Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Rabu, 11 Maret 2026

Buku: Erich Fromm "Gagasan tentang Manusia" - Part 02: Dipalsukannya Konsep Marx

Buku: Erich Fromm "Gagasan tentang Manusia"

Kesalahpahaman tentang filsafat Marx tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Ada banyak faktor, dan tiap faktor mungkin pengaruhnya berbeda-beda tergantung siapa yang menafsirkan—entah individu, kelompok, atau aliran politik. Jadi, tidak ada satu alasan tunggal yang bisa dibilang sebagai penyebab utama.

***


Dipalsukannya Beberapa Konsep Marx

Dalam sejarah, teori sering disalahpahami dan dipelintir tanpa batas yang jelas, meskipun sekarang orang bisa dengan mudah mengakses sumber aslinya. Hal ini terlihat jelas pada teori Karl Marx dalam beberapa dekade terakhir. Nama Marx dan marxisme sering muncul di media, pidato politisi, dan tulisan para ilmuwan sosial maupun filsuf. Namun, banyak politisi dan media sebenarnya tidak pernah membaca langsung tulisan Marx. Begitu juga para ilmuwan sosial, mereka hanya tahu sedikit tapi tetap merasa cukup. Mereka merasa aman mengaku sebagai ahli karena hampir tidak ada yang berani menantang pendapat mereka.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia", Yogyakarta: IRCiSoD, 2020, hlm. 18.

Memang menyedihkan, tapi ketidaktahuan dan penyimpangan tentang Marx paling banyak terjadi di Amerika Serikat dibanding negara Barat lain. Sebaliknya, dalam 15 tahun terakhir di Jerman dan Prancis justru muncul diskusi besar tentang Marx, khususnya mengenai Economic and Philosophical Manuscripts.

Di Jerman, diskusi banyak diikuti teolog Protestan. Ada buku penting Marxismusstudien (2 jilid, dieditori I. Fetscher), pengantar Lanshut untuk edisi Kroener, serta karya-karya Lukács, Bloch, Popitz, dan lainnya.

Di Amerika Serikat, minat pada Marx mulai tumbuh, tapi sering muncul lewat buku-buku yang menyesatkan, seperti The Red Prussian (Schwarzschild) atau The Meaning of Communism (Overstreets). Meski begitu, ada juga buku yang bagus, misalnya Capitalism, Socialism, and Democracy karya Schumpeter, atau Christianity and Communism Today karya John C. Bennett.

Beberapa karya lain yang penting: antologi Feuer, Bottomore, dan Rubel; Human Nature: The Marxist View oleh Venable (meski lemah karena tak menggunakan Economic and Philosophical Manuscripts); Reason and Revolution karya H. Marcuse; serta Soviet Marxism oleh Marcuse. Saya juga pernah membahas Marx dalam The Sane Society dan jurnal Zeitschrift für Sozialforschung (1932).

Di Prancis, diskusi dipelopori para imam Katolik seperti J.-Y. Calves (Pensée de Karl Marx) dan filsuf sosialis seperti Kojève, Sartre, serta terutama H. Lefebvre.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 19.

Kesalahpahaman terbesar tentang Marx adalah soal "materialisme". Banyak orang mengira Marx hanya melihat manusia digerakkan oleh uang dan kenyamanan, serta mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Mereka juga menuduh Marx mengabaikan peran individu dan kebutuhan spiritual. Akibatnya, Marx sering digambarkan hanya menginginkan manusia yang kenyang dan berpakaian, tapi tanpa jiwa. Kritiknya terhadap agama pun salah dipahami sebagai penolakan terhadap semua nilai spiritual, terutama oleh mereka yang menganggap iman kepada Tuhan sebagai satu-satunya dasar kehidupan rohani.

Banyak orang salah paham lagi dengan Marx, yakni: mereka mengira “surga sosialisme” yang Marx maksud adalah masyarakat di mana semua orang memang setara secara ekonomi, tapi kebebasan pribadi mereka hilang. Akhirnya, orang-orang digambarkan hidup seperti robot tanpa kepribadian, dikendalikan oleh negara atau segelintir elit pemimpin yang justru hidup mewah.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 20.

Gambaran populer tentang "materialisme" Marx sebenarnya palsu. Marx tidak anti-spiritual atau mendukung keseragaman. Tujuannya justru membebaskan manusia dari belenggu ekonomi, memulihkan keutuhan manusia, dan menciptakan harmoni dengan sesama serta alam. Dalam bahasa sekuler, filsafat Marx adalah upaya radikal untuk mewujudkan individualisme sejati, sebuah cita-cita yang sudah lama berkembang sejak Renaisans dan Reformasi.

Orang-orang mengira Marx hanya peduli pada materi dan menindas kebebasan individu. Tapi ironinya, justru masyarakat kapitalis Baratlah yang terlihat begitu: orang-orang sibuk mengejar uang, kenyamanan, dan keamanan, hidup dalam aturan negara dan perusahaan besar, sehingga kehilangan individualitas. Akhirnya, kapitalisme abad ke-20 (kapitalisme modern) malah mirip dengan “sosialisme Marx” versi karikatur yang dulu sering dipakai untuk menyerang Marx. Meminjam istilah Marx, mereka adalah "manusia-manusia komoditas" yang tunduk pada mesin-mesin.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 21.

Yang lebih mengejutkan, banyak orang yang keras mengkritik “materialisme” Marx juga menolak sosialisme dengan alasan tidak realistis. Mereka menganggap manusia hanya mau bekerja kalau ada dorongan keuntungan materi. Padahal, alasan ini kontradiktif*: di satu sisi dipakai untuk menolak Marx, di sisi lain dipakai untuk membela kapitalisme sebagai sistem yang dianggap paling sesuai dengan “watak alami” manusia.

*Orang-orang yang mengkritik Marx sering bilang:

“Marx itu salah, masa manusia cuma dianggap mikirin materi.”

Tapi di saat yang sama, mereka juga bilang:

“Sosialisme nggak realistis, karena manusia cuma mau kerja kalau dapat keuntungan materi.”

Mereka menuduh Marx terlalu materialistis. Tapi sekaligus mereka percaya manusia memang didorong oleh materi, dan pakai alasan itu untuk bilang kapitalisme lebih cocok.

Padahal, pandangan itu keliru. Marx tidak menganggap keuntungan materi sebagai motif utama manusia. Tujuannya justru membebaskan manusia dari tekanan kebutuhan ekonomi, agar manusia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri. Fokus utama Marx adalah emansipasi manusia: mengatasi keterasingan, dan memulihkan kemampuan manusia untuk berhubungan penuh dengan sesama dan dengan alam.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 22.

Filsafat Marx sebenarnya bukan soal menuhankan materi, tapi justru menekankan pembebasan dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat spiritual (eksistensialisme spiritual), hanya saja disampaikan dengan bahasa sekuler (tidak memakai istilah agama). Tujuan Marx adalah sosialisme, tapi sosialisme yang berangkat dari pandangannya tentang hakikat manusia. Karena itu, sosialisme Marx bisa dilihat seperti semacam ajaran “penyelamatan” manusia (mesianisme), tapi dalam gaya pemikiran abad ke-19, bukan dalam bahasa agama (mesianisme profetik versi abad ke-19.).

Lalu kenapa filsafat Marx bisa disalahpahami sampai terbalik?

Alasan utamanya adalah ketidaktahuan. Filsafat Marx jarang diajarkan di universitas, sehingga orang merasa bebas berbicara tentang Marx tanpa benar-benar mempelajarinya. Akibatnya, banyak orang bicara atau menulis soal Marx tanpa membaca karyanya dengan cukup untuk memahami pemikiran yang sebenarnya rumit dan mendalam.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 23.

Economic and Philosophical Manuscripts adalah karya penting Marx tentang manusia, alienasi, dan emansipasi. Sayangnya, buku ini lama tidak diterjemahkan ke bahasa Inggris, sehingga banyak gagasan Marx tidak dikenal di dunia berbahasa Inggris. Ini memang jadi salah satu penyebab ketidaktahuan tentang Marx, tapi bukan satu-satunya. Sebab, dalam karya Marx lain yang sudah beredar dalam bahasa Inggris pun sebenarnya sudah cukup jelas untuk mencegah kesalahpahaman.

Alasan lain adalah propaganda Uni Soviet. Mereka mengklaim teori dan praktik mereka sesuai dengan Marx, padahal tidak. Namun, Barat terlanjur menerima klaim itu, sehingga Marx dianggap identik dengan komunisme ala Soviet. Kesalahan memahami Marx juga tidak hanya datang dari Soviet. Para anti-komunis dan sosialis reformis pun sering menuduh Marx hanya mementingkan materialisme dan kesenangan duniawi.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 24.

Teori Marx sebenarnya mengkritik kapitalisme. Tapi banyak pengikutnya justru masih dipengaruhi cara pikir kapitalis, sehingga menafsirkan Marx hanya dalam kerangka ekonomi dan materi. Komunis Soviet, misalnya, mengaku melawan kapitalisme, tapi sebenarnya mereka membangun sosialisme dengan semangat kapitalis juga. Bagi mereka, sosialisme hanyalah kapitalisme versi lain, bedanya kelas pekerja diberi posisi lebih tinggi. Engels pernah menyindir hal ini dengan ucapan ironis: "Masyarakat hari ini tanpa kekurangan."*

*Ada orang yang menganggap sosialisme itu hanya kapitalisme versi pekerja dapat bagian lebih banyak. Jadi, sistem dasarnya masih sama dengan kapitalisme, cuma pekerjanya yang dinaikkan statusnya.

Menurut Engels, pemikiran seperti itu salah besar dan dangkal. Sosialisme bukan sekadar kapitalisme yang “diperbaiki”, tapi harus jadi sistem baru yang benar-benar berbeda secara manusiawi.

Engels menyindir dengan kalimat: “Masyarakat hari ini tanpa kekurangan.” Artinya: kalau definisi sosialisme cuma begitu, ya masyarakat sekarang juga bisa disebut sudah adil dan sejahtera. Padahal jelas masih banyak masalah dan penderitaan. “Kalau cuma begitu caranya, ya ngapain repot-repot bikin sosialisme? Kapitalisme sekarang juga bisa dibilang sudah sempurna.”

Selain alasan rasional tadi, ada juga faktor emosional yang bikin pemikiran Marx diselewengkan. Uni Soviet sering dianggap sebagai lambang kejahatan, sehingga ajaran mereka langsung dicap jahat tanpa penelitian objektif. Contohnya, setelah Perang Dunia I, bangsa Jerman pun dianggap iblis, sampai musik Mozart ikut dicap buruk. Sama halnya dengan komunisme Soviet yang diperlakukan begitu.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 25.

Kebencian ini biasanya dijustifikasi dengan teror Stalin, tapi alasan itu bisa diragukan. Faktanya, kekejaman lain di dunia—seperti oleh Prancis di Aljazair, Trujillo di Santo Domingo, atau Franco di Spanyol—tidak menimbulkan kemarahan moral sebesar yang diarahkan ke Uni Soviet.

Orang sering bilang mereka benci Uni Soviet karena alasan moral, misalnya karena teror kejam Stalin. Tapi ketika sistem berubah di zaman Khrushchev (yang meski tetap keras, tapi lebih baik dari Stalin), kebencian itu tidak berkurang. Ini menimbulkan kecurigaan: jangan-jangan alasan kebencian itu bukan benar-benar soal moral dan kemanusiaan, tapi lebih karena Uni Soviet menolak sistem kepemilikan pribadi—yang mana penolakan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang mengancam oleh negara-negara kapitalis.

Kesalahpahaman tentang filsafat Marx tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Ada banyak faktor, dan tiap faktor mungkin pengaruhnya berbeda-beda tergantung siapa yang menafsirkan—entah individu, kelompok, atau aliran politik. Jadi, tidak ada satu alasan tunggal yang bisa dibilang sebagai penyebab utama.

Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 26.


Daftar Isi:

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search