Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Sabtu, 14 Maret 2026

Buku: Mohammad Hatta "Alam Pikiran Yunani" - Part 01: Pendahuluan

Buku: Mohammad Hatta "Alam Pikiran Yunani"

Segala kebenaran ingin diketahui, dinyatakan, dan juga dibenarkan. Namun, kebenaran itu sendiri tidak perlu hal itu (dibenarkan), karena ia—sendiri—yang menunjukkan apa yang diakui benar dan harus berlaku.

Buku: Mohammad Hatta "Alam Pikiran Yunani"

Identitas Buku

  • Judul Buku: Alam Pikiran Yunani
  • Pengarang: Mohammad Hatta
  • Penerbit: Tintamas, Jakarta
  • Tanggal Terbit: 1982
  • ISBN: -
  • Tebal Halaman: xxviii+192
  • Lebar:
  • Panjang:


ALAM PIKIRAN YUNANI

oleh Mohammad Hatta

Kata Sambutan oleh Miriam Budiardjo

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT. Tintamas Indonesia, anggota IKAPI, Jakarta 1980


Daftar Isi "Alam Pikiran Yunani"

Pengantar Penerbit (ix)

Kata Sambutan: Miriam Budiardjo (xi)

Pengantar Kalam: Mohammad Hatta (xiii)

Pengantar Cetakan Ketujuh: Mohammad Hatta (xvi)

Motto (xvii)

Pendahuluan (1)

I. Filosofi Alam (5)

  1. Thales (5)
  2. Anaximandros (9)
  3. Anaximenes (12)

II. Filosofi Herakleitos (15)

III. Filosofi Elea (19)

  1. Xenophanes (19)
  2. Parmenides (21)
  3. Zeno (24)
  4. Melissos (26)

IV. Pythagoras dan pengikutnya (29)

V. Filosofi Alam lagi (34)

  1. Empedokles (35)
  2. Anaxagoras (38)
  3. Leukippos (43)
  4. Demokritos (44)

_______________

Pengantar Kata: Mohammad Hatta (xix)

Pengantar Cetakan Kelima: Mohammad Hatta (xx)

Motto (xxiii)

VI. Sofisme (53)

  1. Protagoras (64)
  2. Gorgias (66)
  3. Hippias (68)
  4. Prodikos (69)

VII. Filosofi Klasik (72)

  1. Sokraters (73)
      a. Metode Sokraters (80)
      b. Etik Sokraters (83)
      c. Murid-murid Sokraters (84)
  2. Plato (87)
      a. Buah tangan Plato (80)
      b. Tentang Idea (83)
      c. Etik Plato (84)
      d. Negara Ideal (84)
  3. Aristoteles (115)
      a. Pandangan Aristoteles (80)
      b. Logika (83)
      c. Metafisika (84)
      d. Filosofi Alam (84)
      e. Etik Aristoteles (80)
      f. Negara (83)

_______________

Pengantar Kata (xxv)

Motto (xxv)

VIII. Helen—Romana (139)

  • I. Masa Etik (142)
      A. Sekolah Epokuros (143)
        1) Logika (143)
        2) Fisika (145)
        3) Etik (147)
      B. Sekolah Stoa (148)
        1) Logika (149)
        2) Fisika (150)
        3) Etik (152)
        3) Negara dan Masyarakat (154)
      C. Sekolah Skeptis (156)
        1) Sekolah Skeptis Pyrrhon (156)
        2) Sekolah Skeptis Akademia (158)
  • II. Masa Religi (160)
      A. Aliran Neo—Pythagoras (161)
      B. Philon Alexandreia (163)
      C. Plotinos (165)
        1) Pokok Ajaran Plotinos (166)
        2) Ajaran tentang jiwa (170)
        3) Ajaran Hidup dan Moral (174)

IX. Akhir Kata (176)

Index (177)

_______________


Pengantar Penerbit

Awalnya buku ini terdiri dari tiga jilid. Lalu, atas persetujuan Mohammad Hatta, buku ini dicetak ulang menjadi satu buku dengan Kata Sambutan Prof. Miriam Budiardjo.

Penerbit

Jakarta, April 1980


Kata Sambutan (Miriam Budiardjo)

Jilid-jilid (sebelum menjadi buku) "Alam Pikiran Yunani" telah digunakan sebagai bahan bacaan dalam mata kuliah Pemikiran Politik Barat yang diajar Miriam di Departemen Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Indonesia. Sebuah kebanggaan bagi beliau, karena ditunjuk sebagai orang yang mengisi kata sambutan untuk buku ini.

Melihat realitas sekarang, Miriam menilai bahwa dalam kehidupan politik—di mana pun dan di masa apapun—manusia selalu menghadapi berbagai masalah yang pada hakekatnya sama. Miriam menambahkan (sepakat dengan pendapat Plato) bahwa pendidikan dalam membina generasi muda agar menjadi manusia yang baik dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab itu sangat penting (terutama untuk negara). Agar tujuan itu bisa tercapai, Miriam merekomendasikan buku ini untuk dibaca dan diamalkan. Karena buku ini berisi banyak ilmu yang dapat memperluas pengetahuan.

Jakarta, 1 Juni 1980

Miriam Budiardjo


Pengantar Kalam (Mohammad Hatta)

Mungkin banyak yang bertanya, mengapa Mohammad Hatta—yang bukan seorang filsuf, dan bukan seorang pakar dalam hal itu—menulis persoalan ini. Alasannya karena saat diasingkan di Boven Digul (Papua Selatan), Mohammad Hatta mengalami banyak hal, terutama kesadaran akan pentingnya belajar filsafat—sekalipun orang itu sudah berpengetahuan atau berpengalaman. Filsafat, kata Mohammad Hatta, meluaskan pandangan dan mempertajam pikiran. Dengan filsafat juga, Mohammad Hatta memperdalam ilmu ekonominya. Selain itu, berfilsafat dapat meredakan overthinking dan menenangkan pikiran, termasuk pikiran Mohammad Hatta ketika masa pengasingan di Boven Digul. Filsafat membawa manusia hidup di dalam dunia pikiran dan nurani yang murni, yang dapat membebaskan diri dari gangguan hidup sehari-hari. Dengan pertimbangan itu, Mohammad Hatta menyusun buku ini.

Mohammad Hatta

Neira, Mei 1941


Motto

Wahrheiten wollen erkannt und festgestelld, eben bewahrheitet sein; die Wahrheit selbst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewaehrt, was orgend als wahr erkannt sein und gelten soll.

Paul Natorp
(Individuum und Gemeinschaft)

Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak perlu akan itu, karena ialah yang menunjukkan, apa yang diakui benar dan harus berlaku.


Pendahuluan

Setiap bangsa memiliki kisah dan dongeng, yang berasal dari peristiwa sehari-hari, yang diceritakan oleh orang-orang yang suka bercerita. Salah satunya adalah peristiwa yang berasal dari kejadian alam yang mengerikan dan mengejutkan, yang—kemudian—menyebabkan masyarakat menganggap alam dipenuhi dewa-dewa, roh, dan makhluk gaib dengan berbagai nama. Seiring berjalannya waktu, fantasi tersebut berkembang menjadi ide-ide yang membentuk peradaban manusia.

Fantasi itu tak ada batasnya. Ia tak terikat pada realitas (fisik, indrawi), dan keberadaannya tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Pada hakekatnya, fantasi menjadi sumber perasaan yang indah-indah dan muasalnya suatu seni. Hal ini karena fantasi dapat membuat manusia keluar dari realitas, dan dapat menyatukan rohnya (manusia) dengan alam sekitarnya, yang kemudian membuat mereka (manusia) merasa menjadi bagian dari alam. Fantasi yang mencapai titik tersebut disebut dengan ekstase¹.

¹ Ekstase adalah kondisi perasaan yang sangat intens, biasanya dalam konteks kebahagiaan atau kesenangan yang sangat besar. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan pengalaman spiritual atau emosional yang mendalam dan penuh kegembiraan.


Manusia yang mengalami fantasi biasanya tidak tertarik untuk mengulik lebih dalam fantasinya. Karena bagi mereka, fantasi itu sumber kebahagiaan dan kenyamanan. Akan tetapi, ada beberapa manusia—yang kritis—yang tertarik dan penasaran akan kebenaran fantasi tersebut. Dari sinilah muncul keinginan untuk menemukan kebenaran di balik suatu fantasi.

Dongeng dan takhyul—yang turun-tumurun dari nenek moyang—akan membentuk suatu adat dan kebiasaan hidup masyarakatnya. Mereka (dongeng & takhyul) terus berkembang mengikuti zaman, dikarenakan—pada—setiap generasi selalu memiliki pengetahuan baru (aktuil). Fenomena itu melahirkan aneka peradaban bangsa yang—kemudian—disebut "kultur", yang akan menjadi panduan generasi berikutnya dalam menjalani hidup. Selain itu, dongeng, takhyul, dan adat istiadat juga mempengaruhi cara orang memeluk agamanya.

Ketika agama datang pada suatu masyarakat, selalu saja masyarakat itu—telah—menganut kepercayaan lama, yang tak mudah untuk dihapuskan. Itulah sebabnya agama sering tercampur dengan tradisi yang lebih dulu ada. Maka pernyataan bahwa "cara seseorang memahami agamanya banyak dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya" adalah tepat.

Di masa lampau, bangsa Yunani juga memiliki dongeng dan takhyul. Tetapi, uniknya dari mereka adalah adanya keinginan untuk mengulik kebenaran dongeng dan takhyul tersebut, yang semata-mata mencari pengetahuan untuk pengetahuan itu sendiri, tanpa mencari keuntungan darinya. Rasa penasaran adalah motif utama mereka. Berkaitan dengan rahasia alam misalnya, muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran mereka, seperti: dari mana alam ini berasal, seperti apa, bagaimana perkembangannya, dan apa tujuannya. Begitulah sikap para pemikir bangsa Yunani. Selama berabad-abad, alam yang besar ini menjadi fokus dan pertanyaan mereka. Namun di samping pertanyaan tentang alam besar—yang berada di luar diri mereka—mereka juga menyadari akan adanya alam kecil yang terdapat di dalam diri manusia, yang tak dapat dilihat dengan mata, tetapi dapat dirasakan. Pertanyaan seputar alam kecil itu muncul: apa ujud lahirku, apa kewajiban hidupku, bagaimana sikap yang seharusnya kuambil, dan di mana kubisa menemukan kebahagiaan.

Orang Yunani Kuno belum memisahkan ilmu menjadi berbagai cabang—ilmu—sebagaimana masa sekarang. Bagi orang Yunani Kuno, pertanyaan-pertanyaan di atas adalah satu persoalaan, yang akan menjadi satu kebenaran. Fenomena 'satu' itu dikenal dengan istilah "philosophia"—filsafat—yang berarti "cinta akan pengetahuan". Maka disimpulkan bahwa "philosophia" (atau filsafat) adalah pemikiran universal, yang bebas dan tidak dibatasi. Sebagaimana kata Windelband, bahwa filsafat adalah merentangkan pemikiran sejauh mungkin mengenai suatu keadaan atau hal yang nyata.

Di sinilah letak perbedaan antara filsafat dan ilmu khusus. Ilmu khusus membatasi dirinya pada wilayah yang dapat diamati, yaitu ilmu empiris, dengan menghadapi pertanyaan "bagaimana" dan "apa penyebabnya". Sedangkan filsafat mengajukan pertanyaan "apa itu", "darimana", dan "kemana". Dalam filsafat tak mencari penyelesaian sebab-akibat sebagaimana ilmu khusus. Dalam filsafat orang mencari tahu tentang hakikat suatu objek atau masalah, dari asal-usulnya, hingga tujuannya.

Filsafat memandang alam sebagai kesatuan yang utuh. Mereka mencari pengetahuan yang komprehensif tentang alam dan kehidupan, tanpa mencapai pemahaman yang definitif.

Filsafat terkenal karena mendalami persoalan-persoalan secara mendalam. Mereka tidak puas hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. Sering kali, mereka bertanya apakah apa yang tampak nyata ini adalah sesuatu yang sejati, atau hanya bayangan dari sesuatu yang lebih mendasar. Beberapa filsuf menganggap dunia yang tampak (indrawi) ini sebagai representasi dari dunia yang sejati. Filsafat sering kali mempertimbangkan dua dunia: dunia yang fana dan dunia yang abadi. Dunia yang fana dianggap sebagai sementara, sedangkan dunia yang abadi dianggap sebagai hakikat yang lebih mendalam.


Daftar Isi:


Prof. Dr. Miriam Budiardjo (20 November 1923–8 Januari 2007) adalah pakar ilmu politik dan diplomat Indonesia. Ia adalah mantan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 1993–1998. Miriam adalah istri Ali Budiardjo, seorang tokoh perjuangan Indonesia. Miriam adalah salah satu pendiri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), dan menjabat sebagai Dekan pada periode 1974–1979. Dia adalah wanita pertama yang menjabat sebagai diplomat untuk Indonesia, yang dia wakili di beberapa negara termasuk di India dan Amerika Serikat. (id.wikipedia.org)

Miriam Budiardjo
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search