Kabut pagi masih menyelimuti lereng Gunung Lawu ketika seorang pemuda tampak berjalan menuruni lereng dengan penuh semangat. Udara masih dingin karena matahari belum muncul. Di punggungnya tergantung buntalan yang menandakan ia sedang melakukan perjalanan jauh. Seorang pengembara biasanya membawa buntalan seperti itu untuk bekal.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 7.
Pemuda itu bernama Bandung Bandawasa. Ia berjalan dengan semangat, tapi wajahnya tampak sedih. Ia baru saja meninggalkan padepokan yang sangat dicintainya di Gunung Lawu, tempat ia belajar ilmu kanuragan selama sepuluh tahun dari Begawan Sidik Paningal. Walau tahu suatu hari harus pergi, tetap saja hatinya berat untuk berpisah.
Langkahnya makin cepat, seolah ingin melupakan rasa rindunya pada padepokan itu. Namun, tiba-tiba ia teringat nasihat terakhir dari gurunya sebelum berangkat mengembara mencari ilmu yang lebih tinggi.
“Bandung, sepuluh tahun kau belajar di sini dan sudah menguasai banyak ilmu yang berguna untuk hidupmu. Ingatlah, jangan pernah sombong dengan ilmu yang kau miliki. Gunakan dengan rendah hati. Kesombongan hanya akan membuatmu lupa untuk terus belajar. Hanya Tuhan yang pantas menyombongkan diri karena Dialah pemilik segala ilmu di alam semesta.
Sekarang saatnya kau mengembara dan mengamalkan ilmumu. Kau juga bisa mencari ilmu kanuragan yang lebih tinggi. Berhati-hatilah, karena di luar sana banyak orang jahat. Terimalah pusaka ini sebagai bekal. Keris ini sangat ampuh, bisa menaklukkan jin dan siluman. Gunakan hanya saat kau benar-benar terdesak,” ujar sang guru sambil menyerahkan keris pusaka itu.
Bandung Bandawasa menerima keris tersebut dengan takjub dan penuh hormat.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 8.
Bandung Bandawasa menerima keris pusaka padepokan itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak menyangka akan mendapat kepercayaan sebesar itu dari gurunya. Hal itu membuat rasa hormatnya pada Begawan Sidik Paningal semakin besar.
Perasaan haru menyelimuti hatinya setiap kali ia teringat momen perpisahan dengan sang guru. Ia tahu, jasa gurunya yang telah mengajarkan ilmu kanuragan dan mendidiknya dengan bijaksana tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Menjelang malam, Bandung sudah semakin jauh dari padepokan Gunung Lawu. Ia sampai di sebuah desa yang cukup ramai. Dari obrolan orang-orang di jalan, ia tahu bahwa desa itu bernama Karanganyar.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 9.
Setelah makan di warung kecil, Bandung mencari tempat untuk beristirahat. Ia menemukan sebuah balai tempat dua pedagang kelapa sedang beristirahat di samping gerobak mereka. Karena lelah, Bandung segera tertidur di sana.
Keesokan paginya, Bandung bangun dengan badan segar. Ia pun berkenalan dengan dua pedagang itu yang bernama Soma dan Dipa. Karena belum punya tujuan pasti, Bandung memutuskan ikut mereka menuju Kutaraja Pengging.
“Berapa lama perjalanan ke sana?” tanya Bandung.
“Biasanya dua hari,” jawab Soma. “Tapi kalau jalan utama berbahaya karena banyak perampok, kami memutar ke selatan, bisa sampai tiga hari.”
“Gerobak kelapa memang lambat,” tambah Dipa. “Semoga kau tak keberatan ikut kami.”
“Tidak apa-apa,” jawab Bandung tersenyum. “Aku justru berterima kasih sudah diajak, padahal kita baru kenal.”
Setelah sarapan di kedai dekat balai, mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol akrab hingga tak terasa sudah tiba di gerbang Kota Pengging, yang dijaga para prajurit.
Begitu sampai di kota, Bandung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sedangkan Soma dan Dipa pergi ke pasar untuk menjual kelapa. Mereka pun berpisah dengan saling mengucap salam dan doa.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 10.
Saat berjalan-jalan di Kota Pengging, Bandung melihat rombongan prajurit berkuda melintas cepat ke arah tenggara. Mereka membawa senjata lengkap. Bandung berhenti dan berteduh sambil memperhatikan mereka.
"Aku yakin mereka menuju Grogol," kata seorang pedagang di sampingnya.
"Memangnya ada apa di Grogol?" tanya pedagang lain.
"Kau belum dengar? Ada pemberontakan di Prambanan! Prabu Kalakarung yang kini berkuasa di sana ingin merebut daerah kita. Pasukan Prambanan sudah sampai di Grogol. Tentara Pengging berangkat untuk menghadang mereka sebelum sampai ke ibu kota," jelas pedagang itu.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 11.
Bandung mendengarkan sambil terus memandangi pasukan yang makin menjauh. Debu mengepul dari derap kaki kuda mereka. Karena penasaran, Bandung memutuskan pergi ke arah tenggara untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Grogol.
Dulu, Prambanan adalah kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Pengging. Namun sejak dipimpin Adipati Kalakarung, segalanya berubah. Kalakarung mengumpulkan kekuatan dan memisahkan diri, lalu menobatkan dirinya sebagai raja. Satu per satu wilayah Pengging di tenggara Gunung Merapi berhasil ia rebut. Kini, ia berniat menaklukkan Pengging dengan menguasai Grogol terlebih dahulu.
Prabu Anglingdriya, Raja Pengging, sangat marah atas tindakan itu. Ia menyesal pernah mengangkat Kalakarung sebagai adipati. Karena tidak rela wilayahnya direbut, ia mengirim pasukan ke Grogol — gerbang utama menuju Pengging.
Dua hari sebelumnya, Anglingdriya berunding dengan Patih Tambakbaya dan memerintahkan Senapati Darmamaya memimpin pasukan untuk menyerang Prambanan. Tumenggung Mayangkara dan Setrajali membantu menyiapkan bala tentara. Pasukan yang dilihat Bandung tadi ternyata adalah pasukan terakhir yang dikirim ke Grogol, untuk melawan pasukan Prambanan yang dipimpin Senapati Suralangu — panglima perang yang terkenal sangat sakti.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 12.
Ternyata, Grogol sudah dikuasai pasukan Prambanan. Senapati Suralangu berhasil memimpin pasukannya melawan tentara Pengging. Banyak prajurit Pengging yang tewas atau terluka parah, termasuk Senapati Darmamaya sendiri. Jika malam tidak segera tiba, pasukan Pengging mungkin sudah kalah total. Malam itu, kedua pasukan mundur dan beristirahat di posisi masing-masing.
Senapati Darmamaya segera dirawat agar bisa sembuh dan memimpin lagi keesokan harinya. Namun, meski sudah diberi berbagai ramuan dan pengobatan, keadaannya belum membaik. Hal ini membuat para prajurit cemas, karena tanpa Darmamaya, mereka bisa kalah dengan mudah.
“Tuan, Tumenggung Mayangkara dan Setrajali ingin menghadap,” kata seorang prajurit.
Dengan menahan sakit, Darmamaya mengangguk. Tak lama kemudian, kedua tumenggung itu masuk dan melapor tentang keadaan pasukan. Mereka juga membicarakan rencana perang besok jika Darmamaya belum pulih.
“Tuan Senapati, besok biarlah kami yang memimpin pasukan. Tuan sebaiknya beristirahat saja. Kami akan bekerja sama menghadapi Senapati Suralangu,” kata Tumenggung Mayangkara.
“Aku percaya kalian bisa memimpin dengan baik. Tapi bagaimanapun, perang ini adalah tanggung jawabku,” jawab Darmamaya dengan suara lemah.
“Tuan,” kata Tumenggung Setrajali, “di luar ada seorang pemuda. Kami tidak mengenalnya, tapi dia telah menyembuhkan beberapa prajurit kita yang terluka. Bagaimana kalau kita memintanya untuk menyembuhkan Tuan juga?”
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 13.
Seorang prajurit memanggil pemuda itu, yang ternyata adalah Bandung Bandawasa. Ia datang tepat waktu, meski tidak ikut bertempur. Bandung membantu prajurit Pengging yang terluka, baik ringan maupun berat. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan ilmu yang dipelajarinya di padepokan. Ia meracik obat dari akar dan tumbuhan di sekitar tempat itu. Para prajurit sangat berterima kasih kepadanya, meski sebelumnya tidak mengenalnya. Sejak saat itu, Bandung dikenal sebagai tabib pasukan Pengging.
“Masuklah! Siapa namamu?” tanya Senapati Darmamaya.
“Namaku Bandung Bandawasa. Aku pengembara dari Gunung Lawu, kebetulan lewat di sini,” jawab Bandung dengan tenang.
“Aku berharap kau bisa menyembuhkanku seperti kau menolong pasukanku. Aku harus kembali memimpin perang besok,” kata Senapati Darmamaya lemah.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 14.
"Akan kucoba, Tuan. Dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa, semoga Tuan segera sembuh," kata Bandung sambil memeriksa luka Sang Senapati dan menyiapkan ramuan obatnya.
Bandung menempelkan ramuan pada perut dan tangan Senapati yang terluka parah. Ia juga membuat ramuan minum agar luka tidak semakin parah. Tak lama setelah meminumnya, Senapati tampak tenang dan tidak lagi kesakitan. Ia pun tertidur lelap di dalam kemahnya.
"Beliau akan tidur sampai besok pagi. Lukanya belum bisa sembuh total, mungkin butuh waktu tiga hari sampai seminggu. Selama itu, beliau harus beristirahat," jelas Bandung kepada para tumenggung yang menunggu di luar kemah dengan cemas.
"Tiga hari? Wah, gawat! Tak ada cara agar beliau bisa sembuh lebih cepat?" tanya Setrajali gelisah.
Bandung heran melihat mereka. "Kenapa kalian begitu cemas?" tanyanya.
"Begini, anak muda. Kami sangat bergantung pada Senapati Darmamaya. Tadi siang saja, kami hanya bisa menahan serangan Panglima Suralangu berkat pimpinannya. Kalau beliau tidak ada, mungkin besok atau lusa kami akan kalah," jawab Setrajali.
"Apakah kerajaan tidak punya pasukan lain atau pemimpin yang bisa diandalkan?" tanya Bandung.
"Ada, Patih Tambakbaya. Tapi beliau masih di istana menjaga Raja Anglingdriya. Untuk menjemputnya butuh dua hari pergi dan dua hari pulang. Kami tak akan bisa bertahan selama itu," kata Mayangkara dengan nada putus asa.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 15.
"Aku mengerti. Maaf, aku tidak bisa banyak membantu, Tuan. Sekarang biarkan aku mengobati pasukan Tuan yang terluka," kata Bandung sambil berjalan menuju tempat para prajurit beristirahat. Sambil mengobati, ia juga mencari akar dan daun di sekitar situ untuk menambah persediaan ramuan yang hampir habis. Beberapa prajurit ikut membantunya mencari tumbuhan obat itu.
Malam semakin larut dan suasana menjadi sunyi. Semua pasukan tertidur pulas karena kelelahan setelah pertempuran siang tadi. Bahkan, para penjaga pun ikut tertidur karena tak kuat menahan kantuk.
Bandung tersenyum melihat pemandangan itu. Ia merasa senang bisa membantu para prajurit yang terluka hingga mereka bisa tidur dengan tenang berkat ramuannya.
Udara malam di Grogol terasa sejuk, langit cerah disinari bulan. Bandung pun ikut merasa mengantuk. Ia berbaring di atas rumput tebal sambil mengingat masa-masa di padepokan Gunung Lawu. Tak lama kemudian, ia pun tertidur lelap di antara orang-orang yang belum lama dikenalnya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 16.






0 komentar:
Posting Komentar