Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Sabtu, 29 November 2025

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali" - Part 02: Ruh Sumber Pengetahuan Sejati

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Sekarang, manusia bisa memilih untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan sukarela, atau menolak melakukannya karena sombong. Dalam dua keadaan ini, manusia tetap disebut "muslim": yang pertama karena sukarela, yang kedua karena terpaksa. Menurut Al-Qur’an, alasan Iblis menolak perintah Allah bukan karena kurang pengetahuan, tapi karena kesombongan (istikbar). Sifat sombong inilah yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang menolak menerima Allah.

Manusia pada dasarnya punya keinginan untuk dipuja atau diagungkan. Karena itu, ia jadi sulit menerima bahwa ada yang lebih agung darinya, termasuk menerima keagungan Allah.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali", Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 9.

Sebenarnya, ada sisi lain dalam diri manusia. Di lubuk hatinya, Ia mengakui bahwa Allah itu ada. Al-Qur’an juga menyebutkan hal ini, misalnya dalam ayat berikut:

Dan jika ditanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Mereka akan menjawab: "Allah."...—(Surah Al-'Ankabut (29): ayat 61)

Sejak awal penciptaan, Allah sudah menanamkan keyakinan ini dalam diri manusia. Contohnya dalam ayat berikut:

Dan (Ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan-keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Allah berfirman): "Bukanlah Aku ini Tuhan-mu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi."...—(Surah Al-A'raf (7): ayat 172)

Perasaan percaya itulah yang disebut fitrah—yaitu sifat dasar yang sudah tertanam dalam diri manusia, yang membuatnya gelisah terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui, lalu terdorong untuk mencari penjelasan. Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membawa manusia mendekat kepada Allah.

Di sisi lain, manusia juga punya kecintaan pada hawa nafsu, seperti wanita, anak, harta, dan kekayaan (Surah Ali 'Imran (3): ayat 14). Keinginan ini bisa menyesatkan dan menjauhkan manusia dari fitrahnya. Pertentangan antara mengejar pengetahuan (sebagai jalan menuju Allah) dan mengejar hawa nafsu ini dibahas secara mendalam oleh Al-Ghazali. Tulisan-tulisannya berusaha menjelaskan konflik batin tersebut dan mencari solusi dengan menunjukkan jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasinya agar manusia dapat mencapai kepuasan batin.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 10.

Meski seseorang sudah menyerahkan diri kepada Allah dan berusaha sungguh-sungguh mengatasi konflik batinnya, tetap ada tingkatan-tingkatan dalam Islam, tergantung pada seberapa dalam pengetahuan yang ia miliki. Tingkat kebahagiaan seseorang pun sesuai dengan tingkatannya dalam Islam. Sebab, menurut Al-Qur’an, manusia tidak diciptakan hanya untuk bersenang-senang, melainkan “dipilih” Allah sebagai khalifah (wakil-Nya) di bumi untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Dengan demikian, manusia memegang amanah dari Allah dan secara moral wajib menjalankannya. Kebahagiaan manusia bergantung pada sejauh mana ia melaksanakan amanah itu. Penjelasan ini dimaksudkan sebagai latar belakang untuk memahami pemikiran Al-Ghazali. Harapannya, pembaca dapat melihat betapa besar pengaruh Al-Qur’an terhadap cara berpikir Al-Ghazali.

Gambaran tentang bagaimana Al-Qur’an memandang alam semesta, umat manusia, sejarah, dan Allah sebenarnya bisa menunjukkan pengaruh ini dengan lebih jelas. Tapi, hal-hal itu akan dibahas di lain waktu. Sekarang, mari kita lihat ringkasan riwayat hidup Al-Ghazali, yang menjadi tokoh utama dalam pembahasan ini.

***


Al-Ghazali atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Tusi Al-Syafi—nama lengkapnya, lahir di Kota Tus pada tahun 450 H/1058 M.

Ayahnya adalah seorang pembuat dan penjual kain wol, itulah sebabnya ia diberi nama "ghazzal". Sebelum meninggal, sang ayah menitipkan Al-Ghazali dan kakaknya, Ahmad, kepada seorang sahabatnya yang seorang sufi. Ia berpesan: “Saya menyesal tidak pernah belajar menulis. Saya ingin kedua anak saya tidak kehilangan hal itu. Didiklah mereka, meski harus menghabiskan seluruh harta peninggalanku.”

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 11.

Sufi itu pun mendidik mereka dengan harta peninggalan sang ayah. Namun, ketika uangnya habis, ia tidak lagi mampu menafkahi mereka. Ia berkata: “Aku sudah menghabiskan semua peninggalan ayahmu untuk kalian. Aku orang miskin. Jalan terbaik bagimu adalah masuk madrasah sebagai murid, karena di sana kalian bisa belajar sekaligus mendapat makan.”

Keduanya pun masuk madrasah, dan dari situlah kebahagiaan serta cita-cita luhur mereka tercapai.

Al-Ghazali pernah berkata: “Awalnya kami mencari ilmu bukan karena Allah, tetapi akhirnya kami menyadari bahwa Allah-lah yang menuntun kami, dan kami tidak bisa mencari selain hanya kepada-Nya.”

Ia mendapat pendidikan dasar di Kota Tus. Setelah itu ia pergi ke Naysabur untuk belajar pada Imam Al-Juwayni (478 H/1085 M), yang dikenal sebagai Imam al-Haramayn. Ia belajar di sana sampai gurunya wafat.

Dari Naysabur, Al-Ghazali melanjutkan ke Mahkamah Nizham al-Mulk, tempat ia memperdalam ilmu hukum dan agama. Pada tahun 484 H/1091 M, ia diangkat menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah, Baghdad.

Di masa itu, Al-Ghazali aktif mengajar dan menulis kitab fiqh. Ia juga menulis tentang kelompok Ta’limiyyah, yang kemudian memicu banyak perdebatan.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 12.

Sejak awal masa belajarnya, Al-Ghazali sudah menunjukkan sikap ragu. Ia menolak menerima kebenaran hanya lewat taqlid (ikut-ikutan) atau tradisi yang diwariskan.

Puncak keraguannya saat tinggal di Baghdad. Pertanyaan yang terus mengganggunya adalah: “Apakah iman kepada Allah bisa menjadi pengetahuan yang pasti? Jika Allah wajib disembah, maka harus diketahui dengan kepastian.”

Pertanyaan ini membuatnya menyelidiki sifat pengetahuan manusia: apakah pengetahuan bisa dipelajari, dan bagaimana cara memastikan kebenarannya.

Riwayat hidup Al-Ghazali sebenarnya terlalu singkat, sehingga untuk memahami perkembangan intelektual dan spiritualnya, perlu melihat karya-karyanya, terutama karyanya: Ihya Ulumuddin. Di sana ia membahas iman dalam tiga aspek yang saling terkait:

  1. Ilm: pengetahuan atau informasi.
  2. Hal: kondisi hati atau keadaan batin.
  3. Amal: tindakan atau disiplin diri untuk memahami dan merasakan pengetahuan dan keadaan hati tersebut.

Melalui tulisan-tulisannya, Al-Ghazali sesungguhnya sedang melukiskan perjalanan batinnya sendiri.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 13.

Sebelum mengalami perubahan besar dalam hidupnya, Al-Ghazali sudah menunjukkan cara berpikirnya dengan membagi iman ke dalam beberapa tingkatan. Dalam Kitab Tauhid, misalnya, ia menyebut bahwa pada tingkat awal keimanan, hati seseorang masih terikat oleh banyak "simpul" yang kuat ('uqdah). Sementara hati orang-orang yang sudah mengenal Allah (dengan sungguh-sungguh) akan dipenuhi rasa bahagia, terbuka, dan dekat kepada-Nya (muqarrabun).

Perbedaan utama antara dua tingkatan iman ini adalah jarak antara seseoang dengan Allah.

Bagi Al-Ghazali, sebelum mengalami perubahan itu, dirinya merasa jauh dari Allah. Ia percaya bahwa satu-satunya cara untuk mendekat adalah dengan pengetahuan. Tapi: “Apa sebenarnya pengetahuan itu, dan bagaimana memastikan kebenarannya?”

Pertanyaan inilah yang menjadi awal dari pencarian intelektual dan spiritualnya, yang dibahas di bagian pertama studi ini.

Karena merasa sangat jauh dari Allah, Al-Ghazali mengalami tekanan batin yang bergitu berat sampai membuatnya jatuh sakit, baik secara fisik maupun mental. Ia sakit dari bulan Rajab sampai Zulqaidah 488 H/1095 M. Setelah sembuh, ia merasa harus menjauh dari kehidupan dunia. Setelah memastikan kebutuhan keluarganya tercukupi, ia memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan mengasingkan diri, meninggalkan jabatan terhormatnya dan menyamar untuk mengembara ke Suriah.

Ia tinggal sekitar dua tahun di Suriah, lalu berangkat haji ke Mekah pada akhir 490 H/1097 M. Selama sembilan tahun berikutnya, ia hidup berkelana, dan sesekali pulang untuk menjenguk keluarga.

Tahun 499 H/1105 M, Al-Ghazali kembali mengajar. Saat itu ia sudah menulis Ihya Ulumuddin dan buku lainnya, serta menyampaikannya lewat pengajaran di Baghdad dan Damaskus. Ia sempat menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah Naysabur, tapi hanya sampai bulan Zulqaidah 499 H/1105 M, setelah itu memilih hidup menyendiri. Ia kembali ke kampung halamannya di Tus, lalu menetap di sana, mengajar para pengikutnya, mengabdikan hidupnya ke dalam jalan sufi (tasawuf), sampai wafat pada 14 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111 M.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 14.

Dalam masa pengembaraan, Al-Ghazali mempelajari berbagai pandangan, termasuk filsafat, meskipun akhirnya condong ke tasawuf. Menurutnya, Allah yang menyempurnakan imannya.

Al-Ghazali adalah seorang jenius. Sumbangan terbesarnya dalam pemikiran Islam adalah penemuannya tentang batas kemampuan akal. Menurutnya, akal hanya alat untuk membantu seseorang memahami apa yang datang dari luar dirinya, lalu menyampaikan hasil pemahaman itu ke hati. Sama dengan akal, tubuh juga mengirimkan pengalaman-pengalamannya yang ia peroleh melalui aktivitas fisik ke hati. Namun, pengetahuan yang datang dari akal dan tubuh itu masih belum cukup untuk memperoleh pengetahuan sejati. Keduanya hanya petunjuk atau jalan menuju pengetahuan sejati. Untuk benar-benar mencapai pengetahuan sejati, dibutuhkan sumber lain di luar itu.

Sumber pengetahuan sejati adalah ruh. Namun, agar ruh menghasilkan pengetahuan sejati, hati harus terbebas dari dominasi akal dan pengalaman tubuh. Namun, pengetahuan akal dan pengalaman tetap diperlukan sebagai dasar sebelum hati bisa mengenal dirinya sendiri.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 15.

Artinya, hati tidak hanya butuh informasi dari akal dan tubuh, tapi juga harus mengalami kehadiran ruh di dalamnya—yaitu aspek ketuhanan. Tanpa itu, hati tidak akan mencapai pengetahuan tertinggi.

Teori pengetahuan Al-Ghazali berkaitan erat dengan proses pengembangan diri menuju kesempurnaan. Teori ini berdiri di atas dua dasar utama:

  1. Hati manusia diciptakan menurut gambaran Allah.
  2. Manusia adalah “mikrokosmos” (dunia kecil).

Artinya, seseorang baru bisa benar-benar berilmu jika mengenal dirinya secara utuh. Karena manusia adalah cermin Allah, maka dengan memahami hati, ia bisa mengenal sifat-sifat Allah. Dan karena manusia adalah mikrokosmos, maka dengan memahami hati dalam hubungannya dengan tubuh, ia bisa memahami karya Allah dalam alam semesta.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 16.

Semua pengetahuan terjadi di dalam hati, dan pengetahuan itu sebenarnya adalah cerminan dari isi hati itu sendiri. Namun, ada sisi hati yang bisa menghambat perkembangannya, yakni: kecenderungan pada kesenangan, menghindari rasa sakit, dan keinginan untuk diagungkan atau berkuasa (suka memimpin, mengatur, merasa penting, dan lain-lain). Kesenangan ini muncul sejak awal kehidupan dan bisa berkembang tanpa batas. Jika hati terlalu sibuk dengan keinginan tersebut, pengetahuannya akan terhenti hanya pada sebagian kecil saja.

Agar hati bisa mengenal dirinya sepenuhnya dan bisa menjadi cermin dari alam semesta dan sifat-sifat Tuhan, hati perlu tetap terhubung dengan kebutuhan tubuh. Karena itu, dalam pencarian kebenaran dan Allah, disiplin pribadi sama pentingnya dengan belajar.

Bagian ini menutup pengantar studi dengan ucapan terima kasih dari penulis, Ali Issa Othman. Ia berterima kasih kepada mantan istrinya Dr. Evelyn Adam Othman atas dukungan moralnya, kepada Dr. Ibrahim Abu Lughod yang membantu penelitian istilah Arab, serta kepada Janet Abu Lughod yang menyempurnakan bahasa Inggris naskahnya. Ia juga berterima kasih kepada Tuan K. Bestawros yang membaca naskah awal, dan kepada Tuan M.S. Kadri, Direktur Arab States Fundamental Education Center di Sirs El Layyan, atas bantuannya dalam penerbitan buku ini.


Ditulis oleh Ali Issa Othman,
Sirs El Layyan, Mesir,
Jumat, 29 Juli 1960.


Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 17.


Daftar Isi:

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search