Kekalahan Panglima Suralangu dan pasukan Prambanan mengecewakan Prabu Kalakarung. Ia tak menyangka Suralangu — yang sebelumnya merebut beberapa wilayah Pengging — bisa dikalahkan dan ditawan, apalagi oleh seorang pemuda pengembara, bukan orang Pengging.
Balairung Istana Prambanan terlihat sunyi. Patih Basuketi, Tumenggung Anabrang, Tumenggung Banjaranom, dan pejabat lain duduk tertunduk, lesu, dan takut setelah melapor. Wajah Prabu Kalakarung penuh kecewa dan marah, sehingga mereka enggan berbicara panjang. Mereka hanya menunggu reaksi dan perintah sang Prabu.
“Aku sangat kecewa dengan laporan kalian. Kalian membuatku malu — aku yakin Raja Anglingdriya sedang menertawakanku. Lupakan dulu kekalahan kemarin. Sekarang atur strategi untuk balas dendam dan bebaskan para tawanan kita, terutama Panglima Suralangu,” kata Kalakarung.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro Jonggrang", Bandung: Pustaka Setia, 2004, hlm. 27.
Para petinggi dan pemimpin pasukan hanya mengangguk mendengar perkataan Prabu Kalakarung. Mereka sudah terbiasa dimarahi Sang Prabu setiap kali kalah perang atau gagal menjalankan perintah. Apalagi Pengging adalah wilayah yang paling diincar oleh Prabu Kalakarung.
Tiba-tiba, seorang prajurit masuk ke balairung dengan tergesa-gesa.
“Ampun, Prabu! Ada kabar penting yang harus segera hamba sampaikan. Ini sangat mendesak...”
“Kabar apa? Cepat katakan!” bentak Prabu Kalakarung.
“Tuanku, wilayah Karto, Delangu, dan Kapuh telah dikuasai pasukan Pengging...” lapor prajurit itu.
“Apa?! Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan itu?!” teriak Prabu Kalakarung dengan suara tinggi. Amarahnya memuncak, membuat para petinggi kerajaan semakin takut.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 28.
“Kabarnya, pasukan Pengging yang dipimpin Senapati Darmamaya telah menguasai wilayah-wilayah itu dan menangkap prajurit kita di sana,” jawab prajurit itu dengan ketakutan.
“Ini tak boleh dibiarkan! Segera kembali ke posmu. Siapkan semua prajurit dan perintahkan serangan balasan—laksanakan sekarang!” perintah Prabu Kalakarung tergesa-gesa.
Prabu segera menggelar sidang dengan para petinggi. Mereka memutuskan mengganti Senapati Suralangu dan mengangkat Suradenta, adik Suralangu yang berpengalaman, menjadi senapati baru. Sidang juga memerintahkan penambahan penjagaan di ibu kota. Pasukan baru di bawah Tumenggung Bayubraja diperintahkan segera datang untuk memperkuat pertahanan Prambanan. Mereka tidak mau membiarkan pasukan Pengging masuk dan menguasai wilayah kerajaan.
“Aku serahkan taktik perang kepada Patih Basuketi. Ingat—jangan sampai gagal lagi. Pertahankan Prambanan sekuat tenaga. Jika jatuh ke tangan Pengging, kita tamat. Sekarang, segera jalankan tugas kalian!” kata Prabu sambil meninggalkan singgasana.
Seluruh petinggi dan pemimpin pasukan segera bergegas. Mereka bertekad mempertahankan Prambanan dan membalas kekalahan kemarin dengan segala cara.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 29.
Sementara itu, Senapati Darmamaya yang sudah pulih membangun pertahanan di Desa Kepuh untuk menyiapkan serangan ke Prambanan. Wilayah Karto dan Delangu dijaga ketat oleh prajuritnya. Untuk memperkuat pasukan, Darmamaya meminta tambahan bantuan dari Istana Pengging yang akan dipimpin langsung oleh Patih Tambakbaya.
Pertempuran kali ini bukan hanya soal merebut Prambanan, tapi juga menjatuhkan kekuasaan Prabu Kalakarung, yang dianggap telah merebut wilayah milik Pengging. Darmamaya bertekad menangkap Prabu Kalakarung—hidup atau mati—karena ia telah berkhianat pada raja dan rakyat Pengging.
Sambil menunggu kedatangan pasukan baru, Darmamaya berdiskusi dengan para tumenggung dan Bandung Bandawasa untuk menyusun strategi. Awalnya, Bandung ingin melanjutkan pengembaraannya karena Darmamaya sudah sembuh. Namun, mereka menahannya dan memohon agar ia tetap membantu sampai Prambanan benar-benar dikuasai. Bandung pun menyetujui permintaan itu.
Saat menyusun strategi, mereka menemui kesulitan karena tidak mengenal daerah Prambanan yang sudah banyak berubah di bawah kekuasaan Prabu Kalakarung. Akhirnya, Darmamaya meminta Bandung menjadi mata-mata untuk menyelidiki kekuatan musuh dan mengenali wilayah sekitar istana.
“Sebaiknya kau menyamar, Bandung, karena wajahmu sudah dikenal oleh pasukan Prambanan,” pesan Darmamaya. Ia sangat percaya Bandung bisa menjalankan tugas itu dengan baik dan membawa kabar penting tentang keadaan Prambanan agar mereka bisa menyiapkan strategi yang tepat untuk memenangkan pertempuran.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 30.
Bandung Bandawasa segera bersiap untuk pergi ke Prambanan. Ia berganti pakaian dan mengenakan caping besar untuk menutupi wajahnya. Agar tidak bertemu pasukan Prambanan yang berjaga di Jatianom, Bandung memilih jalan memutar lewat selatan, menuju Klaten, lalu ke Prambanan.
Setelah perjalanan panjang, Bandung tiba dengan selamat di kota raja Prambanan. Di sepanjang jalan, ia melihat banyak prajurit berjaga dan mengawasi orang-orang yang lewat. Namun karena penampilannya seperti rakyat biasa, Bandung bisa masuk dengan mudah hingga mendekati istana. Di sana, ia berhati-hati sambil memperhatikan para prajurit yang tampak sibuk berunding dan bersiap menghadapi perang besar melawan pasukan Pengging. Dari sikap mereka, jelas kali ini mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 31.
Sementara itu, Prabu Kalakarung yang sedang gelisah berjalan ke keputren untuk menenangkan diri. Ia ingin bertemu dengan putri tunggalnya yang cantik, Dewi Rara Jonggrang. Sejak istrinya meninggal, Rara Jonggrang menjadi satu-satunya tempat Sang Prabu mencurahkan kasih sayang dan perasaannya. Ia tidak menikah lagi, meskipun memiliki beberapa selir.
Saat tiba di keputren, Kalakarung melihat Rara Jonggrang sedang berjalan-jalan di taman. Begitu melihat ayahnya datang, sang putri langsung berlari dan tersenyum bahagia.
"Ayah, kenapa tampak sedih? Ada apa?" tanya Rara Jonggrang.
"Putriku, Ayah sedang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa," jawab Kalakarung pelan. Di balik sifat kerasnya sebagai raja, ia sebenarnya ayah yang lembut.
"Ceritakanlah, Ayah. Mungkin aku bisa membantu," kata Rara Jonggrang sambil mengajak ayahnya duduk.
Kalakarung kemudian berkata, "Kemarin tentara kita kalah di Grogol, dan daerah itu kini dikuasai Pengging. Senapati Suralangu juga kalah dan ditawan. Beberapa wilayah lain pun sudah jatuh ke tangan Pengging. Kekalahan demi kekalahan membuat Ayah merasa putus asa. Mungkin Ayah sudah tak pantas jadi raja…."
"Ayah, jangan bicara begitu," kata Rara Jonggrang lembut namun tegas. "Kekalahan dalam perang itu biasa. Kita masih bisa bangkit dan merebut kembali wilayah kita. Yang penting, Ayah jangan menyerah."
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 32.
Prabu Kalakarung tersenyum mendengar nasihat putrinya. Semangat Rara Jonggrang mengingatkannya pada mendiang istrinya. Rupanya sifat itu menurun padanya, begitu juga kecantikan dan keceriaannya.
"Apa yang kau katakan memang benar. Tapi entahlah, Ayah masih merasa gelisah. Mungkin yang membuat Ayah resah bukan hanya soal perang…," kata Prabu Kalakarung sambil termenung.
"Apa maksud Ayah? Ceritakan saja, jangan disimpan sendiri. Aku ingin membantu," kata Rara Jonggrang lembut.
Prabu Kalakarung menghela napas, lalu berkata, "Tadi malam Ayah bermimpi tentang ibumu. Ia melambaikan tangan dan memanggil nama Ayah berkali-kali. Ayah ingin mendekatinya, tapi ada sungai besar yang menghalangi. Ketika Ayah mencoba menyeberang, airnya sangat deras dan menyeret Ayah sampai tak berdaya. Ayah pun terbangun dengan napas tersengal."
Rara Jonggrang terkejut mendengar cerita itu, tapi berusaha menenangkan ayahnya.
"Mimpi itu memang menakutkan, Ayah. Tapi mungkin itu hanya bunga tidur karena Ayah merindukan Ibu. Jangan dipikirkan terlalu dalam. Lebih baik kita bicarakan hal lain," katanya sambil tersenyum.
Rara Jonggrang lalu bercerita dengan riang tentang hal-hal lucu yang terjadi di taman. Prabu Kalakarung pun ikut tertawa. Suasana menjadi hangat dan gembira. Namun, mereka tak menyadari bahwa sejak tadi, ada seorang pemuda tak dikenal diam-diam masuk ke istana dan memperhatikan mereka dari kejauhan.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 33.
Pemuda itu ternyata Bandung Bandawasa. Ia berhasil menyusup ke dalam istana dan bersembunyi hingga sampai di taman keputren. Dari situ, ia mendengar percakapan Prabu Kalakarung dengan putrinya. Bandung sempat terpukau melihat kecantikan Rara Jonggrang, tapi segera menahan perasaannya dan kembali fokus pada tugasnya.
Tiba-tiba, seorang prajurit memergokinya.
“Hai! Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?” teriak prajurit itu sambil berlari mendekat. “Penyusup! Ada penyusup!”
Bandung tidak punya pilihan selain melarikan diri. Karena tidak mengenal seluk-beluk istana, ia berlari ke sana kemari tanpa arah, mencari tempat aman untuk bersembunyi.
Mendengar teriakan itu, Prabu Kalakarung segera keluar dari taman dan menyuruh putrinya bersembunyi di taman mandi keputren—tempat khusus bagi Rara Jonggrang dan para dayangnya. Sang Prabu lalu memanggil Patih Basuketi dan memerintahkan agar penyusup itu segera ditangkap. Wajahnya tampak marah sekaligus cemas.
Suasana istana mendadak ramai. Para prajurit berlarian ke setiap ruangan untuk mencari si penyusup. Namun, tanpa mereka sadari, Bandung sudah menemukan tempat persembunyian yang aman—sebuah taman dengan kolam berair jernih, dikelilingi bunga dan pepohonan rindang, serta tembok tinggi yang menutupinya dari pandangan luar.
Bandung tidak tahu bahwa tempat itu adalah taman mandi keputren—tempat yang hanya boleh dimasuki oleh Putri Rara Jonggrang dan dayang-dayangnya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 34.
Bandung Bandawasa terpesona melihat keindahan taman itu. Ketika melihat perlengkapan mandi, ia baru sadar bahwa tempat itu adalah taman mandi keputren. Pantas saja tidak ada prajurit yang masuk ke sana. Ia lalu melihat pepohonan dan tembok tinggi di sekeliling taman, mencari jalan untuk kabur. Namun tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 35.
"Siapa kamu? Berani sekali masuk ke taman ini! Kamu pasti penyusup itu, bukan?" tanya Rara Jonggrang terkejut.
"Ampun, Tuan Putri. Hamba tidak tahu kalau tempat ini terlarang," jawab Bandung sambil diam-diam menatap wajah sang putri yang cantik.
"Lalu, apa maumu?" tanya Rara Jonggrang, berusaha melihat wajah pemuda itu dari balik capingnya.
"Tidak ada, Tuan Putri. Hamba hanya ingin melihat keindahan istana ini. Pasti menyenangkan tinggal di sini," kata Bandung sambil menatapnya.
Rara Jonggrang terpana melihat ketampanan Bandung hingga amarahnya hilang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mereka saling berpandangan dan diam sesaat.
"Baiklah, Tuan Putri. Agar tidak mengganggu, hamba pamit," kata Bandung sambil berlari ke arah pohon dekat tembok tinggi.
"Tunggu! Siapa namamu?" teriak Rara Jonggrang.
"Sebut saja aku Putra Gunung Lawu!" jawab Bandung sebelum melompat ke atas pagar dan menghilang.
Rara Jonggrang menghela napas panjang. Ia tahu seharusnya melaporkan pemuda itu pada ayahnya, karena bisa saja dia mata-mata musuh. Namun entah mengapa, hatinya justru diliputi rasa cemas dan bingung. Ia termenung menatap bayangannya di kolam.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 36.






0 komentar:
Posting Komentar