Matahari bersinar terang menandakan pagi yang cerah di Grogol. Pasukan Pengging segera bangun dan bersiap untuk melanjutkan pertempuran melawan pasukan Prambanan. Udara pagi yang segar membuat semangat mereka kembali. Rasa lelah setelah pertempuran kemarin pun seolah hilang.
Hal serupa dirasakan oleh pasukan Prambanan. Panglima mereka, Senapati Suralangu, duduk gagah di atas kudanya sambil menatap tajam ke arah pasukan Pengging. Ia puas karena kemarin berhasil membuat lawannya hanya bisa bertahan. Melihat Senapati Darmamaya terluka parah, Suralangu semakin yakin bisa menang hari ini.
Tumenggung Banjaranom dan Anabrang yang mendampinginya juga merasakan hal yang sama. Mereka percaya bisa menaklukkan pasukan Pengging, apalagi setelah Darmamaya mundur karena luka. Keduanya berencana memanfaatkan kelemahan musuh dengan terus menyerang agar dapat merebut Grogol sepenuhnya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 17.
Dengan mengangkat tangannya, Suralangu memberi isyarat agar pasukannya mulai bergerak menuju medan perang. Suara derap kuda dan senjata bergema keras, disertai debu yang beterbangan hingga membuat udara pagi jadi pengap. Mereka terus maju sampai tiba di batas yang ditentukan.
Di medan perang, pasukan Pengging sudah siap siaga menunggu kedatangan mereka. Senapati Suralangu menatap sekeliling, mencari tahu siapa yang akan ia hadapi. Ia melihat pasukan Pengging di sayap kanan dipimpin Tumenggung Setrajali, dan di sayap kiri oleh Tumenggung Mayangkara. Ia sempat menduga pasukan utama Pengging tidak punya pemimpin, karena tidak melihat Darmamaya di barisan depan. Namun dugaannya salah ketika ia melihat seorang pemuda berdiri tegap memimpin pasukan utama.
Pemuda itu adalah Bandung Bandawasa. Ia rela menggantikan Senapati Darmamaya yang masih belum pulih dari luka. Sebelum berangkat, Bandung sudah berunding dengan Tumenggung Mayangkara dan Setrajali tentang posisi mereka. Awalnya kedua tumenggung itu akan memimpin pasukan utama dan membiarkan sayap tanpa pemimpin. Namun Bandung menilai itu berbahaya, maka ia menawarkan diri memimpin pasukan utama menggantikan Darmamaya.
Melihat hal itu, Suralangu marah besar. Ia merasa diremehkan karena harus melawan seorang pemuda yang dianggap belum berpengalaman. “Siapa sebenarnya pemuda ini? Kenapa dia berani memimpin pasukan Pengging? Dari pakaiannya, sepertinya dia bukan orang Pengging. Apa mereka meminta bantuan dari wilayah lain?” pikir Suralangu sambil menatap tajam ke arah Bandung.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 18.
"Anak muda, siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Suralangu dengan nada sinis.
"Namaku Bandung Bandawasa. Senapati Darmamaya mengutusku untuk menggantikan posisinya," jawab Bandung tenang.
"Kita lihat apakah kau pantas menggantikan senapati Pengging dan melawanku!" kata Suralangu sombong sambil bersiap menyerang.
Suralangu mengangkat tangannya memberi tanda agar pasukannya mulai menyerang. Bandung pun melakukan hal yang sama. Seketika, kedua pasukan maju serentak ke medan perang. Suara benturan senjata dan teriakan prajurit memenuhi udara. Debu beterbangan, membuat suasana semakin panas di bawah terik matahari.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 19.
Suralangu langsung menyerang Bandung dengan tendangan dan pukulan cepat yang keras. Bandung memilih bertahan dulu untuk mengukur kekuatan dan kelemahan panglima Prambanan itu. Dengan gesit, ia menghindar dan menahan setiap serangan Suralangu. Sikap tenang Bandung justru membuat Suralangu semakin bernafsu menyerang hingga mengeluarkan seluruh jurus bela dirinya.
Di sisi lain, para tumenggung dari kedua pasukan juga bertarung sengit. Tumenggung Prambanan yang yakin akan menang menyerang dengan cepat karena tak sabar ingin menaklukkan lawan. Tumenggung Banjaranom berhadapan dengan Tumenggung Mayangkara, sementara Tumenggung Anabrang melawan Tumenggung Setrajali. Kekuatan mereka seimbang sehingga pertempuran berjalan imbang.
Para prajurit pun bertarung habis-habisan. Prajurit Prambanan terkejut karena pasukan Pengging kini tidak hanya bertahan, tapi juga menyerang balik dengan tajam. Pertempuran pun berlangsung sengit dan keras.
Sementara itu, Suralangu terkejut melihat perlawanan Bandung. Pemuda yang tadi diremehkannya mampu menahan semua serangannya tanpa terluka. Karena terus menyerang tanpa henti, tubuh Suralangu mulai lelah, sementara Bandung masih tampak segar dan tenang.
Tak ingin berlama-lama, Suralangu mencabut keris dari balik bajunya. Dengan cepat ia mengarahkannya ke Bandung, berharap pemuda itu juga mengeluarkan senjata agar mudah dikalahkan.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 20.
Bandung terus menghindar dan menahan serangan Suralangu tanpa mengeluarkan senjata. Melihat itu, Suralangu merasa malu karena menyerang lawan yang tidak bersenjata. Ia pun cepat-cepat menyarungkan kembali kerisnya dan melanjutkan serangan dengan kaki dan tangannya untuk menutupi rasa malu. Pertarungan kembali berlangsung tanpa senjata tajam, namun tetap menjadi yang paling sengit hari itu.
Tanpa terasa, matahari mulai terbenam menandakan sore telah tiba. Dari kejauhan terdengar tiupan sangkakala sebagai tanda pertempuran harus dihentikan dan dilanjutkan esok hari. Kedua pasukan perlahan mundur ke wilayah pertahanan masing-masing.
Para pemimpin pasukan yang masih bertarung juga sepakat berhenti. Suralangu menghentikan serangannya dengan mengangkat tangan, sementara Bandung membungkuk memberi hormat. Suralangu tidak membalas penghormatan itu dan langsung berbalik pergi menyusul pasukannya. Ia malu karena ternyata Bandung sangat sulit dikalahkan, padahal sejak awal ia meremehkannya.
Medan pertempuran kini sunyi. Debu masih beterbangan menyelimuti tempat itu. Para prajurit berjalan perlahan, tubuh mereka dipenuhi keringat dan darah. Nafas mereka tersengal, dan yang terluka tampak kesakitan.
Prajurit yang terluka segera dirawat, sementara yang gugur dikuburkan bersama di sekitar garis pertahanan masing-masing. Di tenda-tenda, petugas perbekalan sudah menyiapkan makanan. Para prajurit yang kembali dari pertempuran pun makan bersama dengan lahap.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 21.
Menjelang malam, para prajurit Pengging beristirahat di tenda-tenda yang sudah didirikan. Sementara itu, para pemimpin pasukan berkumpul di tenda Senapati Darmamaya untuk melaporkan hasil pertempuran hari ini dan merencanakan strategi untuk esok hari.
Senapati Darmamaya, yang masih belum pulih dari lukanya, merasa lega mendengar bahwa pertempuran berjalan seimbang. Ia juga senang mendengar Bandung Bandawasa mampu memberi perlawanan berarti kepada Panglima Suralangu — orang yang sempat melukainya parah kemarin.
“Anak muda, terima kasih karena sudah membantu kami,” kata Darmamaya. “Kau telah menggantikan posisiku dengan sangat baik. Aku harap kau bersedia membantu lagi besok. Semoga dengan usahamu, kita bisa meraih kemenangan yang kita harapkan.”
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 22.
“Tak perlu sungkan, Tuan. Aku hanya membantu sebisaku,” kata Bandung rendah hati. “Memang harus kuakui, Panglima Suralangu sangat tangguh. Tapi jangan khawatir, aku sudah mempelajari kekuatan dan kelemahannya. Aku siap melawannya lagi besok. Mohon doa restumu, Tuan Senapati.”
Tiba-tiba, terdengar suara dari luar tenda.
“Tuan, ada pesan penting yang ingin hamba sampaikan. Boleh hamba masuk?” kata seorang prajurit.
“Masuklah! Ada kabar apa?” tanya Setrajali sambil membuka tirai tenda.
“Begini, Tuan,” ujar prajurit itu. “Mata-mata kita di wilayah Prambanan baru melapor. Panglima Suralangu telah mengirim utusan ke Kerajaan Prambanan untuk meminta bantuan pasukan baru. Mereka ingin menambah kekuatan dengan prajurit segar.”
Senapati Darmamaya tampak terkejut. “Bagaimana menurutmu, Tumenggung?” tanyanya pada Setrajali.
“Hamba pikir, kita juga harus melakukan hal yang sama,” jawab Setrajali. “Kita butuh pasukan baru untuk menggantikan prajurit yang terluka dan gugur. Jika Tuan setuju, hamba akan mengirim pasukan sandi untuk menyampaikan pesan ini kepada Patih Tambakbaya.”
“Baiklah, aku setuju. Semoga mereka datang tepat waktu,” kata Senapati Darmamaya penuh harap.
Malam itu juga, pasukan sandi berangkat menuju Pengging membawa surat dari Tumenggung Setrajali. Sementara itu, Setrajali dan Bandung Bandawasa mulai menyusun rencana dan persiapan matang untuk menghadapi pertempuran esok hari.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 23.
Seperti dua hari sebelumnya, pertempuran kembali dimulai pada pagi hari saat matahari mulai tinggi dan sinarnya terasa terik. Begitu sangkakala dibunyikan, kedua pasukan langsung bertarung sengit. Tak ada yang mau mengalah. Mereka berjuang habis-habisan, berharap hari itu menjadi pertempuran terakhir yang membawa kemenangan.
Panglima Suralangu kembali memimpin pasukan Prambanan dan bersiap melawan Bandung Bandawasa. Kali ini ia lebih berhati-hati, karena sudah tahu kekuatan Bandung yang sempat membuatnya malu kemarin. Sambil berdiri tegap, Suralangu mengayunkan pedangnya menantang lawan.
“Ayo, Bandung! Keluarkan senjatamu! Kali ini aku tidak akan main-main! Aku akan tetap memakai pedangku meski kau tak bersenjata!” teriak Suralangu dengan mata menyala.
“Kali ini akan kupenuhi permintaanmu,” jawab Bandung dengan tenang. “Aku juga tak ingin berlama-lama menahan seranganmu. Keris ini akan membantuku mengalahkanmu dan pasukanmu.”
“Rasakan ini!” seru Suralangu sambil menyabetkan pedangnya. Bandung cepat menangkis dengan kerisnya. Pedang dan keris mereka beradu, berkilat di bawah sinar matahari. Gerakan keduanya cepat dan lincah, memperlihatkan kemampuan tinggi masing-masing.
Dilihat dari senjatanya, Suralangu tampak lebih unggul dengan pedang besar dan kuat. Namun kelincahan Bandung membuatnya sulit dikalahkan. Beberapa kali Suralangu kewalahan menghadapi serangan cepat Bandung, yang kini benar-benar menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 24.
Benturan kedua senjata itu menimbulkan suara dentingan keras disertai percikan api. Serangan mereka makin cepat dan berbahaya, mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Namun setelah lama bertarung, tak satu pun dari mereka yang terluka oleh sabetan atau tusukan lawan.
Tiba-tiba, Bandung Bandawasa berputar cepat hingga kerisnya memancarkan sinar ungu yang berputar mengelilingi tubuhnya.
Suralangu terkejut melihatnya. Ia segera mengayunkan pedangnya ke arah sinar itu, tapi justru merasakan pedangnya membentur sesuatu yang sangat keras. Percikan api besar muncul, dan seketika pedangnya patah menjadi dua. Tubuh Suralangu terpental jauh lalu jatuh keras ke tanah.
Ia tergeletak tak berdaya, memegangi pedangnya yang sudah patah. Suralangu mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa lemas dan sangat sakit. Akhirnya, ia kembali tergeletak di tanah, tak mampu melanjutkan perlawanan.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 25.
Melihat lawannya tergeletak tak berdaya, Bandung Bandawasa menghentikan gerakannya. Ia menatap keris di tangannya yang tetap utuh, tanpa gores sedikit pun setelah benturan keras dengan pedang Suralangu. Keris itu benar-benar sakti, seperti yang dikatakan gurunya.
Bandung lalu melangkah mendekati Suralangu sambil menodongkan kerisnya.
“Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja sekarang! Cepat!” kata Suralangu dengan suara parau menahan sakit.
“Tidak, Suralangu,” jawab Bandung tenang. “Aku pantang membunuh lawan yang sudah tak berdaya. Mulai sekarang, kau akan menjadi tawanan kami.” Ia lalu menyarungkan kerisnya.
“Lebih baik aku mati di medan perang daripada jadi tawanan!” teriak Suralangu penuh amarah.
Bandung tidak menggubris. Ia memerintahkan prajurit Pengging untuk mengikat dan membawa Suralangu sebagai tawanan perang.
Kekalahan Suralangu membuat pasukan Prambanan panik. Banyak yang melarikan diri, dan sebagian menyerahkan diri tanpa perlawanan. Melihat itu, Tumenggung Mayangkara segera memerintahkan pasukannya untuk masuk dan menguasai Kota Grogol. Tentara Prambanan di sana sudah kabur setelah tahu panglima mereka kalah.
Sorak kemenangan menggema di antara pasukan Pengging yang terus maju ke dalam kota. Akhirnya, kemenangan pertama berhasil diraih Pengging berkat kepemimpinan Bandung Bandawasa.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 26.






0 komentar:
Posting Komentar