Begitu buku Jalan Ketiga (The Third Way) terbit, majalah Inggris The Economist langsung memuat ulasannya. Banyak orang menduga bukunya akan dipuji, apalagi ditulis oleh Direktur LSE. Ternyata sebaliknya. Di alinea pembuka saja sudah ditulis: “This book is awesomely magisterial and in some ways disturbingly vacuous.” Setelah membahas isi buku, pengulas menilai Giddens tidak memberi penjelasan jelas tentang apa itu “Jalan Ketiga,” berbeda dengan Frederick von Hayek 50 tahun lalu. Menurutnya, Giddens hanya menguraikan hal-hal baik secara umum tanpa solusi nyata. Akhirnya, buku ini dianggap lebih cocok sebagai manifesto partai politik.
Anthony Giddens, "The Third Way: Jalan Ketiga (Pembaharuan Demokrasi Sosial)", Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999, hlm. vii.
Namun, pengulas mungkin tidak tahu bahwa saat ulasan itu terbit, 21 September 1998, Giddens bersama Tony Blair justru pergi ke New York untuk berdiskusi dengan Presiden Clinton tentang Jalan Ketiga. Kalau benar isinya kosong, mengapa Blair dan Clinton mau membahasnya? Bahkan, menurut Stryker McGuire, buku ini membuat Giddens diundang ke banyak kantor presiden dan perdana menteri di dunia.
Buku Jalan Ketiga sempat menimbulkan “gempa politik”. Aliran politik centre-left ini mengubah peta Eropa dan Amerika Utara. Di Eropa, dari 15 negara Uni Eropa, hanya Spanyol dan Irlandia yang tidak dipimpin oleh tokoh Jalan Ketiga. Negara besar seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan Italia semuanya dipimpin perdana menteri berhaluan Jalan Ketiga. Banyak wartawan mengaitkan perubahan ini dengan Tony Blair, sampai muncul istilah “Blairisme”. Kanselir Jerman, Gerhard Schroder, bahkan dijuluki “Herr Blair” karena kebijakannya mirip Blair. Padahal, sebenarnya Blair banyak belajar dari Anthony Giddens, pencetus gagasan Jalan Ketiga.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. viii.
Identitas Buku
- Judul Buku: The Third Way: Jalan Ketiga (Pembaharuan Demokrasi Sosial)
- Pengarang: Anthony Giddens
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
- Tanggal Terbit: 1999
- ISBN: 979-655-435-6
- Tebal Halaman: xxviii+189
- Lebar:
- Panjang:
Diterjemahkan dari The Third Way: The Renewal of Social Democracy
Terbitan USA: Blackwell Publisher, 1998
THE THIRD WAY
oleh Anthony Giddens
Diterjemahkan oleh Ketut Arya Mahardika
Cetakan Pertama, 1999
Daftar Isi "The Third Way"
Kata Pengantar (vii)
Prakata (xxv)
1. Sosialisme dan Sesudahnya (1)
- Matinya sosialisme (3)
- Demokrasi sosial gaya lama (9)
- Pandangan neoliberal (13)
- Perbandingan doktrin-doktrin (17)
- Perdebatan akhir-akhir ini (19)
- Struktur dukungan politik (23)
- Nasib demokrasi sosial (27)
2. Lima Dilema (31)
- Globalisasi (32)
- Individualisme (38)
- Kiri dan Kanan (43)
- Subjek-Pelaku politik (53)
- Isu-isu Ekologis (61)
- Politik jalan ketiga (73)
3. Negara dan Masyarakat Madani (79)
- Pendemokrasian demokrasi (80)
- Masalah masyarakat madani (90)
- Kejahatan dan komunitas (99)
- Keluarga demokratis (102)
4. Negara Investasi Sosial (114)
- Makna persamaan (116)
- Inklusi dan eksklusi (120)
- Masyarakat dengan kesejahteraan positif (128)
- Strategi-strategi investasi sosial (137)
5. Memasuki Abad Global (150)
- Bangsa kosmopolitan (151)
- Plurakisme kultural (154)
- Demokrasi kosmopolitan (160)
- Uni Eropa (164)
- Pemerintah Global (168)
- Fundamentalisme pasar pada skala dunia (171)
Kesimpulan (179)
Catatan (183)
Kata Pengantar
oleh Wibowo
Sebenarnya, istilah Jalan Ketiga bukan hal baru. Yang khas dari Giddens adalah cara ia menempatkannya dalam konteks baru. Biasanya, orang melihat Jalan Ketiga sebagai alternatif antara sosialisme dan kapitalisme, atau antara peran negara dan pasar bebas. Tapi perdebatan itu dianggap sudah basi sejak komunisme runtuh bersama bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Akibatnya, pertentangan “Kiri” dan “Kanan” terasa tidak relevan lagi.
Menurut Giddens, dunia modern ditandai oleh manufactured uncertainty atau ketidakpastian buatan manusia. Bukan alam yang menyebabkannya, tapi teknologi ciptaan manusia sendiri. Contohnya: pemanasan global, rusaknya ozon, polusi, gurun yang meluas, serta munculnya penyakit baru akibat teknologi pertanian.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. ix.
Ada ancaman yang lebih menakutkan dari sekadar kerusakan alam, yaitu senjata modern. Manusia kini punya kekuatan untuk menghancurkan bumi berkali-kali. Bayangkan jika seorang pemimpin tidak waras punya akses ke tombol nuklir, dunia bisa lenyap hanya dalam hitungan detik. Tidak ada yang bisa mengendalikan hal itu, manusia hanya bisa berharap semoga tidak terjadi.
Inilah yang disebut manufactured uncertainty yang mengarah pada big consequence risk—risiko dengan dampak besar. Manusia memang selalu berhadapan dengan risiko, tetapi di akhir abad ke-20 risikonya bisa membawa konsekuensi sangat jauh. Contohnya krisis Asia 1997: meski banyak negara punya cadangan devisa kuat, tetap runtuh karena serangan spekulan uang. Meski tahu risikonya, negara-negara itu tetap membuka perdagangan bebas mata uang.
Giddens menggambarkan keadaan dunia ini dengan metafora “Juggernaut,” truk raksasa yang meluncur tanpa kendali. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari bahayanya, dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Semua hanya bisa pasrah dan berdoa agar selamat.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. x.
Giddens tidak menolak bahwa manusia telah menciptakan kehidupan modern yang penuh kepastian (ontological security). Namun, ia menekankan bahwa ketidakpastian tetap selalu hadir dalam hidup. Tentang manufactured uncertainty, Giddens berkata: risiko besar yang kita hadapi berbahaya karena tidak bisa diuji atau dipelajari. Kalau terjadi kesalahan, akibatnya bisa menghancurkan.
Karena itu, Giddens meragukan proyek Enlightenment sejak abad ke-18 yang percaya sejarah selalu bergerak maju menuju kemajuan. Menurutnya, dunia sekarang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan manusia, dan sejarah tidak berjalan lurus, melainkan penuh ketidakpastian.
Atas dasar ini, Giddens menolak pemikiran yang terlalu optimis, baik dari Karl Marx dengan materialisme historisnya, maupun Saint-Simon dengan gagasan industrial society. Ia menilai keduanya terlalu percaya bahwa sejarah pasti menuju masyarakat yang lebih baik. Giddens juga menolak aliran sosiologi Marxis dan sosiologi Parsonian (structural-functionalism), karena dianggap tidak realistis dalam membaca dunia modern.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xi.
Menurut Giddens, dunia modern terbentuk dari empat institusi utama: kapitalisme, industrialisme, pengawasan (surveillance), dan kekuatan militer. Kapitalisme dengan semangat mencari untung menciptakan dinamika besar. Jika digabung dengan industrialisme, lahirlah dunia seperti sekarang. Namun, dunia ini juga penuh pengawasan, mulai dari tempat kerja hingga masyarakat luas, lewat dokumen resmi dan data statistik. Sementara itu, kekuatan militer muncul sebagai konsekuensi dari negara-bangsa yang sejak abad ke-18 membangun kekuasaan untuk menghadapi ancaman dalam maupun luar negeri.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xii.
Keempat institusi ini saling terkait. Kapitalisme memicu industrialisme, pengawasan, dan kekuatan militer. Industrialisme juga berkaitan erat dengan ketiganya, begitu pula sebaliknya.
Skema yang lebih rinci menunjukkan:
Kapitalisme → kepemilikan pribadi → masyarakat berkelas
Militer → kekuatan militer industri → perang modern
Pengawasan → banyak pusat kekuasaan (poliarki)
Industrialisme → transformasi alam → lingkungan buatan
Dengan begitu, Giddens ingin menunjukkan bagaimana empat institusi itu membentuk dunia sekarang beserta dampaknya.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xiii.
Giddens menolak anggapan bahwa semua masalah dunia hanya berasal dari pertentangan kelas. Menurutnya, meski kapitalis memang menindas buruh, tidak semua gerakan sosial lahir dari konflik itu. Misalnya, gerakan lingkungan, perdamaian, demokrasi, atau feminisme punya asal-usul yang berbeda. Negara juga punya kepentingannya sendiri dalam melakukan pengawasan, terlepas dari kapitalis.
Karena itu, Giddens menyebut ada berbagai macam gerakan sosial, seperti:
- gerakan demokrasi/kebebasan bicara,
- gerakan buruh,
- gerakan perdamaian,
- gerakan ekologi.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xiv.
Ia juga menambahkan konsep time-space distanciation (keterjarakan ruang-waktu). Maksudnya, manusia kini bisa menggunakan waktu tanpa dibatasi ruang, dan sebaliknya. Contohnya, masyarakat berburu berbeda dengan masyarakat tani bukan karena tingkat kompleksitas, tetapi karena perbedaan dalam keterjarakan ruang-waktu. Dalam kapitalisme modern, keterjarakan ini mencapai tingkat tertinggi berkat jam, transportasi, dan komputer.
Dari konsep ini lahir istilah “globalisasi.” Artinya lebih luas daripada perdagangan internasional. Globalisasi mencakup ekonomi, informasi, transportasi, hingga pola hidup sehari-hari. Hidup manusia modern banjir informasi dan arus manusia maupun barang. Bahkan, keputusan di London bisa memengaruhi desa di Jawa, dan pilihan seorang petani di Sumatera bisa berdampak sampai Montreal.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xv.
Menurut Giddens, dunia akhir abad ke-20 tidak bisa dijelaskan dengan satu sebab saja. Banyak faktor saling berhubungan, menghasilkan ketidakpastian (manufactured uncertainty) sekaligus kepastian (ontological security). Karena itu, selain gerakan buruh, muncul juga gerakan lingkungan, anti-perang, anti-nuklir, demokratisasi, feminisme, hingga gerakan kaum gay. Giddens menyebutnya life politics. Ada yang masuk ke partai politik, tapi lebih banyak yang berdiri di luar politik formal.
Dalam bukunya The Consequences of Modernity, Giddens menolak istilah post-modern. Ia setuju bahwa pengetahuan kita tidak punya dasar yang kokoh, sejarah tidak otomatis maju, dan gerakan sosial kini membawa isu baru. Ia juga mengakui identitas manusia semakin rapuh dan terpecah. Tapi, ia menolak kata “post” dan menggantinya dengan istilah radicalised modernity.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xvi.
Menurutnya, klaim posmodernis tentang “hilangnya subjek” terlalu berlebihan. Manusia tetap punya kemampuan reflexivity—yaitu kesadaran untuk menilai, mengatur, dan mengubah hidupnya. Di tingkat mikro, manusia menjalani hidup dengan refleksi terus-menerus. Di tingkat makro, reflexivity berhubungan dengan tradisi. Pada zaman pra-modern, tradisi jadi acuan utama. Sekarang tradisi sering dipertanyakan, tapi tidak hilang sepenuhnya. Maka, dunia modern bisa disebut post-traditional society: tradisi masih ada, tapi tidak lagi mengikat mutlak, dan kehidupan manusia tidak sefragmentaris gambaran posmodernis.
Anthony Giddens, "The Third Way..., hlm. xvii.







0 komentar:
Posting Komentar