Pada abad ke-18, sebagian laki-laki yang lebih demokratis mulai berpikir objektif soal perempuan. Diderot menegaskan bahwa perempuan juga manusia, sama seperti laki-laki. John Stuart Mill bahkan dengan semangat membela hak-hak perempuan. Tapi sikap seperti ini jarang ada. Masuk abad ke-19, feminisme makin kuat karena revolusi industri membuat perempuan ikut bekerja, sehingga tuntutan feminis punya dasar nyata dalam ekonomi. Namun, lawan mereka juga makin kuat. Kaum borjuis tetap memegang moral lama yang menempatkan perempuan di rumah demi menjaga keluarga dan kepemilikan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xvii.
Bahkan di kelas pekerja, laki-laki menolak kebebasan perempuan, karena mulai melihat mereka sebagai pesaing. Apalagi perempuan terbiasa menerima upah lebih rendah, sehingga dianggap “lebih berbahaya” dalam persaingan kerja.
Dalam usaha membuktikan bahwa perempuan lebih rendah, kaum anti-feminis tidak hanya memakai alasan agama, filsafat, atau teologi, tapi juga ilmu pengetahuan seperti biologi dan psikologi. Mereka sering menawarkan konsep "setara tapi berbeda," mirip dengan sistem Jim Crow di Amerika yang menyatakan orang kulit hitam “setara tapi terpisah.” Padahal, konsep seperti ini justru menghasilkan diskriminasi yang parah. Semua itu hanya cara lain untuk mempertahankan ketidaksetaraan berdasarkan ras, kelas, kasta, atau jenis kelamin.
Istilah “feminin abadi” dipakai untuk menempatkan perempuan dalam posisi tetap rendah, mirip dengan stereotip “jiwa hitam” untuk orang kulit hitam atau “karakter Yahudi” untuk orang Yahudi. Walaupun kasus Yahudi berbeda, perempuan dan orang kulit hitam sama-sama pernah (dan masih) diperlakukan sebagai kelas bawah yang “harus tetap di tempatnya.” Kaum penguasa memuji mereka yang patuh, misalnya: orang kulit hitam yang ramah, atau perempuan yang penurut, hanyalah untuk membenarkan ketidakadilan mereka.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xviii.
Akibatnya, perempuan benar-benar terlihat inferior karena sistem membuat mereka begitu. Padahal, manusia selalu “menjadi” (menurut Hegel), artinya masih bisa berubah. Posisi itu bukan bawaan tetap, melainkan sesuatu yang bisa berubah. Namun, hingga kini perempuan tetap dianggap lebih rendah dari laki-laki sehingga memiliki sedikit peluang.
Pertanyaannya: apakah kondisi ini harus terus dipertahankan? Banyak laki-laki ingin situasi ini tetap ada. Kaum borjuis konservatif takut emansipasi perempuan merusak moral dan mengancam kepentingan mereka. Bahkan ada mahasiswa laki-laki yang pernah berkata bahwa mahasiswi kedokteran atau hukum “merampas” lapangan kerja laki-laki. Sama halnya seperti orang kulit putih miskin yang merasa lebih baik hanya karena bukan “orang kulit hitam kotor,” laki-laki juga sering merasa lebih unggul hanya dengan menekan perempuan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xix.
Banyak laki-laki biasa merasa lebih hebat dibanding perempuan, seolah-olah mereka setengah dewa. Misalnya, Montherlant lebih mudah merasa dirinya pahlawan ketika berhadapan dengan perempuan, bukan dengan laki-laki lain yang mungkin lebih unggul darinya. Claude Mauriac—seorang penulis—juga pernah meremehkan perempuan cerdas dengan mengatakan bahwa ide-ide mereka hanyalah pantulan dari laki-laki. Lebih parahnya, ia menyamakan dirinya dengan tokoh besar seperti Hegel atau Nietzsche, lalu merendahkan perempuan yang menuntut kesetaraan. Padahal, banyak perempuan tidak mau tunduk pada “sikap acuh sopan” seperti itu.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xx.
Contoh ini menunjukkan betapa jelasnya sikap maskulin yang arogan, yang merendahkan perempuan. Biasanya, laki-laki yang paling keras meremehkan perempuan justru yang minder terhadap kejantanannya. Sementara itu, laki-laki yang percaya diri di hadapan sesama laki-laki biasanya lebih mudah menganggap perempuan sebagai teman setara. Namun, dalam mitos-mitos*, perempuan sering dipuja tapi hanya dalam bentuk ideal yang tak pernah bisa mereka capai. Itu membuat perempuan sulit dilihat sebagai individu yang unik dan mandiri. Sekarang, banyak laki-laki tidak lagi terang-terangan menyebut perempuan inferior, tapi sikap merendahkan itu masih sering tersisa dalam bentuk yang lebih halus.
*Michel Carrouges pernah menulis artikel—dalam Cabiers du Sud No. 292—yang mengkritik cara laki-laki membuat mitos tentang perempuan. Ia kesal karena perempuan sering hanya digambarkan sebatas tukang masak, pelacur, atau ilmuwan yang berguna bagi laki-laki. Artinya, perempuan tidak dianggap punya eksistensi untuk dirinya sendiri, melainkan hanya dinilai dari fungsinya bagi dunia laki-laki. Padahal, yang lebih penting adalah memahami mengapa perempuan selalu didefinisikan hanya lewat hubungannya dengan laki-laki.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxi.
Dalam keluarga, perempuan sering terlihat setara dengan laki-laki, terutama di mata anak-anak atau suaminya. Tapi, saat terjadi konflik, laki-laki biasanya kembali menekankan ketidaksetaraan dan memakainya untuk membenarkan dominasinya. Banyak laki-laki menganggap perempuan setara hanya ketika mereka tidak menuntut apa-apa, tapi segera menolak kesetaraan jika perempuan mulai menuntut haknya. Akibatnya, diskriminasi yang tampak sepele ini justru memberi dampak besar pada moral dan intelektual perempuan. Bahkan laki-laki yang paling simpatik pun jarang benar-benar memahami situasi nyata perempuan, karena itu ucapan manis atau sikap "membela" mereka sering tidak bisa dipercaya sepenuhnya.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxi-xxiii.
Kita perlu mendengar argumen kaum feminis tanpa prasangka. Sering kali, isu perempuan dianggap sepele karena sikap arogan laki-laki yang menjadikannya sekadar perdebatan, sehingga kehilangan sisi rasional. Banyak orang mencoba membuktikan apakah perempuan lebih rendah, lebih tinggi, atau setara dengan laki-laki, tapi semua argumen itu biasanya saling bertentangan dan menyesatkan. Jika kita ingin benar-benar memahami persoalan, kita harus meninggalkan pola pikir tentang superioritas, inferioritas, maupun kesetaraan, dan memulai cara pandang yang baru.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxiii.
Permasalahan ini sulit karena laki-laki dan perempuan sering sekaligus menjadi penilai dan pihak yang berselisih. Bahkan andai ada perempuan yang paling pantas menjelaskan situasi kaumnya, kita tetap harus hati-hati agar tidak terjebak logika menyesatkan. Baik laki-laki maupun perempuan bertindak sesuai kondisi mereka, bukan karena sifat bawaan misterius. Kini, banyak perempuan sudah mendapatkan kembali hak-hak yang dulu dirampas, dan kesetaraan gender makin nyata berkat upaya lembaga seperti PBB. Perempuan modern tak lagi melihat femininitas sebagai hambatan besar, dan justru berusaha bersikap objektif dalam menghadapi berbagai persoalan baru—karena sekarang banyak masalah global lebih penting daripada sekadar persoalan “perempuan vs laki-laki”.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxiv.
Perempuan lebih dekat dengan dunia feminin dibanding laki-laki, sehingga lebih cepat memahami maknanya bagi kehidupan manusia. Meski banyak masalah yang menekan, perempuan tetap bisa menilai hal penting: kesempatan apa saja yang mereka dapat atau tidak dapat, serta nasib apa yang menanti generasi perempuan berikutnya. Buku-buku tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan sering lebih menggerakkan hati dibanding sekadar tuntutan hak. Buku ini hadir sebagai salah satu usaha untuk memperjelas persoalan itu.
Memang mustahil membahas masalah manusia tanpa bias. Karena itu, lebih baik sejak awal Simone menyatakan sikap dan sudut pandangnya secara jelas, daripada berulang kali menekankan istilah superior, inferior, maju, mundur, dan sejenisnya. Dari karya-karya perempuan, terlihat bahwa mereka sering memakai sudut pandang masyarakat umum, sebab yang dinilai penting adalah manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar pendapat publik yang membatasi kesempatan perempuan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxiv-xxv.
Kebahagiaan sering dijadikan alasan untuk membatasi perempuan. Ada yang bilang perempuan yang tinggal di rumah lebih bahagia daripada yang bekerja atau punya hak pilih. Gagasan tentang kebahagiaan tidak bisa dicampuradukkan dengan kepentingan pribadi. Bahagia tidak bisa diukur dengan membandingkan, misalnya, perempuan rumah tangga dengan perempuan pekerja. Istilah “bahagia” itu sendiri kabur dan tidak pasti kebenarannya. Mengukur kebahagiaan orang lain mustahil; yang bisa kita lakukan hanyalah menilai keadaan berdasarkan harapan dan konteks masing-masing.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxv-xxvi.
Hidup yang berhenti berkembang (stagnasi) kadang dianggap bahagia, padahal sebenarnya kosong. Menurut pandangan eksistensialis, hidup hanya bermakna kalau seseorang terus memilih dan menjalankan proyek atau tujuan hidupnya sendiri. Kalau ia berhenti berjuang dan hanya menjalani rutinitas, hidupnya kehilangan makna, membuatnya frustrasi, dan dianggap sebagai kegagalan moral. Karena itu, setiap orang butuh kebebasan memilih tujuan hidup agar eksistensinya punya arti. Karena itu, perempuan juga harus dipandang sebagai makhluk bebas seperti laki-laki, bukan hanya sebagai “yang lain”.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxvi.
Masalah perempuan adalah, meski mereka bebas dan otonom, mereka tetap hidup di dunia yang didominasi laki-laki. Laki-laki sering menjadikan perempuan sebagai objek, bukan subjek yang setara. Akibatnya, ada konflik antara keinginan perempuan untuk diakui sebagai manusia seutuhnya dan kenyataan bahwa mereka dipandang sebagai yang “tidak penting.” Pertanyaannya: bagaimana perempuan bisa menemukan kepuasan, kebebasan, dan jalan hidup dalam kondisi ketergantungan seperti ini?
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxvi-xxvii.
Permasalahan ini tidak bisa dijelaskan hanya lewat fisik, psikologi, atau ekonomi. Karena itu Simone ingin melihat lebih dalam dengan pendekatan biologi, psikoanalisis, dan sejarah materialisme. Dengan cara itu bisa dipahami kenapa perempuan sering dipandang sebagai “yang lain,” apa akibatnya, dan bagaimana hal itu dilihat dari sudut pandang laki-laki. Lalu, dari sisi perempuan sendiri, Simone ingin menggambarkan dunia nyata yang mereka hadapi, termasuk kesulitan yang muncul ketika mereka berusaha untuk setara dengan laki-laki.
Kehidupan Perempuan Saat Ini
Perempuan masa kini sedang berusaha melepaskan diri dari mitos lama tentang feminisme. Mereka mulai berani menyatakan kebebasannya, tapi belum bisa sepenuhnya menikmati hidup seperti laki-laki. Ke mana pun mereka melangkah, ujungnya tetap pernikahan, yang berarti tetap berada di bawah dominasi laki-laki. Laki-laki sendiri ingin mempertahankan hal ini karena dianggap sebagai dasar tatanan sosial.
Karena itu, penting mempelajari lebih dalam tentang nasib tradisional perempuan. Dalam Buku II, dijelaskan bagaimana perempuan melalui berbagai pengalaman dan masa ujiannya, agar kita bisa lebih memahami kesulitan yang mereka hadapi. Beban masa lalu masih terus memengaruhi masa kini dan masa depan perempuan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxvii.
Saat Simone menyebut kata "perempuan" atau "feminin," keduanya ia gunakan dengan arti yang sama. Pembaca juga perlu mengingat bahwa semua penjelasannya berangkat dari kondisi sosial dan pendidikan yang berlaku sekarang. Tujuannya bukan untuk memberi kebenaran mutlak, melainkan menggambarkan dasar umum yang membentuk kehidupan perempuan.
Simone de Beauvoir, "Second Sex: Kehidupan..., hlm. xxviii.






0 komentar:
Posting Komentar