Jaspers sepakat dengan Kant: kebijaksanaan Tuhan tampak bukan hanya dari apa yang ditunjukkan kepada manusia, tapi juga dari apa yang disembunyikan-Nya. Transendensi berbicara lewat simbol-simbol (chiffer) yang bisa ditafsir manusia sejauh ia hidup sebagai eksistensi. Cara manusia menafsirkan simbol itu menunjukkan siapa dirinya. Keputusannya akan membentuk dirinya untuk selamanya.
***
BAB II: TITIK PANGKAL FILSAFAT JASPERS
1. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Menurut Jaspers, orang yang berpikir selalu berdialog dengan filsuf-filsuf besar. Ada yang berpikir dalam sistem utuh seperti Aristoteles, Thomas Aquino, dan Hegel. Jaspers menghargai mereka, tetapi ia lebih tertarik pada filsuf yang memberi perspektif baru tanpa sistem bulat, seperti Augustinus, Pascal, Kant, Kierkegaard, dan Nietzsche. Bagi Jaspers, pemikiran mereka lebih mirip keyakinan daripada pengetahuan.
Bagi Jaspers, filsafat adalah proses berpikir yang tak pernah berhenti. Filsafat membebaskan manusia dan mengajarinya melihat kenyataan sebagai simbol atau “naskah” yang “ditulis” oleh transendensi yang harus “dibaca” manusia. Bacaan ini selalu terbuka.
Sebagai ilmuwan, Jaspers menekankan bahwa hal-hal yang bisa diteliti harus diselidiki ilmu pengetahuan. Filsafat baru berperan setelah itu. Jika filsafat mencoba mengambil alih peran ilmu, maka jadi tidak relevan. Karena bagi Jaspers filsafat mulai dari ketidaktahuan, dari titik di mana manusia harus memutuskan dan memakai kebebasannya.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers", Jakarta: PT Gramedia, 1985, hlm. 7.
Langkah pemikiran Jaspers tampak dalam bukunya Philosophie, yang terdiri dari 3 jilid. Pertama, Orientasi di dunia, yaitu mempelajari hasil ilmu untuk tahu batas antara yang bisa diketahui dan yang tidak diketahui. Semakin banyak hal yang diketahui, semakin banyak pula pertanyaan baru. Kedua, Penerangan eksistensi, yaitu manusia menjadi eksistensi melalui pilihan-pilihannya. Eksistensi selalu terkait dengan transendensi (yang Jaspers sebut sebagai Allah). Ketiga, Metafisika, yang membahas hubungan eksistensi dengan transendensi. Skema ini mirip metafisika tradisional (kosmologi, psikologi, teologi filosofis), hanya istilahnya diganti sesuai pemikiran Jaspers. Ontologi klasik juga ia tolak, dan menggantinya dengan “Periechontologie”, yaitu orientasi dalam kenyataan yang melingkupi kita.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 7-8.
Saat belajar di universitas-universitas Jerman, Jaspers kecewa karena filsafat yang diajarkan sangat sistematis dan jelas, tetapi tidak relevan. Menurutnya, filsafat bukan ilmu dengan rumus, melainkan penerangan tentang kehidupan batin yang jadi dasar hidup manusia.
Filsafat lebih tua daripada ilmu. Dulu keduanya menyatu, tetapi kemudian berpisah tugas. Ilmu memberi pengetahuan, filsafat memberi arah hidup. Kemajuan ilmu menggeser batas filsafat, tetapi tetap ada pertanyaan yang hanya bisa dijawab filsafat, karena ilmu tak pernah lengkap.
Jaspers menolak pandangan yang ingin menyatukan semua hal ke dalam satu prinsip tunggal, seperti positivisme dan idealisme. Positivisme menganggap yang ada hanyalah yang bisa diteliti ilmu, sedangkan idealisme menyamakan kenyataan dengan apa yang bisa dipahami ilmu kemanusiaan. Keduanya menganggap segala sesuatu bisa diketahui, sehingga tidak ada lagi misteri. Menurut Jaspers, pandangan ini salah. Selalu ada hal-hal yang melampaui pengetahuan, dan manusia selalu lebih besar daripada apa pun yang bisa dijelaskan ilmu.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 8.
2. Filsafat Eksistensi
Ilmu pengetahuan pada akhirnya mengarah pada orientasi filosofis di dunia, dan orientasi ini menuju ke filsafat eksistensi.
Menurut Jaspers, “Filsafat eksistensi adalah cara berpikir yang menggunakan semua pengetahuan objektif—tetapi—juga mengatasi pengetahuan objektif itu, yang tujuannya agar manusia bisa menjadi dirinya sendiri.” Pemikiran ini bukan tentang objek, melainkan tentang diri manusia yang berpikir dan hidup dengan cara itu.
Ada dua fokus utama dalam filsafat Jaspers, yakni: eksistensi dan transendensi. Eksistensi berarti manusia berdiri di hadapan transendensi. Sedangkan transendensi bersifat tersembunyi, dan hal itu menjadi dasar kebebasan manusia.
Jaspers sepakat dengan Kant: kebijaksanaan Tuhan tampak bukan hanya dari apa yang ditunjukkan kepada manusia, tapi juga dari apa yang disembunyikan-Nya. Transendensi berbicara lewat simbol-simbol (chiffer) yang bisa ditafsir manusia sejauh ia hidup sebagai eksistensi. Cara manusia menafsirkan simbol itu menunjukkan siapa dirinya. Keputusannya akan membentuk dirinya untuk selamanya.
Filsafat eksistensi bukan hanya merenungkan kebenaran, tapi menghayati kebenaran. Artinya, kebenaran pemikiran dibuktikan lewat tindakan nyata.
Seperti tokoh-tokoh yang Jaspers kagumi (Augustinus, Pascal, Kierkegaard), filsafat Jaspers mencerminkan hidup pribadinya. Pengalaman pribadi dianggapnya juga mewakili pengalaman orang lain. Karena itu, dalam tulisannya ia sering memakai kata “manusia”, “saya”, dan “kita” secara bergantian. Paul Ricoeur menyebutnya “distributif”: pengalaman pribadi Jaspers bisa dikenali orang lain sebagai pengalaman mereka juga.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 9.
3. Filsafat sebagai Kepercayaan
Jaspers menyebut dirinya Kristen, meski tidak sesuai dengan ajaran Kristen tradisional. Ia percaya kepada Allah, tapi menolak Trinitas, inkarnasi, dan “wahyu khusus”. Sebagian kritikus menilai kepercayaannya mirip iman Perjanjian Lama atau religiositas imanen ala Kierkegaard, yaitu percaya pada Allah tanpa melihat-Nya hadir secara konkret dalam Yesus. Jaspers menyebut imannya sebagai kepercayaan filsafat abadi, lebih tua dari semua agama, yang bisa mengatasi perbedaan-perbedaan antara agama-agama dan memberi pegangan ketika agama tidak lagi memberi jawaban.
Bagi Jaspers, arti asli filsafat (philo-sophia, cinta kebijaksanaan) masih menjadi arti yang paling tepat. Pemikir-pemikir Yunani memilih kata tersebut (philo-sophia) untuk menekankan bahwa manusia tidak “memiliki” kebenaran. Manusia bukan sophos, hanya philo-sophos, pencari kebenaran. Karena itu, filsafat tidak pernah selesai. Segala bentuk dogmatisme baginya adalah pengkhianatan dan takhayul, karena dogma membekukan sesuatu yang seharusnya terbuka. Transendensi tidak bisa dijadikan objek, maka pemikiran tentangnya selalu berupa kepercayaan.
Bagi Jaspers, pencarian kebenaran bersama-sama adalah semacam “agama”. Kepercayaan filosofis ini menjadi dasar tindakannya, sumber kepastian tentang yang hakiki. Ia melihat sejarah pemikiran—dari filsuf, nabi, seniman, hingga sastrawan—sebagai jalan untuk menyingkap sedikit demi sedikit rahasia kebenaran abadi. Di sini (dunia akal budi) waktu itu tidak penting. Karena di hadapan transendensi, semua manusia “seusia” di hadapan-Nya.
Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 11.






0 komentar:
Posting Komentar