Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Rabu, 26 November 2025

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung "Part A"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung "Part A"

Pertempuran antara pasukan Prambanan dan pasukan Pengging akhirnya tak bisa dihindari. Kedua pihak sama-sama ingin mempertahankan wilayah kekuasaan mereka. Pasukan Prambanan mengerahkan seluruh kekuatan, termasuk dipimpin langsung oleh Prabu Kalakarung.

Sementara itu, pasukan Pengging yang dipimpin Senapati Darmamaya dan Bandung Bandawasa juga tampil dengan kekuatan penuh untuk merebut kembali Prambanan. Di belakang mereka, pasukan besar di bawah komando Patih Tambakbaya siap membantu bila diperlukan.

Prabu Kalakarung bertekad menang, agar bisa membuktikan bahwa ia layak berkuasa di Prambanan. Ia sadar dirinya pemberontak yang telah merebut wilayah Pengging, namun ambisinya terlalu besar. Ia tak mau menyerah atau berdamai. Baginya, kekuasaan harus dipertahankan, meski harus mengorbankan segalanya. Ambisinya telah membutakan mata dan hatinya, hingga tak memikirkan penderitaan rakyatnya sendiri.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 47.

Tiupan sangkakala menandai dimulainya pertempuran. Derap langkah para prajurit dari kedua pihak bergemuruh, disertai teriakan dan bunyi senjata yang saling beradu. Jarak antara dua pasukan segera hilang, digantikan oleh perkelahian sengit. Anak panah beterbangan menembus debu dan menghujam tubuh lawan.

Senapati Darmamaya langsung berhadapan dengan Senapati Suradenta, yang bernafsu membalas kekalahan saudaranya, Senapati Suralangu, yang kini menjadi tawanan perang. Suradenta menyerang cepat dengan pedangnya, namun Darmamaya berhasil menangkis. Percikan api terlihat saat pedang mereka beradu. Pertarungan jarak dekat itu berlangsung sengit dan seimbang, tanpa ada yang terluka meski sudah lama bertarung.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 48.

Para tumenggung juga bertarung dengan semangat tinggi. Pertarungan mereka berlangsung sengit dan seimbang. Setelah pertempuran di Grogol, mereka sudah mengenal kelebihan dan kelemahan lawan masing-masing, sehingga serangan mereka kini lebih terarah dan mematikan.

Namun, pasukan kiri Pengging yang dipimpin Tumenggung Setrajali tampak kewalahan menghadapi pasukan Prambanan di bawah pimpinan Tumenggung Anabrang. Dengan cerdik, Anabrang menggabungkan kekuatan pasukan pedang dan pemanahnya. Serangan mereka membuat banyak prajurit Setrajali gugur terkena anak panah ketika berusaha menahan serangan pedang. Bahkan, Setrajali sendiri harus bertarung melawan Anabrang dan tiga prajuritnya sekaligus.

Melihat hal itu, Bandung Bandawasa segera melompat ke medan pertempuran untuk membantu Setrajali.

“Mundurlah, Paman! Biar aku yang menghadapi mereka!” seru Bandung.

“Hei! Siapa kau yang berani mengganggu kami?” tanya Anabrang, yang hendak menusuk Setrajali.

“Aku Bandung Bandawasa, Putra Gunung Lawu! Aku akan membela pasukan Pengging sampai darah penghabisan!” jawab Bandung tegas.

“Dasar pengkhianat! Serang dia!” teriak Anabrang.

Bandung pun langsung diserang oleh empat prajurit Prambanan sekaligus. Namun, ia tak mengeluarkan kerisnya. Dengan gerakan lincah, ia menangkis dan menghindari semua serangan hanya dengan tangan dan tubuhnya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 49.

Setelah beberapa saat bertahan untuk mengukur kekuatan lawan, Bandung sadar bahwa kemampuan mereka jauh di bawah dirinya. Ia pun memutuskan mengakhiri pertarungan dengan tenaga dalamnya. Saat keempat prajurit Prambanan mendekat sambil mengayunkan pedang, tiba-tiba cahaya terang menyambar di antara mereka. Seketika, keempat prajurit itu terpental ke belakang dengan tubuh terluka parah, sementara pedang mereka patah dan berserakan di tanah.

Melihat kejadian itu, pasukan Pengging yang sempat terdesak kembali bersemangat. Mereka menyerang pasukan Prambanan yang panik karena melihat tumenggung mereka kalah oleh Bandung Bandawasa. Rasa takut membuat pasukan Prambanan kehilangan semangat dan akhirnya mudah dipukul mundur.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 50.

Selain Anabrang, Tumenggung Banjaranom juga kalah dengan mudah dari Tumenggung Mayangkara. Banjaranom ditangkap dan dijadikan tawanan perang. Pasukan Pengging di sayap ini tidak kesulitan memukul mundur pasukan Prambanan hingga masuk ke wilayah pertahanan mereka.

Namun, kemenangan pasukan sayap Pengging tidak diikuti oleh Senapati Darmamaya yang masih bertarung melawan Senapati Suradenta. Keduanya sama-sama kuat dan tak ada yang bisa menang sampai akhirnya sangkakala berbunyi, tanda pertempuran hari itu berakhir.

Kedua pasukan pun menghentikan pertempuran dan mundur perlahan. Para prajurit yang masih hidup tampak kelelahan, berkeringat, dan menuntun teman mereka yang terluka. Meski tubuh mereka lelah, mereka lega karena masih selamat.

Suasana di perbatasan Prambanan kembali tenang. Debu-debu perang mulai menghilang tertiup angin. Beberapa prajurit mengangkat tubuh rekan-rekan mereka yang gugur untuk dikumpulkan dan dimakamkan bersama.

Di pihak Prambanan, Prabu Kalakarung kecewa atas kekalahan kedua tumenggungnya. Ia segera mengganti posisi mereka dan menyusun strategi baru untuk esok hari. Tumenggung Bayubraja ditunjuk memimpin pasukan sayap kiri menggantikan Banjaranom, sedangkan sayap kanan yang sebelumnya dipimpin Anabrang kini akan dipimpin oleh Senapati Suradenta. Ia berharap bisa memanfaatkan kelemahan Setrajali yang kelelahan. Sementara pasukan utama di tengah akan dipimpin oleh Patih Basuketi.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 51.

Sementara itu, para pemimpin dan prajurit Prambanan memilih beristirahat setelah perang. Mereka mengobati luka-luka dan memulihkan tenaga. Prajurit perbekalan berkeliling membawa makanan dan minuman bagi mereka yang kelelahan. Saat malam tiba, para prajurit tidur lelap di bawah langit malam, berusaha mengumpulkan tenaga untuk pertempuran esok hari — dan mungkin hari-hari berikutnya.

Keesokan harinya, pertempuran hari kedua dimulai lebih cepat dari sebelumnya. Pasukan Prambanan tampak tidak sabar ingin membalas kekalahan mereka kemarin. Mereka sudah menyiapkan serangan dengan pemimpin yang baru. Sementara pasukan Pengging tetap menggunakan pemimpin dan strategi yang sama seperti hari pertama.

Melihat perubahan itu, Bandung segera mengambil inisiatif. Ia menyiapkan prajurit pengganti untuk berjaga-jaga jika pasukan Prambanan menjadi lebih kuat. Ia meminta Patih Tambakbaya menyusup ke barisan tengah bersama beberapa prajurit tangguh untuk menggantikan Senapati Darmamaya jika kalah menghadapi Patih Basuketi. Bandung sendiri bersiaga di sayap kiri untuk membantu Tumenggung Setrajali, atau bergerak ke mana pun jika dibutuhkan.

"Aku setuju dengan rencanamu. Tak kusangka kau juga pandai menyusun strategi perang. Terima kasih, anak muda. Semoga kehadiranmu membangkitkan semangat kami untuk menang," kata Patih Tambakbaya dengan tulus.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 52.

“Syukurlah Tuan Patih setuju. Sekarang aku akan pergi ke sayap kiri untuk membantu Tumenggung Setrajali. Semoga berhasil,” kata Bandung lalu pergi meninggalkan Patih Tambakbaya. Sekejap kemudian Bandung sudah hilang dari pandangan Patih, yang kagum pada pemuda itu. Dalam hati Patih berharap Bandung tetap setia pada Pengging, bahkan setelah perang usai, karena ia melihat potensi kepemimpinan pada pemuda Gunung Lawu itu.

Pertempuran dimulai. Setrajali hanya mampu memberi perlawanan di awal saja; lama-kelamaan ia kelelahan dan mulai terdesak oleh serangan Suradenta. Bandung segera melompat ke medan dan mendarat di hadapan Suradenta. Setrajali sangat lega melihat kedatangan Bandung, lalu mundur untuk membantu memulihkan barisan pasukannya.

“Siapa kau? Apa hakmu ikut campur?” tanya Suradenta, terkejut melihat Bandung tiba-tiba muncul.

“Aku Putra Gunung Lawu. Aku membela Pengging untuk merebut kembali wilayahnya dari orang-orang serakah seperti kalian!” jawab Bandung tajam.

“Jadi kau yang mengalahkan Kanda Suralangu? Kebetulan. Aku akan menghajarmu dan membalas dendam kakakku!” kata Suradenta marah.

“Oh, kau adik Suralangu. Kebetulan juga aku berniat menjadikanmu tawanan perang,” jawab Bandung. Kali ini ia tidak lagi bersikap ramah kepada prajurit Prambanan yang telah berbuat kejam pada pasukan Pengging.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 53.

"Kurang ajar!" teriak Suradenta marah sambil menyerang dengan pedangnya. Amarah membuatnya kehilangan kendali dan tak lagi memikirkan pertahanannya.

Bandung dengan gesit menghindar ke samping, membuat pedang Suradenta hanya menebas angin. Ia lalu bersiap menghadapi serangan cepat berikutnya yang datang bertubi-tubi.

Karena terlalu bernafsu menyerang, Suradenta lupa menjaga diri. Bandung memanfaatkan kesempatan itu dan memukul keras dada lawannya. Suradenta terpental ke belakang sambil menahan rasa sakit di dadanya, lalu segera menyalurkan tenaga dalamnya untuk meredakannya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 54.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 4: Persiapan Pertempuran
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search