Pada hari yang dijanjikan, Adipati Darmamaya dan Bandung Bandawasa kembali datang ke keputren untuk mendengar jawaban Putri Rara Jonggrang. Setelah bersemedi, hati Bandung terasa lebih tenang dan siap menerima apa pun jawaban Sang Putri.
Putri Rara Jonggrang menyambut kedatangan mereka dengan wajah ceria. Pemandangan itu membuat Bandung terkejut sekaligus berharap, mungkin kali ini jawaban Sang Putri akan membawa kabar baik.
“Selamat datang kembali, Tuan Adipati,” sapa Putri Rara Jonggrang dengan ramah.
“Terima kasih, Tuan Putri. Kali ini aku datang bersama Senapati Bandung Bandawasa, agar ia bisa mendengar langsung jawaban dari Tuan Putri,” jawab Adipati Darmamaya dengan senyum hangat.
“Baiklah,” kata Putri Rara Jonggrang serius. “Aku menerima lamaran Tuan Bandung Bandawasa… tapi dengan satu syarat yang harus ia penuhi terlebih dahulu.”
“Sebutkanlah syarat itu, Tuan Putri. Semoga aku mampu memenuhinya,” jawab Bandung tenang.
“Aku ingin Tuan membuat seribu candi untukku dalam satu malam,” kata Putri Rara Jonggrang dengan nada menantang, seolah meragukan kemampuan Bandung.
“Tapi, Tuan Putri… bukankah syarat itu terlalu berat?” tanya Adipati Darmamaya dengan terkejut. Semua orang di ruangan itu tampak kaget—kecuali Bandung Bandawasa yang tetap tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 84.
“Benar, Tuan Putri. Tolong pikirkan lagi! Syarat itu terlalu berat dan tidak masuk akal. Demi kebaikan Tuan Putri sendiri, mohon dipertimbangkan kembali,” kata Emban Sriti dengan cemas. Ia tak menyangka majikannya bisa setega itu karena dibutakan oleh dendam.
“Aku sudah memberi jawaban dan syaratnya. Sekarang terserah pada Tuan Senapati! Aku hanya akan menikah dengannya jika syarat itu terpenuhi!” kata Putri Rara Jonggrang tegas, tanpa memedulikan nasihat Emban Sriti.
“Baiklah, Tuan Putri Rara Jonggrang,” jawab Bandung tenang. “Hamba berterima kasih atas jawabannya. Hamba juga bersedia memenuhi syarat itu. Tapi, hamba mohon jaminan, jika hamba berhasil menepatinya.”
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 85.
“Jangan gegabah, Bandung! Syarat itu terlalu berat. Batalkan saja lamarannya sebelum kau celaka. Ingat, rakyat Pengging dan Prambanan masih membutuhkanmu,” bisik Adipati Darmamaya cemas.
“Jangan khawatir, Paman. Aku ingin memberi pelajaran pada Tuan Putri yang sombong ini. Semoga ia sadar dari rasa benci dan dendamnya. Aku tahu, ia hanya ingin menyingkirkanku,” jawab Bandung pelan.
“Jaminan apa yang kau maksud, Tuan Senapati?” tanya Putri Rara Jonggrang, suaranya mulai melemah melihat keberanian Bandung.
“Bagaimana kalau Tuan Putri tidak menepati janji bila aku berhasil memenuhi syarat itu?” tanya Bandung tenang. Adipati Darmamaya di sampingnya tampak gelisah.
“Kalau begitu, biarlah aku menjadi patung untuk selama-lamanya,” jawab Putri Rara Jonggrang cepat. Ia begitu yakin pada dirinya dan meremehkan kekuatan Bandung Bandawasa.
“Hadirin sekalian, kalian semua sudah mendengar janji Sang Putri! Kalian menjadi saksi atas semua yang akan terjadi di antara kami!” seru Bandung lantang.
Putri Rara Jonggrang terkejut mendengar kata-kata itu. Ia menyesali ucapannya, tapi sudah terlambat. Kesombongan dan kebencian telah menutup hatinya. Kini ia gelisah — tak ingin menjadi istri Bandung, tapi juga takut menjadi patung selamanya jika Bandung benar-benar berhasil membuat seribu candi dalam satu malam.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 86.
Bandung Bandawasa termenung sendirian di kamarnya. Besok malam, tepat seratus hari wafatnya Prabu Kalakarung, ia harus menyelesaikan seribu candi seperti syarat yang diajukan Putri Rara Jonggrang agar bisa menikahinya.
“Ya Tuhan, tolong aku. Aku menerima syarat ini bukan demi diriku, tapi untuk memberi pelajaran pada Putri Rara Jonggrang agar sadar dari kesalahannya. Berilah aku kekuatan dan keselamatan untuk mewujudkannya,” doanya dalam hati.
Keesokan paginya, Bandung bersemedi di lapangan rumput. Ia memohon agar diberi kemampuan memanggil jin untuk membantunya membangun candi-candi itu. Ia menyalakan dupa besar di atas anglo, lalu membaca mantra dengan mata terpejam:
“Wahai Raja Jin, terimalah dupa wangi ini sebagai persembahan. Tampakkanlah wujudmu!”
Asap dupa semakin tebal. Tiba-tiba angin dingin berhembus di sekitarnya. Raja Jin muncul dari balik asap.
“Ada apa kau memanggilku, manusia?” suara Raja Jin terdengar berat dan membuat Bandung merinding.
“Aku ingin meminta bantuanmu,” jawab Bandung sambil membuka mata.
“Permintaan apa itu?” tanya Raja Jin.
“Buatlah seribu candi di lapangan ini malam nanti. Semuanya harus selesai dalam satu malam. Aku akan menyediakan dupa besar untukmu dan pasukanmu. Apakah kau bersedia?” kata Bandung.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 87.
“Baiklah, aku dan pasukanku akan datang malam ini untuk membuat seribu candi untukmu,” kata Raja Jin dengan sungguh-sungguh. Perlahan, tubuhnya menghilang bersama asap dupa yang menipis.
Bandung melanjutkan semedinya agar rencananya berjalan lancar. Saat malam tiba, Raja Jin menepati janjinya. Ia datang bersama pasukannya untuk membantu Bandung membangun candi di lapangan itu. Tak ada yang bisa melihat para jin itu selain Bandung sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti badai besar. Para jin mulai bekerja, mengumpulkan batu-batu besar dan membentuknya sesuai perintah Bandung. Satu per satu candi berdiri, hingga lapangan itu mulai dipenuhi bangunan megah.
Menjelang tengah malam, sudah ada enam ratus candi berdiri. Suasana semakin ramai. Bandung menyalakan dupa-dupa baru agar para jin tetap bersemangat. Mereka pun kembali bekerja lebih cepat, hingga jumlah candi mencapai sembilan ratus.
Suara gemuruh semakin keras ketika candi-candi itu berdiri megah satu demi satu. Di istana, Putri Rara Jonggrang yang gelisah pun terbangun karena suara itu. Ia berlari ke jendela, dan matanya terbelalak. Dari kejauhan, terlihat ratusan candi telah berdiri indah di bawah sinar bulan. Jumlahnya begitu banyak hingga sulit dihitung. Kegelisahan Putri Rara Jonggrang pun semakin menjadi.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 88.
“Celaka! Senapati itu hampir berhasil memenuhi syaratku! Rupanya ia memanggil jin untuk membantunya. Dasar licik! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus menggagalkannya sekarang juga!” kata Putri Rara Jonggrang sambil bergegas keluar dari kamarnya.
Ia berpikir keras mencari cara untuk mengusir jin-jin yang membantu Bandung Bandawasa. Tiba-tiba, ia teringat bahwa syaratnya hanya berlaku bila seribu candi selesai sebelum pagi tiba.
“Aku harus membuat para jin itu berhenti bekerja!” pikirnya cepat.
Putri Rara Jonggrang segera ke dapur dan mengambil alat penumbuk padi. Ia menumbuk lumpang keras-keras dengan alu kayu, hingga suaranya terdengar seperti tanda pagi hari.
Benar saja, mendengar suara itu, para jin langsung berhenti bekerja dan menghilang dalam kegelapan. Mereka mengira fajar telah tiba, padahal malam belum berakhir. Karena hanya bisa bekerja di malam hari, para jin pun kembali ke alamnya dan meninggalkan candi-candi yang belum selesai.
Begitu suasana hening, Putri Rara Jonggrang tahu bahwa para jin telah pergi. Ia segera berlari ke lapangan sambil membangunkan Emban Sriti untuk menemaninya.
Sementara itu, Bandung yang kebingungan mendengar suara lesung berhenti, terkejut melihat Putri Rara Jonggrang datang menghampiri. Ia pun sadar bahwa suara lesung itu adalah akal licik Sang Putri untuk menggagalkan rencananya. Dengan wajah marah, Bandung menatap Putri Rara Jonggrang yang berjalan cepat ke arahnya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 89.
“Bagaimana, Tuan Senapati? Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?” tanya Putri Rara Jonggrang dengan senyum sinis.
Bandung terdiam menahan amarah. Ia sangat kecewa melihat kelicikan Sang Putri. Rasa cintanya pun lenyap, berganti kemarahan. Ia berdiri menatap Putri Rara Jonggrang dengan tajam tanpa berkata apa-apa.
“Bibi Sriti, mari kita hitung berapa jumlah candinya,” kata Putri Rara Jonggrang, pura-pura tenang meski Bandung menatapnya dengan marah.
Setelah mereka selesai menghitung, ayam jago berkokok menandakan pagi tiba. Fajar mulai muncul dan cahayanya menyinari bumi. Saat itu, amarah Bandung tak bisa dibendung lagi, apalagi ketika melihat Putri Rara Jonggrang berjalan mendekat dengan wajah gembira.
“Sayang sekali, Tuan Senapati. Candimu baru berjumlah 999. Artinya, kau gagal memenuhi syaratku. Aku tidak perlu menikah denganmu!” ucap Putri Rara Jonggrang sambil tersenyum puas.
“Aku tahu kau sengaja menumbuk padi untuk menipu para jin agar berhenti bekerja. Tapi lihatlah, fajar baru saja muncul. Kau sudah melanggar janji, Tuan Putri!” kata Bandung dengan nada marah.
“Sudahlah, Tuan Senapati. Jangan mencari alasan. Candi itu tetap kurang satu dari seribu yang kusyaratkan,” jawab Putri Rara Jonggrang dengan sombong.
“Kalau begitu, karena kau telah ingkar janji, kau sendiri akan menjadi patung untuk melengkapi seribu candi itu!” teriak Bandung lantang.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 90.
Tiba-tiba petir menyambar tubuh Putri Rara Jonggrang dengan suara menggelegar. Seketika tubuhnya kaku dan diselimuti cahaya terang. Saat cahaya itu hilang, tubuh Sang Putri sudah berubah menjadi patung. Bandung Bandawasa dan Emban Sriti terkejut melihatnya. Ternyata, Putri Rara Jonggrang menerima akibat dari perbuatannya sendiri.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 91.
Keesokan harinya, rakyat Prambanan terkejut saat melihat sebuah candi besar dan megah berdiri hanya dalam semalam.
Rasa heran mereka berkurang setelah Bandung Bandawasa menjelaskan asal-usul berdirinya candi itu. Ia sengaja menceritakannya agar rakyat Prambanan bisa mengambil pelajaran dari kisah Putri Rara Jonggrang.
Candi itu kemudian dinamakan Candi Sewu, yang berarti seribu candi. Hingga kini, Candi Sewu di Jawa Tengah masih berdiri megah dan terus dijaga kelestariannya.
Yuliadi Soekardi, dan U. Syahbudin, "Tragedi Putri Roro..., hlm. 92.
Daftar Isi:
- Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 5: Gugurnya Prabu Kalakarung
- Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 6: Kesedihan Putri Rara Jonggrang
- Yuliadi & Syahbudin - Tragedi Putri Roro Jonggrang, Part 7: Menjadi Candi Ke-1000






0 komentar:
Posting Komentar