Sekumpulan buku-buku ternama.

  • Musik Barat

    Musik pertama kali muncul dimana sih?

  • Musik Lokal

    Yang lokal itu lebih asik, lebih rame, lebih seru.

  • Musik Jepang

    Yui? Tokyo adalah salah satu lagu yang sangat ekspresif.

  • OST. Film

    Saya rekomendasikan Anda untuk melihat film Flying Colours.

  • OST. Anime

    Lisa dengan lagunya yang berjudul Ichiban no Takaramono tak kalah ekspresifnya dengan Tokyo milik Yui.

Pengikut

____

Selasa, 16 Desember 2025

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 04: Gerakan Mahasiswa Pasca KAMI

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Koalisi antara militer dan mahasiswa pada akhir 1950-an hanya menempatkan mahasiswa sebagai “ujung tombak” perubahan sosial-politik, meskipun ideologi keduanya berbeda jauh. Militer (ABRI) memilih berkoalisi dengan teknokrat Orde Baru, menganut ideologi Western developmentalism yang menekankan stabilitas dan keamanan. Sementara mahasiswa lebih condong ke demokrasi dan liberalisme. Akibatnya, demi memenangkan Pemilu 1971, ABRI mendukung Golkar dengan cara-cara manipulatif yang bertentangan dengan nilai mahasiswa. Hal ini membuat hubungan ABRI–mahasiswa retak, dan mahasiswa kemudian tampil sebagai kekuatan korektif terhadap kebijakan militer.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara", Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985, hlm. 22-23.


Gerakan Mahasiswa Pasca KAMI

Di akhir 1960-an, mahasiswa masih terinspirasi oleh “Tritura” dan melancarkan gerakan menolak kenaikan harga bensin. Gerakan ini disebut “Gerakan Mahasiswa Menggugat”, yang juga menentang korupsi dan manipulasi pemerintah Orde Baru. Namun, gerakan ini masih bersifat korektif, belum keluar dari kerangka pembangunan Orde Baru.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 23.

Memasuki awal 1970-an, tema gerakan mahasiswa mulai berubah. Mereka terpengaruh gagasan intelektual seperti Mahbub ul-Haq dan Andre Gunder Frank, yang menyoroti ketimpangan pembangunan. Kritik mahasiswa tidak lagi sekadar koreksi, tapi menantang strategi pembangunan Orde Baru. Mereka menilai industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi justru memperlebar kesenjangan: antara kaya dan miskin, kota dan desa, serta sektor modern dan tradisional.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 23-24.

Sejak 1973, kritik mahasiswa makin keras, terutama ketika Ketua IGGI (Inter Governmental Group in Indonesia), J.P. Pronk, berkunjung ke Jakarta. Selain menyoroti strategi pembangunan, mahasiswa juga mengkritik posisi “Aspri” (Asisten Pribadi Presiden), kekayaan pejabat, Pertamina, korupsi, hukum, keadilan, dan HAM.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 24.

Tema baru ini berhasil menyatukan hampir semua organisasi mahasiswa. Pada 11 Januari 1974, 85 delegasi dari 35 Dewan Mahasiswa diterima Presiden Soeharto, tetapi hasilnya mengecewakan. Aksi pun berlanjut, dan puncaknya terjadi pada 15 Januari 1974 saat kunjungan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka. Mahasiswa melakukan long march dari UI ke Trisakti, sementara massa di Jakarta merusak gedung dan membakar mobil Jepang. Peristiwa ini dikenal sebagai Malari (Malapetaka 15 Januari).

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 24-25.

Dampaknya sangat besar, sehingga pemerintah membubarkan semua Dewan Mahasiswa, menangkap 143 mahasiswa—kemudian bertambah menjadi 300 mahasiswa. Juga menangkap kaum intelektual dan beberapa anggota DPR, serta menutup tujuh surat kabar.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 25.

Meski begitu, Soeharto melakukan tindakan korektif dengan cara membubarkan lembaga Aspri dan mengganti sejumlah pejabat. Namun untuk melemahkan gerakan mahasiswa, Menteri Pendidikan Syarif Thayib mengeluarkan SK 018/1974.

Sejak Malari, gerakan mahasiswa meredup. Banyak yang kembali ke kampus dan menjauh dari politik. Namun, ide tentang pembangunan alternatif tetap berkembang di kalangan intelektual. Menjelang Pemilu 1977 dan Pilpres 1978, mahasiswa kembali bergerak. Mereka menyebut diri mereka sebagai “resi”, tokoh rohani yang tidak mencari kepentingan pribadi dan duniawi. Kelak, istilah ini dikritik oleh mereka sendiri.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 26.

Setelah Pemilu 1977, gerakan mahasiswa makin kuat. Mereka tidak hanya menuntut soal strategi pembangunan dan keadilan sosial, tapi juga menuntut Soeharto mundur dan tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 27.

Gerakan mahasiswa periode 1977/1978 tidak ditujukan untuk menggerakkan massa besar, tetapi lebih diarahkan kepada elite politik yang dianggap mampu menciptakan perubahan. Karena itu, gerakan ini disebut sebagai gerakan “resi”, yaitu gerakan moral tanpa kepentingan pribadi atau duniawi.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 27-28.

Namun, lagi-lagi mahasiswa harus berhadapan dengan militer. Ketika aksi mereka memuncak, ribuan tentara menduduki kampus dengan kekerasan, mengusir civitas academica, menangkap, dan mengadili tokoh-tokoh mahasiswa.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 28.

Untuk mencegah kebangkitan kembali, Daoed Joesoef (dari CSIS) diangkat sebagai Menteri Pendidikan. Ia mengeluarkan aturan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang membuat mahasiswa hampir tidak bisa bergerak. Semua kegiatan harus seizin rektor, dan ancaman di-drop out lebih ditakuti mahasiswa daripada ditangkap militer. Sejak saat itu, gerakan mahasiswa politik benar-benar lumpuh.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 28-29.


Penutup

Sejarah menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak pernah lahir begitu saja. Gerakan ini selalu terkait konflik internal militer. Misalnya, aktivis 1966 dekat dengan faksi Jenderal Nasution untuk melawan PKI dan Soekarno. Pada akhir 1960-an hingga Malari 1974, mahasiswa juga mendapat simpati dari Jenderal Soemitro. Selain itu, ada juga pengaruh dari intelektual seperti Ismail Sunny, Mahbub Djunaedi, dan Adnan Buyung Nasution.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 29-30.

Dengan demikian, kekuatan mahasiswa sebenarnya lebih seperti alat siap pakai (ready for use) ketimbang kekuatan yang punya dasar perjuangan, strategi, dan ideologi yang jelas. Karena lemahnya fondasi ide dan kontinuitas antar-generasi, gerakan mahasiswa mudah dipatahkan. Setiap kali muncul, mereka harus memulai lagi dari awal.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 30.


MEMBENTUK KESADARAN EKSISTENSIAL PEMUDA DAN MAHASISWA

Suatu siang, saya bertemu seorang teman lama, mantan mahasiswa FIS-UI, yang kini mengabdikan diri pada rakyat kecil. Saya ajak dia makan di warung murah dan bersih, semacam cabang Kentucky di Slipi. Awalnya dia biasa saja, tapi saat mau makan, dia tersenyum lalu menyindir: “Ini gaya hidup yang mengandung dosa sosial.” Sindiran itu membuat saya kaget. Dari warung makan itu, dia sudah menunjukkan jarak pandangan dan sikap sosial antara dia dan saya. Menurut dia, kalau mau berpihak pada rakyat kecil, harus benar-benar total. Artinya, seseorang harus hidup sebagai bagian dari rakyat kecil itu sendiri. Kalau tidak, bagaimana bisa membela mereka secara konsisten? Sampai sekarang, dia tetap teguh pada pandangan itu.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 31.

Menurut dia, saya bukan lagi bagian dari "rakyat." Begitu juga orang-orang yang punya mobil, entah mobil sederhana atau mewah. Katanya, orang-orang itu secara halus sudah merampas hak rakyat kecil. Mereka dianggap membuang-buang uang, padahal bagi rakyat kecil uang itu sangat berharga.

Sebagai bukti sikapnya, dia pernah menolak tawaran naik pesawat dari Yogyakarta ke Jakarta. Karena alasan yang sama, dia juga mengecam rencana saya pergi ke luar negeri. Baginya, ke luar negeri adalah bentuk hidup mewah.

“Lalu apa alternatifnya?” dia menjawab singkat: “Jangan ke Singapura. Jangan ke Jepang. Jangan ke Amerika. Jangan ke mana pun. Itulah alternatif terbaik.”

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 31-32.

Meskipun cara berpikirnya terdengar ekstrem, sikap itu bisa membantu kita memahami posisi generasi muda dan mahasiswa, baik di Indonesia maupun di negara berkembang lainnya. Kritiknya menyadarkan bahwa mahasiswa adalah elite generasi muda, yang punya peran penting dalam pembangunan bangsa.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 32.

Pertanyaannya, apakah pilihan hidup kita sebagai mahasiswa muncul dari diri kita sendiri, atau ditentukan oleh struktur sosial, budaya, dan ekonomi di sekitar kita? Jika dipermudah: Mengapa kita memilih menjadi mahasiswa, bukan petani atau pekerjaan lain?

Pertanyaan ini penting untuk menyingkap alasan terdalam mengapa kita memilih jalur mahasiswa. Jawabannya bisa macam-macam, dari yang idealis hingga sangat praktis. Tapi satu hal jelas: pilihan menjadi mahasiswa biasanya didorong oleh janji-janji sosial dan ekonomi. Dengan menjadi mahasiswa, kita membuka jalan menuju gelar sarjana. Dengan gelar itu, peluang ekonomi, karier, status sosial, dan kehormatan lebih terbuka dibanding mereka yang tidak kuliah. Singkatnya, pendidikan tinggi menjadi alat utama untuk mempercepat mobilitas ke atas, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 33.

Secara sosiologis, begitu kita lulus kuliah, kita langsung masuk ke kelompok baru: lulusan universitas. Di negara berkembang seperti Indonesia yang mayoritas masih agraris, posisi ini membuat kita jadi kelompok istimewa. Sebab, hanya sedikit pemuda yang bisa kuliah, sementara lulusan universitas biasanya mendapat peran penting dalam masyarakat. Itulah sebabnya kita sering dianggap sebagai elite bangsa atau “anak terbaik negeri.”

Tapi, posisi istimewa ini menimbulkan pertanyaan: apakah kita masih bisa berhubungan dengan akar sosial kita? Misalnya, apakah kita masih bisa berdialog dengan orang sekampung yang tidak sekolah, atau dengan tukang becak? Pertanyaan ini menekankan bahwa pilihan menjadi mahasiswa dan sarjana biasanya bias kota (urban biased).

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 34.

Kota sendiri adalah fenomena baru di Indonesia. Kehadirannya lahir dari sistem kapitalisme Barat sejak masa VOC di Batavia. Kota berfungsi sebagai pusat pemerintahan, terutama sebagai pusat perdagangan dan administrasi. Sistem kolonial Belanda memperkuat peran kota dibanding desa, mulai dari Cultuurstelsel (tanam paksa) hingga industrialisasi.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 35.

Namun, kapitalisme di Indonesia hanyalah kapitalisme pinggiran (peripheral capitalism), yang selalu terkait dengan sistem ekonomi internasional. Karena itu, kota menjadi perpanjangan tangan kapitalisme global. Ia memberi peran khusus bagi orang terdidik, tapi juga tetap bergantung pada modal asing. Pembangunan kota—jalan, gedung, dan fasilitas lain—didesain untuk memperlancar arus modal internasional.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 35-36.

Itulah sebabnya, pilihan bawah sadar kita untuk menjadi mahasiswa tidak lepas dari kondisi struktural ini. Fenomena ini umum terjadi di banyak negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 36.

Masalahnya, karena posisi istimewa kita sebagai mahasiswa dan calon sarjana, tanpa sadar kita ikut mendukung jalannya modal internasional di negara kita. Buktinya, banyak lulusan muda yang ingin bekerja di perusahaan asing atau gabungan asing-lokal, bahkan juga para birokrat yang membuat aturan seperti UUPA, izin, dan lisensi usaha, yang justru memberi ruang luas bagi modal asing. Akibatnya, generasi muda yang disebut “anak-anak bangsa terbaik” berisiko hanya menjadi bagian kecil dari mesin kapitalisme internasional.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 37.

Menurut saya, inilah tantangan besar yang harus dihadapi mahasiswa di negara berkembang. Sebab, sebagai orang terdidik, kita otomatis akan menempati posisi penting dalam masyarakat yang mayoritas belum berpendidikan. Posisi ini sangat krusial. Kalau kita gagal memahami peran kita dalam perubahan besar yang dikendalikan oleh kekuatan luar, kita juga akan gagal memahami aspirasi rakyat ketika nanti menjadi pemimpin. Akibatnya, kita bisa jadi terasing dari masyarakat sendiri. Karena itu, kritik yang menyebut mahasiswa hanya jadi alat kapitalisme cukup relevan.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 37-38.

Namun, jangan disalahartikan bahwa menjadi mahasiswa itu salah. Betapapun radikal pandangan seseorang, pengetahuan modern tetap penting dan harus dikuasai. Tanpa pengetahuan, kita justru akan terpinggirkan. Yang penting, sejak dini kita perlu punya kesadaran sebagai manusia seutuhnya. Dengan kesadaran ini, kita tidak hanya menjadi roda kecil bagi modal asing, tapi juga bisa memahami kebutuhan rakyat. Dengan begitu, kebijakan pembangunan yang kelak kita buat lebih berpihak pada rakyat banyak, bukan hanya pada segelintir pemilik modal.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 38.


Daftar Isi:

  1. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 3: Sebuah Pengantar
  2. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 4: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
  3. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 5
Share:

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 03: Dunia Mahasiswa Setelah Kemerdekaan

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Mahasiswa setelah kemerdekaan kurang tertarik pada politik. Di luar kuliah, mereka lebih banyak ikut olahraga, seni, dan kegiatan rekreatif lain. Situasi politik saat itu juga tidak mendukung. Sistem Demokrasi Parlementer dikuasai oleh “oligarki partai”, yaitu partai lebih bergantung pada tokoh pemimpinnya daripada menjadi sebuah organisasi sosial yang mempunyai program yang terencana.

***


Dunia Mahasiswa

Setelah Kemerdekaan

Walaupun Belanda dan Jepang sudah pergi dari Indonesia, pengaruh mereka masih terasa dalam pendidikan dan politik, terutama Belanda. Karena itu, ketika Indonesia berusaha menasionalisasi pendidikan tinggi, banyak kesulitan muncul. Misalnya, sejak 1955 para intelektual Indonesia memang sudah mengelola kampus, tapi universitas yang dinasionalisasi tetap mirip lembaga Belanda. Contohnya, mahasiswa UGM yang pindah ke Universitas Indonesia (UI) kesulitan karena tidak bisa bahasa Belanda. Akhirnya, dosen-dosen Belanda diganti orang Indonesia. Bahasa pengantar juga mulai diganti dari Belanda ke Inggris.

Mahasiswa sebelum kemerdekaan cenderung sangat peduli politik karena hidup di masa kolonial dan terinspirasi semangat perjuangan. Sebaliknya, mahasiswa setelah kemerdekaan kurang tertarik pada politik. Di luar kuliah, mereka lebih banyak ikut olahraga, seni, dan kegiatan rekreatif lain. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang tertarik politik, biasanya mereka mencari beasiswa ke Barat (Belanda, Amerika, Eropa). Beberapa pemimpin mahasiswa (UI & UGM) aktif ikut konferensi internasional, tapi secara umum partisipasi politik mahasiswa sangat minim.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara", Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985, hlm. 12.

Hal ini bisa dimengerti. Pada masa Demokrasi Parlementer, mahasiswa melihat pendidikan lebih sebagai jalan untuk memperbaiki ekonomi dan mendapat pekerjaan. Data menunjukkan 85% lulusan perguruan tinggi bekerja di kantor pemerintahan.

Situasi politik saat itu juga tidak mendukung. Sistem Demokrasi Parlementer dikuasai oleh “oligarki partai”, yaitu partai lebih bergantung pada tokoh pemimpinnya daripada menjadi sebuah organisasi sosial yang mempunyai program yang terencana. Dalam dunia partai yang oligarkis, para pemimpin partai-partai tertentu dapat dengan leluasa bergantian memimpin kabinet. Akibatnya, kabinet sering jatuh-bangun.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 13.

Jadi, kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam politik bukan hanya karena mereka sendiri lebih suka kegiatan rekreatif, tetapi juga karena sistem politik tidak memberi ruang. Selain mahasiswa, ABRI juga tidak diberi kesempatan politik. Kedua kelompok ini, bersama peran pribadi Soekarno, nantinya mendorong lahirnya Demokrasi Terpimpin.

Di masa Demokrasi Parlementer, masyarakat terbagi ke dalam dua kelompok besar (cleavage): abangan (diwakili PNI dan PKI) dan santri (diwakili Masyumi di kota dan NU di desa).

Bagi kalangan mahasiswa, perbedaan sosial terlihat dari lahirnya berbagai organisasi. Misalnya, pada 1947 di Yogyakarta berdiri HMI yang dekat dengan Masyumi. Lalu muncul PMII (terkait NU), SEMNI (terkait Partai SII), GERMAHI (terkait PERTI), dan IMM (terkait Muhammadiyah). Organisasi-organisasi Islam ini muncul karena khawatir terhadap penyebaran gagasan sekuler dan propaganda anti-agama dari PKI.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 14.

Dari kelompok Kristen lahir GMKI dan PMKRI. Sementara itu, mahasiswa nasionalis mendirikan GMNI, organisasi underbouw PNI yang bertujuan menjaga tradisi Indonesia dari arus westernisasi. PKI pun memiliki organisasi mahasiswa, yakni CGMI, yang dipakai untuk menyebarkan ide komunisme. Banyak lulusan dari Cina, Uni Soviet, dan Eropa Timur juga memanfaatkan CGMI untuk mendapat tempat di universitas.

Mahasiswa dari organisasi-organisasi tersebut nantinya berperan penting dalam perubahan politik Indonesia, terutama setelah kegagalan kudeta PKI di akhir masa Demokrasi Terpimpin, yang membuka jalan menuju Orde Baru.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 15.

Berbeda dengan Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin memberi ruang baru bagi ABRI. Jika dulu mereka terlihat pasif dalam politik, sejak keadaan darurat diumumkan Maret 1957, Angkatan Darat berhasil memperluas peran politiknya dan membentuk kepemimpinan yang solid. Saat itu Jenderal Nasution memperkenalkan konsep “dwifungsi ABRI” sebagai kekuatan militer sekaligus sosial-politik.

Namun periode ini—pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap, pertama kali Indonesia mengadakan pemilu—juga diwarnai pertentangan ideologi, misalnya antara kelompok santri dan abangan. Perpecahan itu makin terasa karena setiap kelompok dikaitkan dengan partai dan ideologi tertentu. ABRI pun ikut terlibat dalam konflik ideologi ini.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 16.

Sementara itu, Soekarno berusaha menjadi penengah, tetapi tidak memiliki basis massa yang benar-benar solid. Walaupun ada Barisan Soekarno, kelompok ini tetap terpecah karena kelompok ini tidak mewakili ideologi yang dikembangkan Soekarno, melainkan sudah terbagi ke dalam pengaruh ideologi dan partai politik tertentu.

Dalam kondisi seperti itulah, PKI mencoba melakukan kudeta. Peristiwa tersebut menjadi pemicu lahirnya gerakan mahasiswa Angkatan 66 yang kelak mengguncang politik Indonesia.


KAMI dan Transformasi Politik Indonesia

Walaupun Soekarno gagal menyatukan berbagai pertentangan ideologi di masa Demokrasi Terpimpin, ia tetap dihormati sebagai “Pemimpin Besar Revolusi”. Konsep Nasakom yang ia usung tampak kuat, tapi sebenarnya rapuh, sehingga konflik ideologi makin tajam.

ABRI yang mulai solid dalam politik menggandeng mahasiswa sebagai mitra—dalam upaya mengatasi pertentangan ideologi. Pada 1957 dibentuk Badan Kerja Sama Pemuda Militer, yang menandai awal keterlibatan mahasiswa sebagai kekuatan non-partai dalam politik nasional. Namun, karena pengaruh besar Soekarno, gagasan ini tidak berjalan. Justru terjadi polarisasi antara PKI di satu sisi dan ABRI di sisi lain, yang akhirnya memuncak dalam kudeta PKI.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 17.

Setelah kudeta, ABRI tidak bisa menawarkan ideologi baru, hanya bisa menjelaskan bahaya PKI. Sementara mahasiswa yang sudah terbentuk sikap politiknya melalui kondisi sosial-ekonomi pada masa Demokrasi Terpimpin, mulai aktif demonstrasi. Mereka menganggap PKI musuh utama, Cina ancaman nasional, dan pemerintah penuh korupsi. Demonstrasi ini berhasil mengubah opini publik dan melahirkan media massa anti-komunis.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 18.

Militer tidak melarang demonstrasi, walaupun dukungannya belum bulat karena ABRI sendiri masih terpecah*. Mahasiswa lalu membentuk KAMI (25 Oktober 1966) dengan dukungan sebagian partai politik. Meski awalnya sulit menyatukan satu pandangan—karena anggota KAMI dari berbagai macam organisasi—mereka akhirnya sepakat pada “Tiga Tuntutan Rakyat” (Tritura): bubarkan PKI, rombak kabinet, dan turunkan harga bahan pokok. Keputusan mahasiswa membentuk KAMI tanpa jaminan dukungan militer adalah langkah berani—karena jika ABRI di sisi Soekarno, gerakan mahasiswa akan runtuh–karena ketiadaan ideologi yang jelas—tapi akhirnya mereka mendapat dukungan ABRI, yang kemudian bekerja sama membuat rezim Soekarno jatuh.

*Dukungan ABRI kepada mahasiswa mulanya berasal dari individu angkatan bersenjata, bukan sebagai korp yang memiliki kekuatan.
Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 19-20.

Bagi pelaku politik 1966: ABRI dan mahasiswa, peristiwa itu meninggalkan dampak berbeda. Bagi ABRI, 1966 adalah peristiwa terakhir yang tidak boleh terulang. Melalui Supersemar, ABRI naik ke puncak kekuasaan. Untuk mencegah peristiwa serupa, mereka menegaskan tafsir tunggal UUD 1945 dan Pancasila. Orde Baru juga menghentikan pertentangan ideologi seperti di masa Demokrasi Terpimpin, diganti dengan konsep depolitisasi.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 20-21.

Depolitisasi ini menggantikan berbagai ideologi lama dengan satu tujuan: pembangunan. Prinsip yang dijalankan bukan lagi perbedaan gagasan, melainkan prioritas pembangunan dengan stabilitas nasional sebagai syarat utamanya. Untuk itu, ABRI berkoalisi dengan teknokrat lulusan Barat yang apolitis. Pilihan ini dimaksudkan agar ABRI tetap bisa mendominasi politik dalam negeri. Ideologi dwifungsi ABRI menjadi legitimasi untuk memperkuat peran itu.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 21.

Sementara itu, mahasiswa dan pemuda awalnya menganggap Orde Baru sebagai sekutu, seperti pada 1966. Namun, dua tahun kemudian pandangan itu berubah. Generasi mahasiswa baru muncul dan melihat Orde Baru sebagai rezim yang tidak lagi punya semangat perjuangan seperti saat melawan Soekarno. Generasi 1966 tetap berpegang pada semboyan “Keadilan, Hak Asasi, dan Kebebasan”, tetapi sikap Orde Baru pada Pemilu 1971 justru membuat mereka kecewa.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 21-22.


Daftar Isi:

  1. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 2: Sebuah Pengantar
  2. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 3: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
  3. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 4: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
Share:

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 02: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Gerakan pemuda dan peranannya dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia adalah fenomena khas abad ke-20. Meski bukan hal yang unik—karena hal serupa juga terjadi di negara-negara lain, terutama di Asia—namun di Indonesia gerakan pemuda berhasil mengguncang tradisi lama. Dalam masyarakat agraris-tradisional, orang tua biasanya selalu menempati posisi paling penting. Karena itu, jarang sekali anak muda bisa berada di pusat perubahan sosial-politik. Tetapi generasi muda Indonesia tahun 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1977/1978 berhasil meruntuhkan tradisi itu.


POLITIK DAN GERAKAN MAHASISWA: SUATU TINJAUAN SEJARAH
(ditulis bersama Bachtiar Efendi)

Perubahan ini terjadi karena banyak faktor. Di abad ke-20, Indonesia mengalami perubahan besar, seperti pembaruan pendidikan, munculnya industrialisasi, urbanisasi, dan sebagainya. Semua perubahan itu melahirkan iklim politik baru, meski saat itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara", Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985, hlm. 3.

Gerakan pemuda ternyata tidak mewakili semua lapisan pemuda. Sejarah mencatat, gerakan-gerakan itu umumnya dipimpin oleh elite pemuda dari kalangan menengah ke atas, terutama mahasiswa atau kelompok terdidik.

Karena itu, tulisan ini akan menelaah peran dan kepeloporan mahasiswa Indonesia pada periode tertentu. Generasi mahasiswa sebelum 1945 tidak dibahas secara mendalam karena mereka menghadapi sistem yang bukan buatan elite politik Indonesia. Meski begitu, gerakan mereka tetap akan disinggung sekilas sebagai latar untuk memahami peran mahasiswa setelah kemerdekaan, khususnya angkatan ’66. Sebab kelompok inilah yang paling besar pengaruhnya dalam mengubah pemerintahan, dan terbukti menjadi ujung tombak perjuangan mahasiswa.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 4.

Kedua, alasan membahas gerakan mahasiswa angkatan ’66 adalah karena melalui organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), mereka berhasil menjadi tonggak penting yang mengubah sistem dan struktur politik Indonesia, negara berpenduduk terbesar kelima di dunia yang merdeka pada 1945. Ketiga, perjuangan angkatan ’66 menarik untuk ditelusuri karena dilatarbelakangi oleh percobaan kudeta PKI pada 30 September 1965.

Tulisan ini merupakan kajian awal untuk menjelaskan dan menganalisis kegiatan politik mahasiswa Indonesia, khususnya yang tergabung dalam KAMI, dalam konteks sejarah dan kehidupan sosial-politik.


Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis

Sebelum Indonesia merdeka, jumlah mahasiswa pribumi sangat sedikit dibandingkan mahasiswa Eropa dan Cina. Belanda sendiri baru mulai mendirikan institusi pendidikan tinggi pada 1920-an. Yang pertama adalah Sekolah Tinggi Teknik di Bandung tahun 1919, dengan 28 mahasiswa, hanya 2 di antaranya orang Indonesia.

Setelah itu, muncul lembaga pendidikan tinggi lain: Pendidikan Hukum pada 1924 dan Pendidikan Kedokteran pada 1927.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 5.

Kedua lembaga pendidikan itu didirikan di Batavia. Lalu pada 1940, berdirilah Fakultas Sastra dan Filsafat di Jakarta, yang sudah lama dinantikan. Setahun kemudian, sebelum lembaga-lembaga pendidikan tinggi itu berubah menjadi fakultas, didirikan Fakultas Pertanian di Jakarta, yang kemudian dipindahkan ke Bogor.

Hingga menjelang Perang Dunia II, mahasiswa Indonesia masih menjadi minoritas. Sebagian besar mahasiswa adalah orang Eropa dan keturunan Cina, sementara para pengajar hampir semuanya orang Belanda.

Jumlah mahasiswa Indonesia yang sedikit dapat dipahami jika melihat "politik elite" Belanda dalam bidang pendidikan. Tujuan Belanda saat itu adalah menjadikan pendidikan sebagai bagian dari politik etis sejak awal abad ke-20, sekaligus menyiapkan tenaga ahli lokal untuk mendukung ekonomi kolonial. Strategi ini kemudian dikembangkan melalui pendidikan tinggi pada 1920-an.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 6.

Mahasiswa Indonesia sadar bahwa mereka adalah minoritas dalam sistem pendidikan kolonial. Hal ini membuat mereka lebih solid secara politik dan peduli pada nasib rakyat Indonesia. Mereka merasakan betul kerugian yang ditimbulkan oleh kolonialisme Belanda. Di kota-kota, di mana Belanda mendominasi, pemuda Indonesia menghadapi diskriminasi. Pribumi dipandang rendah, disebut inlanders, tinggal di pinggiran, dan dianggap kelompok inferior.

Kesadaran itu membuat pendidikan Belanda menjadi paradoks. Pendidikan yang awalnya bagian dari politik etis justru melahirkan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Seperti halnya di Prancis, meski masih minoritas, mahasiswa Indonesia memiliki semangat noblesse oblige—tanggung jawab moral untuk memperjuangkan rakyat. Menurut Frantz Fanon, hal ini juga merupakan fenomena umum di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 7.

Meski jumlahnya sedikit, mahasiswa Indonesia aktif dalam berbagai organisasi dan kelompok diskusi. Mereka melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah kolonial, baik lewat forum resmi maupun media massa. Isu yang mereka angkat antara lain penindasan terhadap pribumi, hambatan dari elite lokal terhadap kemajuan, serta ajakan untuk merencanakan masyarakat merdeka.

Perjuangan ini dilakukan bukan hanya oleh mahasiswa di Indonesia, tetapi juga oleh mereka yang belajar di luar negeri, terutama di Belanda. Pada awal 1920-an, mahasiswa Indonesia di Belanda membentuk Perhimpunan Indonesia. Organisasi ini, yang diketuai Muhammad Hatta, bahkan menyerang Belanda dalam pertemuan Liga Anti Kolonialisme dan Imperialisme di Brussels tahun 1927.

Ciri utama mahasiswa sebelum Indonesia merdeka adalah fokus pada satu hal: memperjuangkan kemerdekaan. Gerakan mahasiswa seperti tahun 1966, Malari 1974, dan protes 1977/1978 belum ada. Meski berbeda zaman, semua gerakan mahasiswa memiliki semangat yang sama, yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat. Menurut Burhan D. Magenda, semangat itu lahir dari etika noblesse oblige—tanggung jawab moral mahasiswa untuk membela rakyat.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 8.

Etika ini semakin nyata setelah Belanda pergi dan Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Walau membawa banyak kerugian, Jepang memberi ruang lebih besar bagi mahasiswa dan intelektual Indonesia untuk menempati posisi penting. Misalnya, profesor Belanda diganti dengan intelektual Indonesia, dan bahasa pengantar pendidikan diubah dari Belanda ke bahasa Indonesia.

Perubahan ini sangat menentukan karena memperkuat identitas nasional mahasiswa. Sejalan dengan asumsi bahwa pendidikan bagi rakyat tertindas menyimpan kontradiksi, semangat mahasiswa untuk melawan imperialisme justru makin berkembang.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 9.

Meski ada perubahan, mahasiswa pribumi tetap menjadi minoritas dibanding mahasiswa Eropa, Cina, dan golongan lain, dengan perbandingan sekitar 2:1. Pada masa pendudukan Jepang, jumlah mahasiswa pribumi hanya sekitar 637 orang. Ketimpangan ini makin terasa karena peluang kerja setelah lulus sangat terbatas. Pemerintah kolonial lebih memilih lulusan Eropa, sehingga sekitar 25% mahasiswa pribumi menganggur. Di bidang tertentu, seperti hukum, angka pengangguran bahkan mencapai 50%.

Kondisi ini membuat keinginan mahasiswa pribumi untuk memperjuangkan kemerdekaan semakin nyata. Bagi mereka, kemerdekaan berarti keadilan, perbaikan hidup, dan kedaulatan di tangan bangsa sendiri.

Bangsa Indonesia mengalami dua periode kolonialisme, Belanda dan Jepang. Keduanya meninggalkan persoalan penting dalam dunia pendidikan: sempitnya peluang mobilitas sosial bagi lulusan universitas, terutama pribumi. Hanya sedikit yang berhasil naik, biasanya dari kalangan aristokrat atau priyayi. Sementara itu, kelompok lain yang kalah dalam sistem paternalistik berusaha menandingi elite pro-Barat dengan membangun lembaga pendidikan swasta seperti Taman Siswa dan Perguruan Muhammadiyah.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 10.

Fenomena ini memberi warna baru dalam perjuangan kemerdekaan. Gerakan mahasiswa pribumi tidak lagi sekadar abstrak, tetapi diarahkan pada tuntutan keadilan dan perlawanan terhadap elitisme pendidikan.

Ketika kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta, banyak intelektual lain dari kalangan mahasiswa turut bergabung dalam kepemimpinan nasional, seperti Mr. Mohammad Roem dan Mr. Kasman Singodimejo. Sejarah pun mencatat mahasiswa pribumi sebagai ujung tombak perjuangan menuju kemerdekaan.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. 11.


Daftar Isi:

  1. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 1: Sebuah Pengantar
  2. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 2: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
  3. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 3: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
Share:

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 01: Sebuah Pengantar

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Mahasiswa, sistem politik, dan negara adalah tiga hal yang berbeda. Mahasiswa adalah kelompok anak muda terpelajar yang berkesempatan kuliah di perguruan tinggi. Di dunia ini muncul etos dan pola hubungan sosial yang khas.

Sistem politik berbeda lagi. Ia adalah aturan dan mekanisme yang mengatur interaksi kekuasaan, aktor politik, kelompok masyarakat, serta lembaga-lembaga resmi maupun tidak resmi dalam kehidupan berbangsa.

Sementara itu, negara adalah lembaga tertinggi yang berdiri di tengah masyarakat. Negara memiliki kewenangan sah dari masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan bersama. Karena itu, negara bersifat paling otonom, terutama dalam mewakili masyarakat saat berhubungan dengan negara lain.

Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Identitas Buku

  • Judul Buku: Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara
  • Pengarang: Fachry Ali
  • Penerbit: Inti Sarana Aksara
  • Tanggal Terbit: 1985
  • ISBN: -
  • Tebal Halaman: xvi+156
  • Lebar:
  • Panjang:


MAHASISWA, SISTEM POLITIK DI INDONESIA DAN NEGARA

oleh Fachry Ali

Desain sampul oleh Rony Kaloke

Penata Letak oleh Sarwoko

Jakarta, 1985—Cetakan Pertama


Daftar Isi "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara"

Sekapur Sirih (vii)

Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara

  • Sebuah Pengantar (ix)

Bagian Pertama: Gerakan Mahasiswa, Politik dan Pendidikan

  • Politik dan Gerakan Mahasiswa: Suatu Tinjauan Sejarah (3)
  • Membentuk Kesadaran Eksistensial Pemuda dan Mahasiswa (31)
  • Sistem Pendidikan Indonesia dalam Kaitan Global (39)

Bagian Kedua: Pembangunan dan Sistem Politik

  • Dilema dan Pilihan-pilihan dalam Pembangunan (79)
  • Pembangunan, Politik dan Alienasi di Indonesia (93)
  • Sistem Politik dan Dunia Kepartaian di Indonesia (111)

Bagian Ketiga: Posisi Negara dan Proses Pembentukan Sosial

  • Pengantar tentang "Kapitalisme Pinggiran" (127)
  • Negara dan Bentuk-bentuk Formasi Sosial di Indonesia (137)

Riwayat Hidup


SEKAPUR SIRIH

Hal yang paling pantas diberikan pada buku ini adalah kritik. Buku ini mencoba membahas isu-isu penting yang sering dianggap krusial: gerakan politik mahasiswa, pendidikan, sistem politik, negara, dan proses pembentukan sosial. Karena itu, buku ini lebih tepat dipandang sebagai pengantar untuk membuka diskusi umum dengan pembaca yang luas. Harapannya, dari sini bisa muncul perdebatan sehat di kalangan mahasiswa maupun masyarakat, sesuatu yang selama ini kita rindukan.

Isi buku ini berasal dari beberapa makalah yang pernah disampaikan dalam forum diskusi, namun belum pernah dipublikasikan secara luas, hanya di kalangan terbatas. Meski dibuat terpisah, karena dilandasi kesadaran yang sama, pembahasan-pembahasan di dalamnya tetap konsisten.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Inti Sarana Aksara yang telah bekerja sama menerbitkan buku ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.


Jakarta, 7 Juni 1985

Fachry Ali


MAHASISWA, SISTEM POLITIK INDONESIA DAN NEGARA

Sebuah Pengantar

Mahasiswa, sistem politik, dan negara adalah tiga hal yang berbeda. Mahasiswa adalah kelompok anak muda terpelajar yang berkesempatan kuliah di perguruan tinggi. Di dunia ini muncul etos dan pola hubungan sosial yang khas.

Sistem politik berbeda lagi. Ia adalah aturan dan mekanisme yang mengatur interaksi kekuasaan, aktor politik, kelompok masyarakat, serta lembaga-lembaga resmi maupun tidak resmi dalam kehidupan berbangsa.

Sementara itu, negara adalah lembaga tertinggi (supra-institusi) yang berdiri di tengah masyarakat. Negara memiliki kewenangan sah dari masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan bersama. Karena itu, negara bersifat paling otonom, terutama dalam mewakili masyarakat saat berhubungan dengan negara lain.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara", Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985, hlm. ix.

Kalau mahasiswa, sistem politik, dan negara dilihat hanya sebagai hal yang terpisah, maka kita tidak akan bisa menjelaskan naik turunnya gerakan mahasiswa, perubahan politik, dan perkembangan suatu negara, terutama di negara-negara Dunia Ketiga.

Gerakan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh sistem politik. Jika sistem politik longgar, gerakan mahasiswa, khususnya politik, akan lebih berkembang. Sebaliknya, jika sistem politik ketat, gerakan mahasiswa cenderung melemah. Jadi, hubungan mahasiswa dan sistem politik sangat erat.

Namun, sistem politik sendiri ditentukan oleh karakter negara. Dalam masyarakat pluralis, negara dianggap terbuka sehingga semua orang bisa masuk dalam arena kekuasaan. Karena itu, negara tidak terlalu dominan dan biasanya sistem demokrasi liberal berkembang, membuat gerakan mahasiswa lebih bebas.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. x.

Sebaliknya, dalam masyarakat integralis (umumnya negara baru merdeka), negara sangat dominan dan menguasai hampir semua proses politik. Akibatnya, lembaga-lembaga resmi seperti DPR, MPR, pers, atau partai politik tidak berfungsi maksimal. Negara mengambil alih peran mereka, sehingga kekuatan negara jauh lebih besar daripada kekuatan masyarakat. Kondisi ini membuat sistem politik menjadi ketat—lebih menekankan aturan yang kaku daripada proses dan refleksi politik dari masyarakat.

Dengan demikian, penekanan berlebihan pada aturan politik yang kaku—dalam konteks Indonesia dikenal sebagai "stabilitas politik dan keamanan"—membatasi ruang bagi perkembangan politik yang sehat. Akibatnya, sistem politik gagal menjadi reflektif, malah cenderung integralis, yaitu menyatukan dan menyeragamkan semua unsur masyarakat di bawah kendali negara. Dalam sistem seperti ini, negara memegang kekuasaan paling besar.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xi.

Dampaknya, gerakan rakyat, kelompok masyarakat, maupun kekuatan di luar negara jadi mandek. Mereka tidak mampu menyampaikan aspirasi politiknya untuk memengaruhi keputusan di tingkat nasional. Dengan kata lain, kekuatan non-negara hanya jadi kekuatan pinggiran.

Salah satunya adalah mahasiswa. Gerakan mahasiswa biasanya bangkit ketika negara sedang lemah. Misalnya pada 1965–1968, saat negara goyah. Walau sistem politik sudah cukup ketat, masih ada ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Kondisi itu semakin terbuka karena militer Angkatan Darat—setelah jatuhnya Soekarno dan PKI—menginginkan perubahan politik. Kehendak militer ini sejalan dengan aspirasi teknokrat dan mahasiswa. Karena itu, gerakan mahasiswa saat itu mendapat dukungan, baik terbuka maupun terselubung, dari Angkatan Darat.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xii.

Setelah runtuhnya Orde Lama dan lahirnya Orde Baru, negara menjadi semakin kuat. Hal ini karena kebijakan utama yang dijalankan adalah politik pembangunan, yaitu pengumpulan kekuasaan ekonomi, politik, dan pertahanan di tangan negara. Logikanya, pada masa Orde Lama pembangunan gagal, terlihat dari kemiskinan massal di kota dan desa, hancurnya infrastruktur ekonomi, utang yang menumpuk, serta rusaknya sarana transportasi, komunikasi, dan modernisasi.

Penyebab utama kegagalan itu adalah lemahnya negara di hadapan masyarakat. Banyak partai politik dengan kepentingan berbeda, konflik politik tinggi di kota dan desa, serta birokrasi yang tidak berjalan karena birokrat lebih mementingkan partainya masing-masing. Inilah yang membuat pembangunan tidak bisa terlaksana.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xiii.

Belajar dari kegagalan Orde Lama, Orde Baru membangun kekuatan negara untuk melaksanakan "pembangunan". Namun, kekuatan itu tidak didukung oleh massa rakyat, melainkan oleh aktor-aktor internasional. Dari mereka, negara mendapat modal, keahlian, keterampilan, dan teknologi yang dibutuhkan. Dengan bantuan itu, negara memperkuat legitimasi dan kekuasaan politik-ekonominya di dalam negeri.

Artinya, pembangunan Orde Baru sebenarnya lahir dari kerja sama antara negara dan kekuatan internasional, bukan dari hubungan negara dengan masyarakat. Untuk menjalankan pembangunan, Orde Baru menciptakan sistem politik integralis yang menekankan aturan-aturan ketat demi terciptanya stabilitas politik dan keamanan. Stabilitas inilah yang dianggap syarat utama bagi pembangunan.

Perkembangan politik Orde Baru membuat negara menjadi sangat kuat dan mendominasi semua kekuatan masyarakat. Sebaliknya, kekuatan masyarakat makin lama makin melemah. Negara masuk ke berbagai lembaga, mulai dari partai politik dan Golkar, organisasi sosial dan keagamaan, organisasi profesi dan pemuda, hingga ke kampus dan universitas. Akibatnya, peran politik mahasiswa semakin menyusut di bawah bayang-bayang kuatnya negara.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xiv.

Namun, kondisi ini tidak serta-merta harus dipandang negatif. Pertanyaannya, jika Orde Lama tetap bertahan, apakah hasilnya akan lebih baik daripada Orde Baru? Tidak ada yang bisa menjamin. Karena itu, perkembangan Orde Baru perlu dipahami secara jernih dan objektif. Apalagi, dalam banyak hal, Orde Baru menghasilkan pencapaian yang cukup mengesankan, terutama bagi kelompok menengah kota yang berkembang pesat pada masa itu.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xv.

Pembahasan dalam buku ini ingin melihat gerakan mahasiswa, pendidikan, sistem politik, proses sosial, dan peran negara dari sudut pandang rakyat biasa. Karena itu, analisis yang muncul juga lebih bersifat kerakyatan, bukan resmi atau akademis. Bisa dibilang, isi buku ini merefleksikan rasa kehilangan terhadap peran kekuatan non-negara yang semakin hilang di masa Orde Baru. Jadi, kalau ada kritik terhadap sistem politik dan negara, itu hanyalah bentuk tanggung jawab seorang rakyat kepada masyarakat, negara, dan bangsa.

Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Pertama, Gerakan Mahasiswa, Politik, dan Pendidikan. Kedua, Pembangunan dan Sistem Politik. Ketiga, Posisi Negara dan Proses Pembentukan Sosial. Ketiga bagian ini saling terkait: gerakan mahasiswa dipengaruhi oleh sistem politik, sistem politik dipengaruhi oleh corak negara, dan perkembangan negara pada akhirnya membentuk proses sosial yang juga memengaruhi gerakan mahasiswa. Jadi, isi buku ini lebih sebagai refleksi deskriptif untuk menyadarkan kita akan dinamika yang terus berlangsung.

Harapannya, refleksi ini bisa memberi manfaat sekaligus bahan kritik. Dan tentu saja, kritik itulah yang sangat ditunggu.

Fachry Ali, "Mahasiswa, Sistem Politik..., hlm. xvi.


Daftar Isi:

  1. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 1: Sebuah Pengantar
  2. Buku: Fachry Ali "Mahasiswa, Sistem Politik di Indonesia dan Negara" - Part 2: Pendidikan Indonesia di Masa Belanda; Politik Etis
Share:

Sabtu, 29 November 2025

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali" - Part 02: Ruh Sumber Pengetahuan Sejati

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Sekarang, manusia bisa memilih untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan sukarela, atau menolak melakukannya karena sombong. Dalam dua keadaan ini, manusia tetap disebut "muslim": yang pertama karena sukarela, yang kedua karena terpaksa. Menurut Al-Qur’an, alasan Iblis menolak perintah Allah bukan karena kurang pengetahuan, tapi karena kesombongan (istikbar). Sifat sombong inilah yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang menolak menerima Allah.

Manusia pada dasarnya punya keinginan untuk dipuja atau diagungkan. Karena itu, ia jadi sulit menerima bahwa ada yang lebih agung darinya, termasuk menerima keagungan Allah.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali", Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 9.

Sebenarnya, ada sisi lain dalam diri manusia. Di lubuk hatinya, Ia mengakui bahwa Allah itu ada. Al-Qur’an juga menyebutkan hal ini, misalnya dalam ayat berikut:

Dan jika ditanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Mereka akan menjawab: "Allah."...—(Surah Al-'Ankabut (29): ayat 61)

Sejak awal penciptaan, Allah sudah menanamkan keyakinan ini dalam diri manusia. Contohnya dalam ayat berikut:

Dan (Ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan-keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Allah berfirman): "Bukanlah Aku ini Tuhan-mu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi."...—(Surah Al-A'raf (7): ayat 172)

Perasaan percaya itulah yang disebut fitrah—yaitu sifat dasar yang sudah tertanam dalam diri manusia, yang membuatnya gelisah terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui, lalu terdorong untuk mencari penjelasan. Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membawa manusia mendekat kepada Allah.

Di sisi lain, manusia juga punya kecintaan pada hawa nafsu, seperti wanita, anak, harta, dan kekayaan (Surah Ali 'Imran (3): ayat 14). Keinginan ini bisa menyesatkan dan menjauhkan manusia dari fitrahnya. Pertentangan antara mengejar pengetahuan (sebagai jalan menuju Allah) dan mengejar hawa nafsu ini dibahas secara mendalam oleh Al-Ghazali. Tulisan-tulisannya berusaha menjelaskan konflik batin tersebut dan mencari solusi dengan menunjukkan jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasinya agar manusia dapat mencapai kepuasan batin.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 10.

Meski seseorang sudah menyerahkan diri kepada Allah dan berusaha sungguh-sungguh mengatasi konflik batinnya, tetap ada tingkatan-tingkatan dalam Islam, tergantung pada seberapa dalam pengetahuan yang ia miliki. Tingkat kebahagiaan seseorang pun sesuai dengan tingkatannya dalam Islam. Sebab, menurut Al-Qur’an, manusia tidak diciptakan hanya untuk bersenang-senang, melainkan “dipilih” Allah sebagai khalifah (wakil-Nya) di bumi untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Dengan demikian, manusia memegang amanah dari Allah dan secara moral wajib menjalankannya. Kebahagiaan manusia bergantung pada sejauh mana ia melaksanakan amanah itu. Penjelasan ini dimaksudkan sebagai latar belakang untuk memahami pemikiran Al-Ghazali. Harapannya, pembaca dapat melihat betapa besar pengaruh Al-Qur’an terhadap cara berpikir Al-Ghazali.

Gambaran tentang bagaimana Al-Qur’an memandang alam semesta, umat manusia, sejarah, dan Allah sebenarnya bisa menunjukkan pengaruh ini dengan lebih jelas. Tapi, hal-hal itu akan dibahas di lain waktu. Sekarang, mari kita lihat ringkasan riwayat hidup Al-Ghazali, yang menjadi tokoh utama dalam pembahasan ini.

***


Al-Ghazali atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Tusi Al-Syafi—nama lengkapnya, lahir di Kota Tus pada tahun 450 H/1058 M.

Ayahnya adalah seorang pembuat dan penjual kain wol, itulah sebabnya ia diberi nama "ghazzal". Sebelum meninggal, sang ayah menitipkan Al-Ghazali dan kakaknya, Ahmad, kepada seorang sahabatnya yang seorang sufi. Ia berpesan: “Saya menyesal tidak pernah belajar menulis. Saya ingin kedua anak saya tidak kehilangan hal itu. Didiklah mereka, meski harus menghabiskan seluruh harta peninggalanku.”

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 11.

Sufi itu pun mendidik mereka dengan harta peninggalan sang ayah. Namun, ketika uangnya habis, ia tidak lagi mampu menafkahi mereka. Ia berkata: “Aku sudah menghabiskan semua peninggalan ayahmu untuk kalian. Aku orang miskin. Jalan terbaik bagimu adalah masuk madrasah sebagai murid, karena di sana kalian bisa belajar sekaligus mendapat makan.”

Keduanya pun masuk madrasah, dan dari situlah kebahagiaan serta cita-cita luhur mereka tercapai.

Al-Ghazali pernah berkata: “Awalnya kami mencari ilmu bukan karena Allah, tetapi akhirnya kami menyadari bahwa Allah-lah yang menuntun kami, dan kami tidak bisa mencari selain hanya kepada-Nya.”

Ia mendapat pendidikan dasar di Kota Tus. Setelah itu ia pergi ke Naysabur untuk belajar pada Imam Al-Juwayni (478 H/1085 M), yang dikenal sebagai Imam al-Haramayn. Ia belajar di sana sampai gurunya wafat.

Dari Naysabur, Al-Ghazali melanjutkan ke Mahkamah Nizham al-Mulk, tempat ia memperdalam ilmu hukum dan agama. Pada tahun 484 H/1091 M, ia diangkat menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah, Baghdad.

Di masa itu, Al-Ghazali aktif mengajar dan menulis kitab fiqh. Ia juga menulis tentang kelompok Ta’limiyyah, yang kemudian memicu banyak perdebatan.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 12.

Sejak awal masa belajarnya, Al-Ghazali sudah menunjukkan sikap ragu. Ia menolak menerima kebenaran hanya lewat taqlid (ikut-ikutan) atau tradisi yang diwariskan.

Puncak keraguannya saat tinggal di Baghdad. Pertanyaan yang terus mengganggunya adalah: “Apakah iman kepada Allah bisa menjadi pengetahuan yang pasti? Jika Allah wajib disembah, maka harus diketahui dengan kepastian.”

Pertanyaan ini membuatnya menyelidiki sifat pengetahuan manusia: apakah pengetahuan bisa dipelajari, dan bagaimana cara memastikan kebenarannya.

Riwayat hidup Al-Ghazali sebenarnya terlalu singkat, sehingga untuk memahami perkembangan intelektual dan spiritualnya, perlu melihat karya-karyanya, terutama karyanya: Ihya Ulumuddin. Di sana ia membahas iman dalam tiga aspek yang saling terkait:

  1. Ilm: pengetahuan atau informasi.
  2. Hal: kondisi hati atau keadaan batin.
  3. Amal: tindakan atau disiplin diri untuk memahami dan merasakan pengetahuan dan keadaan hati tersebut.

Melalui tulisan-tulisannya, Al-Ghazali sesungguhnya sedang melukiskan perjalanan batinnya sendiri.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 13.

Sebelum mengalami perubahan besar dalam hidupnya, Al-Ghazali sudah menunjukkan cara berpikirnya dengan membagi iman ke dalam beberapa tingkatan. Dalam Kitab Tauhid, misalnya, ia menyebut bahwa pada tingkat awal keimanan, hati seseorang masih terikat oleh banyak "simpul" yang kuat ('uqdah). Sementara hati orang-orang yang sudah mengenal Allah (dengan sungguh-sungguh) akan dipenuhi rasa bahagia, terbuka, dan dekat kepada-Nya (muqarrabun).

Perbedaan utama antara dua tingkatan iman ini adalah jarak antara seseoang dengan Allah.

Bagi Al-Ghazali, sebelum mengalami perubahan itu, dirinya merasa jauh dari Allah. Ia percaya bahwa satu-satunya cara untuk mendekat adalah dengan pengetahuan. Tapi: “Apa sebenarnya pengetahuan itu, dan bagaimana memastikan kebenarannya?”

Pertanyaan inilah yang menjadi awal dari pencarian intelektual dan spiritualnya, yang dibahas di bagian pertama studi ini.

Karena merasa sangat jauh dari Allah, Al-Ghazali mengalami tekanan batin yang bergitu berat sampai membuatnya jatuh sakit, baik secara fisik maupun mental. Ia sakit dari bulan Rajab sampai Zulqaidah 488 H/1095 M. Setelah sembuh, ia merasa harus menjauh dari kehidupan dunia. Setelah memastikan kebutuhan keluarganya tercukupi, ia memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan mengasingkan diri, meninggalkan jabatan terhormatnya dan menyamar untuk mengembara ke Suriah.

Ia tinggal sekitar dua tahun di Suriah, lalu berangkat haji ke Mekah pada akhir 490 H/1097 M. Selama sembilan tahun berikutnya, ia hidup berkelana, dan sesekali pulang untuk menjenguk keluarga.

Tahun 499 H/1105 M, Al-Ghazali kembali mengajar. Saat itu ia sudah menulis Ihya Ulumuddin dan buku lainnya, serta menyampaikannya lewat pengajaran di Baghdad dan Damaskus. Ia sempat menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah Naysabur, tapi hanya sampai bulan Zulqaidah 499 H/1105 M, setelah itu memilih hidup menyendiri. Ia kembali ke kampung halamannya di Tus, lalu menetap di sana, mengajar para pengikutnya, mengabdikan hidupnya ke dalam jalan sufi (tasawuf), sampai wafat pada 14 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111 M.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 14.

Dalam masa pengembaraan, Al-Ghazali mempelajari berbagai pandangan, termasuk filsafat, meskipun akhirnya condong ke tasawuf. Menurutnya, Allah yang menyempurnakan imannya.

Al-Ghazali adalah seorang jenius. Sumbangan terbesarnya dalam pemikiran Islam adalah penemuannya tentang batas kemampuan akal. Menurutnya, akal hanya alat untuk membantu seseorang memahami apa yang datang dari luar dirinya, lalu menyampaikan hasil pemahaman itu ke hati. Sama dengan akal, tubuh juga mengirimkan pengalaman-pengalamannya yang ia peroleh melalui aktivitas fisik ke hati. Namun, pengetahuan yang datang dari akal dan tubuh itu masih belum cukup untuk memperoleh pengetahuan sejati. Keduanya hanya petunjuk atau jalan menuju pengetahuan sejati. Untuk benar-benar mencapai pengetahuan sejati, dibutuhkan sumber lain di luar itu.

Sumber pengetahuan sejati adalah ruh. Namun, agar ruh menghasilkan pengetahuan sejati, hati harus terbebas dari dominasi akal dan pengalaman tubuh. Namun, pengetahuan akal dan pengalaman tetap diperlukan sebagai dasar sebelum hati bisa mengenal dirinya sendiri.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 15.

Artinya, hati tidak hanya butuh informasi dari akal dan tubuh, tapi juga harus mengalami kehadiran ruh di dalamnya—yaitu aspek ketuhanan. Tanpa itu, hati tidak akan mencapai pengetahuan tertinggi.

Teori pengetahuan Al-Ghazali berkaitan erat dengan proses pengembangan diri menuju kesempurnaan. Teori ini berdiri di atas dua dasar utama:

  1. Hati manusia diciptakan menurut gambaran Allah.
  2. Manusia adalah “mikrokosmos” (dunia kecil).

Artinya, seseorang baru bisa benar-benar berilmu jika mengenal dirinya secara utuh. Karena manusia adalah cermin Allah, maka dengan memahami hati, ia bisa mengenal sifat-sifat Allah. Dan karena manusia adalah mikrokosmos, maka dengan memahami hati dalam hubungannya dengan tubuh, ia bisa memahami karya Allah dalam alam semesta.

Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 16.

Semua pengetahuan terjadi di dalam hati, dan pengetahuan itu sebenarnya adalah cerminan dari isi hati itu sendiri. Namun, ada sisi hati yang bisa menghambat perkembangannya, yakni: kecenderungan pada kesenangan, menghindari rasa sakit, dan keinginan untuk diagungkan atau berkuasa (suka memimpin, mengatur, merasa penting, dan lain-lain). Kesenangan ini muncul sejak awal kehidupan dan bisa berkembang tanpa batas. Jika hati terlalu sibuk dengan keinginan tersebut, pengetahuannya akan terhenti hanya pada sebagian kecil saja.

Agar hati bisa mengenal dirinya sepenuhnya dan bisa menjadi cermin dari alam semesta dan sifat-sifat Tuhan, hati perlu tetap terhubung dengan kebutuhan tubuh. Karena itu, dalam pencarian kebenaran dan Allah, disiplin pribadi sama pentingnya dengan belajar.

Bagian ini menutup pengantar studi dengan ucapan terima kasih dari penulis, Ali Issa Othman. Ia berterima kasih kepada mantan istrinya Dr. Evelyn Adam Othman atas dukungan moralnya, kepada Dr. Ibrahim Abu Lughod yang membantu penelitian istilah Arab, serta kepada Janet Abu Lughod yang menyempurnakan bahasa Inggris naskahnya. Ia juga berterima kasih kepada Tuan K. Bestawros yang membaca naskah awal, dan kepada Tuan M.S. Kadri, Direktur Arab States Fundamental Education Center di Sirs El Layyan, atas bantuannya dalam penerbitan buku ini.


Ditulis oleh Ali Issa Othman,
Sirs El Layyan, Mesir,
Jumat, 29 Juli 1960.


Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 17.


Daftar Isi:

Share:

Jumat, 28 November 2025

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali" - Part 01: Menemukan Tuhan - Jalan Islam Menurut Al-Qur'an

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Mengapa manusia itu ada dan perkembangan-perkembangan apakah yang mampu diterima oleh sifatnya? Tujuan apakah yang paling cocok dengan sifat ini dan bagaimanakah ia dapat mencapai tujuan tersebut dalam masa hidupnya? Di mana di dalam alam ini terletak kebebasannya dan di mana pula terletak hambatan-hambatan dari kebebasan ini? Apakah yang terdapat di luar dirinya dan bagaimana manusia itu dapat memahaminya?

Mengapa manusia perlu menjalin hubungan dengan dunia luar, seperti masyarakat, alam, dan Tuhan? Apa tujuan hidup yang ditetapkan orang-orang untuk diri mereka, dan mengapa demikan?

Bisakah tujuan pribadi seseorang selaras dengan tujuan masyarakat? Bagaimana tujuan hidup itu berkembang seiring waktu? Dan bagaimana seseorang bisa menilai apakah tujuan tersebut sesuai dengan perkembangan dirinya?

Itulah pertanyaan utama dalam buku ini, yang mengkaji pemikiran Al-Ghazali.

Buku: Ali Issa Othman "Manusia Menurut Al-Ghazali"

Identitas Buku

  • Judul Buku: Manusia Menurut Al-Ghazali
  • Pengarang: Ali Issa Othman
  • Penerbit: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, Bandung
  • Tanggal Terbit: 1981
  • ISBN:
  • Tebal Halaman: 311
  • Lebar: 21 cm
  • Panjang: 14,5 cm


Diterjemahkan dari The Concept of Man in Islam in the Writings of Al-Ghazali

Terbitan Cairo: Dar al-Maaref, 1960


MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI

oleh Ali Issa Othman

Diterjemahkan oleh Johan Smith, Anas Mahyuddin, Yusuf

Penyunting oleh Ammar Haryono

Cetakan Pertama, 1981



Daftar Isi "Manusia Menurut Al-Ghazali"


Pengantar (1)

Mencari Kebenaran (19)

Akal Pikiran dan Wahyu (64)

Sifat Manusia, Pengembangan dan Pengetahuannya (115)

Prinsip Keesaan Allah (172)

Dunia dan Masyarakat Manusia (244)

Appendiks (289)



Pengantar

Al-Qur'an adalah sumber utama inspirasi Al-Ghazali. Pemikiran, perhatian, sikap dan nilai-nilainya berlandaskan pada Al-Qur'an. Ia percaya bahwa Al-Qur'an memberi petunjuk untuk mencapai tujuan tertinggi dan menekankan pentingnya pengetahuan serta perannya.

Meskipun Al-Ghazali mempelajari berbagai ilmu pada masanya, pemikiran dan fokus utamanya tetap berakar pada ajaran Al-Qur'an, seperti yang terlihat dalam seluruh karyanya.

Al-Ghazali bertekad menemukan Allah dengan cara yang masuk akal. Sikap kritisnya terhadap otoritas yang ada dan kesadarannya akan keterbatasan akal dalam memahami kebenaran sangat dipengaruhi oleh Al-Qur'an. Sebagai gambaran, kita bisa melihat bagaimana Ibrahim menemukan Allah, lalu membandingkannya dengan cara Al-Ghazali. Pengaruh Al-Qur'an dalam pemikirannya sangat jelas.

Menurut Al-Qur'an, manusia pertama yang disebut sebagai "muslim" adalah Ibrahim. Al-Qur'an menceritakan bagaimana Ibrahim menjadi seorang muslim.

Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.¹

...

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.

Ungkapan "Menghadapkan Diriku" dalam ayat tersebut berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah (Islam). Akan tetapi penyerahan diri kepada Allah tidak terjadi begitu saja. Ibrahim melewati proses pencarian panjang, dimulai dengan meragukan kebenaran agama yang diwarisi dari kaumnya.

Allah membimbing Ibrahim, tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Ia tidak bisa menerima agama kaumnya begitu saja, dan sekadar menolaknya pun tidak cukup. Ibrahim memiliki naluri alami (fitrah) untuk mencari Tuhan yang bisa memberinya kedamaian dan keselamatan, yang merupakan inti dari Islam.

Ibrahim sendirian di keheningan malam, dengan keinginan kuat untuk menemukan Tuhan. Lalu bintang muncul di atasnya, dan ia yakini bahwa itu adalah Tuhan. Tapi kemudian bintang itu hilang, keyakinannya bahwa itu Tuhan juga hilang. Begitu juga pada bulan dan matahari. Keduanya hebat, tapi tak kekal. Maka mereka bukan Tuhan. Dari sini dapat dipahami bahwa selain adanya 'keinginan' mencari, Ibrahim juga 'berpikir kritis'. Ia tidak langsung menerima sesuatu sebagai Tuhan, tetapi meneliti apakah yang dianggapnya Tuhan benar-benar layak disembah.

Kita bisa merasakan perjuangan Ibrahim dalam pencariannya. Hingga akhirnya, di momen yang penuh makna, Ia menemukan kedamaian. Kekhawatirannya terhadap agama kaumnya terbukti benar. Ia meninggalkan keyakinan itu, menolak menyembah berhala dan memilih menyembah Allah.

Inilah inti Islam, yakni menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sebagai jawaban atas naluri fitrah manusia. Kedamaian sejati hanya bisa didapat dengan mengenal dan menyembah-Nya. Hal ini sudah menjadi ketetapan Allah sejak manusia diciptakan. Dalam kitab Al-Munqidh—yang berisi perjalanan intelektual Al-Ghazali—hal ini dibahas di bab pertama. Sikap yang ditunjukkan Ibrahim juga tercermin dalam buku tersebut.

Orang yang memahami Al-Qur'an akan melihat pengaruh Al-Qur'an dalam cara berpikir Al-Ghazali. Studi ini menunjukkan beberapa contoh pengaruh tersebut, tetapi pengaruhnya tidak hanya terlihat dari contoh-contoh itu. Pengaruh Al-Qur'an juga terasa dalam cara berpikir dan minat Al-Ghazali.

¹ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali", Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 1-2.
² Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 3-4.

*

Al-Qur'an banyak mengajak kita untuk kagum dan mencari tahu tentang misteri serta keajaiban alam dan manusia. Ajakan ini membangkitkan keindahan dan pemikiran manusia. Allah ingin dikenal lebih dalam sebagai pencipta segala sesuatu. Inilah salah satu ciri khas Al-Qur'an yang juga menjadi dasar karakter Islam sebagai agama.

Penjelasan ilmiah tentang alam dan manusia itu penting, tapi tidak cukup. Kita juga perlu memahami estetikanya. Manusia bisa menjelaskan sesuatu secara ilmiah, tapi ada hal lain dalam dirinya yang juga butuh kepuasan, bukan hanya logika.

Al-Qur'an menjelaskan segala sesuatu, baik besar maupun kecil—setiap peristiwa, misteri, dan fenomena—sebagai "tanda" atau "bukti" nyata yang menunjukkan kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Sang Pencipta. Manusia mendekati Allah melalui rasa kagum dan keinginan untuk menyelidiki hal-hal yang membuatnya terpesona.

Penelitian ilmiah tidak secara langsung menemukan Allah, tetapi membantu menjaga pikiran tetap jernih saat mengagumi alam dan manusia, serta membimbingnya dengan aman menuju Allah.

Dalam pandangan Al-Qur'an, tidak ada hal yang terlalu besar atau kecil, tinggi atau rendah untuk dikagumi oleh manusia. Karena Allah tidak ragu membuat perumpamaan, bahkan dengan makhluk sekecil nyamuk atau yang lebih kecil lagi. Semua itu adalah "tanda" yang, jika dipahami, bisa membawa manusia lebih dekat kepada-Nya dan menambah pengetahuan tentang Sang Pencipta.

Al-Qur'an bukanlah buku yang berisi semua ilmu pengetahuan yang sudah ditemukan. Namun, isinya memberikan kerangka lengkap untuk mencari dan menyelidiki ilmu tersebut. Umat muslim saat ini dan di masa depan harus mencari jawaban dan menggali pertanyaan lebih dalam jika ingin memahami rahasia yang tersembunyi dalam Al-Qur'an. Jika mereka melakukannya, maka Islam akan tetap menjadi agama yang diridhai oleh Allah.

Bagaimana Al-Qur'an menyatukan semua ilmu dalam satu pemahaman di bawah keesaan Allah?

Sikap dan cara berpikir seperti apa terhadap alam dan hukumnya yang bisa mendukung perkembangan ilmu pengetahuan?

Sikap dan nilai apa yang perlu dimiliki terhadap diri sendiri dan orang lain agar mendapat dukungan dalam ilmu dan pengalaman?

Apakah cara pandang manusia terhadap alam dan sesama sudah tepat?

Apa tujuan yang ingin dicapai manusia?

Apakah memenuhi kebutuhan hidup adalah jalan terbaik untuk perkembangan diri?

Seperti apa masyarakat dan tatanan sosial yang selaras dengan ajaran Al-Qur'an?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi tantangan bagi umat muslim saat ini. Kita tidak bisa hanya menerima jawaban tanpa pemahaman yang mendalam, karena di tengah pengaruh ideologi modern, pikiran manusia cenderung menolak jawaban yang hanya berupa simbol. Kita perlu memahami kembali Al-Qur'an agar sesuai dengan cara berpikir dunia modern. Dalam usaha ini, sebelumnya kita memiliki tradisi Islam, cara berpikir sebagai muslim, serta pengalaman dan pengetahuan manusia.³

³ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 5-6.

*

Apa itu Islam menurut Al-Qur'an?

Setiap makhluk adalah "tanda" yang menunjukkan kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Sang Pencipta. Pada saat yang sama, semua makhluk tunduk pada hukum alam (sunnatullah) dan menjadi bagian dari ketetapan Allah.

Dalam arti luas, "Islam" adalah kepatuhan pada hukum Allah, sehingga segala sesuatu di alam ini sebenarnya adalah "muslim". Dalam pengertian ini, setiap manusia, baik yang beriman maupun tidak, tetap disebut "muslim" karena mereka hidup dalam hukum Allah.

Al-Qur'an dengan tegas menyampaikan konsep ini, yang sangat penting untuk memahami apa itu Islam. Berikut beberapa ayat yang menjelaskan makna Islam:

  • Tidakkah terpikir bahwa semua yang ada di langit dan bumi—matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, dan manusia—seharusnya menyembah Allah? (Surah Al-Hajj (22): ayat 18)
  • Tidakkah mereka merenungkan ciptaan Allah yang bayangannya bergerak ke kiri dan kanan dalam ketundukan? Semua makhluk di langit dan bumi termasuk hewan dan malaikat, menyembah Allah tanpa kesombongan. (Surah An-Nahl (16): ayat 49-50)
  • Semua makhluk, baik di langit maupun di bumi, menyembah Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Bahkan bayangan mereka pun tunduk kepada-Nya di pagi dan petang hari. (Surah Ar-Ra'd (13): ayat 15)
  • Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah, padahal semua yang ada di langit dan bumi menyerahkan diri (aslama) kepada-Nya, baik dengan sukarela maupun terpaksa? Dan pada akhirnya, semuanya akan kembali kepada Allah. (Surah Ali 'Imran (3): ayat 83)

Ayat-ayat lain juga menyatakan bahwa semua yang ada tunduk kepada Allah dan mengagungkan-Nya. Namun yang ditekankan di sini adalah bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan tujuan yang telah Allah tetapkan.

  • Tujuh langit, bumi, dan semua isinya bertasbih kepada Allah. Tidak ada satu pun yang tidak memuji-Nya, hanya saja manusia tidak memahami tasbih mereka. Allah Maha Penyantun dan Maha Pengampun. (Surah Al-Isra' (17): ayat 44)
  • Semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah, Yang Maha Suci, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana. (Surah Al-Jumu'ah (62): ayat 1)

Pernyataan ini sering disebutkan dalam Al-Qur'an.

Beberapa ayat menyebut bahwa makhluk yang mengagungkan Allah juga disebut "dabbah", yaitu istilah untuk semua hewan di langit dan di bumi. Ayat lain menyebut gunung, burung, dan makhluk lainnya.

Singkatnya, Islam tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi mencakup seluruh alam. Segala sesuatu di alam ini "berserah diri" kepada Allah, baik secara sukarela maupun terpaksa. Bagaimanapun caranya, semua tetap disebut "muslim" karena tidak ada yang bisa lepas dari hukum Allah atau berada di luar keberadaan-Nya.⁴

Inilah dasar dari prinsip metafisika yang menjadi inti Islam. Jika kita menganalisis ayat-ayat tersebut lebih dalam, akan terlihat bahwa Islam mencakup hal-hal berikut:

  1. Islam dalam alam semesta (kosmos)
  2. Islam dalam semua makhluk, baik yang bernyawa (dabbah) maupun tidak.
  3. Islam dalam seluruh manusia, baik yang tunduk secara sukarela maupun terpaksa.
  4. Islam dalam mereka yang secara sadar mengikatkan diri kepada Allah.
  5. Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah melalui nabi Muhammad, melanjutkan ajaran para nabi sebelumnya.⁵

⁴ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 7-8.
⁵ Ali Issa Othman, "Manusia Menurut Al-Ghazali..., hlm. 9.


Daftar Isi:

Share:

Kamis, 27 November 2025

Buku: Harry Hamersma "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers" - Part 03: Penerangan Eksistensi

Buku: Harry Hamersma "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers"

Sebagai eksistensi, manusia hidup dalam paradoks: ia ada dalam waktu, tapi juga bersentuhan dengan keabadian. Titik pertemuan waktu dan keabadian itu disebut “saat”, yaitu momen keputusan. “Saat” ini adalah kehadiran abadi, karena keputusan yang dibuat di dalam waktu bisa berlaku untuk selamanya. Jika manusia tahu segalanya, termasuk semua akibat dari tindakannya, ia tidak butuh kebebasan. Kebebasan justru ada karena manusia tidak tahu semua hal. Maka, manusia harus membuat keputusan justru karena ia tidak tahu.

***


BAB III: PENERANGAN EKSISTENSI

  1. Eksistensi

Dalam bahasa mitos, orang menyebutnya "jiwa" dan "Allah", sedangkan dalam filsafat disebut "eksistensi" dan "transendensi". Eksistensi manusia adalah bentuk keberadaan yang memutuskan apakah dan bagaimana ia ingin menjadi abadi. Eksistensi itu sendiri bukan "ada", melainkan sesuatu yang "bisa ada" dan "seharusnya ada". Keberadaan manusia yang nyata di dunia* disebut Jaspers sebagai Dasein (being-there). Sedangkan "eksistensi" (Existenz) adalah kemungkinan dalam perjalanan menuju "ada" yang abadi**. Eksistensi adalah kebebasan yang dijalani, berada dalam waktu tapi juga melampaui waktu, sebab keputusan bebas manusia bisa berlaku untuk selamanya.

*Keberadaan sehari-hari (Dasein): realitas hidup manusia di dunia, makan, kerja, main, dan lain-lain.

**Eksistensi (Existenz): sisi batin yang lebih dalam, yaitu kemungkinan manusia untuk berkembang, membuat pilihan bebas, dan mencari makna.

***Eksistensi itu bukan sesuatu yang langsung "ada", tapi sesuatu yang harus diperjuangkan lewat pilihan hidup manusia. Lewat keputusan bebas, di mana manusia bisa menentukan arah hidupnya—apakah mau menuju hal yang abadi (makna hidup yang lebih tinggi) atau justru kehilangan arah. Manusia memang hidup di dunia nyata, tapi lewat kebebasannya ia bisa melampaui dunia dan memberi arti kekal pada hidupnya.

#Analogi: Ada seorang mahasiswa.

Kalau dia cuma hidup sehari-hari (Dasein), yang mana keputusan bebasnya ia pakai untuk kuliah, main HP, cari uang, ikut arus, tanpa mikirin makna lebih dalam, itu adalah sekadar “ada”.

Tapi kalau dia mulai memikirkan hidupnya (Existenz): “Aku mau jadi orang seperti apa? Aku mau bikin apa yang berarti buat diriku dan orang lain?” Lalu dia membuat keputusan besar, misalnya serius belajar hukum supaya bisa membela korban yang tertindas. Maka, keputusan bebas tersebut memiliki bobot kekal, karena akan membentuk dirinya selamanya.

Maka, Dasein adalah hidup seadanya. Existenz adalah hidup yang sadar, penuh pilihan, dan mencari makna abadi.

Dasein memiliki akhir dan akan mencapai puncaknya di dunia nyata, sedangkan eksistensi tidak berhenti di sana. Eksistensi hanya “menemukan dirinya” di dunia*. Eksistensi dianggap berasal dari sesuatu yang luhur. Eksistensi bisa dikenali lewat tanda-tanda, misalnya dalam pilihan hidup, pertobatan, komunikasi, dan kebebasan**. Kehidupan nyata tampak dalam fenomena, sedangkan transendensi tampak dalam chiffer (simbol-simbol), dan eksistensi tampak dalam tanda-tanda (signa)***. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang diberikan kepadanya. Dengan kata lain, eksistensi adalah anugerah dari transendensi.

*Manusia memang hidup di dunia nyata (makan, kerja, sekolah, dll.), tapi itu bukan tujuan akhir eksistensinya. Dunia ini cuma tempat ia sadar akan dirinya—bahwa ia punya kebebasan, pilihan, dan arah hidup. Dunia adalah pemicu. Jadi, eksistensi itu tidak diciptakan oleh dunia, melainkan terungkap/tersadari lewat pengalaman hidup di dunia.

**Eksistensi tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa, tapi bisa “terlihat” lewat tanda-tanda, misalnya: ketika orang memilih dengan sungguh-sungguh, bertobat, berkomunikasi secara mendalam, atau menggunakan kebebasannya dengan penuh tanggung jawab.

  1. “Kehidupan nyata tampak dalam fenomena”
      Hidup sehari-hari manusia bisa dilihat melalui hal nyata, seperti: makan, bekerja, belajar, sakit, senang, dan lain-lain. Itulah yang kemudian disebut dengan fenomena (gejala yang tampak; bisa dilihat).
  2. “Transendensi tampak dalam chiffer (simbol-simbol)”
      Yang ilahi—atau yang melampaui dunia—tidak hadir secara langsung (menampakan diri misalnya), melainkan melalui simbol-simbol. Misalnya keindahan alam yang membuat manusia merasa kagum pada sesuatu yang lebih tinggi.
  3. “Eksistensi tampak dalam tanda-tanda (signa)”
      Eksistensi manusia (jati diri terdalam) tidak bisa dilihat begitu saja, tapi muncul lewat tanda-tanda dalam hidup, misalnya: ketika seseorang bertobat, memilih dengan sungguh, berkomunikasi secara tulus, atau menggunakan kebebasannya dengan bertanggung jawab. Maka, signa adalah tanda-tanda batin yang menunjukkan eksistensi manusia

Kesadaran terdalam manusia (eksistensi) bukan hasil buatan dirinya sendiri. Itu sesuatu yang diberikan oleh yang lebih tinggi (transendensi/Tuhan). Jadi hidup yang penuh makna itu sebenarnya sebuah anugerah, bukan sekadar hasil usaha manusia.

Eksistensi butuh komunikasi. Kesadaran eksistensi dimulai dari keinginan untuk berhubungan dengan eksistensi orang lain, karena manusia tidak puas hanya hidup sebagai Dasein (sekadar ada). Sama seperti filsafat yang berawal dari rasa heran, kesadaran eksistensi berawal dari pengalaman bahwa manusia perlu komunikasi. Bagi Jaspers, inilah alasan utama menjadi filsuf—bukan cuma memikirkan ide di kepala—tapi juga berusaha membangun komunikasi sejati dengan sesama. Sebuah ide baru hanya bisa dianggap penting dalam filsafat jika membantu memperdalam komunikasi antar manusia. Dan dasar komunikasi yang sejati adalah cinta.

Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl Jaspers", Jakarta: PT Gramedia, 1985, hlm. 12.

  1. Saat Keputusan

Sebagai eksistensi, manusia hidup dalam paradoks: ia ada dalam waktu, tapi juga bersentuhan dengan keabadian. Titik pertemuan waktu dan keabadian itu disebut “saat”, yaitu momen keputusan. “Saat” ini adalah kehadiran abadi, karena keputusan yang dibuat di dalam waktu bisa berlaku untuk selamanya. Jika manusia tahu segalanya, termasuk semua akibat dari tindakannya, ia tidak butuh kebebasan. Kebebasan justru ada karena manusia tidak tahu semua hal. Maka, manusia harus membuat keputusan justru karena ia tidak tahu.

Eksistensi manusia berkembang lewat keputusan-keputusan yang ia buat. Ia tidak menyesali keterbatasan pengetahuannya, karena justru di situlah ia merasakan hubungannya dengan sesuatu yang melampaui dirinya (transendensi)*. Pada saat mengambil keputusan, manusia benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri, dan sekaligus merasa bahwa ia juga sedang berhadapan dengan transendensi.**

*Walaupun manusia tidak tahu semua akibat dari pilihannya, ketidaktahuan itu justru membuka jalan baginya untuk sadar bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya (transendensi/Tuhan).

**Saat seseorang membuat keputusan penting, ia berada dalam momen paling pribadi: hanya dia sendiri yang bisa memilih. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa dirinya tidak sendirian. Ada “sesuatu” yang melampaui dirinya, yaitu transendensi. Maka, dalam keputusan bebas yang penuh ketidakpastian, manusia sekaligus berjumpa dengan dirinya sendiri dan dengan Yang Ilahi.

Harry Hamersma, "Filsafat Eksistensi Karl..., hlm. 13.


Daftar Isi:

Share:

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search