Esai-esai ini berasal dari tahun 1980-an, masa ketika Amerika berusaha mengubah arah politiknya secara besar-besaran sejak era New Deal. Pertentangan politik saat itu lebih tajam dari biasanya, bukan hanya secara pikiran tapi juga perasaan, hingga menyentuh perbedaan pandangan tentang hakikat manusia. Karena itu, tulisan-tulisan ini membahas berbagai persoalan penting yang tetap relevan hingga kini.
Banyak perdebatan berpusat pada peran belas kasih. Rasa bersalah sering dianggap sama dengan belas kasih, padahal hal itu merugikan masyarakat, terutama yang paling lemah. Esai pertama mencoba menjelaskan perbedaan penting ini, dan menjadi dasar bagi pembahasan selanjutnya tentang pendidikan, kejahatan, bantuan luar negeri, atau tindakan afirmatif.
Dalam politik, sering kita dengar istilah 'solusi.' Namun, saya berpendapat tidak ada solusi yang benar-benar tuntas—hanya ada kompromi. Gagasan ini terus muncul dalam esai-esai berikutnya, mencakup urusan luar negeri dan dalam negeri, ekonomi dan hukum, juga pendidikan, ras, dan gender.
Semua esai ini awalnya dimuat di surat kabar. Menurut saya, cara ini lebih banyak keuntungannya daripada kerugiannya. Memang ada batasan ruang dan gaya penulisan, tapi menulis untuk pembaca umum memberi kebebasan yang tidak selalu ada saat menulis untuk kalangan akademis. Pembaca umum biasanya tidak sedogmatis intelektual, dan tidak terlalu sibuk memberi label atau pamer kecerdikan. Karena itu, lebih mudah menulis langsung ke inti tanpa takut dipelintir atau disalahartikan. Singkatnya, esai-esai ini ditulis untuk orang yang berpikir dengan akal sehat—sesuatu yang justru jarang dimiliki mereka yang merasa diri sebagai pemikir besar.
Thomas Sowell, "Compassion versus Guilt, and other essays", New York: Quill, 1987, hlm. 11.
Sebagian besar esai ini awalnya terbit sebagai kolom opini di berbagai surat kabar lewat Scripps-Howard News Service. Beberapa lainnya ditulis khusus untuk media tertentu, seperti Los Angeles Times, Washington Times, Washington Post, dan Wall Street Journal. Sisanya diterbitkan melalui Scripps-Howard News Service. Berkat izin dari semua pihak inilah buku ini bisa terwujud.
— Thomas Sowell
Hoover Institution
Stanford, California 94305
Thomas Sowell, "Compassion versus Guilt..., hlm. 12.
Identitas Buku
- Judul Buku: "Compassion versus Guilt, and other essays"
- Pengarang: Thomas Sowell
- Penerbit: Quill, New York
- Terbit: 1987
- ISBN: 0-688-08670-5
- Tebal Halaman: 246
- Lebar:
- Panjang:
COMPASSION VERSUS GUILT, AND OTHER ESSAYS
oleh Thomas Sowell
Book Desain by Karen Batten
1987
Daftar Isi "Compassion versus Guilt, and other essays"
Introduction (11)
I. Social Policy
- Compassion versus Guilt (15)
- The High Cost of Hoodlums (18)
- The Wonderful World of "Solutions" (21)
- Child Abuse (24)
- The Green Bigots (27)
- Envy and "Social Justice" (30)
- Withdrawal from Drugs (32)
- Subsidizing Egos (34)
- Work and Output (37)
- Chicken Little and Carcinogens (39)
- "Dead End" Jobs (42)
II. Foreign Policy
- Third World-ism (47)
- The World War II Anniversary (49)
- Wars of National Liberation (52)
- Reagan, Germans, and Jews (55)
- The U.N. Promotes War—Not Peace (58)
- South Africa (60)
- A Dashing New Dictator (63)
- Buthelezi in South Africa (66)
- Denying Aid to the Contras (69)
- The Lessons of Pearl Harbor (72)
- Disinvestment in South Africa (74)
- The Iceland Summit (77)
- Two Tyrannies in South Africa (80)
- The Iranian Arms Deal (82)
III. Economics
- Bogeyman Economics (87)
- India and Hong Kong (89)
- 59 Percent Rhetoric (92)
- Cutting the Budget (95)
- Who Are "the Poor"? (97)
- Lessons from Coca-Cola (100)
- Incentives (102)
- Social Security: A Fraudulent Pyramid Club (105)
- Authorized Lying (108)
- The Economics of Language (110)
- Oil Prices (113)
- "Comparable Worth" Rides Again (116)
- Reagan's Economic Policies (118)
IV. Politics
- A Political Glossary (125)
- Left versus Right (127)
- Government Careers (129)
- Homosexual Politics (131)
- Another Crisis (134)
V. The Law
- Legalized Blackmail (139)
- Judicial Activism (141)
- Prayer in Schools (144)
- The Right to Smear (146)
- The Sears Case (149)
- Chances versus Guarantees (152)
- Supreme Court Cop-Out (154)
- Police Shootings (156)
- A "Rehnquist Court"? (159)
VI. Education
- Tough Teachers (165)
- Mathematically Eliminated (167)
- College Athletes (170)
- Teacher's Salaries (173)
- Chicken Little in Academe (176)
- Staff Infection (178)
- Illiteracy Hysteria (181)
- Academic Freedom at Hillsdale College (184)
- Academic Storm Troopers (187)
- The Fight over School Vouchers (190)
VII. Race
- Lessons from Sri Lanka (195)
- Preferential Treatment (197)
- Some Lessons from Australia (200)
- Black "Leadership" (202)
- Malaise in Malaysia (204)
VIII. Potpourri
- Banning Boxing (211)
- The Case of the Fascinating Customer (214)
- Nuns on Welfare (216)
- Confessions of an Exploited Teenager (218)
- Babe Ruth (221)
- Tom Brokaw's "Patriotism" (223)
- Old-Timers (226)
- By the Numbers (228)
- An "Epidemic" of Irresponsibility (231)
- New Year's Resolutions (233)
- The Fourth of July (235)
- Twentieth Century Limited (238)
Index (243)
Compassion versus Guilt
Belas Kasih versus Rasa Bersalah
Bertahun-tahun lalu, di sebuah negara dunia ketiga, saya melihat seorang anak kecil di pinggir jalan. Bajunya compang-camping dan tampak putus asa. Ia mirip sekali dengan anak saya. Saat itu saya tersentak—lalu sadar, mungkin seperti itulah kondisi anak saya, kalau kami lahir di sana, bukan di Amerika Serikat.
"Kalau bukan karena kasih karunia Tuhan, mungkin itulah saya." Banyak keadaan yang membuat kita bisa berkata demikian—baik saat melihat orang miskin, orang sakit, penjahat, maupun korban penindasan. Bahkan orang yang paling teguh meyakini pentingnya usaha pribadi pun harus mengakui bahwa tempat kita dilahirkan, bagaimana kita dibesarkan, atau di mana kita berada saat kesempatan atau bencana datang, bisa membuat perbedaan besar dalam hidup.*
*Orang yang hidup enak sebaiknya sadar bahwa sebagian dari keberuntungan mereka bukan semata hasil kerja keras, tapi juga karena faktor di luar kendali mereka.
Banyak usaha dilakukan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung, baik di negeri ini maupun di dunia. Usaha itu sering lahir dari kesadaran bahwa keberuntungan kita sendiri tidak selalu sepenuhnya hasil usaha kita. Perasaan ini wajar dan manusiawi, tapi kebijakan yang muncul darinya tidak selalu bijak atau efektif—bahkan kadang bisa berakibat buruk.
Nasib seseorang bisa dipengaruhi oleh keberuntungan, tapi nasib suatu bangsa atau peradaban ditentukan oleh hal-hal yang lebih besar. Setiap akibat pasti ada sebabnya. Banyak wabah besar dalam sejarah muncul karena lingkungan yang kotor. Karena itu, tidak heran kolera lenyap saat sanitasi membaik, dan masih ada di negara-negara yang hidup dalam kekotoran.
Thomas Sowell, "Compassion versus Guilt..., hlm. 15.
Bukan kebetulan Jepang bisa makmur di negaranya sendiri meski miskin sumber daya alam. Mereka juga sukses di negara-negara Barat, dari Kanada sampai Brasil, walau menghadapi rasisme, diskriminasi, bahkan penahanan saat perang. Kini, orang Jepang di Brasil memiliki tanah hampir sebanyak tiga perempat luas Jepang. Dan soal efisiensi, cukup tanyakan pada Chrysler Corporation.
Setiap bangsa berbeda, dan perbedaan ini punya konsekuensi. Tapi banyak pandangan populer di media dan kampus justru menolak atau menghindari kenyataan sederhana ini.
Sering kali, usaha kita berbagi keberuntungan dengan orang lain—di dalam maupun luar negeri—malah merusak nilai dan usaha yang membuat kita berhasil. Menghilangkan rasa bersalah itu berbeda dengan benar-benar membantu orang yang kurang beruntung.
Seseorang bisa saja beruntung lahir dalam kondisi yang memudahkannya meraih pendidikan dan akhirnya sukses. Tapi menurunkan standar bagi yang tidak mampu justru merusak manfaat dari standar itu sendiri. Standar ada karena punya tujuan.
Bukan berlebihan jika seorang calon dokter harus menguasai banyak ilmu sulit sebelum praktik. Kalau dia sendiri belum siap, jangan sampai pasiennya ikut menanggung akibatnya.
Matematika dan fisika bukan halangan sia-sia bagi calon insinyur. Kita tentu tak mau melewati jembatan buatan insinyur yang tak tahu cara memastikan jembatan itu kuat menahan beban.
Tepat waktu penting bagi orang yang harus bekerja selaras dengan orang lain di pabrik atau kantor. Begitu juga, meminta seseorang mematikan radio berisik saat kerja bukanlah pemaksaan budaya, tapi agar semua bisa berpikir dengan tenang.
Thomas Sowell, "Compassion versus Guilt..., hlm. 16.
Mengabaikan standar bukan berarti berbagi manfaat, tapi justru merusaknya. Dalam pandangan agama maupun non-agama, wajar jika kita berkata: 'Itu bisa saja terjadi padaku, kalau bukan karena rahmat Tuhan.' Tapi itu bukan alasan untuk merusak rahmat Tuhan demi kesetaraan.
Bisa jadi banyak penjahat akan memilih jalan hidup berbeda jika mendapat nilai baik dari keluarga atau lingkungannya. Tapi melonggarkan standar lalu melepaskan mereka tidak membantu siapa pun—begitu juga hanya dengan menyebut kata 'rehabilitasi'.
Orang yang mencari-cari penyebab misterius kemiskinan, kebodohan, kejahatan, dan perang seharusnya cukup bercermin. Kita semua lahir miskin, tidak tahu apa-apa, dan cenderung egois serta kasar. Jika ada yang jadi berbeda, itu berkat usaha orang lain yang mendidik kita sejak kecil, sebelum kita sempat merusak diri sendiri atau dunia. Tanpa didikan itu, mungkin kita akan hidup dari bantuan atau malah masuk penjara.
Kita perlu bersyukur atas usaha itu, bukan merasa bersalah pada mereka yang tidak mendapatkannya. Kita tidak bisa menolong dengan menurunkan standar dan membiarkan mereka jadi beban atau ancaman. Itu hanya mencari citra baik dengan membuat orang lain menanggung akibatnya.
Kalau ingin berbagi keberuntungan, bagikanlah sumbernya—seperti keterampilan, nilai, dan disiplin. Tapi kalau hanya ingin mengurangi rasa bersalah, carilah bantuan sendiri, jangan membuat kebijakan yang membebani orang lain.
February 26, 1984
Thomas Sowell, "Compassion versus Guilt..., hlm. 17.







0 komentar:
Posting Komentar