Sekumpulan buku-buku ternama.

  • Musik Barat

    Musik pertama kali muncul dimana sih?

  • Musik Lokal

    Yang lokal itu lebih asik, lebih rame, lebih seru.

  • Musik Jepang

    Yui? Tokyo adalah salah satu lagu yang sangat ekspresif.

  • OST. Film

    Saya rekomendasikan Anda untuk melihat film Flying Colours.

  • OST. Anime

    Lisa dengan lagunya yang berjudul Ichiban no Takaramono tak kalah ekspresifnya dengan Tokyo milik Yui.

Pengikut

____

Sabtu, 29 November 2025

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali" - Part 02: Ruh Sumber Pengetahuan Sejati

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Sekarang, manusia bisa memilih untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan sukarela, atau menolak melakukannya karena sombong. Dalam dua keadaan ini, manusia tetap disebut "muslim": yang pertama karena sukarela, yang kedua karena terpaksa. Menurut Al-Qur’an, alasan Iblis menolak perintah Allah bukan karena kurang pengetahuan, tapi karena kesombongan (istikbar). Sifat sombong inilah yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang menolak menerima Allah.

Manusia pada dasarnya punya keinginan untuk dipuja atau diagungkan. Karena itu, ia jadi sulit menerima bahwa ada yang lebih agung darinya, termasuk menerima keagungan Allah.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali", Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 9.

Sebenarnya, ada sisi lain dalam diri manusia. Di lubuk hatinya, Ia mengakui bahwa Allah itu ada. Al-Qur’an juga menyebutkan hal ini, misalnya dalam ayat berikut:

Dan jika ditanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Mereka akan menjawab: "Allah."...—(Surah Al-'Ankabut (29): ayat 61)

Sejak awal penciptaan, Allah sudah menanamkan keyakinan ini dalam diri manusia. Contohnya dalam ayat berikut:

Dan (Ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan-keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Allah berfirman): "Bukanlah Aku ini Tuhan-mu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi."...—(Surah Al-A'raf (7): ayat 172)

Perasaan percaya itulah yang disebut fitrah—yaitu sifat dasar yang sudah tertanam dalam diri manusia, yang membuatnya gelisah terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui, lalu terdorong untuk mencari penjelasan. Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membawa manusia mendekat kepada Allah.

Di sisi lain, manusia juga punya kecintaan pada hawa nafsu, seperti wanita, anak, harta, dan kekayaan (Surah Ali 'Imran (3): ayat 14). Keinginan ini bisa menyesatkan dan menjauhkan manusia dari fitrahnya. Pertentangan antara mengejar pengetahuan (sebagai jalan menuju Allah) dan mengejar hawa nafsu ini dibahas secara mendalam oleh Al-Ghazali. Tulisan-tulisannya berusaha menjelaskan konflik batin tersebut dan mencari solusi dengan menunjukkan jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasinya agar manusia dapat mencapai kepuasan batin.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 10.

Meski seseorang sudah menyerahkan diri kepada Allah dan berusaha sungguh-sungguh mengatasi konflik batinnya, tetap ada tingkatan-tingkatan dalam Islam, tergantung pada seberapa dalam pengetahuan yang ia miliki. Tingkat kebahagiaan seseorang pun sesuai dengan tingkatannya dalam Islam. Sebab, menurut Al-Qur’an, manusia tidak diciptakan hanya untuk bersenang-senang, melainkan “dipilih” Allah sebagai khalifah (wakil-Nya) di bumi untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Dengan demikian, manusia memegang amanah dari Allah dan secara moral wajib menjalankannya. Kebahagiaan manusia bergantung pada sejauh mana ia melaksanakan amanah itu. Penjelasan ini dimaksudkan sebagai latar belakang untuk memahami pemikiran Al-Ghazali. Harapannya, pembaca dapat melihat betapa besar pengaruh Al-Qur’an terhadap cara berpikir Al-Ghazali.

Gambaran tentang bagaimana Al-Qur’an memandang alam semesta, umat manusia, sejarah, dan Allah sebenarnya bisa menunjukkan pengaruh ini dengan lebih jelas. Tapi, hal-hal itu akan dibahas di lain waktu. Sekarang, mari kita lihat ringkasan riwayat hidup Al-Ghazali, yang menjadi tokoh utama dalam pembahasan ini.

***


Al-Ghazali atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Tusi Al-Syafi—nama lengkapnya, lahir di Kota Tus pada tahun 450 H/1058 M.

Ayahnya adalah seorang pembuat dan penjual kain wol, itulah sebabnya ia diberi nama "ghazzal". Sebelum meninggal, sang ayah menitipkan Al-Ghazali dan kakaknya, Ahmad, kepada seorang sahabatnya yang seorang sufi. Ia berpesan: “Saya menyesal tidak pernah belajar menulis. Saya ingin kedua anak saya tidak kehilangan hal itu. Didiklah mereka, meski harus menghabiskan seluruh harta peninggalanku.”

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 11.

Sufi itu pun mendidik mereka dengan harta peninggalan sang ayah. Namun, ketika uangnya habis, ia tidak lagi mampu menafkahi mereka. Ia berkata: “Aku sudah menghabiskan semua peninggalan ayahmu untuk kalian. Aku orang miskin. Jalan terbaik bagimu adalah masuk madrasah sebagai murid, karena di sana kalian bisa belajar sekaligus mendapat makan.”

Keduanya pun masuk madrasah, dan dari situlah kebahagiaan serta cita-cita luhur mereka tercapai.

Al-Ghazali pernah berkata: “Awalnya kami mencari ilmu bukan karena Allah, tetapi akhirnya kami menyadari bahwa Allah-lah yang menuntun kami, dan kami tidak bisa mencari selain hanya kepada-Nya.”

Ia mendapat pendidikan dasar di Kota Tus. Setelah itu ia pergi ke Naysabur untuk belajar pada Imam Al-Juwayni (478 H/1085 M), yang dikenal sebagai Imam al-Haramayn. Ia belajar di sana sampai gurunya wafat.

Dari Naysabur, Al-Ghazali melanjutkan ke Mahkamah Nizham al-Mulk, tempat ia memperdalam ilmu hukum dan agama. Pada tahun 484 H/1091 M, ia diangkat menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah, Baghdad.

Di masa itu, Al-Ghazali aktif mengajar dan menulis kitab fiqh. Ia juga menulis tentang kelompok Ta’limiyyah, yang kemudian memicu banyak perdebatan.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 12.

Sejak awal masa belajarnya, Al-Ghazali sudah menunjukkan sikap ragu. Ia menolak menerima kebenaran hanya lewat taqlid (ikut-ikutan) atau tradisi yang diwariskan.

Puncak keraguannya saat tinggal di Baghdad. Pertanyaan yang terus mengganggunya adalah: “Apakah iman kepada Allah bisa menjadi pengetahuan yang pasti? Jika Allah wajib disembah, maka harus diketahui dengan kepastian.”

Pertanyaan ini membuatnya menyelidiki sifat pengetahuan manusia: apakah pengetahuan bisa dipelajari, dan bagaimana cara memastikan kebenarannya.

Riwayat hidup Al-Ghazali sebenarnya terlalu singkat, sehingga untuk memahami perkembangan intelektual dan spiritualnya, perlu melihat karya-karyanya, terutama karyanya: Ihya Ulumuddin. Di sana ia membahas iman dalam tiga aspek yang saling terkait:

  1. Ilm: pengetahuan atau informasi.
  2. Hal: kondisi hati atau keadaan batin.
  3. Amal: tindakan atau disiplin diri untuk memahami dan merasakan pengetahuan dan keadaan hati tersebut.

Melalui tulisan-tulisannya, Al-Ghazali sesungguhnya sedang melukiskan perjalanan batinnya sendiri.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 13.

Sebelum mengalami perubahan besar dalam hidupnya, Al-Ghazali sudah menunjukkan cara berpikirnya dengan membagi iman ke dalam beberapa tingkatan. Dalam Kitab Tauhid, misalnya, ia menyebut bahwa pada tingkat awal keimanan, hati seseorang masih terikat oleh banyak "simpul" yang kuat ('uqdah). Sementara hati orang-orang yang sudah mengenal Allah (dengan sungguh-sungguh) akan dipenuhi rasa bahagia, terbuka, dan dekat kepada-Nya (muqarrabun).

Perbedaan utama antara dua tingkatan iman ini adalah jarak antara seseoang dengan Allah.

Bagi Al-Ghazali, sebelum mengalami perubahan itu, dirinya merasa jauh dari Allah. Ia percaya bahwa satu-satunya cara untuk mendekat adalah dengan pengetahuan. Tapi: “Apa sebenarnya pengetahuan itu, dan bagaimana memastikan kebenarannya?”

Pertanyaan inilah yang menjadi awal dari pencarian intelektual dan spiritualnya, yang dibahas di bagian pertama studi ini.

Karena merasa sangat jauh dari Allah, Al-Ghazali mengalami tekanan batin yang bergitu berat sampai membuatnya jatuh sakit, baik secara fisik maupun mental. Ia sakit dari bulan Rajab sampai Zulqaidah 488 H/1095 M. Setelah sembuh, ia merasa harus menjauh dari kehidupan dunia. Setelah memastikan kebutuhan keluarganya tercukupi, ia memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan mengasingkan diri, meninggalkan jabatan terhormatnya dan menyamar untuk mengembara ke Suriah.

Ia tinggal sekitar dua tahun di Suriah, lalu berangkat haji ke Mekah pada akhir 490 H/1097 M. Selama sembilan tahun berikutnya, ia hidup berkelana, dan sesekali pulang untuk menjenguk keluarga.

Tahun 499 H/1105 M, Al-Ghazali kembali mengajar. Saat itu ia sudah menulis Ihya Ulumuddin dan buku lainnya, serta menyampaikannya lewat pengajaran di Baghdad dan Damaskus. Ia sempat menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah Naysabur, tapi hanya sampai bulan Zulqaidah 499 H/1105 M, setelah itu memilih hidup menyendiri. Ia kembali ke kampung halamannya di Tus, lalu menetap di sana, mengajar para pengikutnya, mengabdikan hidupnya ke dalam jalan sufi (tasawuf), sampai wafat pada 14 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111 M.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 14.

Dalam masa pengembaraan, Al-Ghazali mempelajari berbagai pandangan, termasuk filsafat, meskipun akhirnya condong ke tasawuf. Menurutnya, Allah yang menyempurnakan imannya.

Al-Ghazali adalah seorang jenius. Sumbangan terbesarnya dalam pemikiran Islam adalah penemuannya tentang batas kemampuan akal. Menurutnya, akal hanya alat untuk membantu seseorang memahami apa yang datang dari luar dirinya, lalu menyampaikan hasil pemahaman itu ke hati. Sama dengan akal, tubuh juga mengirimkan pengalaman-pengalamannya yang ia peroleh melalui aktivitas fisik ke hati. Namun, pengetahuan yang datang dari akal dan tubuh itu masih belum cukup untuk memperoleh pengetahuan sejati. Keduanya hanya petunjuk atau jalan menuju pengetahuan sejati. Untuk benar-benar mencapai pengetahuan sejati, dibutuhkan sumber lain di luar itu.

Sumber pengetahuan sejati adalah ruh. Namun, agar ruh menghasilkan pengetahuan sejati, hati harus terbebas dari dominasi akal dan pengalaman tubuh. Namun, pengetahuan akal dan pengalaman tetap diperlukan sebagai dasar sebelum hati bisa mengenal dirinya sendiri.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 15.

Artinya, hati tidak hanya butuh informasi dari akal dan tubuh, tapi juga harus mengalami kehadiran ruh di dalamnya—yaitu aspek ketuhanan. Tanpa itu, hati tidak akan mencapai pengetahuan tertinggi.

Teori pengetahuan Al-Ghazali berkaitan erat dengan proses pengembangan diri menuju kesempurnaan. Teori ini berdiri di atas dua dasar utama:

  1. Hati manusia diciptakan menurut gambaran Allah.
  2. Manusia adalah “mikrokosmos” (dunia kecil).

Artinya, seseorang baru bisa benar-benar berilmu jika mengenal dirinya secara utuh. Karena manusia adalah cermin Allah, maka dengan memahami hati, ia bisa mengenal sifat-sifat Allah. Dan karena manusia adalah mikrokosmos, maka dengan memahami hati dalam hubungannya dengan tubuh, ia bisa memahami karya Allah dalam alam semesta.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 16.

Semua pengetahuan terjadi di dalam hati, dan pengetahuan itu sebenarnya adalah cerminan dari isi hati itu sendiri. Namun, ada sisi hati yang bisa menghambat perkembangannya, yakni: kecenderungan pada kesenangan, menghindari rasa sakit, dan keinginan untuk diagungkan atau berkuasa (suka memimpin, mengatur, merasa penting, dan lain-lain). Kesenangan ini muncul sejak awal kehidupan dan bisa berkembang tanpa batas. Jika hati terlalu sibuk dengan keinginan tersebut, pengetahuannya akan terhenti hanya pada sebagian kecil saja.

Agar hati bisa mengenal dirinya sepenuhnya dan bisa menjadi cermin dari alam semesta dan sifat-sifat Tuhan, hati perlu tetap terhubung dengan kebutuhan tubuh. Karena itu, dalam pencarian kebenaran dan Allah, disiplin pribadi sama pentingnya dengan belajar.

Bagian ini menutup pengantar studi dengan ucapan terima kasih dari penulis, Ali Issa Othman. Ia berterima kasih kepada mantan istrinya Dr. Evelyn Adam Othman atas dukungan moralnya, kepada Dr. Ibrahim Abu Lughod yang membantu penelitian istilah Arab, serta kepada Janet Abu Lughod yang menyempurnakan bahasa Inggris naskahnya. Ia juga berterima kasih kepada Tuan K. Bestawros yang membaca naskah awal, dan kepada Tuan M.S. Kadri, Direktur Arab States Fundamental Education Center di Sirs El Layyan, atas bantuannya dalam penerbitan buku ini.


Ditulis oleh Ali Issa Othman,
Sirs El Layyan, Mesir,
Jumat, 29 Juli 1960.


Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 17.


Daftar Isi:

Share:

Jumat, 28 November 2025

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali" - Part 01: Menemukan Tuhan - Jalan Islam Menurut Al-Qur'an

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Mengapa manusia itu ada dan perkembangan-perkembangan apakah yang mampu diterima oleh sifatnya? Tujuan apakah yang paling cocok dengan sifat ini dan bagaimanakah ia dapat mencapai tujuan tersebut dalam masa hidupnya? Di mana di dalam alam ini terletak kebebasannya dan di mana pula terletak hambatan-hambatan dari kebebasan ini? Apakah yang terdapat di luar dirinya dan bagaimana manusia itu dapat memahaminya?

Mengapa manusia perlu menjalin hubungan dengan dunia luar, seperti masyarakat, alam, dan Tuhan? Apa tujuan hidup yang ditetapkan orang-orang untuk diri mereka, dan mengapa demikan?

Bisakah tujuan pribadi seseorang selaras dengan tujuan masyarakat? Bagaimana tujuan hidup itu berkembang seiring waktu? Dan bagaimana seseorang bisa menilai apakah tujuan tersebut sesuai dengan perkembangan dirinya?

Itulah pertanyaan utama dalam buku ini, yang mengkaji pemikiran Al-Ghazali.

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Identitas Buku

  • Judul Buku: Manusia Menurut Al-Ghazali
  • Pengarang: Ali Issa Othman
  • Penerbit: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, Bandung
  • Tanggal Terbit: 1981
  • ISBN:
  • Tebal Halaman: 311
  • Lebar: 21 cm
  • Panjang: 14,5 cm


Diterjemahkan dari The Concept of Man in Islam in the Writings of Al-Ghazali

Terbitan Cairo: Dar al-Maaref, 1960


MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI

oleh Ali Issa Othman

Diterjemahkan oleh Johan Smith, Anas Mahyuddin, Yusuf

Penyunting oleh Ammar Haryono

Cetakan Pertama, 1981



Daftar Isi "Manusia Menurut Al-Ghazali"


Pengantar (1)

Mencari Kebenaran (19)

Akal Pikiran dan Wahyu (64)

Sifat Manusia, Pengembangan dan Pengetahuannya (115)

Prinsip Keesaan Allah (172)

Dunia dan Masyarakat Manusia (244)

Appendiks (289)



Pengantar

Al-Qur'an adalah sumber utama inspirasi Al-Ghazali. Pemikiran, perhatian, sikap dan nilai-nilainya berlandaskan pada Al-Qur'an. Ia percaya bahwa Al-Qur'an memberi petunjuk untuk mencapai tujuan tertinggi dan menekankan pentingnya pengetahuan serta perannya.

Meskipun Al-Ghazali mempelajari berbagai ilmu pada masanya, pemikiran dan fokus utamanya tetap berakar pada ajaran Al-Qur'an, seperti yang terlihat dalam seluruh karyanya.

Al-Ghazali bertekad menemukan Allah dengan cara yang masuk akal. Sikap kritisnya terhadap otoritas yang ada dan kesadarannya akan keterbatasan akal dalam memahami kebenaran sangat dipengaruhi oleh Al-Qur'an. Sebagai gambaran, kita bisa melihat bagaimana Ibrahim menemukan Allah, lalu membandingkannya dengan cara Al-Ghazali. Pengaruh Al-Qur'an dalam pemikirannya sangat jelas.

Menurut Al-Qur'an, manusia pertama yang disebut sebagai "muslim" adalah Ibrahim. Al-Qur'an menceritakan bagaimana Ibrahim menjadi seorang muslim.

Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.¹

...

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.

Ungkapan "Menghadapkan Diriku" dalam ayat tersebut berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah (Islam). Akan tetapi penyerahan diri kepada Allah tidak terjadi begitu saja. Ibrahim melewati proses pencarian panjang, dimulai dengan meragukan kebenaran agama yang diwarisi dari kaumnya.

Allah membimbing Ibrahim, tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Ia tidak bisa menerima agama kaumnya begitu saja, dan sekadar menolaknya pun tidak cukup. Ibrahim memiliki naluri alami (fitrah) untuk mencari Tuhan yang bisa memberinya kedamaian dan keselamatan, yang merupakan inti dari Islam.

Ibrahim sendirian di keheningan malam, dengan keinginan kuat untuk menemukan Tuhan. Lalu bintang muncul di atasnya, dan ia yakini bahwa itu adalah Tuhan. Tapi kemudian bintang itu hilang, keyakinannya bahwa itu Tuhan juga hilang. Begitu juga pada bulan dan matahari. Keduanya hebat, tapi tak kekal. Maka mereka bukan Tuhan. Dari sini dapat dipahami bahwa selain adanya 'keinginan' mencari, Ibrahim juga 'berpikir kritis'. Ia tidak langsung menerima sesuatu sebagai Tuhan, tetapi meneliti apakah yang dianggapnya Tuhan benar-benar layak disembah.

Kita bisa merasakan perjuangan Ibrahim dalam pencariannya. Hingga akhirnya, di momen yang penuh makna, Ia menemukan kedamaian. Kekhawatirannya terhadap agama kaumnya terbukti benar. Ia meninggalkan keyakinan itu, menolak menyembah berhala dan memilih menyembah Allah.

Inilah inti Islam, yakni menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sebagai jawaban atas naluri fitrah manusia. Kedamaian sejati hanya bisa didapat dengan mengenal dan menyembah-Nya. Hal ini sudah menjadi ketetapan Allah sejak manusia diciptakan. Dalam kitab Al-Munqidh—yang berisi perjalanan intelektual Al-Ghazali—hal ini dibahas di bab pertama. Sikap yang ditunjukkan Ibrahim juga tercermin dalam buku tersebut.

Orang yang memahami Al-Qur'an akan melihat pengaruh Al-Qur'an dalam cara berpikir Al-Ghazali. Studi ini menunjukkan beberapa contoh pengaruh tersebut, tetapi pengaruhnya tidak hanya terlihat dari contoh-contoh itu. Pengaruh Al-Qur'an juga terasa dalam cara berpikir dan minat Al-Ghazali.

¹ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali", Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 1-2.
² Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 3-4.

*

Al-Qur'an banyak mengajak kita untuk kagum dan mencari tahu tentang misteri serta keajaiban alam dan manusia. Ajakan ini membangkitkan keindahan dan pemikiran manusia. Allah ingin dikenal lebih dalam sebagai pencipta segala sesuatu. Inilah salah satu ciri khas Al-Qur'an yang juga menjadi dasar karakter Islam sebagai agama.

Penjelasan ilmiah tentang alam dan manusia itu penting, tapi tidak cukup. Kita juga perlu memahami estetikanya. Manusia bisa menjelaskan sesuatu secara ilmiah, tapi ada hal lain dalam dirinya yang juga butuh kepuasan, bukan hanya logika.

Al-Qur'an menjelaskan segala sesuatu, baik besar maupun kecil—setiap peristiwa, misteri, dan fenomena—sebagai "tanda" atau "bukti" nyata yang menunjukkan kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Sang Pencipta. Manusia mendekati Allah melalui rasa kagum dan keinginan untuk menyelidiki hal-hal yang membuatnya terpesona.

Penelitian ilmiah tidak secara langsung menemukan Allah, tetapi membantu menjaga pikiran tetap jernih saat mengagumi alam dan manusia, serta membimbingnya dengan aman menuju Allah.

Dalam pandangan Al-Qur'an, tidak ada hal yang terlalu besar atau kecil, tinggi atau rendah untuk dikagumi oleh manusia. Karena Allah tidak ragu membuat perumpamaan, bahkan dengan makhluk sekecil nyamuk atau yang lebih kecil lagi. Semua itu adalah "tanda" yang, jika dipahami, bisa membawa manusia lebih dekat kepada-Nya dan menambah pengetahuan tentang Sang Pencipta.

Al-Qur'an bukanlah buku yang berisi semua ilmu pengetahuan yang sudah ditemukan. Namun, isinya memberikan kerangka lengkap untuk mencari dan menyelidiki ilmu tersebut. Umat muslim saat ini dan di masa depan harus mencari jawaban dan menggali pertanyaan lebih dalam jika ingin memahami rahasia yang tersembunyi dalam Al-Qur'an. Jika mereka melakukannya, maka Islam akan tetap menjadi agama yang diridhai oleh Allah.

Bagaimana Al-Qur'an menyatukan semua ilmu dalam satu pemahaman di bawah keesaan Allah?

Sikap dan cara berpikir seperti apa terhadap alam dan hukumnya yang bisa mendukung perkembangan ilmu pengetahuan?

Sikap dan nilai apa yang perlu dimiliki terhadap diri sendiri dan orang lain agar mendapat dukungan dalam ilmu dan pengalaman?

Apakah cara pandang manusia terhadap alam dan sesama sudah tepat?

Apa tujuan yang ingin dicapai manusia?

Apakah memenuhi kebutuhan hidup adalah jalan terbaik untuk perkembangan diri?

Seperti apa masyarakat dan tatanan sosial yang selaras dengan ajaran Al-Qur'an?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi tantangan bagi umat muslim saat ini. Kita tidak bisa hanya menerima jawaban tanpa pemahaman yang mendalam, karena di tengah pengaruh ideologi modern, pikiran manusia cenderung menolak jawaban yang hanya berupa simbol. Kita perlu memahami kembali Al-Qur'an agar sesuai dengan cara berpikir dunia modern. Dalam usaha ini, sebelumnya kita memiliki tradisi Islam, cara berpikir sebagai muslim, serta pengalaman dan pengetahuan manusia.³

³ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 5-6.

*

Apa itu Islam menurut Al-Qur'an?

Setiap makhluk adalah "tanda" yang menunjukkan kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Sang Pencipta. Pada saat yang sama, semua makhluk tunduk pada hukum alam (sunnatullah) dan menjadi bagian dari ketetapan Allah.

Dalam arti luas, "Islam" adalah kepatuhan pada hukum Allah, sehingga segala sesuatu di alam ini sebenarnya adalah "muslim". Dalam pengertian ini, setiap manusia, baik yang beriman maupun tidak, tetap disebut "muslim" karena mereka hidup dalam hukum Allah.

Al-Qur'an dengan tegas menyampaikan konsep ini, yang sangat penting untuk memahami apa itu Islam. Berikut beberapa ayat yang menjelaskan makna Islam:

  • Tidakkah terpikir bahwa semua yang ada di langit dan bumi—matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, dan manusia—seharusnya menyembah Allah? (Surah Al-Hajj (22): ayat 18)
  • Tidakkah mereka merenungkan ciptaan Allah yang bayangannya bergerak ke kiri dan kanan dalam ketundukan? Semua makhluk di langit dan bumi termasuk hewan dan malaikat, menyembah Allah tanpa kesombongan. (Surah An-Nahl (16): ayat 49-50)
  • Semua makhluk, baik di langit maupun di bumi, menyembah Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Bahkan bayangan mereka pun tunduk kepada-Nya di pagi dan petang hari. (Surah Ar-Ra'd (13): ayat 15)
  • Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah, padahal semua yang ada di langit dan bumi menyerahkan diri (aslama) kepada-Nya, baik dengan sukarela maupun terpaksa? Dan pada akhirnya, semuanya akan kembali kepada Allah. (Surah Ali 'Imran (3): ayat 83)

Ayat-ayat lain juga menyatakan bahwa semua yang ada tunduk kepada Allah dan mengagungkan-Nya. Namun yang ditekankan di sini adalah bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan tujuan yang telah Allah tetapkan.

  • Tujuh langit, bumi, dan semua isinya bertasbih kepada Allah. Tidak ada satu pun yang tidak memuji-Nya, hanya saja manusia tidak memahami tasbih mereka. Allah Maha Penyantun dan Maha Pengampun. (Surah Al-Isra' (17): ayat 44)
  • Semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah, Yang Maha Suci, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana. (Surah Al-Jumu'ah (62): ayat 1)

Pernyataan ini sering disebutkan dalam Al-Qur'an.

Beberapa ayat menyebut bahwa makhluk yang mengagungkan Allah juga disebut "dabbah", yaitu istilah untuk semua hewan di langit dan di bumi. Ayat lain menyebut gunung, burung, dan makhluk lainnya.

Singkatnya, Islam tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi mencakup seluruh alam. Segala sesuatu di alam ini "berserah diri" kepada Allah, baik secara sukarela maupun terpaksa. Bagaimanapun caranya, semua tetap disebut "muslim" karena tidak ada yang bisa lepas dari hukum Allah atau berada di luar keberadaan-Nya.⁴

Inilah dasar dari prinsip metafisika yang menjadi inti Islam. Jika kita menganalisis ayat-ayat tersebut lebih dalam, akan terlihat bahwa Islam mencakup hal-hal berikut:

  1. Islam dalam alam semesta (kosmos)
  2. Islam dalam semua makhluk, baik yang bernyawa (dabbah) maupun tidak.
  3. Islam dalam seluruh manusia, baik yang tunduk secara sukarela maupun terpaksa.
  4. Islam dalam mereka yang secara sadar mengikatkan diri kepada Allah.
  5. Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah melalui nabi Muhammad, melanjutkan ajaran para nabi sebelumnya.⁵

⁴ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 7-8.
⁵ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 9.


Daftar Isi:

Share:

Kamis, 27 November 2025

Buku: Harry Hamersma "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers" - Part 03: Penerangan Eksistensi

Buku: Harry Hamersma "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers"

Sebagai eksistensi, manusia hidup dalam paradoks: ia ada dalam waktu, tapi juga bersentuhan dengan keabadian. Titik pertemuan waktu dan keabadian itu disebut “saat”, yaitu momen keputusan. “Saat” ini adalah kehadiran abadi, karena keputusan yang dibuat di dalam waktu bisa berlaku untuk selamanya. Jika manusia tahu segalanya, termasuk semua akibat dari tindakannya, ia tidak butuh kebebasan. Kebebasan justru ada karena manusia tidak tahu semua hal. Maka, manusia harus membuat keputusan justru karena ia tidak tahu.

***


BAB III: PENERANGAN EKSISTENSI

  1. Eksistensi

Dalam bahasa mitos, orang menyebutnya "jiwa" dan "Allah", sedangkan dalam filsafat disebut "eksistensi" dan "transendensi". Eksistensi manusia adalah bentuk keberadaan yang memutuskan apakah dan bagaimana ia ingin menjadi abadi. Eksistensi itu sendiri bukan "ada", melainkan sesuatu yang "bisa ada" dan "seharusnya ada". Keberadaan manusia yang nyata di dunia* disebut Jaspers sebagai Dasein (being-there). Sedangkan "eksistensi" (Existenz) adalah kemungkinan dalam perjalanan menuju "ada" yang abadi**. Eksistensi adalah kebebasan yang dijalani, berada dalam waktu tapi juga melampaui waktu, sebab keputusan bebas manusia bisa berlaku untuk selamanya.

*Keberadaan sehari-hari (Dasein): realitas hidup manusia di dunia, makan, kerja, main, dan lain-lain.

**Eksistensi (Existenz): sisi batin yang lebih dalam, yaitu kemungkinan manusia untuk berkembang, membuat pilihan bebas, dan mencari makna.

***Eksistensi itu bukan sesuatu yang langsung "ada", tapi sesuatu yang harus diperjuangkan lewat pilihan hidup manusia. Lewat keputusan bebas, di mana manusia bisa menentukan arah hidupnya—apakah mau menuju hal yang abadi (makna hidup yang lebih tinggi) atau justru kehilangan arah. Manusia memang hidup di dunia nyata, tapi lewat kebebasannya ia bisa melampaui dunia dan memberi arti kekal pada hidupnya.

#Analogi: Ada seorang mahasiswa.

Kalau dia cuma hidup sehari-hari (Dasein), yang mana keputusan bebasnya ia pakai untuk kuliah, main HP, cari uang, ikut arus, tanpa mikirin makna lebih dalam, itu adalah sekadar “ada”.

Tapi kalau dia mulai memikirkan hidupnya (Existenz): “Aku mau jadi orang seperti apa? Aku mau bikin apa yang berarti buat diriku dan orang lain?” Lalu dia membuat keputusan besar, misalnya serius belajar hukum supaya bisa membela korban yang tertindas. Maka, keputusan bebas tersebut memiliki bobot kekal, karena akan membentuk dirinya selamanya.

Maka, Dasein adalah hidup seadanya. Existenz adalah hidup yang sadar, penuh pilihan, dan mencari makna abadi.

Dasein memiliki akhir dan akan mencapai puncaknya di dunia nyata, sedangkan eksistensi tidak berhenti di sana. Eksistensi hanya “menemukan dirinya” di dunia*. Eksistensi dianggap berasal dari sesuatu yang luhur. Eksistensi bisa dikenali lewat tanda-tanda, misalnya dalam pilihan hidup, pertobatan, komunikasi, dan kebebasan**. Kehidupan nyata tampak dalam fenomena, sedangkan transendensi tampak dalam chiffer (simbol-simbol), dan eksistensi tampak dalam tanda-tanda (signa)***. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang diberikan kepadanya. Dengan kata lain, eksistensi adalah anugerah dari transendensi.

*Manusia memang hidup di dunia nyata (makan, kerja, sekolah, dll.), tapi itu bukan tujuan akhir eksistensinya. Dunia ini cuma tempat ia sadar akan dirinya—bahwa ia punya kebebasan, pilihan, dan arah hidup. Dunia adalah pemicu. Jadi, eksistensi itu tidak diciptakan oleh dunia, melainkan terungkap/tersadari lewat pengalaman hidup di dunia.

**Eksistensi tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa, tapi bisa “terlihat” lewat tanda-tanda, misalnya: ketika orang memilih dengan sungguh-sungguh, bertobat, berkomunikasi secara mendalam, atau menggunakan kebebasannya dengan penuh tanggung jawab.

  1. “Kehidupan nyata tampak dalam fenomena”
      Hidup sehari-hari manusia bisa dilihat melalui hal nyata, seperti: makan, bekerja, belajar, sakit, senang, dan lain-lain. Itulah yang kemudian disebut dengan fenomena (gejala yang tampak; bisa dilihat).
  2. “Transendensi tampak dalam chiffer (simbol-simbol)”
      Yang ilahi—atau yang melampaui dunia—tidak hadir secara langsung (menampakan diri misalnya), melainkan melalui simbol-simbol. Misalnya keindahan alam yang membuat manusia merasa kagum pada sesuatu yang lebih tinggi.
  3. “Eksistensi tampak dalam tanda-tanda (signa)”
      Eksistensi manusia (jati diri terdalam) tidak bisa dilihat begitu saja, tapi muncul lewat tanda-tanda dalam hidup, misalnya: ketika seseorang bertobat, memilih dengan sungguh, berkomunikasi secara tulus, atau menggunakan kebebasannya dengan bertanggung jawab. Maka, signa adalah tanda-tanda batin yang menunjukkan eksistensi manusia

Kesadaran terdalam manusia (eksistensi) bukan hasil buatan dirinya sendiri. Itu sesuatu yang diberikan oleh yang lebih tinggi (transendensi/Tuhan). Jadi hidup yang penuh makna itu sebenarnya sebuah anugerah, bukan sekadar hasil usaha manusia.

Eksistensi butuh komunikasi. Kesadaran eksistensi dimulai dari keinginan untuk berhubungan dengan eksistensi orang lain, karena manusia tidak puas hanya hidup sebagai Dasein (sekadar ada). Sama seperti filsafat yang berawal dari rasa heran, kesadaran eksistensi berawal dari pengalaman bahwa manusia perlu komunikasi. Bagi Jaspers, inilah alasan utama menjadi filsuf—bukan cuma memikirkan ide di kepala—tapi juga berusaha membangun komunikasi sejati dengan sesama. Sebuah ide baru hanya bisa dianggap penting dalam filsafat jika membantu memperdalam komunikasi antar manusia. Dan dasar komunikasi yang sejati adalah cinta.

Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers", Jakarta: PT Gramedia, 1985, hlm. 12.

  1. Saat Keputusan

Sebagai eksistensi, manusia hidup dalam paradoks: ia ada dalam waktu, tapi juga bersentuhan dengan keabadian. Titik pertemuan waktu dan keabadian itu disebut “saat”, yaitu momen keputusan. “Saat” ini adalah kehadiran abadi, karena keputusan yang dibuat di dalam waktu bisa berlaku untuk selamanya. Jika manusia tahu segalanya, termasuk semua akibat dari tindakannya, ia tidak butuh kebebasan. Kebebasan justru ada karena manusia tidak tahu semua hal. Maka, manusia harus membuat keputusan justru karena ia tidak tahu.

Eksistensi manusia berkembang lewat keputusan-keputusan yang ia buat. Ia tidak menyesali keterbatasan pengetahuannya, karena justru di situlah ia merasakan hubungannya dengan sesuatu yang melampaui dirinya (transendensi)*. Pada saat mengambil keputusan, manusia benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri, dan sekaligus merasa bahwa ia juga sedang berhadapan dengan transendensi.**

*Walaupun manusia tidak tahu semua akibat dari pilihannya, ketidaktahuan itu justru membuka jalan baginya untuk sadar bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya (transendensi/Tuhan).

**Saat seseorang membuat keputusan penting, ia berada dalam momen paling pribadi: hanya dia sendiri yang bisa memilih. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa dirinya tidak sendirian. Ada “sesuatu” yang melampaui dirinya, yaitu transendensi. Maka, dalam keputusan bebas yang penuh ketidakpastian, manusia sekaligus berjumpa dengan dirinya sendiri dan dengan Yang Ilahi.

Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 13.


Daftar Isi:

Share:

Rabu, 26 November 2025

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000 "Part B"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000 "Part B"

Pada hari yang dijanjikan, Adipati Darmamaya dan Bandung Bandawasa kembali datang ke keputren untuk mendengar jawaban Putri Rara Jonggrang. Setelah bersemedi, hati Bandung terasa lebih tenang dan siap menerima apa pun jawaban Sang Putri.

Putri Rara Jonggrang menyambut kedatangan mereka dengan wajah ceria. Pemandangan itu membuat Bandung terkejut sekaligus berharap, mungkin kali ini jawaban Sang Putri akan membawa kabar baik.

“Selamat datang kembali, Tuan Adipati,” sapa Putri Rara Jonggrang dengan ramah.

“Terima kasih, Tuan Putri. Kali ini aku datang bersama Senapati Bandung Bandawasa, agar ia bisa mendengar langsung jawaban dari Tuan Putri,” jawab Adipati Darmamaya dengan senyum hangat.

“Baiklah,” kata Putri Rara Jonggrang serius. “Aku menerima lamaran Tuan Bandung Bandawasa… tapi dengan satu syarat yang harus ia penuhi terlebih dahulu.”

“Sebutkanlah syarat itu, Tuan Putri. Semoga aku mampu memenuhinya,” jawab Bandung tenang.

“Aku ingin Tuan membuat seribu candi untukku dalam satu malam,” kata Putri Rara Jonggrang dengan nada menantang, seolah meragukan kemampuan Bandung.

“Tapi, Tuan Putri… bukankah syarat itu terlalu berat?” tanya Adipati Darmamaya dengan terkejut. Semua orang di ruangan itu tampak kaget—kecuali Bandung Bandawasa yang tetap tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 84.

“Benar, Tuan Putri. Tolong pikirkan lagi! Syarat itu terlalu berat dan tidak masuk akal. Demi kebaikan Tuan Putri sendiri, mohon dipertimbangkan kembali,” kata Emban Sriti dengan cemas. Ia tak menyangka majikannya bisa setega itu karena dibutakan oleh dendam.

“Aku sudah memberi jawaban dan syaratnya. Sekarang terserah pada Tuan Senapati! Aku hanya akan menikah dengannya jika syarat itu terpenuhi!” kata Putri Rara Jonggrang tegas, tanpa memedulikan nasihat Emban Sriti.

“Baiklah, Tuan Putri Rara Jonggrang,” jawab Bandung tenang. “Hamba berterima kasih atas jawabannya. Hamba juga bersedia memenuhi syarat itu. Tapi, hamba mohon jaminan, jika hamba berhasil menepatinya.”

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 85.

“Jangan gegabah, Bandung! Syarat itu terlalu berat. Batalkan saja lamarannya sebelum kau celaka. Ingat, rakyat Pengging dan Prambanan masih membutuhkanmu,” bisik Adipati Darmamaya cemas.

“Jangan khawatir, Paman. Aku ingin memberi pelajaran pada Tuan Putri yang sombong ini. Semoga ia sadar dari rasa benci dan dendamnya. Aku tahu, ia hanya ingin menyingkirkanku,” jawab Bandung pelan.

“Jaminan apa yang kau maksud, Tuan Senapati?” tanya Putri Rara Jonggrang, suaranya mulai melemah melihat keberanian Bandung.

“Bagaimana kalau Tuan Putri tidak menepati janji bila aku berhasil memenuhi syarat itu?” tanya Bandung tenang. Adipati Darmamaya di sampingnya tampak gelisah.

“Kalau begitu, biarlah aku menjadi patung untuk selama-lamanya,” jawab Putri Rara Jonggrang cepat. Ia begitu yakin pada dirinya dan meremehkan kekuatan Bandung Bandawasa.

“Hadirin sekalian, kalian semua sudah mendengar janji Sang Putri! Kalian menjadi saksi atas semua yang akan terjadi di antara kami!” seru Bandung lantang.

Putri Rara Jonggrang terkejut mendengar kata-kata itu. Ia menyesali ucapannya, tapi sudah terlambat. Kesombongan dan kebencian telah menutup hatinya. Kini ia gelisah — tak ingin menjadi istri Bandung, tapi juga takut menjadi patung selamanya jika Bandung benar-benar berhasil membuat seribu candi dalam satu malam.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 86.

Bandung Bandawasa termenung sendirian di kamarnya. Besok malam, tepat seratus hari wafatnya Prabu Kalakarung, ia harus menyelesaikan seribu candi seperti syarat yang diajukan Putri Rara Jonggrang agar bisa menikahinya.

“Ya Tuhan, tolong aku. Aku menerima syarat ini bukan demi diriku, tapi untuk memberi pelajaran pada Putri Rara Jonggrang agar sadar dari kesalahannya. Berilah aku kekuatan dan keselamatan untuk mewujudkannya,” doanya dalam hati.

Keesokan paginya, Bandung bersemedi di lapangan rumput. Ia memohon agar diberi kemampuan memanggil jin untuk membantunya membangun candi-candi itu. Ia menyalakan dupa besar di atas anglo, lalu membaca mantra dengan mata terpejam:

“Wahai Raja Jin, terimalah dupa wangi ini sebagai persembahan. Tampakkanlah wujudmu!”

Asap dupa semakin tebal. Tiba-tiba angin dingin berhembus di sekitarnya. Raja Jin muncul dari balik asap.

“Ada apa kau memanggilku, manusia?” suara Raja Jin terdengar berat dan membuat Bandung merinding.

“Aku ingin meminta bantuanmu,” jawab Bandung sambil membuka mata.

“Permintaan apa itu?” tanya Raja Jin.

“Buatlah seribu candi di lapangan ini malam nanti. Semuanya harus selesai dalam satu malam. Aku akan menyediakan dupa besar untukmu dan pasukanmu. Apakah kau bersedia?” kata Bandung.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 87.

“Baiklah, aku dan pasukanku akan datang malam ini untuk membuat seribu candi untukmu,” kata Raja Jin dengan sungguh-sungguh. Perlahan, tubuhnya menghilang bersama asap dupa yang menipis.

Bandung melanjutkan semedinya agar rencananya berjalan lancar. Saat malam tiba, Raja Jin menepati janjinya. Ia datang bersama pasukannya untuk membantu Bandung membangun candi di lapangan itu. Tak ada yang bisa melihat para jin itu selain Bandung sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti badai besar. Para jin mulai bekerja, mengumpulkan batu-batu besar dan membentuknya sesuai perintah Bandung. Satu per satu candi berdiri, hingga lapangan itu mulai dipenuhi bangunan megah.

Menjelang tengah malam, sudah ada enam ratus candi berdiri. Suasana semakin ramai. Bandung menyalakan dupa-dupa baru agar para jin tetap bersemangat. Mereka pun kembali bekerja lebih cepat, hingga jumlah candi mencapai sembilan ratus.

Suara gemuruh semakin keras ketika candi-candi itu berdiri megah satu demi satu. Di istana, Putri Rara Jonggrang yang gelisah pun terbangun karena suara itu. Ia berlari ke jendela, dan matanya terbelalak. Dari kejauhan, terlihat ratusan candi telah berdiri indah di bawah sinar bulan. Jumlahnya begitu banyak hingga sulit dihitung. Kegelisahan Putri Rara Jonggrang pun semakin menjadi.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 88.

“Celaka! Senapati itu hampir berhasil memenuhi syaratku! Rupanya ia memanggil jin untuk membantunya. Dasar licik! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus menggagalkannya sekarang juga!” kata Putri Rara Jonggrang sambil bergegas keluar dari kamarnya.

Ia berpikir keras mencari cara untuk mengusir jin-jin yang membantu Bandung Bandawasa. Tiba-tiba, ia teringat bahwa syaratnya hanya berlaku bila seribu candi selesai sebelum pagi tiba.

“Aku harus membuat para jin itu berhenti bekerja!” pikirnya cepat.

Putri Rara Jonggrang segera ke dapur dan mengambil alat penumbuk padi. Ia menumbuk lumpang keras-keras dengan alu kayu, hingga suaranya terdengar seperti tanda pagi hari.

Benar saja, mendengar suara itu, para jin langsung berhenti bekerja dan menghilang dalam kegelapan. Mereka mengira fajar telah tiba, padahal malam belum berakhir. Karena hanya bisa bekerja di malam hari, para jin pun kembali ke alamnya dan meninggalkan candi-candi yang belum selesai.

Begitu suasana hening, Putri Rara Jonggrang tahu bahwa para jin telah pergi. Ia segera berlari ke lapangan sambil membangunkan Emban Sriti untuk menemaninya.

Sementara itu, Bandung yang kebingungan mendengar suara lesung berhenti, terkejut melihat Putri Rara Jonggrang datang menghampiri. Ia pun sadar bahwa suara lesung itu adalah akal licik Sang Putri untuk menggagalkan rencananya. Dengan wajah marah, Bandung menatap Putri Rara Jonggrang yang berjalan cepat ke arahnya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 89.

“Bagaimana, Tuan Senapati? Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?” tanya Putri Rara Jonggrang dengan senyum sinis.

Bandung terdiam menahan amarah. Ia sangat kecewa melihat kelicikan Sang Putri. Rasa cintanya pun lenyap, berganti kemarahan. Ia berdiri menatap Putri Rara Jonggrang dengan tajam tanpa berkata apa-apa.

“Bibi Sriti, mari kita hitung berapa jumlah candinya,” kata Putri Rara Jonggrang, pura-pura tenang meski Bandung menatapnya dengan marah.

Setelah mereka selesai menghitung, ayam jago berkokok menandakan pagi tiba. Fajar mulai muncul dan cahayanya menyinari bumi. Saat itu, amarah Bandung tak bisa dibendung lagi, apalagi ketika melihat Putri Rara Jonggrang berjalan mendekat dengan wajah gembira.

“Sayang sekali, Tuan Senapati. Candimu baru berjumlah 999. Artinya, kau gagal memenuhi syaratku. Aku tidak perlu menikah denganmu!” ucap Putri Rara Jonggrang sambil tersenyum puas.

“Aku tahu kau sengaja menumbuk padi untuk menipu para jin agar berhenti bekerja. Tapi lihatlah, fajar baru saja muncul. Kau sudah melanggar janji, Tuan Putri!” kata Bandung dengan nada marah.

“Sudahlah, Tuan Senapati. Jangan mencari alasan. Candi itu tetap kurang satu dari seribu yang kusyaratkan,” jawab Putri Rara Jonggrang dengan sombong.

“Kalau begitu, karena kau telah ingkar janji, kau sendiri akan menjadi patung untuk melengkapi seribu candi itu!” teriak Bandung lantang.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 90.

Tiba-tiba petir menyambar tubuh Putri Rara Jonggrang dengan suara menggelegar. Seketika tubuhnya kaku dan diselimuti cahaya terang. Saat cahaya itu hilang, tubuh Sang Putri sudah berubah menjadi patung. Bandung Bandawasa dan Emban Sriti terkejut melihatnya. Ternyata, Putri Rara Jonggrang menerima akibat dari perbuatannya sendiri.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 91.

Keesokan harinya, rakyat Prambanan terkejut saat melihat sebuah candi besar dan megah berdiri hanya dalam semalam.

Rasa heran mereka berkurang setelah Bandung Bandawasa menjelaskan asal-usul berdirinya candi itu. Ia sengaja menceritakannya agar rakyat Prambanan bisa mengambil pelajaran dari kisah Putri Rara Jonggrang.

Candi itu kemudian dinamakan Candi Sewu, yang berarti seribu candi. Hingga kini, Candi Sewu di Jawa Tengah masih berdiri megah dan terus dijaga kelestariannya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 92.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000
    1. Part A
    2. Part B
Share:

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000 "Part A"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000 "Part A"

Prambanan berkembang pesat sejak kembali menjadi kadipaten di bawah pimpinan Adipati Darmamaya dan Senapati Bandung Bandawasa. Raja Pengging selalu mengawasi langkah mereka agar tidak terjadi lagi perebutan wilayah seperti dulu.

Rakyat Prambanan berperan besar dalam membangun kembali kadipaten. Dalam suasana damai, Adipati Darmamaya dan Bandung Bandawasa mengajak rakyat bekerja sama dalam urusan pemerintahan. Mereka juga diminta melupakan masa lalu yang pahit antara Prambanan dan Pengging. Beberapa warga yang berbakat bahkan diangkat menjadi prajurit Kadipaten Prambanan. Segala masalah pun bisa diselesaikan dengan cara damai yang memuaskan semua pihak.

Suasana saling percaya itu membuat Prambanan menjadi tenteram. Dalam waktu singkat, banyak kemajuan berhasil dicapai. Raja Anglingdriya sangat gembira melihat hal itu. Ia berharap kedamaian dan kemajuan tersebut bisa terus bertahan, bahkan menaruh harapan besar kepada Bandung Bandawasa — bukan hanya untuk Prambanan, tetapi juga untuk seluruh wilayah Pengging.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 76.

Kedamaian di Prambanan rupanya tidak dirasakan di keputren Istana Prambanan, tempat tinggal Putri Rara Jonggrang. Adipati Darmamaya dan Bandung tetap memberikan tempat itu kepadanya, meski seluruh istana kini menjadi wilayah kadipaten. Mereka melakukan itu demi menjaga hubungan baik dengan sang putri sebagai bagian dari masa lalu Prambanan dan mendiang Prabu Kalakarung. Bahkan, Adipati Darmamaya punya rencana khusus untuk Bandung dan Putri Rara Jonggrang.

“Bandung, sampai sekarang kita belum pernah bertemu langsung dengan Putri Rara Jonggrang. Aku merasa ia masih menyimpan dendam pada kita dan Pengging. Cobalah kau temui dia dan ajak berbicara, agar kita tahu apa yang sebenarnya ia rasakan,” kata Adipati Darmamaya.

“Benar, Paman. Aku pun merasa bersalah setiap kali mengingatnya. Ia pasti masih berduka karena kehilangan ayah dan kerajaannya. Aku hanya berharap ia sudah tenang dan mau bekerja sama dengan kita untuk mempererat hubungan antara Prambanan dan Pengging,” jawab Bandung.

“Bagus. Aku juga berharap kalian bisa mewujudkan hal itu dengan bijak dan tulus, bukan karena ingin membalas masa lalu,” ujar Adipati Darmamaya.

“Tentu, Paman. Aku justru berharap keadaan akan menjadi lebih baik kalau Putri Rara Jonggrang mau terbuka,” kata Bandung.

Mereka pun mulai membicarakan waktu yang tepat bagi Bandung untuk menemui Putri Rara Jonggrang sekaligus membahas masa depan Prambanan — jika suatu saat Bandung dan Putri Rara Jonggrang bersatu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 77.

Suatu hari, Senapati Bandung Bandawasa memberanikan diri menemui Putri Rara Jonggrang di keputren Istana Prambanan. Awalnya, sang putri enggan bertemu dengannya, tetapi setelah dibujuk oleh Emban Sriti, ia akhirnya bersedia.

“Hamba mohon maaf bila kedatangan hamba mengganggu Tuan Putri. Tujuan hamba datang adalah untuk mempererat kembali hubungan antara Pengging dan Prambanan yang sempat terputus. Hamba juga ingin bersama Tuan Putri membangun kembali kejayaan Prambanan,” ujar Bandung membuka pembicaraan dengan hormat.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 78.

Putri Rara Jonggrang diam saja dan tidak menanggapi. Sikapnya dingin dan penuh prasangka. Ia masih menyimpan amarah pada orang yang dianggap telah membunuh ayahnya. Matanya yang berkilat menunjukkan kemarahan yang ia pendam.

Bandung Bandawasa berusaha memahami sikap Sang Putri. Di balik wajahnya yang cantik, ia bisa melihat kesedihan dan kebencian yang dalam. Ia sadar, Putri Rara Jonggrang pasti sudah tahu bahwa dirinya adalah orang yang membunuh ayahnya.

“Hamba turut berduka atas meninggalnya Prabu Kalakarung. Semoga Tuan Putri diberi ketabahan,” ucap Bandung hati-hati, berharap Sang Putri mau menanggapinya.

“Mudah sekali kau berkata begitu! Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan Ayah! Kau pasti puas karena telah membunuhnya!” balas Putri Rara Jonggrang dengan nada tajam. Ucapan itu membuat Bandung menarik napas panjang. Duganya benar—Sang Putri sangat membencinya.

“Hamba benar-benar minta maaf, Tuan Putri. Dalam perang, kami hanya berusaha mempertahankan diri. Seandainya Prabu Kalakarung mau berdamai dan menyerahkan kekuasaan dengan cara baik-baik, semua ini tidak akan terjadi. Tapi beliau memilih bertarung sampai akhir,” kata Bandung dengan tenang.

Air mata menetes di pipi Putri Rara Jonggrang. Ia masih sulit menerima kenyataan pahit yang menimpa keluarganya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 79.

Suasana menjadi hening. Hanya terdengar tangis pelan Putri Rara Jonggrang yang membuat hati Bandung Bandawasa terasa perih.

“Baiklah, Tuan Putri. Hamba pamit. Semoga suatu hari kita bisa berbincang dalam suasana yang lebih tenang. Sekali lagi, hamba mohon maaf dan turut berduka atas wafatnya Sang Prabu. Semoga Tuan Putri memahami keadaan hamba,” ucap Bandung sambil perlahan meninggalkan Sang Putri yang masih menangis.

Bandung melangkah keluar dari keputren dengan perasaan campur aduk. Ia bisa merasakan kesedihan yang dialami Sang Putri dan berharap suatu hari ia akan memaafkannya. Namun, di balik rasa bersalah itu, muncul sesuatu yang baru di hatinya — Bandung sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada Putri Rara Jonggrang. Sayangnya, sikap dingin dan kebencian Sang Putri membuatnya ragu dan takut.

Setibanya di kadipaten, Bandung segera menemui Adipati Darmamaya. Ia menceritakan pertemuannya dengan Putri Rara Jonggrang yang bersikap ketus kepadanya. Harapan mereka untuk mendekati Sang Putri tampak semakin sulit, terutama bagi Bandung yang sudah terlanjur menaruh hati padanya.

“Bersabarlah, Bandung. Saat ini Putri Rara Jonggrang masih bersedih. Tapi Paman yakin, suatu hari ia akan bersikap baik kepada kita,” ujar Adipati Darmamaya sambil menepuk bahu Bandung.

Mereka lalu membicarakan cara untuk meluluhkan hati Sang Putri. Akhirnya, Adipati Darmamaya memutuskan untuk melamar Putri Rara Jonggrang bagi Bandung Bandawasa. Meskipun Bandung merasa ragu, sang Adipati tetap pada keputusannya. Ia menetapkan bahwa dua hari lagi, mereka akan datang melamar Putri Rara Jonggrang dengan harapan dapat menghapus duka dan dendam di hatinya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 80.

Dua hari kemudian, Adipati Darmamaya datang ke keputren bersama beberapa prajurit untuk melamar Putri Rara Jonggrang. Kali ini, Sang Putri tampak lebih tenang dan ramah, tidak seperti saat bertemu Bandung Bandawasa sebelumnya. Sikap itu membuat Adipati Darmamaya semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.

“Selamat pagi, Tuan Putri. Bagaimana kabarnya? Semoga kedatangan kami tidak mengganggu,” sapa Adipati Darmamaya saat melihat Sang Putri menghampiri mereka.

“Selamat pagi, Tuan Adipati. Kami semua di sini baik-baik saja. Hanya saja, kami cukup terkejut dengan kunjungan mendadak ini,” jawab Putri Rara Jonggrang sambil tersenyum.

“Syukurlah kalau begitu. Maksud kedatangan kami adalah untuk bersilaturahmi sekaligus membuka lembaran baru dalam hubungan antara Prambanan lama dan baru. Kami berharap Tuan Putri bersedia bekerja sama untuk membangun kembali Prambanan,” ujar Adipati Darmamaya dengan tenang.

“Dengan senang hati, Tuan Adipati. Tapi aku menyadari keterbatasanku, mungkin aku tidak bisa membantu banyak seperti yang Tuan harapkan,” jawab Putri Rara Jonggrang mencoba menolak halus.

“Aku mengerti, Tuan Putri. Aku tidak akan memaksa,” kata Adipati Darmamaya. “Namun, untuk mempererat hubungan antara kita, aku ingin menyampaikan lamaran dari Senapati Bandung Bandawasa. Ia telah menaruh hati dan ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Tuan Putri. Semoga Tuan Putri berkenan menerimanya.”

Putri Rara Jonggrang terdiam kaget mendengar ucapan itu. Ia tidak menyangka bahwa Putra Gunung Lawu berani melamarnya melalui Adipati Darmamaya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 81.

“Maaf, Tuan Adipati, apakah aku tidak salah dengar?” tanya Putri Rara Jonggrang, berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Tidak, Tuan Putri. Senapati Bandung Bandawasa sungguh-sungguh ingin melamar dan menjadikan Tuan Putri istrinya. Kedatanganku hari ini untuk menyampaikan lamaran itu,” jawab Adipati Darmamaya menegaskan.

Putri Rara Jonggrang menatap Emban Sriti yang sejak tadi menemaninya. Ia tampak bingung harus berkata apa, sementara Emban Sriti terlihat senang mendengar kabar itu. Ia berharap Sang Putri mau menerima lamaran tersebut agar bisa melupakan kesedihan dan kebenciannya.

“Bagaimana, Bi?” bisik Putri Rara Jonggrang pelan.

“Terima saja, Tuan Putri. Bibi yakin Tuan Putri akan bahagia. Itulah yang Bibi harapkan selama ini,” jawab Emban Sriti lembut.

Namun, Putri Rara Jonggrang masih ragu. Kata-kata Emban Sriti belum cukup untuk membuatnya memaafkan Bandung Bandawasa. Luka hatinya terlalu dalam dan telah berubah menjadi dendam yang membara.

“Bagaimana, Tuan Putri? Kami berharap lamaran ini bisa diterima dengan baik. Kami menunggu jawaban Tuan Putri sekarang juga,” kata Adipati Darmamaya memecah keheningan.

“Terima kasih atas lamarannya, Tuan Adipati. Namun, karena lamaran ini datang begitu tiba-tiba, aku butuh waktu untuk berpikir. Mungkin minggu depan aku baru bisa memberikan jawaban,” ucap Putri Rara Jonggrang terbata-bata.

Jawaban itu membuat semua yang hadir terkejut—terutama Adipati Darmamaya dan Emban Sriti, yang semula berharap Sang Putri akan langsung menerimanya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 82.

“Baiklah, kami akan menunggu jawaban Tuan Putri minggu depan. Kalau begitu, kami pamit dulu,” kata Adipati Darmamaya dengan ramah. Ia dan para prajuritnya pun keluar dari keputren dengan perasaan penuh harapan. Setidaknya, Putri Rara Jonggrang tidak langsung menolak lamaran Bandung Bandawasa.

Bandung menerima keputusan Sang Putri dengan lapang dada, meski ia harus menunggu selama seminggu. Sebagai seorang ksatria, ia tidak ingin ada paksaan dalam urusan hati. Apa pun jawaban Putri Rara Jonggrang nanti, ia akan menerimanya dengan ikhlas.

“Paman, sambil menunggu jawaban Putri Rara Jonggrang, aku ingin berdoa dan bersemedi dulu. Tugas-tugasku sebagai senapati sementara aku serahkan kepada Paman. Semoga Paman tidak keberatan,” kata Bandung dengan hormat.

“Tentu saja tidak, Bandung. Aku mengerti perasaanmu. Semoga kau mendapat petunjuk dan keberhasilan setelah semedi nanti,” jawab Adipati Darmamaya dengan bijak.

Bandung lalu pergi mencari tempat yang tenang untuk bersemedi. Ia berharap mendapat petunjuk dan keberkahan, terutama tentang hubungannya dengan Putri Rara Jonggrang. Jika Sang Putri menolak lamarannya, ia hanya berharap Putri Rara Jonggrang mau memaafkannya karena telah membunuh Prabu Kalakarung.

Akhirnya, Bandung menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan. Setelah membersihkan tempat itu dan dirinya, ia mulai bersemedi dengan khusyuk. Bandung menenangkan pikirannya dan memusatkan hati pada Tuhan Yang Mahakuasa, melupakan segala urusan duniawi.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 83.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000
    1. Part A
    2. Part B

Share:

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part B"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part B"

Saat melihat mereka menuju Desa Klaten, Bandung segera keluar dari persembunyiannya. Ia harus segera memberitahu Adipati Darmamaya. Fitnah itu tidak boleh dibiarkan karena bisa merusak nama baik Pengging yang baru akan memulai kekuasaan di Prambanan.

Sesampainya di perkemahan, Bandung langsung melaporkan semua yang ia lihat. Darmamaya terkejut mendengar ceritanya. Ia pun segera menyusun rencana untuk menggagalkan fitnah itu dan menangkap para pelakunya.

"Kita akan menangkap mereka saat beraksi agar rakyat Klaten bisa menyaksikannya sendiri. Dengan begitu, mereka tahu kita berada di pihak yang benar dan pantas memimpin mereka!" kata Darmamaya.

Rombongan itu lalu bersiap dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh para prajurit Prambanan.

Ketika tiba di Desa Klaten, mereka melihat para penyamar itu sedang beraksi. Mereka memeras warga dengan kasar, bahkan ada yang memperkosa gadis-gadis yang sedang sendirian di rumah. Emas, perak, dan barang berharga dikumpulkan dalam buntalan besar. Mereka tertawa puas di tengah tangisan rakyat yang ketakutan.

Menjelang siang, mereka bersiap kabur, tapi tiba-tiba beberapa orang berpakaian biasa berdiri berjajar di tengah jalan menghadang mereka. Para prajurit palsu itu pun terkejut dan berhenti melangkah.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 69.

"Siapa kalian? Cepat minggir! Kami mau lewat!" bentak Gagak Rodra marah.

"Kami hanya pengembara yang lewat di desa ini. Bolehkah kami tahu siapa Tuan?" jawab Bandung tenang.

"Aku Gagak Rodra, pemimpin pasukan Pengging! Ini para prajuritku yang baru saja memungut pajak dari desa ini. Sekarang minggir! Kalian menghalangi tugas kami!" serunya sambil melangkah maju.

Namun, Bandung dan rombongannya tetap berdiri di tempat. Melihat itu, Gagak Rodra makin marah. Matanya berkilat, wajahnya merah, dan tangannya menarik golok dari balik bajunya.

"Berani kalian menantang Gagak Rodra? Minggir atau kubantai kalian satu-satu!" teriaknya sambil mengayunkan golok.

Bandung maju selangkah, sementara yang lain mundur, memberi ruang. Sesuai rencana, hanya Bandung yang akan melawan.

"Hiaaat!" Gagak Rodra menyerang cepat, mengayunkan golok ke dada Bandung.

Namun, Bandung dengan gesit menghindar dan memukul tangan lawannya hingga goloknya terlepas. Ia lalu melancarkan serangan bertubi-tubi sampai Gagak Rodra jatuh tak berdaya di hadapan prajuritnya dan warga Desa Klaten.

Saat Gagak Rodra mencoba bangkit, Bandung sudah menempelkan goloknya di leher lawan itu. Gagak Rodra pun terdiam, menahan malu karena kalah.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 70.

“Berdirilah, Gagak Rodra!” titah Bandung tegas sambil menempelkan golok di lehernya.

Gagak Rodra bangkit tertatih-tatih, menahan sakit.

“Suruh anak buahmu letakkan semua hasil jarahan di dekatku — sekarang juga, atau kubunuh kau!” ancam Bandung.

“Tentu…!” kata Gagak Rodra lalu memerintahkan prajuritnya. Dengan ragu, salah satu prajurit meletakkan buntalan berisi perhiasan dan barang rampasan di depan Bandung.

“Sekarang katakan siapa sebenarnya kau!” desak Bandung.

“Aku Gagak Rodra… Sebenarnya kami bukan prajurit Pengging. Kami prajurit Prambanan yang menyamar. Tujuannya memeras rakyat agar mereka membenci Pengging…” aku Gagak Rodra terbata-bata.

Warga Klaten yang mendengar pengakuan itu kaget dan bingung, memandang bergantian antara Bandung dan Gagak Rodra.

“Warga Klaten yang terhormat, aku Bandung Bandawasa, Senapati Pengging yang baru. Di sampingku Adipati Darmamaya, Adipati Prambanan. Kami sedang dalam perjalanan ke Prambanan dan kebetulan menemukan para pemalak ini. Pengging tidak akan berlaku seperti mereka. Kami datang untuk membawa kedamaian dan memulihkan kesejahteraan Prambanan,” kata Bandung lantang.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 71.

Warga Desa Klaten terdiam mendengar penjelasan Bandung. Meski sedih karena kehilangan negeri Prambanan, mereka juga merasa bahagia karena kini ada pengganti yang lebih baik. Kehadiran Bandung dan para prajurit Pengging yang telah menyelamatkan mereka membuat warga semakin percaya dan simpati padanya.

“Kalau begitu, sebagai Kepala Desa Klaten, aku berterima kasih atas bantuan kalian. Kami sangat menghargainya,” ucap seorang bapak dengan bijak.

“Aku serahkan para penjahat ini kepadamu. Mereka harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Kami akan melanjutkan perjalanan. Jika mereka berbuat jahat lagi, datanglah ke Istana Prambanan untuk menemuiku,” kata Bandung sambil beranjak pergi bersama rombongannya.

Kepala Desa lalu memerintahkan warganya menahan Gagak Rodra dan teman-temannya. Setelah itu, mereka mulai memperbaiki kerusakan akibat ulah para penjahat. Semua perhiasan dan barang berharga dikembalikan kepada pemiliknya. Menjelang sore, Desa Klaten pun kembali tenang.

Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi Bandung Bandawasa dan Adipati Darmamaya yang melanjutkan perjalanan menuju Prambanan. Setidaknya kini satu desa telah mengenal mereka dan menaruh kepercayaan setelah melihat kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Prambanan sendiri.

Sambil melangkah, Bandung berharap agar seluruh rakyat Prambanan mau menerima kehadirannya dan bekerja sama membangun kembali negeri yang telah hancur. Ia menerima semua kejadian itu sebagai takdir dan jalan hidup yang harus dijalaninya setelah meninggalkan Gunung Lawu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 72.

Putri Rara Jonggrang sedang duduk termenung di taman keputren ketika Emban Sriti datang menghampirinya.

“Tuan Putri, kemarin ada utusan dari Pengging. Mereka mengumumkan bahwa Prambanan kini menjadi Kadipaten lagi dan akan dipimpin oleh Adipati Darmamaya. Rencananya, mereka akan datang beberapa hari lagi untuk memulai pemerintahan baru,” ujar Emban Sriti sambil duduk bersimpuh di samping sang putri.

“Oh, begitu? Lalu siapa yang menjadi senapati baru menggantikan Tuan Darmamaya?” tanya Rara Jonggrang, kini tampak lebih bersemangat.

“Kalau tidak salah dengar, namanya Bandung Bandawasa. Ia juga dikenal dengan sebutan Putra Gunung Lawu,” jawab Emban Sriti sambil berpikir sejenak mengingat nama itu.

Hati Rara Jonggrang berdebar saat mendengar nama itu. Ia teringat pertemuan mereka di taman pemandian sebelum perang terjadi.

“Putra Gunung Lawu diangkat menjadi senapati karena berhasil membawa kemenangan bagi Pengging. Katanya, dialah yang mengalahkan Senapati Suralangu, Suradenta, dan para pemimpin pasukan Prambanan lainnya. Termasuk… Prabu Kalakarung,” kata Emban Sriti perlahan.

“Apa? Jadi, dia yang membunuh ayahku?” seru Rara Jonggrang sambil berdiri terkejut.

“Tenangkan diri, Tuan Putri. Dalam pertempuran, membunuh atau terbunuh adalah hal yang biasa. Mereka berjuang sebagai prajurit sejati, dan Tuan Prabu gugur dengan terhormat,” hibur Emban Sriti lembut.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 73.

Putri Rara Jonggrang kembali menunduk. Ucapan Emban Sriti membuatnya sadar untuk lebih lapang dada, tapi hatinya tetap terasa sesak saat membayangkan Putra Gunung Lawu sebagai pembunuh ayahnya.

“Katanya, dia juga pemuda yang tampan. Banyak yang berpendapat, sebaiknya Tuan Putri menikah saja dengan Putra Gunung Lawu agar hubungan Pengging dan Prambanan bisa membaik,” ujar Emban Sriti sambil tersenyum kecil. Ia memang berharap Putri Rara Jonggrang bisa berjodoh dengan pemuda itu, meski baru mengenalnya dari cerita orang.

“Bibi, jangan bicara begitu! Aku tak akan mau menikah dengan pembunuh ayahku!” kata Putri Rara Jonggrang dengan nada keras, membuat Emban Sriti terkejut.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 74.

“Tuan Putri, belum tentu dia yang membunuh Ayahanda Prabu. Dalam perang, setiap prajurit hanya berusaha mengalahkan lawannya,” ujar Emban Sriti mencoba menenangkan.

“Namun tetap saja, dia ada di pihak musuh yang membunuh Ayahku! Aku tidak mau menikah dengan orang dari pihak itu! Sudahlah, untuk apa kita membicarakan hal ini?” kata Putri Rara Jonggrang sambil mengibaskan tangannya. Ia merasa malu karena tanpa sadar membahas hal itu dengan Emban Sriti, padahal di dalam hatinya, ia diam-diam ingin mengenal Putra Gunung Lawu lebih dekat.

Suasana pun menjadi hening. Keduanya terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi.

“Bibi, aku ingin tahu siapa sebenarnya yang membunuh Ayahku dalam perang itu. Bisakah Bibi menyelidikinya untukku?” tanya Putri Rara Jonggrang pelan, dengan tatapan kosong.

“Baik, Tuan Putri. Bibi akan mencoba mencari tahu. Tapi siapa pun pelakunya, Bibi harap Tuan Putri tetap bijaksana, demi kebaikan dan masa depan Tuan Putri sendiri,” jawab Emban Sriti sebelum meninggalkan sang Putri yang masih termenung.

Rara Jonggrang menarik napas panjang setelah kepergian Emban Sriti yang telah mengasuhnya sejak kecil. Pikirannya pun melayang pada sosok Putra Gunung Lawu. Di hatinya, rasa penasaran, suka, dan dendam bercampur jadi satu. Ia mencoba membayangkan pertemuan mereka nanti di Prambanan, namun tiba-tiba merasa malu sendiri. Menyadari hari telah senja, ia pun beranjak masuk ke keputren, meninggalkan taman yang perlahan diselimuti angin sore.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 75.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000
Share:

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part A"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part A"

Berita kekalahan pasukan Prambanan dari pasukan Pengging cepat menyebar hingga terdengar oleh Putri Rara Jonggrang. Sang Putri sangat terpukul saat tahu ayahnya tewas. Kekhawatiran yang dirasakannya sebelum perang ternyata menjadi pertanda buruk. Lebih menyedihkan lagi, beberapa pejabat istana juga gugur atau menjadi tawanan. Putri Rara Jonggrang merasa hidupnya kosong, tanpa siapa pun yang bisa melindunginya.

Para pengawal dan dayang yang masih setia pun ikut bersedih. Saat jenazah Prabu Kalakarung dan Patih Basuketi tiba di istana, suasana duka semakin terasa. Tangisan Rara Jonggrang dan keluarga Patih Basuketi terdengar di seluruh istana. Kedua jenazah kemudian dimandikan, dikafani, dan diletakkan di atas pendusa. Di sana, Putri Rara Jonggrang kembali menangis tersedu menatap jasad ayahnya.

Emban Sriti terus mendampingi Sang Putri, berusaha menenangkannya dan mengingatkan agar merelakan kepergian ayahandanya. Namun, segala usaha Emban Sriti belum berhasil, karena Rara Jonggrang masih larut dalam kesedihan yang mendalam.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 62.

Menjelang tengah malam, Putri Rara Jonggrang mulai merasa sangat lelah dan mengantuk. Emban Sriti pun mengajaknya ke kamar. Dengan langkah lemah, Sang Putri meninggalkan jasad ayahnya dan pergi ke peraduannya. Begitu sampai di kamar, ia langsung tertidur pulas. Untuk sementara, kesedihannya pun terlupakan. Emban Sriti dan para pengawal istana juga tertidur, agar bisa bangun pagi untuk menyiapkan pemakaman Prabu Kalakarung dan Patih Basuketi.

Malam itu, Istana Prambanan terasa sunyi dan udara sangat dingin. Langit tampak gelap tanpa cahaya bulan atau bintang, seolah ikut berduka bersama rakyat Prambanan. Semua terasa hampa dalam kesedihan.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 63.

Keesokan harinya, upacara pembakaran jenazah Prabu Kalakarung pun siap dimulai. Sebuah pancaka tinggi dibangun di depan istana, tempat jenazah Sang Prabu dibaringkan. Di bawahnya, ada pancaka yang lebih rendah berisi jenazah Patih Basuketi. Di bawah kedua pendusa itu, tersusun tumpukan kayu cendana yang akan dibakar.

Seorang pemuka agama memimpin upacara sambil melantunkan doa-doa di antara asap dupa yang harum. Tak lama kemudian, ia memberikan sebatang kayu cendana yang telah menyala kepada Putri Rara Jonggrang. Dengan berat hati, Sang Putri menyalakan tumpukan kayu di sekitar jenazah ayahnya. Api pun mulai membesar dan membakar seluruh pancaka Sang Prabu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 64.

Putri Rara Jonggrang tak bisa lagi menahan tangisnya. Air matanya terus mengalir seiring api yang membakar jenazah ayahnya hingga berubah menjadi abu. Tak sanggup melihatnya, ia berlari meninggalkan tempat upacara sambil menangis tersedu. Emban Sriti segera mengejarnya dengan cemas, takut Sang Putri melakukan hal nekat. Namun ternyata, Rara Jonggrang hanya berlari ke taman keputren dan menangis di kursi taman.

“Sudahlah, Tuan Putri. Relakan kepergian Ayahanda dengan ikhlas. Semua manusia pasti akan kembali kepada-Nya. Berdoalah agar Ayahanda mendapat tempat yang baik dan kita diberi ketabahan,” ujar Emban Sriti sambil mengelus rambut Sang Putri dengan lembut.

Putri Rara Jonggrang hanya terisak tanpa mampu berbicara. Namun setelah mendengar nasihat embannya, hatinya mulai tenang dan perlahan belajar menerima kepergian ayahnya.

Sementara itu, suasana gembira menyelimuti istana Pengging. Kemenangan atas Prambanan membuat Raja Anglingdriya mengeluarkan surat pengangkatan. Bandung Bandawasa diangkat menjadi Senapati Pengging yang baru, menggantikan Senapati Darmamaya yang kini menjadi Adipati Prambanan. Patih Tambakbaya diangkat menjadi Patih Amungkubumi, sedangkan Tumenggung Mayangkara dan Setrajali naik pangkat menjadi penewu. Keputusan itu disambut dengan sorak gembira oleh seluruh prajurit dan rakyat Pengging.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 65.

Setelah membaca surat keputusan itu, Darmamaya dan Bandung segera berangkat ke Prambanan bersama beberapa prajurit pilihan. Sementara itu, pasukan Pengging kembali ke kotaraja dipimpin oleh Setrajali dan Mayangkara.

Malam mulai tiba ketika rombongan Bandung sampai di perbatasan Prambanan. Mereka memutuskan beristirahat dan mendirikan kemah di luar wilayah itu agar tidak menimbulkan keributan dengan prajurit atau rakyat Prambanan. Bandung khawatir Prambanan masih memiliki kekuatan untuk membalas kekalahan mereka.

Saat malam semakin larut dan Bandung hendak beristirahat di kemahnya, seorang prajurit datang tergesa-gesa.

“Maaf, Tuan Senapati. Hamba melihat sekelompok orang berkumpul di tengah hutan dekat perbatasan. Hamba tidak tahu siapa mereka atau apa yang mereka lakukan,” lapor prajurit itu.

“Baik, aku akan memeriksa mereka. Kau tetap berjaga. Jika ada hal mencurigakan, segera bangunkan Adipati Darmamaya,” kata Bandung sambil keluar dari kemah. Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan prajurit itu yang menatapnya kagum.

Ternyata laporan itu benar. Bandung melihat sekelompok orang berpakaian seperti prajurit Prambanan yang mungkin berhasil melarikan diri saat kekalahan. Saat matahari mulai terbit, Bandung bisa melihat dengan jelas bahwa mereka memang bekas prajurit Prambanan. Mereka tampak menunggu sesuatu. Seorang prajurit bertubuh besar mondar-mandir dengan gelisah, sesekali menatap ke arah selatan, sementara yang lain hanya duduk diam di sekitarnya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 66.

Tiba-tiba dari arah selatan muncul dua kuda, masing-masing ditunggangi prajurit yang membawa buntalan besar di punggung. Mereka berhenti, turun, dan memangku buntalan itu.

“Bagaimana? Kalian bawa barangnya?” tanya prajurit bertubuh besar yang menghampiri.

“Iya, Tuan Gagak Rodra. Kami berhasil mengambil pakaian prajurit Pengging sesuai perintah. Jumlahnya sedikit karena memang prajurit Pengging yang tersisa juga tak banyak,” jawab salah satu prajurit dengan napas terengah.

“Bagus. Cepat buka buntalan itu dan bagikan ke teman-teman. Kita akan mulai rencana sekarang!” perintah Gagak Rodra.

“Rencana apa, Tuan?” tanya seorang prajurit heran.

“Sudah, jangan banyak tanya. Ikuti saja perintahku!” jawab Gagak Rodra tegas, membuat mereka takut dan patuh.

Bandung mengamati dari balik semak-semak agak jauh. Meski bersembunyi, penglihatan dan pendengarannya menangkap semua dengan jelas.

Setelah seragam dibuka dan dipakai, jumlahnya pas dengan jumlah prajurit—mereka kini tampak seperti prajurit Pengging. Hanya Gagak Rodra yang tidak kebagian seragam. Bandung terkejut melihat perubahan itu, tetapi ia sabar menunggu langkah mereka selanjutnya.

“Kalian berpura-pura menjadi prajurit Pengging. Datangi rumah-rumah di Desa Klaten dan paksa warga menyerahkan sumbangan—uang, pakaian, makanan, apa saja. Kalau menolak, beri mereka pelajaran!” perintah Gagak Rodra.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 67.

“Tapi mereka kan rakyat Prambanan. Bukankah kita seharusnya melindungi mereka?” tanya seorang prajurit.

“Bodoh! Pengging sudah menang, jadi Prambanan kini di bawah kekuasaan mereka. Aku mau membuat rakyat Prambanan membenci Pengging sampai mereka mengadakan pemberontakan — sehingga Pengging tak bisa menduduki wilayah ini dengan tenang. Kita akan memanfaatkan dan membantu pemberontakan itu untuk mengusir pasukan Pengging,” jawab Gagak Rodra tegas.

Bandung terkejut mendengar rencana Gagak Rodra. Ternyata mereka berniat memfitnah dan menghasut warga Klaten agar membenci Pengging, lalu memanfaatkan kekacauan itu untuk merebut kembali Prambanan.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 68.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000
Share:

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search