin berdialog dengan pemikiran orang lain, baik sezaman maupun dari masa lalu. Seumur hidupnya ia mempelajari filsafat Timur dan Barat. Ia terinspirasi oleh Spinoza, Max Weber, Kant, Kierkegaard, Nietzsche, juga pemikir mistik seperti Plotinos, Cusanus, dan Schelling.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 2.
Bagi Jaspers, filsafatnya selalu ditemani dua hal: dialog dengan pemikir besar sepanjang sejarah dan laut. Ia lahir dekat laut, dan laut menjadi simbol kebebasan serta transendensi baginya. Dalam karangannya: Schicksal und Wille (Nasib dan Kehendak, 1967), ia bercerita tentang pengalaman masa kecilnya melihat laut di pulau Norderney. Laut baginya melambangkan ruang tanpa batas, kebebasan, dan keterbukaan menuju cakrawala. Karena itu banyak istilah penting dalam filsafat Jaspers diambil dari konteks laut, seperti “cakrawala”, “melayang”, “terdampar”, “keterbukaan”, “yang melingkupi”, “kesepian”, “keluasan”, “perspektif tak terhingga”, hingga “dijangkarkan dalam keabadian”.
Transendensi adalah keadaan melampaui batasan-batasan keberadaan fisik, pengalaman duniawi, atau kesadaran diri biasa.
"Gunung-gunung memang indah, tetapi gunung-gunung menyembunyikan cakrawala. Di laut, perspektif kepada cakrawala selalu terbuka. Maka, Thales benar. Filsafat bermula pada air."—Jaspers
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 4.
2. Tulisan-tulisan
Karl Jaspers menulis banyak buku dan artikel. Antara tahun 1909–1931, ia lebih fokus pada psikiatri dan psikologi. Dua karyanya yang penting di masa itu adalah Allgemeine Psychopathologie (1913) yang jadi buku klasik, dan Psychologie der Weltanschauungen (1919) yang berpengaruh luas, meski kemudian ia sendiri kurang puas dengan buku itu.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 4.
Tahun 1931, ia menerbitkan Die geistige Situation der Zeit (“Situasi rohani zaman kita”), yang membahas kondisi kebudayaan Barat sekitar 1930. Di situ, Jaspers menunjukkan kekhawatirannya terhadap Marxisme dan Nazisme, dan untuk pertama kalinya ia merumuskan gagasan tentang filsafat eksistensi. Gagasan ini kemudian dijabarkannya secara lengkap dalam karya besarnya Philosophie (1932), tiga jilid: Orientasi filosofis dalam dunia, Penerangan eksistensi, dan Metafisika. Jaspers menganggap buku ini sebagai karyanya yang paling penting.
Karya berikutnya: Vernunft und Existenz (1935) dan Existenzphilosophie (1938) menjadi dasar bagi bukunya Von der Wahrheit (1948) atau Mengenai Kebenaran. Buku ini membahas dimensi kebenaran, yang oleh Jaspers disebut Periechontologie, yaitu ajaran tentang transendensi yang “melingkupi” manusia.
Jaspers juga menulis tentang banyak filsuf besar. Ia ingin membuat “sejarah filsafat dunia”, meski hanya sebagian yang selesai. Sebagai pengantar, ia menerbitkan Vom Ursprung und Ziel der Geschichte (1949). Lalu dalam Die Grossen Philosophen I (1957), ia membahas tokoh-tokoh seperti Anaximander, Heraklitos, Plato, Kant, Konfusius, Buddha, hingga Yesus. Ia juga menulis monografi khusus, misalnya tentang Nietzsche (1936), Descartes (1937), Schelling (1955), dan Nikolaus Cusanus (1964).
Dalam Der philosophische Glaube (1948), Jaspers mencoba merumuskan keyakinan minimal tentang Tuhan yang bisa jadi dasar dialog antaragama. Tema ini diperluas dalam Der philosophische Glaube angesichts der Offenbarung (1962). Ia juga berdiskusi dengan Rudolf Bultmann soal demitologisasi dalam buku tahun 1954.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 5.
Ia menerbitkan dua buku pengantar filsafat dari kuliah radionya: Einführung in die Philosophie (1950) dan Kleine Schule des Philosophischen Denkens (1965). Selain itu, ia menulis otobiografi: Philosophische Autobiographie (1960) dan Schicksal und Wille (1967).
Jaspers juga menulis tentang politik Jerman pasca-Perang Dunia II. Salah satu yang penting adalah Die Atombombe und die Zukunft des Menschen (1958), yang membahas bahaya bom atom. Ia mengingatkan manusia untuk tetap percaya pada akal, kebebasan, dan tanggung jawab—jika tidak, dunia bisa menghadapi bencana nuklir.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 6.







0 komentar:
Posting Komentar