Etika pada dasarnya membahas kewajiban moral (apa yang harus atau tidak boleh dilakukan). Karena itu, buku ini akan menekankan analisis tentang kewajiban. Hal-hal lain, seperti penilaian non-moral (misalnya indah, enak, berguna), hanya dibahas sekilas kalau ada kaitannya dengan kewajiban. Sedangkan tentang penilaian moral, buku ini hanya akan mengangkat satu tema besar yang penting, yaitu kebebasan dan tanggung jawab.
***
3. Objek Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas pandangan dan masalah tentang moral. Karena moral itu diungkapkan lewat pernyataan, maka objek etika adalah pernyataan moral. Jika kita perhatikan, pernyataan moral ada dua macam:
- Pernyataan tentang tindakan manusia.
- Pernyataan tentang manusia itu sendiri, seperti motif, maksud, dan wataknya.
Selain itu, ada juga pernyataan ketiga yang sebenarnya bukan moral, tapi tetap penting untuk membahas tindakan manusia. Jadi, ada tiga macam pernyataan yang menjadi bahan kajian etika.
- Ada pernyataan tentang kewajiban, yaitu ketika kita menilai suatu tindakan sesuai atau tidak dengan norma moral. Misalnya: “Engkau harus mengembalikan uang itu!”, “Mencuri itu salah”.
- Ada pernyataan penilaian moral, yaitu ketika kita menilai orang, kelompok, atau kepribadian (motif, watak, maksud, dll.) Misalnya: pribadi itu baik, buruk, jahat, suci, memalukan, bertanggung jawab, dan sebagainya.
- Ada juga pernyataan penilaian non-moral, yaitu menilai sesuatu secara umum, bukan dari sisi moral. Misalnya: “Mangga ini enak”, “Mobil ini bagus”, “Cuaca hari ini buruk”, “Pemandangannya indah”.
Jadi, etika membedakan tiga jenis pernyataan: kewajiban, penilaian moral, dan penilaian non-moral.
Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral", Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1984, hlm. 15.
Ada perbedaan penting antara pernyataan kewajiban dan penilaian.
Dalam kewajiban, tidak ada tingkatan: sesuatu hanya bisa wajib atau tidak wajib, benar atau salah. Misalnya: merokok di kamar boleh atau tidak boleh; membayar bunga pinjaman wajib atau tidak wajib — tidak ada pilihan tengah.
Dalam penilaian, ada tingkatan. Misalnya: mangga bisa agak enak atau enak sekali; watak bisa amat jahat, agak jahat, atau baik; guru bisa lebih atau kurang bertanggung jawab.
Maka: kewajiban itu mutlak (ya/tidak), penilaian itu bertingkat (ada kadar/tingkatan).
Kita sebaiknya tetap membedakan istilah. Tindakan bukan disebut baik atau buruk, tapi benar atau salah, wajib atau tidak wajib.
Alasannya: baik-buruk bisa ada tingkatannya, sedangkan tindakan hanya bisa sesuai atau tidak sesuai dengan norma moral (tidak ada tingkat).
Yang bisa disebut baik atau buruk adalah orangnya, maksudnya, atau motifnya saat bertindak.
Dalam bahasa sehari-hari, kalau kita bilang suatu tindakan itu baik atau jahat (misalnya mengkhianati atau membela teman), sebenarnya yang kita nilai bukan tindakannya, tapi motivasi orang yang melakukannya. Jadi, itu termasuk penilaian moral, bukan pernyataan kewajiban.
Maka: Tindakan itu mengenai benar/salah. Sedangkan subjektivitas seperti motif atau orang itu mengenai baik/buruk.
Lalu, mana yang menjadi fokus etika?
Penilaian non-moral memang paling sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Ia dipakai untuk menilai sesuatu dari sisi manfaat, keindahan, kegunaan (misalnya: mangga ini enak, pemandangannya indah, buku ini berguna). Itu termasuk bahasan filsafat nilai (aksiologi), bukan etika. Tapi kalau penilaian semacam itu berkaitan dengan kewajiban moral, barulah ia masuk ranah etika. Misalnya: “Makanan bergizi itu baik”—kalau ada kewajiban memberi makan anak, maka penilaian “bergizi” menjadi penting dalam etika.
Maka, etika hanya akan memperhatikan penilaian non-moral kalau ada hubungannya dengan kewajiban moral.
Penilaian moral juga baru bisa dibahas setelah kita memahami pernyataan kewajiban. Nilai moral muncul saat orang menjalankan tindakan sesuai kewajiban.
Jadi sebelum kita bisa menilai orang sebagai pribadi yang baik, jujur, setia, suci dan sebagainya (penilaian moral), kita harus tahu dulu apa kewajiban moralnya. Kalau suatu perbuatan jelas wajib atau dilarang, barulah penilaian moral bisa diberikan.
Contoh: orang disebut jujur karena tidak korupsi. Itu bisa masuk akal karena sudah ada dasar kewajiban, yakni korupsi itu salah.
Nilai moral juga bisa berbeda tingkatnya, tergantung kewajiban dan situasi.
Contoh: memberi makan anak kecil memang kewajiban, tapi menyelamatkan anak dari rumah terbakar punya nilai moral yang lebih tinggi.*
*Memberi makan anak kecil adalah kewajiban moral, karena anak kecil butuh makan untuk hidup.
Menyelamatkan anak dari rumah yang terbakar juga kewajiban moral, karena menyangkut nyawa.
Keduanya sama-sama kewajiban. Tapi, menyelamatkan nyawa dipandang punya nilai moral lebih tinggi daripada sekadar memberi makan, karena risikonya lebih besar, dampaknya lebih penting, dan situasinya lebih mendesak.
Jadi contoh itu menunjukkan bahwa kewajiban bisa berbeda tingkat nilainya, dan dari situlah muncul perbedaan besar-kecilnya nilai moral suatu tindakan.
Maka penilaian moral (baik, jahat, suci, setia) hanya masuk akal kalau didasarkan pada kewajiban moral (apa yang wajib/salah).
Etika pada dasarnya membahas kewajiban moral (apa yang harus atau tidak boleh dilakukan). Karena itu, buku ini akan menekankan analisis tentang kewajiban. Hal-hal lain, seperti penilaian non-moral (misalnya indah, enak, berguna), hanya dibahas sekilas kalau ada kaitannya dengan kewajiban. Sedangkan tentang penilaian moral, buku ini hanya akan mengangkat satu tema besar yang penting, yaitu kebebasan dan tanggung jawab.
Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 16.
4. Metode Etika
Sebuah pendapat moral bisa dipelajari dengan berbagai cara. Misalnya, ada pengusaha Jepang yang merasa wajib bunuh diri (harakiri) karena perusahaannya bangkrut dan mengecewakan pemegang saham.
- Kita bisa meneliti apakah pandangan seperti itu umum di Jepang, sejak kapan muncul, apakah ada yang menentangnya, bagaimana pandangan tentang harakiri di masyarakat lain, dan seterusnya.
Pendekatan ini disebut empiris-deskriptif, yaitu menyelidiki fakta moral: bagaimana pandangan itu ada, bentuknya, sejarahnya, perbandingannya, dan ciri orang-orang yang mendukungnya.
Penyelidikan seperti ini memang berkaitan dengan norma moral tertentu, tapi belum termasuk etika itu sendiri. Itu lebih menjadi tugas ilmu lain, seperti psikologi, sosiologi, atau antropologi.
Artinya kita bisa mempelajari pendapat moral secara ilmiah-deskriptif, tapi itu masih wilayah ilmu sosial, bukan inti etika. - Kita juga bisa melihat bagaimana kesadaran orang yang merasa wajib melakukan harakiri. Pendekatan ini disebut fenomenologis, yaitu meneliti dengan seksama apa yang dirasakan dan disadari seseorang saat ia berpikir tentang kewajiban moral (kesadaran moral seseorang).
Contoh: seorang pengusaha Jepang merasa “saya wajib harakiri karena perusahaan bangkrut”. Dengan pendekatan fenomenologis, kita tidak menilai benar atau salahnya, tapi melihat apa yang ada dalam kesadaran moralnya: rasa bersalah, tanggung jawab, malu, kehormatan, atau kewajiban pada orang lain.
Lalu lewat pendekatan ini kita bisa menemukan ciri khas moral. Misalnya:- Norma moral berbeda dari norma sopan santun.
- Norma moral lebih mendalam, menyangkut tanggung jawab, bukan sekadar tata krama.
Pendekatan ini mirip dengan psikologi, tapi berbeda. Kalau psikologi ingin mencari hukum umum tentang perilaku manusia, fenomenologi tidak. Fenomenologi hanya fokus menggambarkan isi kesadaran moral itu sendiri.
Artinya: fenomenologi mencoba menggali isi batin/kesadaran moral, bukan mencari hukum umum perilaku seperti yang dilakukan psikologi. - Fenomenologi: fokusnya pada pengalaman pribadi (subjektif). Ia menggali secara mendalam, hanya menyoroti isi kesadaran moral seseorang.
- Psikologi: berusaha obyektif, mencari pola umum lewat penelitian. Cakupannya lebih luas karena tidak hanya soal moral, tapi juga emosi, perilaku, kepribadian, dll.
- Kita juga bisa bertanya: apakah pendapat pengusaha Jepang itu benar atau tidak? Pendekatan ini disebut normatif, yaitu menilai apakah suatu norma moral yang berlaku di masyarakat memang tepat, atau sebenarnya keliru dan harus ditolak. Penyelidikan seperti ini adalah tugas etika normatif.
- Kita juga bisa bertanya, apa arti kata “wajib” dalam pendapat pengusaha Jepang itu. Pendekatan ini disebut analisis bahasa moral, yang menjadi tugas metaetika.
Metaetika berusaha mencegah kesalahpahaman dengan cara:- menjelaskan arti yang tepat dari istilah-istilah moral,
- mengelompokkan jenis-jenis pernyataan moral,
- dan meneliti bagaimana sebuah pernyataan moral bisa dibenarkan.
Maka, metaetika adalah analisis istilah moral agar jelas dan tidak rancu.
Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 17.
Jadi, etika sebagai filsafat moral terdiri dari tiga bagian:
- Fenomenologi kesadaran moral (menggali isi kesadaran moral),
- Etika normatif (menilai benar-salahnya norma moral),
- Metaetika (menganalisis bahasa & istilah moral).
Buku ini akan dibagi dua:
- Bagian pertama: analisis fenomenologi kesadaran moral, dengan sedikit bahasan metaetika dan teori psikoanalisa.
- Bagian kedua: etika normatif, membahas teori-teori normatif utama satu per satu, lalu mencoba menyusun teori baru yang mengambil hal positifnya dan memperbaiki kelemahannya.
Untuk metaetika tidak akan dibahas khusus.
Franz Magnis Suseno, "Etika Umum: Masalah..., hlm. 18.






0 komentar:
Posting Komentar