Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Rabu, 26 November 2025

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 4: Persiapan Pertempuran

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 4: Persiapan Pertempuran

Suasana Istana Prambanan masih ramai dan tegang karena penyusup belum juga ditemukan. Kecewa dengan kegagalan para prajuritnya, Prabu Kalakarung akhirnya menghentikan pencarian dan memerintahkan Panglima Suradenta menyiapkan seluruh pasukan. Ia khawatir penyusup itu adalah mata-mata dari Kerajaan Pengging. Jika benar, berarti pasukan Pengging sudah dekat dan akan segera menyerang setelah menerima laporan dari si penyusup.

Prabu Kalakarung tidak ingin mengalami kekalahan lagi. Apalagi, Prambanan adalah pusat kekuasaannya setelah banyak wilayah lain direbut kembali oleh Pengging. Jika pasukannya kalah lagi, kekuasaannya akan runtuh dan Prambanan akan menjadi bawahan Pengging. Karena itu, Sang Prabu ikut mempersiapkan pasukannya. Ia memeriksa satu per satu prajurit dan perlengkapan senjata mereka dengan teliti.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 37.

Tak lama kemudian, pasukan Prambanan yang dipimpin Panglima Suradenta berbaris rapi dengan senjata lengkap. Semua prajurit dikumpulkan untuk diperiksa dan menerima pengarahan dari Sang Prabu tentang strategi perang melawan pasukan Pengging. Berulang kali Sang Prabu menegaskan bahwa mereka harus menang demi mempertahankan kekuasaan Prambanan agar tidak dikuasai Pengging. Suaranya yang keras dan tegas membuat suasana di lapangan istana menjadi hening. Tak satu pun prajurit berani bergerak atau bersuara. Semangat juang mereka pun tumbuh berkat kata-kata Sang Prabu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 38.

Sementara itu, Putri Rara Jonggrang merasa semakin gelisah saat melihat pasukan Prambanan bersiap dari kejauhan. Ia bukan hanya cemas karena perang yang akan terjadi, tapi juga karena terus memikirkan pemuda yang mengaku sebagai Putra Gunung Lawu. Entah mengapa, bayangan wajah dan gerak-gerik pemuda itu terus teringat di benaknya.

Dari cerita ayahnya, Rara Jonggrang tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang mengalahkan Panglima Suralangu dan memimpin pasukan Pengging merebut kembali wilayah-wilayah Prambanan. Artinya, pemuda itu memang mata-mata dari Pengging. Namun anehnya, Rara Jonggrang justru menyembunyikan keberadaannya. Ia tak melaporkan apa pun kepada ayahnya maupun prajurit lain. Rupanya, hatinya sudah terpaut pada Putra Gunung Lawu.

“Ada apa, Tuan Putri? Mengapa tampak gelisah?” tanya Emban Sriti yang memperhatikannya.

“Aku… aku khawatir, Bi. Ayah akan ikut berperang. Aku takut kalau beliau terluka atau bahkan tewas. Kalau itu terjadi, bagaimana nasibku nanti?” jawab Rara Jonggrang, berusaha menutupi kegelisahan hatinya.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting, Prabu Kalakarung pulang dengan selamat. Beliau sudah biasa berperang. Sebelum jadi raja, beliau adalah panglima yang sangat berani. Karena itulah Raja Anglingdriya mempercayakan Kadipaten Prambanan kepadanya,” kata Emban Sriti.

“Kadipaten Prambanan? Bukankah Prambanan adalah kerajaan yang berdiri sendiri?” tanya Rara Jonggrang heran.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 39.

“Sepertinya Tuan Putri belum tahu sejarah kerajaan ini,” kata Emban Sriti. “Dulu, saat Prabu Kalakarung masih muda, beliau adalah prajurit di Istana Pengging. Karena keberanian dan jasanya, beliau diangkat menjadi bupati di Kadipaten Prambanan, salah satu wilayah Pengging. Namun setelah permaisuri wafat, beliau memberontak dan memisahkan diri dari Pengging. Dari situlah berdiri Kerajaan Prambanan.

Beliau bahkan berhasil menguasai beberapa wilayah milik Pengging. Tapi setelah kalah dalam pertempuran terakhir, Pengging kini berbalik menyerang untuk merebut kembali wilayahnya. Begitulah akibatnya jika sebuah kerajaan berdiri lewat pemberontakan.”

Putri Rara Jonggrang terdiam mendengar cerita itu. Ia tak menyangka ayahnya bisa berbuat sejauh itu setelah kematian ibunya. Mungkin ayahnya terlalu sedih hingga tak bisa mengendalikan diri lagi. Hatinya pun semakin gelisah. Kini ia mengerti mengapa ayahnya sangat cemas menghadapi kekalahan dan perang melawan Pengging.

“Jadi, sebenarnya kita di pihak yang salah? Tidak bisakah perang ini dicegah?” tanya Rara Jonggrang cemas.

“Sebenarnya bisa,” jawab Emban Sriti. “Salah satunya dengan menjalin hubungan keluarga antar kerajaan. Misalnya, jika Raja Anglingdriya punya anak laki-laki dan menikah dengan Tuan Putri, maka Prambanan bisa menjadi kerajaan mandiri dan sejajar dengan Pengging. Tapi sayangnya, Raja Anglingdriya hanya punya satu anak perempuan, Dewi Anggraini.”

Ia menceritakan hal itu agar Putri Rara Jonggrang memahami kedudukan Prambanan jika sampai kalah dalam perang kali ini.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 40.

Perasaan Rara Jonggrang semakin kacau. Bayangan tentang perang, ayahnya, dan Putra Gunung Lawu terus bergantian muncul di pikirannya. Ia berpikir, andai saja tidak ada permusuhan antara Pengging dan Prambanan, perang pasti tidak akan terjadi, dan ia tak perlu menahan perasaannya pada Putra Gunung Lawu yang berasal dari pihak musuh.

“Bibi, daripada kita terus gelisah, lebih baik kita berdoa saja agar perang ini tidak terjadi. Kalau pun harus terjadi, semoga tidak ada hal buruk yang menimpa kita,” kata Putri Rara Jonggrang sambil berjalan menuju sanggar tempat bersembahyang.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 41.

Emban Sriti mengikuti langkah Rara Jonggrang sambil memperhatikan kegelisahan majikannya. Ia heran, karena baru kali ini melihat sang putri begitu murung. Tak lama kemudian, keduanya tenggelam dalam doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, menyerahkan semua yang akan terjadi sebagai takdir yang harus dijalani.

Sementara itu, Bandung Bandawasa dan Tumenggung Setrajali menunggang kuda dengan cepat menuju kota raja Pengging. Mereka membawa surat dari Senapati Darmamaya yang melaporkan kesiapan pasukan gabungan Pengging di Kota Kepuh, sekaligus meminta izin Raja Anglingdriya untuk menyerang Prambanan. Karena hari sudah gelap, Setrajali mengajak Bandung singgah di rumahnya.

Istri dan kedua anak Setrajali menyambut mereka dengan gembira. Tugas Setrajali sebagai tumenggung membuatnya jarang pulang, apalagi di masa perang seperti sekarang. Setelah makan malam dan berbincang sebentar, mereka pun beristirahat agar siap melanjutkan perjalanan esok hari.

Pagi-pagi sekali, Bandung dan Setrajali kembali berangkat menuju istana Pengging. Namun, saat tiba di depan keraton, Bandung menolak ikut masuk menemui Raja.

“Tapi kenapa kau tidak mau menemui Raja Anglingdriya?” tanya Setrajali heran.

“Beliau pasti akan banyak bertanya padaku, padahal kita harus segera kembali ke Kepuh,” jawab Bandung tenang.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 42.

“Baiklah, tapi ingat! Jangan pergi ke mana pun, apalagi melarikan diri. Kami semua masih sangat membutuhkan bantuanmu!” kata Setrajali sungguh-sungguh sebelum masuk ke dalam keraton.

Raja Anglingdriya sangat senang menerima Setrajali yang membawa surat dari Senapati Darmamaya. Ia gembira mendengar kabar keberhasilan pasukannya merebut kembali Kota Grogol dan kota-kota lain. Sang Raja juga ingin sekali bertemu dengan Bandung Bandawasa, pemuda yang berjasa besar membantu pasukan Pengging mengalahkan Prambanan.

“Sebenarnya Bandung Bandawasa, si Putra Gunung Lawu, ada di luar, Tuan. Ia tidak mau masuk karena khawatir mengganggu hamba menyampaikan kabar ini,” kata Setrajali.

“Sungguh pemuda luar biasa dan rendah hati,” ujar Raja Anglingdriya kagum. “Kau benar, lebih baik segera kembali. Bawa surat perintahku untuk Senapati Darmamaya. Aku izinkan kalian menyerang Prambanan secepatnya dan menangkan perang untuk rakyat Pengging. Sampaikan juga salamku pada Putra Gunung Lawu. Aku sangat ingin bertemu dengannya.”

Dengan hati gembira, Sang Raja menulis surat perintah bagi Darmamaya agar segera menyerang Prambanan. Setelah selesai, Setrajali berpamitan dan keluar dari keraton dengan perasaan lega karena tugasnya berjalan lancar.

Namun, saat mencari Bandung Bandawasa di dekat gerbang istana, ternyata pemuda itu sudah menghilang. Ke mana perginya Putra Gunung Lawu itu?

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 43.

Bandung Bandawasa berjalan-jalan di taman keraton Pengging sambil menunggu Tumenggung Setrajali yang belum juga keluar dari dalam keraton. Ia menikmati keindahan taman yang dipenuhi bunga dan pepohonan yang rimbun.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang wanita cantik yang berjalan bersama seorang wanita tua. Dari pakaian yang dikenakannya, Bandung langsung menebak bahwa wanita itu adalah Putri Dewi Anggraini, putri tunggal Raja Anglingdriya. Ia teringat cerita Tumenggung Setrajali tadi malam tentang kecantikan sang putri — dan ternyata benar. Dewi Anggraini memang cantik dan anggun, bahkan wajahnya mirip dengan Putri Rara Jonggrang.

Bandung terdiam dan memperhatikan sang putri dari kejauhan. Langkah mereka semakin mendekat hingga Bandung bisa melihat jelas kecantikannya.

Tiba-tiba angin berembus kencang, menerbangkan selendang yang menempel di bahu sang putri. Selendang itu melayang di udara lalu jatuh di dekat Bandung. Dengan sigap, Bandung menangkapnya.

Baik Bandung maupun Dewi Anggraini sama-sama terkejut. Setelah angin mereda, Dewi Anggraini menghampiri Bandung untuk mengambil selendangnya, sementara Bandung juga melangkah ke arahnya untuk mengembalikannya.

“Maaf, Tuan. Hamba benar-benar tidak sengaja. Angin tiba-tiba berembus sangat kencang,” kata Dewi Anggraini sopan saat sudah berdiri di depan pemuda itu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 44.

“Tidak apa-apa, Tuan Putri. Hamba hanya terkejut saat selendang ini terbang ke arah hamba. Silakan diterima kembali,” kata Bandung sambil tersenyum ramah dan menyerahkan selendang itu.

“Terima kasih. Tapi siapa Tuan? Dan apa yang Tuan lakukan di sini?” tanya Dewi Anggraini setelah mengenakan kembali selendangnya.

“Hamba Bandung Bandawasa dari Gunung Lawu. Hamba sedang menunggu Tumenggung Setrajali yang kini sedang menghadap Raja Anglingdriya. Kalau tidak salah, Tuan Putri pasti Putri Dewi Anggraini, bukan?” ujar Bandung sopan.

“Benar…” jawab Dewi Anggraini sambil tersipu, tak menyangka pemuda tampan itu sudah mengenalnya lebih dulu.

“Tumenggung Setrajali sudah keluar dari keraton. Bukankah Tuan sedang menunggunya?” kata Dewi Anggraini sambil menunjuk ke arah Tumenggung Setrajali yang berjalan mendekat.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 45.

“Baiklah, kalau begitu hamba pamit dulu. Senang bisa bertemu dengan Tuan Putri. Semoga kita bisa berjumpa lagi,” ujar Bandung sambil memberi hormat, lalu berlari menghampiri Tumenggung Setrajali.

“Ternyata kau di sini, anak muda. Sepertinya kau sudah berkenalan dengan Putri Dewi Anggraini, ya?” kata Setrajali sambil tersenyum menggoda.

“Iya, Paman. Kami kebetulan bertemu di taman. Putri Dewi Anggraini sangat cantik, bahkan hampir sama cantiknya dengan Putri Rara Jonggrang. Aku tak menyangka bisa bertemu dengan dua putri secantik mereka!” kata Bandung gembira.

“Kau tampak sangat senang. Hati-hati, anak muda. Kecantikan wanita bisa melemahkan laki-laki. Jangan sampai kau tertipu olehnya,” ujar Setrajali sambil tertawa kecil.

“Sudahlah, Paman dari tadi menggoda terus. Aku hanya mengagumi kecantikan mereka, tidak lebih,” jawab Bandung sambil tersenyum. “Oh ya, apa pertemuan Paman dengan Raja Anglingdriya sudah selesai?”

“Sudah. Beliau menitipkan surat perintah untuk Senapati Darmamaya agar segera menyerang Prambanan. Kita harus segera berangkat ke Kepuh sekarang juga!” kata Setrajali dengan serius.

Keduanya pun segera menuju gerbang istana, tempat kuda mereka ditambatkan. Tak lama, suara derap kaki kuda terdengar cepat menjauh dari Kerajaan Pengging menuju Kota Kepuh, tempat pasukan Pengging menanti kabar dari mereka.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 46.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 3: Usaha Perebutan Kekuasaan
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 4: Persiapan Pertempuran
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search