Sebagai eksistensi, manusia hidup dalam paradoks: ia ada dalam waktu, tapi juga bersentuhan dengan keabadian. Titik pertemuan waktu dan keabadian itu disebut “saat”, yaitu momen keputusan. “Saat” ini adalah kehadiran abadi, karena keputusan yang dibuat di dalam waktu bisa berlaku untuk selamanya. Jika manusia tahu segalanya, termasuk semua akibat dari tindakannya, ia tidak butuh kebebasan. Kebebasan justru ada karena manusia tidak tahu semua hal. Maka, manusia harus membuat keputusan justru karena ia tidak tahu.
***
BAB III: PENERANGAN EKSISTENSI
- Eksistensi
Dalam bahasa mitos, orang menyebutnya "jiwa" dan "Allah", sedangkan dalam filsafat disebut "eksistensi" dan "transendensi". Eksistensi manusia adalah bentuk keberadaan yang memutuskan apakah dan bagaimana ia ingin menjadi abadi. Eksistensi itu sendiri bukan "ada", melainkan sesuatu yang "bisa ada" dan "seharusnya ada". Keberadaan manusia yang nyata di dunia* disebut Jaspers sebagai Dasein (being-there). Sedangkan "eksistensi" (Existenz) adalah kemungkinan dalam perjalanan menuju "ada" yang abadi**. Eksistensi adalah kebebasan yang dijalani, berada dalam waktu tapi juga melampaui waktu, sebab keputusan bebas manusia bisa berlaku untuk selamanya.
*Keberadaan sehari-hari (Dasein): realitas hidup manusia di dunia, makan, kerja, main, dan lain-lain.
**Eksistensi (Existenz): sisi batin yang lebih dalam, yaitu kemungkinan manusia untuk berkembang, membuat pilihan bebas, dan mencari makna.
***Eksistensi itu bukan sesuatu yang langsung "ada", tapi sesuatu yang harus diperjuangkan lewat pilihan hidup manusia. Lewat keputusan bebas, di mana manusia bisa menentukan arah hidupnya—apakah mau menuju hal yang abadi (makna hidup yang lebih tinggi) atau justru kehilangan arah. Manusia memang hidup di dunia nyata, tapi lewat kebebasannya ia bisa melampaui dunia dan memberi arti kekal pada hidupnya.
#Analogi: Ada seorang mahasiswa.
Kalau dia cuma hidup sehari-hari (Dasein), yang mana keputusan bebasnya ia pakai untuk kuliah, main HP, cari uang, ikut arus, tanpa mikirin makna lebih dalam, itu adalah sekadar “ada”.
Tapi kalau dia mulai memikirkan hidupnya (Existenz): “Aku mau jadi orang seperti apa? Aku mau bikin apa yang berarti buat diriku dan orang lain?” Lalu dia membuat keputusan besar, misalnya serius belajar hukum supaya bisa membela korban yang tertindas. Maka, keputusan bebas tersebut memiliki bobot kekal, karena akan membentuk dirinya selamanya.
Maka, Dasein adalah hidup seadanya. Existenz adalah hidup yang sadar, penuh pilihan, dan mencari makna abadi.
Dasein memiliki akhir dan akan mencapai puncaknya di dunia nyata, sedangkan eksistensi tidak berhenti di sana. Eksistensi hanya “menemukan dirinya” di dunia*. Eksistensi dianggap berasal dari sesuatu yang luhur. Eksistensi bisa dikenali lewat tanda-tanda, misalnya dalam pilihan hidup, pertobatan, komunikasi, dan kebebasan**. Kehidupan nyata tampak dalam fenomena, sedangkan transendensi tampak dalam chiffer (simbol-simbol), dan eksistensi tampak dalam tanda-tanda (signa)***. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang diberikan kepadanya. Dengan kata lain, eksistensi adalah anugerah dari transendensi.
*Manusia memang hidup di dunia nyata (makan, kerja, sekolah, dll.), tapi itu bukan tujuan akhir eksistensinya. Dunia ini cuma tempat ia sadar akan dirinya—bahwa ia punya kebebasan, pilihan, dan arah hidup. Dunia adalah pemicu. Jadi, eksistensi itu tidak diciptakan oleh dunia, melainkan terungkap/tersadari lewat pengalaman hidup di dunia.
**Eksistensi tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa, tapi bisa “terlihat” lewat tanda-tanda, misalnya: ketika orang memilih dengan sungguh-sungguh, bertobat, berkomunikasi secara mendalam, atau menggunakan kebebasannya dengan penuh tanggung jawab.
- “Kehidupan nyata tampak dalam fenomena”
Hidup sehari-hari manusia bisa dilihat melalui hal nyata, seperti: makan, bekerja, belajar, sakit, senang, dan lain-lain. Itulah yang kemudian disebut dengan fenomena (gejala yang tampak; bisa dilihat).
- “Transendensi tampak dalam chiffer (simbol-simbol)”
Yang ilahi—atau yang melampaui dunia—tidak hadir secara langsung (menampakan diri misalnya), melainkan melalui simbol-simbol. Misalnya keindahan alam yang membuat manusia merasa kagum pada sesuatu yang lebih tinggi.
- “Eksistensi tampak dalam tanda-tanda (signa)”
Eksistensi manusia (jati diri terdalam) tidak bisa dilihat begitu saja, tapi muncul lewat tanda-tanda dalam hidup, misalnya: ketika seseorang bertobat, memilih dengan sungguh, berkomunikasi secara tulus, atau menggunakan kebebasannya dengan bertanggung jawab. Maka, signa adalah tanda-tanda batin yang menunjukkan eksistensi manusia
Kesadaran terdalam manusia (eksistensi) bukan hasil buatan dirinya sendiri. Itu sesuatu yang diberikan oleh yang lebih tinggi (transendensi/Tuhan). Jadi hidup yang penuh makna itu sebenarnya sebuah anugerah, bukan sekadar hasil usaha manusia.
Eksistensi butuh komunikasi. Kesadaran eksistensi dimulai dari keinginan untuk berhubungan dengan eksistensi orang lain, karena manusia tidak puas hanya hidup sebagai Dasein (sekadar ada). Sama seperti filsafat yang berawal dari rasa heran, kesadaran eksistensi berawal dari pengalaman bahwa manusia perlu komunikasi. Bagi Jaspers, inilah alasan utama menjadi filsuf—bukan cuma memikirkan ide di kepala—tapi juga berusaha membangun komunikasi sejati dengan sesama. Sebuah ide baru hanya bisa dianggap penting dalam filsafat jika membantu memperdalam komunikasi antar manusia. Dan dasar komunikasi yang sejati adalah cinta.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers", Jakarta: PT Gramedia, 1985, hlm. 12.
- Saat Keputusan
Sebagai eksistensi, manusia hidup dalam paradoks: ia ada dalam waktu, tapi juga bersentuhan dengan keabadian. Titik pertemuan waktu dan keabadian itu disebut “saat”, yaitu momen keputusan. “Saat” ini adalah kehadiran abadi, karena keputusan yang dibuat di dalam waktu bisa berlaku untuk selamanya. Jika manusia tahu segalanya, termasuk semua akibat dari tindakannya, ia tidak butuh kebebasan. Kebebasan justru ada karena manusia tidak tahu semua hal. Maka, manusia harus membuat keputusan justru karena ia tidak tahu.
Eksistensi manusia berkembang lewat keputusan-keputusan yang ia buat. Ia tidak menyesali keterbatasan pengetahuannya, karena justru di situlah ia merasakan hubungannya dengan sesuatu yang melampaui dirinya (transendensi)*. Pada saat mengambil keputusan, manusia benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri, dan sekaligus merasa bahwa ia juga sedang berhadapan dengan transendensi.**
*Walaupun manusia tidak tahu semua akibat dari pilihannya, ketidaktahuan itu justru membuka jalan baginya untuk sadar bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya (transendensi/Tuhan).
**Saat seseorang membuat keputusan penting, ia berada dalam momen paling pribadi: hanya dia sendiri yang bisa memilih. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa dirinya tidak sendirian. Ada “sesuatu” yang melampaui dirinya, yaitu transendensi. Maka, dalam keputusan bebas yang penuh ketidakpastian, manusia sekaligus berjumpa dengan dirinya sendiri dan dengan Yang Ilahi.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 13.






0 komentar:
Posting Komentar