Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Rabu, 26 November 2025

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part A"

Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang "Part A"

Berita kekalahan pasukan Prambanan dari pasukan Pengging cepat menyebar hingga terdengar oleh Putri Rara Jonggrang. Sang Putri sangat terpukul saat tahu ayahnya tewas. Kekhawatiran yang dirasakannya sebelum perang ternyata menjadi pertanda buruk. Lebih menyedihkan lagi, beberapa pejabat istana juga gugur atau menjadi tawanan. Putri Rara Jonggrang merasa hidupnya kosong, tanpa siapa pun yang bisa melindunginya.

Para pengawal dan dayang yang masih setia pun ikut bersedih. Saat jenazah Prabu Kalakarung dan Patih Basuketi tiba di istana, suasana duka semakin terasa. Tangisan Rara Jonggrang dan keluarga Patih Basuketi terdengar di seluruh istana. Kedua jenazah kemudian dimandikan, dikafani, dan diletakkan di atas pendusa. Di sana, Putri Rara Jonggrang kembali menangis tersedu menatap jasad ayahnya.

Emban Sriti terus mendampingi Sang Putri, berusaha menenangkannya dan mengingatkan agar merelakan kepergian ayahandanya. Namun, segala usaha Emban Sriti belum berhasil, karena Rara Jonggrang masih larut dalam kesedihan yang mendalam.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 62.

Menjelang tengah malam, Putri Rara Jonggrang mulai merasa sangat lelah dan mengantuk. Emban Sriti pun mengajaknya ke kamar. Dengan langkah lemah, Sang Putri meninggalkan jasad ayahnya dan pergi ke peraduannya. Begitu sampai di kamar, ia langsung tertidur pulas. Untuk sementara, kesedihannya pun terlupakan. Emban Sriti dan para pengawal istana juga tertidur, agar bisa bangun pagi untuk menyiapkan pemakaman Prabu Kalakarung dan Patih Basuketi.

Malam itu, Istana Prambanan terasa sunyi dan udara sangat dingin. Langit tampak gelap tanpa cahaya bulan atau bintang, seolah ikut berduka bersama rakyat Prambanan. Semua terasa hampa dalam kesedihan.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 63.

Keesokan harinya, upacara pembakaran jenazah Prabu Kalakarung pun siap dimulai. Sebuah pancaka tinggi dibangun di depan istana, tempat jenazah Sang Prabu dibaringkan. Di bawahnya, ada pancaka yang lebih rendah berisi jenazah Patih Basuketi. Di bawah kedua pendusa itu, tersusun tumpukan kayu cendana yang akan dibakar.

Seorang pemuka agama memimpin upacara sambil melantunkan doa-doa di antara asap dupa yang harum. Tak lama kemudian, ia memberikan sebatang kayu cendana yang telah menyala kepada Putri Rara Jonggrang. Dengan berat hati, Sang Putri menyalakan tumpukan kayu di sekitar jenazah ayahnya. Api pun mulai membesar dan membakar seluruh pancaka Sang Prabu.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 64.

Putri Rara Jonggrang tak bisa lagi menahan tangisnya. Air matanya terus mengalir seiring api yang membakar jenazah ayahnya hingga berubah menjadi abu. Tak sanggup melihatnya, ia berlari meninggalkan tempat upacara sambil menangis tersedu. Emban Sriti segera mengejarnya dengan cemas, takut Sang Putri melakukan hal nekat. Namun ternyata, Rara Jonggrang hanya berlari ke taman keputren dan menangis di kursi taman.

“Sudahlah, Tuan Putri. Relakan kepergian Ayahanda dengan ikhlas. Semua manusia pasti akan kembali kepada-Nya. Berdoalah agar Ayahanda mendapat tempat yang baik dan kita diberi ketabahan,” ujar Emban Sriti sambil mengelus rambut Sang Putri dengan lembut.

Putri Rara Jonggrang hanya terisak tanpa mampu berbicara. Namun setelah mendengar nasihat embannya, hatinya mulai tenang dan perlahan belajar menerima kepergian ayahnya.

Sementara itu, suasana gembira menyelimuti istana Pengging. Kemenangan atas Prambanan membuat Raja Anglingdriya mengeluarkan surat pengangkatan. Bandung Bandawasa diangkat menjadi Senapati Pengging yang baru, menggantikan Senapati Darmamaya yang kini menjadi Adipati Prambanan. Patih Tambakbaya diangkat menjadi Patih Amungkubumi, sedangkan Tumenggung Mayangkara dan Setrajali naik pangkat menjadi penewu. Keputusan itu disambut dengan sorak gembira oleh seluruh prajurit dan rakyat Pengging.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 65.

Setelah membaca surat keputusan itu, Darmamaya dan Bandung segera berangkat ke Prambanan bersama beberapa prajurit pilihan. Sementara itu, pasukan Pengging kembali ke kotaraja dipimpin oleh Setrajali dan Mayangkara.

Malam mulai tiba ketika rombongan Bandung sampai di perbatasan Prambanan. Mereka memutuskan beristirahat dan mendirikan kemah di luar wilayah itu agar tidak menimbulkan keributan dengan prajurit atau rakyat Prambanan. Bandung khawatir Prambanan masih memiliki kekuatan untuk membalas kekalahan mereka.

Saat malam semakin larut dan Bandung hendak beristirahat di kemahnya, seorang prajurit datang tergesa-gesa.

“Maaf, Tuan Senapati. Hamba melihat sekelompok orang berkumpul di tengah hutan dekat perbatasan. Hamba tidak tahu siapa mereka atau apa yang mereka lakukan,” lapor prajurit itu.

“Baik, aku akan memeriksa mereka. Kau tetap berjaga. Jika ada hal mencurigakan, segera bangunkan Adipati Darmamaya,” kata Bandung sambil keluar dari kemah. Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan prajurit itu yang menatapnya kagum.

Ternyata laporan itu benar. Bandung melihat sekelompok orang berpakaian seperti prajurit Prambanan yang mungkin berhasil melarikan diri saat kekalahan. Saat matahari mulai terbit, Bandung bisa melihat dengan jelas bahwa mereka memang bekas prajurit Prambanan. Mereka tampak menunggu sesuatu. Seorang prajurit bertubuh besar mondar-mandir dengan gelisah, sesekali menatap ke arah selatan, sementara yang lain hanya duduk diam di sekitarnya.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 66.

Tiba-tiba dari arah selatan muncul dua kuda, masing-masing ditunggangi prajurit yang membawa buntalan besar di punggung. Mereka berhenti, turun, dan memangku buntalan itu.

“Bagaimana? Kalian bawa barangnya?” tanya prajurit bertubuh besar yang menghampiri.

“Iya, Tuan Gagak Rodra. Kami berhasil mengambil pakaian prajurit Pengging sesuai perintah. Jumlahnya sedikit karena memang prajurit Pengging yang tersisa juga tak banyak,” jawab salah satu prajurit dengan napas terengah.

“Bagus. Cepat buka buntalan itu dan bagikan ke teman-teman. Kita akan mulai rencana sekarang!” perintah Gagak Rodra.

“Rencana apa, Tuan?” tanya seorang prajurit heran.

“Sudah, jangan banyak tanya. Ikuti saja perintahku!” jawab Gagak Rodra tegas, membuat mereka takut dan patuh.

Bandung mengamati dari balik semak-semak agak jauh. Meski bersembunyi, penglihatan dan pendengarannya menangkap semua dengan jelas.

Setelah seragam dibuka dan dipakai, jumlahnya pas dengan jumlah prajurit—mereka kini tampak seperti prajurit Pengging. Hanya Gagak Rodra yang tidak kebagian seragam. Bandung terkejut melihat perubahan itu, tetapi ia sabar menunggu langkah mereka selanjutnya.

“Kalian berpura-pura menjadi prajurit Pengging. Datangi rumah-rumah di Desa Klaten dan paksa warga menyerahkan sumbangan—uang, pakaian, makanan, apa saja. Kalau menolak, beri mereka pelajaran!” perintah Gagak Rodra.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 67.

“Tapi mereka kan rakyat Prambanan. Bukankah kita seharusnya melindungi mereka?” tanya seorang prajurit.

“Bodoh! Pengging sudah menang, jadi Prambanan kini di bawah kekuasaan mereka. Aku mau membuat rakyat Prambanan membenci Pengging sampai mereka mengadakan pemberontakan — sehingga Pengging tak bisa menduduki wilayah ini dengan tenang. Kita akan memanfaatkan dan membantu pemberontakan itu untuk mengusir pasukan Pengging,” jawab Gagak Rodra tegas.

Bandung terkejut mendengar rencana Gagak Rodra. Ternyata mereka berniat memfitnah dan menghasut warga Klaten agar membenci Pengging, lalu memanfaatkan kekacauan itu untuk merebut kembali Prambanan.

Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 68.


Daftar Isi:

  1. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
    1. Part A
    2. Part B
  2. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
    1. Part A
    2. Part B
  3. Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search