Buku ini tebal karena berisi terjemahan bahasa Inggris karya filsafat utama Karl Marx yang pertama kali dipublikasikan di Amerika Serikat. Publikasi ini sangat penting untuk memperkenalkan karya besar filsafat post-Hegel kepada publik AS, yang sebelumnya tidak dikenal di negara-negara berbahasa Inggris. Seperti banyak pemikiran eksistensialis, filsafat Marx memprotes alienasi manusia¹, di mana manusia kehilangan dirinya dan berubah menjadi barang. Filsafat Marx adalah gerakan melawan dehumanisasi dan otomatisasi manusia, yang pasti terkandung dalam industrialisasi Barat.
¹ Alienasi manusia adalah kondisi di mana individu merasa terpisah atau terasing dari dirinya sendiri, pekerjaannya, masyarakat, atau esensi kemanusiaannya. Dalam konteks filsafat Marx, alienasi terjadi ketika manusia kehilangan kendali atas hasil kerjanya dan hubungan sosialnya, yang menyebabkan perasaan keterasingan dan kehilangan makna dalam kehidupan.
Identitas Buku
- Judul Buku: Gagasan tentang Manusia "Marx's Concept of Man"
- Pengarang: Erich Fromm
- Penerbit: IRCiSoD, Yogyakarta
- Tanggal Terbit: Juni 2020
- ISBN: 978-623-7378-51-8
- Tebal Halaman: 426
- Lebar: 20 cm
- Panjang: 14 cm
Diterjemahkan dari Marx's Concept of Man
Terbitan New York: Frederick Ungar Publishing Co., 1961
GAGASAN TENTANG MANUSIA
oleh Erich Fromm
Diterjemahkan oleh Stephanus Aswar Herwinarko
Editor oleh Muhammad Ali Fakih
Tata Sampul oleh Alfin Rizal
Tata Isi oleh ieka
Pracetak oleh Antini, Dwi, Wardi
Cetakan Pertama, Juni 2020
Daftar Isi "Gagasan tentang Manusia"
Pengantar Penulis (5)
Daftar Isi (13)
Bagian Pertama
Gagasan Marx tentang Manusia
Dipalsukannya Beberapa Konsep Marx (18)
Materialisme Historis yang Digagas Marx (28)
Persoalan Kesadaran, Struktur Sosial, dan Penggunaan Kekuasaan (44)
Watak Manusia (51)
Alienasi (80)
Gagasan Marx tentang Sosialisme (102)
Kesinambungan dalam Pemikiran Marx (119)
Marx, Sang Manusia (134)
Bagian Kedua
Manuskrip Ekonomi dan Filsafat
Catatan Penerjemah Inggris (142)
Pengantar untuk Manuskrip Ekonomi dan Filsafat (146)
Manuskrip Pertama (151)
- Kerja yang Teralienasi (152)
Manuskrip Kedua (177)
- Relasi Kepemilikan Pribadi (178)
Manuskrip Ketiga (191)
- Kepemilikan Pribadi dan Kerja (192)
- Kepemilikan Pribadi dan Komunisme (199)
- Kebutuhan, Produksi, dan Pembagian Kerja (223)
- Uang (256)
- Kritik atas Dialetika dan Filsafat Umum Hegel (266)
Bagian Ketiga
Dari dan tentang Marx
Dari Buku Ideologi Jerman (308)
Prakata untuk Sebuah Kontribusi bagi Kritik Ekonomi-Politik (337)
Dari Pengantar kepada Kritik atas Filsafat Hukum Hegel
Kritik atas Agama (341)
Kenangan Akan Marx (343)
Surat Jenny Marx kepada Joseph Weydemeyer (373)
Karl Marx: Beberapa Catatan Terpisah (381)
Pengakuan (393)
Penguburan Marx (395)
Tentang Karl Marx (401)
Daftar Pustaka (405)
Tentang Erich Fromm (409)
Indeks (411)
Pengantar Penulis
Filsafat Marx dengan tegas mengkritik semua "jawaban" atas masalah eksistensi manusia karena jawaban-jawaban itu cenderung mengabaikan atau menyembunyikan dikotomi (perbedaan atau pertentangan) dalam kehidupan manusia. Filsafat ini, filsafat Marx, berakar pada tradisi humanis Barat, yang dimulai sejak zaman Spinoza, filsuf Pencerahan Prancis dan Jerman abad ke-18, hingga masa Goethe dan Hegel. Inti tradisi humanis ini adalah memperhatikan manusia dan merealisasikan potensi-potensinya.
Filsafat Marx dapat dipahami dengan jelas dalam bukunya, Economic and Philosophical Manuscripts. Filsafatnya membahas inti masalah eksistensi manusia sebagai realitas individu. Manusia adalah apa yang dilakukannya, dan identitas sejatinya terungkap dalam sejarah. Berbeda dengan Kierkegaard dan beberapa filsuf lain, Marx melihat manusia secara konkret dan utuh sebagai anggota masyarakat dan kelas, yang perkembangannya dibantu oleh masyarakat, tetapi juga terjebak oleh masyarakat itu sendiri. Bagi Marx, realisasi kemanusiaan dan pembebasan manusia dari kekuatan sosial yang mengekangnya bergantung pada pemahaman manusia terhadap kekuatan tersebut dan perubahan sosial yang didasarkan pada pemahaman itu.
Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia", Yogyakarta: IRCiSoD, 2020, hlm. 6.
Filsafat Marx adalah filsafat protes yang didasarkan pada kepercayaan terhadap kemampuan manusia untuk membebaskan diri dan mewujudkan potensinya. Kepercayaan ini adalah ciri khas pemikiran Marx dan juga pemikiran Barat dari Abad Pertengahan hingga abad ke-19. Namun, keyakinan terhadap manusia kini sudah langka. Bagi mereka yang sudah terpengaruh oleh semangat pasrah dan gagasan dosa asal dalam pemikiran Niebuhr dan Freud, filsafat Marx mungkin terdengar ketinggalan zaman, kuno, dan utopis, sehingga mereka menolak keyakinan terhadap potensi manusia. Sebaliknya, bagi beberapa pembaca lain, filsafat Marx bisa menjadi sumber pandangan yang tajam dan harapan baru.
Pandangan dan harapan baru ini melampaui batasan pemikiran positivis-mekanistis² saat ini. Pandangan dan harapan ini diperlukan agar Barat bisa bangkit dari tantangan abad ini. Pemikiran Barat dari abad ke-13 hingga abad ke-19, atau hingga Perang Dunia I tahun 1914, dipenuhi harapan. Harapan ini berakar pada pemikiran para nabi dan Yunani-Romawi. Namun, 40 tahun terakhir menunjukkan semakin besar pesimisme dan keputusasaan.
² Positivis-mekanistis adalah suatu pendekatan atau pandangan dalam ilmu sosial yang cenderung fokus pada aspek-aspek yang dapat diukur dan diamati secara empiris serta mekanistik. Pendekatan ini menekankan pada penggunaan metode ilmiah yang ketat, seperti dalam ilmu-ilmu alam, dan sering kali mengabaikan aspek-aspek subjektif, emosional, dan makna yang lebih mendalam dalam kehidupan manusia. Pendekatan ini melihat masyarakat dan fenomena sosial sebagai sistem yang dapat dianalisis dan diprediksi dengan aturan-aturan yang tetap, seperti mesin. Dengan kata lain, positivis-mekanistis adalah pemikiran ilmu sosial yang sempit.
Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 7.
Orang-orang sering mencari perlindungan (dan kepastian) dari ketidakpastian hidup dengan bergantung pada negara dan perusahaan besar. Mereka melarikan diri dari kebebasan yang tidak pasti menuju keamanan yang dianggap stabil. Namun, jika ketergantungan ini terus berlanjut tanpa adanya harapan atau perubahan, dalam jangka panjang, peradaban Barat akan menghadapi kehancuran baik secara fisik maupun spiritual.
Pemikiran Marx bisa menjadi sumber pandangan filosofis dan penawar terhadap kecenderungan pasrah dalam diri manusia. Selain itu, ada alasan penting mengapa buku ini harus diterbitkan di AS. Saat ini, dunia terbagi antara ideologi "marxisme" dan "kapitalisme". Di AS, "sosialisme" berkonotasi negatif, namun di negara lain seperti Uni Soviet, Tiongkok, serta banyak negara di Asia dan Afrika, sosialisme marxis sangat menarik dan bisa diterima.
Bagi negara-negara tertentu, sosialisme dan marxisme penting bukan hanya karena kesuksesan ekonomi yang dicapai oleh Uni Soviet dan Tiongkok. Lebih dari itu, ideologi-ideologi tersebut dianggap penting karena mengandung elemen-elemen spiritual seperti keadilan, kesetaraan, dan universalitas, yang berakar dari tradisi spiritual Barat. Namun, pada kenyataannya, Uni Soviet adalah negara yang menerapkan sistem kapitalisme konservatif dan tidak merealisasikan sosialisme seperti yang digagas oleh Marx. Sementara itu, Tiongkok adalah negara yang menolak pembebasan individu, padahal pembebasan individu adalah tujuan utama sosialisme. Meski demikian, kedua negara tersebut tetap menggunakan daya tarik marxisme untuk menarik minat negara-negara lain di Asia dan Afrika.
Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 8.
AS bereaksi dengan mendukung klaim Uni Soviet dan Tiongkok bahwa sistem mereka adalah "marxis". Maka dapat disimpulkan bahwa AS menyamakan marxisme dan sosialisme dengan kapitalisme konservatif Uni Soviet dan totalitarianisme Tiongkok. AS memaksa dunia untuk memilih antara "marxisme" dan "sosialisme" di satu pihak, melawan "kapitalisme" di pihak lain. Alternatif tersebut sering diartikan sebagai pilihan antara "perbudakan" melawan "kebebasan". Dengan demikian, AS memberikan dukungan kepada Uni Soviet dan komunis Tiongkok dalam persaingan untuk mempengaruhi pikiran manusia.
Perkembangan politik di negara-negara berkembang akan sangat penting untuk abad depan. Alternatif bagi negara-negara tersebut bukanlah antara kapitalisme dan sosialisme, tetapi antara sosialisme dan sosialisme-humanis marxis, seperti yang berkembang di Polandia, Yugoslavia, Mesir, Burma, Indonesia, dan lainnya. Barat memiliki banyak hal yang dapat ditawarkan untuk menentukan arah perkembangan negara-negara tersebut, bukan hanya dalam bentuk modal dan teknologi, tetapi juga dalam bentuk nilai-nilai humanisme Barat yang menjadi dasar dari sosialisme marxis.
Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 9.
Tradisi humanis menekankan kebebasan manusia dalam dua aspek, yakni: kebebasan dari segala bentuk penindasan atau batasan, dan kebebasan untuk mengembangkan potensi kemanusiaan. Tradisi humanis Barat juga menekankan pentingnya martabat dan persaudaraan antar manusia. Namun, untuk menyebarkan pengaruh tradisi humanis Barat dan memahami klaim Uni Soviet dan Tiongkok, kita perlu memahami pemikiran Marx dengan benar. Kita harus menghilangkan pandangan salah dan menyimpang tentang Marxisme yang banyak beredar di Amerika Serikat saat ini. Harapan Erich Fromm adalah bahwa buku ini dapat menjadi langkah awal menuju pemahaman yang benar tersebut.
Dalam pengantar ini, Erich Fromm mencoba menyajikan gagasan Marx tentang manusia dengan cara yang tidak rumit tetapi juga tidak sederhana, mengingat gaya pemikiran Marx yang sering kali sulit dipahami. Erich Fromm berharap pengantar ini membantu para pembaca memahami teks Marx secara utuh. Meskipun ia memiliki beberapa perbedaan pendapat dengan Marx terkait eksistensialisme humanis, sosiologi, dan ekonomi, namun tak ia tulis pada buku ini—karena telah ia tulis dalam karya-karyanya yang lain, misalnya "The Sane Society".
Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 10.
Erich Fromm tidak setuju dengan Marx karena Marx tidak menyadari bahwa kapitalisme bisa beradaptasi dengan sangat baik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi negara-negara industri. Marx juga tidak menyadari dengan jelas bahaya birokratisasi dan sentralisasi, serta tidak meramalkan bahwa sistem otoritarian bisa muncul sebagai alternatif dari sosialisme. Namun, karena buku ini membahas pemikiran filosofis dan historis Marx, maka Erich Fromn tidak akan membahas kontroversi teori ekonomi-politik Marx di sini.
Kritik terhadap Marx seharusnya berbeda dari pandangan fanatik atau merendahkan yang sering diungkapkan oleh orang-orang saat ini ketika mereka membicarakan tentang Marx. Jika kita benar-benar memahami pemikiran Marx yang sebenarnya dan bisa membedakannya dari pseudo-marxisme yang dipraktikkan oleh Uni Soviet dan Tiongkok, maka kita akan lebih mampu memahami realitas dunia saat ini dan siap menghadapi tantangannya dengan cara yang realistis dan konstruktif. Erich Fromm berharap buku ini membantu orang lebih memahami filsafat humanis Marx dan mengurangi sikap irasional yang melihat Marx dan sosialisme sebagai ancaman.
Economic and Philosophical Manuscripts memang menjadi bagian utama dari buku ini. Namun, Erich Fromm juga menyertakan beberapa bagian kecil dari tulisan-tulisan filsafat Marx untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap. Satu-satunya tambahan besar yang Erich Fromm masukkan adalah beberapa pernyataan tentang pribadi Marx, yang belum pernah dipublikasikan di AS. Erich Fromm menambahkan bagian itu karena banyak penulis telah menggambarkan Marx sebagai penjahat. Erich Fromm yakin, gambaran yang lebih nyata tentang Marx sebagai manusia dapat membantu menghilangkan prasangka buruk terhadap gagasan-gagasannya.³
Erich Fromm
³ Contoh kasar dari hal ini adalah publikasi pamflet karya Marx yang baru-baru ini diterbitkan di Amerika dengan judul yang salah, The World without Jews. Judul asli pamflet itu adalah On the Jewish Problem. Judul yang salah ini membuat orang mengira bahwa Marx mendukung klaim anti-Semitisme Nazi dan Uni Soviet. Padahal, siapa pun yang membaca karya Marx dan memahami filosofi serta gaya penulisannya akan menyadari bahwa klaim tersebut adalah salah dan tidak berdasar. Judul tersebut salah mengartikan beberapa pandangan kritis Marx tentang orang Yahudi, yang sebenarnya adalah bagian dari esai polemik mengenai emansipasi borjuis.
Erich Fromm, "Gagasan tentang Manusia..., hlm. 11-12.






0 komentar:
Posting Komentar