Prambanan berkembang pesat sejak kembali menjadi kadipaten di bawah pimpinan Adipati Darmamaya dan Senapati Bandung Bandawasa. Raja Pengging selalu mengawasi langkah mereka agar tidak terjadi lagi perebutan wilayah seperti dulu.
Rakyat Prambanan berperan besar dalam membangun kembali kadipaten. Dalam suasana damai, Adipati Darmamaya dan Bandung Bandawasa mengajak rakyat bekerja sama dalam urusan pemerintahan. Mereka juga diminta melupakan masa lalu yang pahit antara Prambanan dan Pengging. Beberapa warga yang berbakat bahkan diangkat menjadi prajurit Kadipaten Prambanan. Segala masalah pun bisa diselesaikan dengan cara damai yang memuaskan semua pihak.
Suasana saling percaya itu membuat Prambanan menjadi tenteram. Dalam waktu singkat, banyak kemajuan berhasil dicapai. Raja Anglingdriya sangat gembira melihat hal itu. Ia berharap kedamaian dan kemajuan tersebut bisa terus bertahan, bahkan menaruh harapan besar kepada Bandung Bandawasa — bukan hanya untuk Prambanan, tetapi juga untuk seluruh wilayah Pengging.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 76.
Kedamaian di Prambanan rupanya tidak dirasakan di keputren Istana Prambanan, tempat tinggal Putri Rara Jonggrang. Adipati Darmamaya dan Bandung tetap memberikan tempat itu kepadanya, meski seluruh istana kini menjadi wilayah kadipaten. Mereka melakukan itu demi menjaga hubungan baik dengan sang putri sebagai bagian dari masa lalu Prambanan dan mendiang Prabu Kalakarung. Bahkan, Adipati Darmamaya punya rencana khusus untuk Bandung dan Putri Rara Jonggrang.
“Bandung, sampai sekarang kita belum pernah bertemu langsung dengan Putri Rara Jonggrang. Aku merasa ia masih menyimpan dendam pada kita dan Pengging. Cobalah kau temui dia dan ajak berbicara, agar kita tahu apa yang sebenarnya ia rasakan,” kata Adipati Darmamaya.
“Benar, Paman. Aku pun merasa bersalah setiap kali mengingatnya. Ia pasti masih berduka karena kehilangan ayah dan kerajaannya. Aku hanya berharap ia sudah tenang dan mau bekerja sama dengan kita untuk mempererat hubungan antara Prambanan dan Pengging,” jawab Bandung.
“Bagus. Aku juga berharap kalian bisa mewujudkan hal itu dengan bijak dan tulus, bukan karena ingin membalas masa lalu,” ujar Adipati Darmamaya.
“Tentu, Paman. Aku justru berharap keadaan akan menjadi lebih baik kalau Putri Rara Jonggrang mau terbuka,” kata Bandung.
Mereka pun mulai membicarakan waktu yang tepat bagi Bandung untuk menemui Putri Rara Jonggrang sekaligus membahas masa depan Prambanan — jika suatu saat Bandung dan Putri Rara Jonggrang bersatu.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 77.
Suatu hari, Senapati Bandung Bandawasa memberanikan diri menemui Putri Rara Jonggrang di keputren Istana Prambanan. Awalnya, sang putri enggan bertemu dengannya, tetapi setelah dibujuk oleh Emban Sriti, ia akhirnya bersedia.
“Hamba mohon maaf bila kedatangan hamba mengganggu Tuan Putri. Tujuan hamba datang adalah untuk mempererat kembali hubungan antara Pengging dan Prambanan yang sempat terputus. Hamba juga ingin bersama Tuan Putri membangun kembali kejayaan Prambanan,” ujar Bandung membuka pembicaraan dengan hormat.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 78.
Putri Rara Jonggrang diam saja dan tidak menanggapi. Sikapnya dingin dan penuh prasangka. Ia masih menyimpan amarah pada orang yang dianggap telah membunuh ayahnya. Matanya yang berkilat menunjukkan kemarahan yang ia pendam.
Bandung Bandawasa berusaha memahami sikap Sang Putri. Di balik wajahnya yang cantik, ia bisa melihat kesedihan dan kebencian yang dalam. Ia sadar, Putri Rara Jonggrang pasti sudah tahu bahwa dirinya adalah orang yang membunuh ayahnya.
“Hamba turut berduka atas meninggalnya Prabu Kalakarung. Semoga Tuan Putri diberi ketabahan,” ucap Bandung hati-hati, berharap Sang Putri mau menanggapinya.
“Mudah sekali kau berkata begitu! Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan Ayah! Kau pasti puas karena telah membunuhnya!” balas Putri Rara Jonggrang dengan nada tajam. Ucapan itu membuat Bandung menarik napas panjang. Duganya benar—Sang Putri sangat membencinya.
“Hamba benar-benar minta maaf, Tuan Putri. Dalam perang, kami hanya berusaha mempertahankan diri. Seandainya Prabu Kalakarung mau berdamai dan menyerahkan kekuasaan dengan cara baik-baik, semua ini tidak akan terjadi. Tapi beliau memilih bertarung sampai akhir,” kata Bandung dengan tenang.
Air mata menetes di pipi Putri Rara Jonggrang. Ia masih sulit menerima kenyataan pahit yang menimpa keluarganya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 79.
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar tangis pelan Putri Rara Jonggrang yang membuat hati Bandung Bandawasa terasa perih.
“Baiklah, Tuan Putri. Hamba pamit. Semoga suatu hari kita bisa berbincang dalam suasana yang lebih tenang. Sekali lagi, hamba mohon maaf dan turut berduka atas wafatnya Sang Prabu. Semoga Tuan Putri memahami keadaan hamba,” ucap Bandung sambil perlahan meninggalkan Sang Putri yang masih menangis.
Bandung melangkah keluar dari keputren dengan perasaan campur aduk. Ia bisa merasakan kesedihan yang dialami Sang Putri dan berharap suatu hari ia akan memaafkannya. Namun, di balik rasa bersalah itu, muncul sesuatu yang baru di hatinya — Bandung sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada Putri Rara Jonggrang. Sayangnya, sikap dingin dan kebencian Sang Putri membuatnya ragu dan takut.
Setibanya di kadipaten, Bandung segera menemui Adipati Darmamaya. Ia menceritakan pertemuannya dengan Putri Rara Jonggrang yang bersikap ketus kepadanya. Harapan mereka untuk mendekati Sang Putri tampak semakin sulit, terutama bagi Bandung yang sudah terlanjur menaruh hati padanya.
“Bersabarlah, Bandung. Saat ini Putri Rara Jonggrang masih bersedih. Tapi Paman yakin, suatu hari ia akan bersikap baik kepada kita,” ujar Adipati Darmamaya sambil menepuk bahu Bandung.
Mereka lalu membicarakan cara untuk meluluhkan hati Sang Putri. Akhirnya, Adipati Darmamaya memutuskan untuk melamar Putri Rara Jonggrang bagi Bandung Bandawasa. Meskipun Bandung merasa ragu, sang Adipati tetap pada keputusannya. Ia menetapkan bahwa dua hari lagi, mereka akan datang melamar Putri Rara Jonggrang dengan harapan dapat menghapus duka dan dendam di hatinya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 80.
Dua hari kemudian, Adipati Darmamaya datang ke keputren bersama beberapa prajurit untuk melamar Putri Rara Jonggrang. Kali ini, Sang Putri tampak lebih tenang dan ramah, tidak seperti saat bertemu Bandung Bandawasa sebelumnya. Sikap itu membuat Adipati Darmamaya semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.
“Selamat pagi, Tuan Putri. Bagaimana kabarnya? Semoga kedatangan kami tidak mengganggu,” sapa Adipati Darmamaya saat melihat Sang Putri menghampiri mereka.
“Selamat pagi, Tuan Adipati. Kami semua di sini baik-baik saja. Hanya saja, kami cukup terkejut dengan kunjungan mendadak ini,” jawab Putri Rara Jonggrang sambil tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu. Maksud kedatangan kami adalah untuk bersilaturahmi sekaligus membuka lembaran baru dalam hubungan antara Prambanan lama dan baru. Kami berharap Tuan Putri bersedia bekerja sama untuk membangun kembali Prambanan,” ujar Adipati Darmamaya dengan tenang.
“Dengan senang hati, Tuan Adipati. Tapi aku menyadari keterbatasanku, mungkin aku tidak bisa membantu banyak seperti yang Tuan harapkan,” jawab Putri Rara Jonggrang mencoba menolak halus.
“Aku mengerti, Tuan Putri. Aku tidak akan memaksa,” kata Adipati Darmamaya. “Namun, untuk mempererat hubungan antara kita, aku ingin menyampaikan lamaran dari Senapati Bandung Bandawasa. Ia telah menaruh hati dan ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Tuan Putri. Semoga Tuan Putri berkenan menerimanya.”
Putri Rara Jonggrang terdiam kaget mendengar ucapan itu. Ia tidak menyangka bahwa Putra Gunung Lawu berani melamarnya melalui Adipati Darmamaya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 81.
“Maaf, Tuan Adipati, apakah aku tidak salah dengar?” tanya Putri Rara Jonggrang, berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Tidak, Tuan Putri. Senapati Bandung Bandawasa sungguh-sungguh ingin melamar dan menjadikan Tuan Putri istrinya. Kedatanganku hari ini untuk menyampaikan lamaran itu,” jawab Adipati Darmamaya menegaskan.
Putri Rara Jonggrang menatap Emban Sriti yang sejak tadi menemaninya. Ia tampak bingung harus berkata apa, sementara Emban Sriti terlihat senang mendengar kabar itu. Ia berharap Sang Putri mau menerima lamaran tersebut agar bisa melupakan kesedihan dan kebenciannya.
“Bagaimana, Bi?” bisik Putri Rara Jonggrang pelan.
“Terima saja, Tuan Putri. Bibi yakin Tuan Putri akan bahagia. Itulah yang Bibi harapkan selama ini,” jawab Emban Sriti lembut.
Namun, Putri Rara Jonggrang masih ragu. Kata-kata Emban Sriti belum cukup untuk membuatnya memaafkan Bandung Bandawasa. Luka hatinya terlalu dalam dan telah berubah menjadi dendam yang membara.
“Bagaimana, Tuan Putri? Kami berharap lamaran ini bisa diterima dengan baik. Kami menunggu jawaban Tuan Putri sekarang juga,” kata Adipati Darmamaya memecah keheningan.
“Terima kasih atas lamarannya, Tuan Adipati. Namun, karena lamaran ini datang begitu tiba-tiba, aku butuh waktu untuk berpikir. Mungkin minggu depan aku baru bisa memberikan jawaban,” ucap Putri Rara Jonggrang terbata-bata.
Jawaban itu membuat semua yang hadir terkejut—terutama Adipati Darmamaya dan Emban Sriti, yang semula berharap Sang Putri akan langsung menerimanya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 82.
“Baiklah, kami akan menunggu jawaban Tuan Putri minggu depan. Kalau begitu, kami pamit dulu,” kata Adipati Darmamaya dengan ramah. Ia dan para prajuritnya pun keluar dari keputren dengan perasaan penuh harapan. Setidaknya, Putri Rara Jonggrang tidak langsung menolak lamaran Bandung Bandawasa.
Bandung menerima keputusan Sang Putri dengan lapang dada, meski ia harus menunggu selama seminggu. Sebagai seorang ksatria, ia tidak ingin ada paksaan dalam urusan hati. Apa pun jawaban Putri Rara Jonggrang nanti, ia akan menerimanya dengan ikhlas.
“Paman, sambil menunggu jawaban Putri Rara Jonggrang, aku ingin berdoa dan bersemedi dulu. Tugas-tugasku sebagai senapati sementara aku serahkan kepada Paman. Semoga Paman tidak keberatan,” kata Bandung dengan hormat.
“Tentu saja tidak, Bandung. Aku mengerti perasaanmu. Semoga kau mendapat petunjuk dan keberhasilan setelah semedi nanti,” jawab Adipati Darmamaya dengan bijak.
Bandung lalu pergi mencari tempat yang tenang untuk bersemedi. Ia berharap mendapat petunjuk dan keberkahan, terutama tentang hubungannya dengan Putri Rara Jonggrang. Jika Sang Putri menolak lamarannya, ia hanya berharap Putri Rara Jonggrang mau memaafkannya karena telah membunuh Prabu Kalakarung.
Akhirnya, Bandung menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan. Setelah membersihkan tempat itu dan dirinya, ia mulai bersemedi dengan khusyuk. Bandung menenangkan pikirannya dan memusatkan hati pada Tuhan Yang Mahakuasa, melupakan segala urusan duniawi.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 83.
Daftar Isi:
- Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
- Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
- Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000






0 komentar:
Posting Komentar