Sekumpulan buku-buku ternama.

Pengikut

____

Sabtu, 14 Maret 2026

Buku: Yohanes Theo "Filosofi untuk Hidup yang Layak ala Stoa" - Part 2: Tindakan yang Layak (Kathëkonta)

Buku: Yohanes Theo - "Filosofi untuk Hidup yang Layak ala Stoa"

Kaum Stoik menekankan bahwa yang paling penting bukanlah hasil, tapi intensi (niat utama) kita dalam bertindak. Yang dinilai adalah niat yang lurus, sesuatu yang ada di dalam jiwa kita, bukan hasil luar seperti kaya atau miskin, sehat atau sakit.

Antipater dari Tarsus—seorang Stoik—memberi perumpamaan seorang pemanah. Pemanah dianggap berhasil bukan ketika anak panah tepat mengenai sasaran, karena itu dipengaruhi banyak hal di luar kendalinya, seperti angin, sasaran yang bergerak, atau gangguan dari luar. Keberhasilan itu diukur dari apakah ia sudah berlatih dengan tekun, menyiapkan peralatan, mengatur posisi, dan memperhitungkan arah angin. Kalau semua itu sudah ia lakukan, maka ia sudah berhasil, meski pun panahnya meleset.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup yang Layak ala Stoa", (Yogyakarta: Cantrik Pustaka: 2023), Cetakan Pertama, hlm. xiii.

Misalnya saya ingin sukses dengan lulus tesis Magister nilai A. Menurut pandangan Stoik, sukses bukan ditentukan dari nilai A itu sendiri. Pertama, kita tidak boleh menghalalkan segala cara demi hasil. Pilihannya harus jelas: tetap pada kebaikan. Kedua, kalau saya sudah belajar tekun, mengerjakan tugas dengan rajin, dan melakukan semua yang bisa saya lakukan, maka saya sudah bisa disebut sukses, meski hasil akhirnya hanya nilai B.

Kenapa? Karena banyak faktor di luar kendali saya: mungkin saya sakit saat ujian, pengujinya terlalu ketat, atau ada pandemi yang membatasi diskusi. Kalau hasilnya B, saya tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Saya tetap bisa merasa sukses dan bahagia, karena saya sudah melakukan semua usaha terbaik.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xiv.

Menurut Epiktetos, kebahagiaan (ataraxia) hanya bisa dicapai lewat hal-hal yang benar-benar bisa kita kendalikan, yaitu jiwa kita: cara kita berpikir, menilai, menginginkan, atau menolak sesuatu. Hal-hal di luar jiwa—seperti tubuh, harta, hidup dan mati—tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita, jadi tidak boleh dijadikan dasar kebahagiaan.

Karena itu, Epiktetos membagi dua kategori:

  1. Yang tergantung pada kita: pikiran, keinginan, penilaian kita sendiri.
  2. Yang tidak tergantung pada kita: semua yang di luar diri kita, seperti peristiwa dunia, badan, kelahiran, dan kematian.

Apakah ini berarti kita harus cuek pada dunia nyata? Tidak. Cara kita hidup—apakah tenang atau penuh amarah—itu nyata dan berdampak pada dunia.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xv.

Epiktetos memberi perumpamaan pemanah: seorang Stoik tetap berusaha keras, berlatih, dan memakai cara terbaik agar panahnya mengenai sasaran. Tapi ia sadar, hasil akhir bukan sepenuhnya kuasanya. Jadi ia tidak membiarkan kegagalan membuatnya stres. Justru dengan sikap itu ia membuktikan dirinya bebas.


Apa yang Baru dari Buku Ini?

Dalam Filosofi untuk Hidup yang Layak Ala Stoa, Yohanes Theo menjelaskan istilah Stoik yang rumit: kathëkonta (tindakan yang layak).

Selama ini kita mengenal dua hal utama dalam Stoikisme: apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak (disebut dikotomi kendali oleh Henry Manampiring dalam Filosofi Teras). Buku ini menambahkan hal ketiga, yaitu kathëkonta. Contohnya: meski orang tua dan saudara termasuk hal yang “tidak tergantung pada kita”, mereka tetap layak dicintai dan dihormati. Begitu juga dengan tugas negara, kesejahteraan rakyat (seperti yang dilakukan Marcus Aurelius), kepedulian pada sesama, hingga menjaga lingkungan dan bumi. Semua itu adalah tindakan yang layak menurut Stoa.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xvi.

Lalu bagaimana mungkin ajaran Stoik yang terkesan individualis justru mendorong kita peduli pada hal-hal eksternal? Apakah itu tidak mengganggu tujuan ataraxia (hidup tenang tanpa masalah)? Buku Yohanes Theo memberi jawaban yang jelas dan mudah dipahami. Inilah sumbangan pentingnya: membantu kita memahami istilah kathëkonta dengan lebih sederhana.

Kata kathēkonta pernah diterjemahkan Cicero menjadi officium (Latin), lalu menjadi devoir (Prancis) dan duty (Inggris). Dalam bahasa Indonesia sulit dicari padanannya. Kata “kewajiban” tidak tepat, karena officium berarti tugas yang dijalankan dengan sadar demi kebaikan orang lain, baik di ranah pribadi maupun publik. Jadi, kathēkonta lebih tepat dipahami sebagai “tindakan yang layak dilakukan” karena memang itu tugas kita.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xvii.

Namun, makna aslinya dalam bahasa Yunani lebih dalam: kathēkonta berarti perilaku atau tindakan yang sesuai dengan kodrat alam. Kaum Stoa menghubungkannya dengan teori oikeiôsis, yaitu kecenderungan alami manusia untuk menganggap orang lain sebagai bagian dari dirinya. Karena itu, menghormati orang tua atau mencintai sesama dianggap wajar—manusia memang secara alami terdorong untuk bertindak manusiawi.

Oikeiôsis (apropriasi) adalah kecenderungan alami makhluk hidup untuk merasa cocok dengan sesuatu yang dianggap bagian dari dirinya. Misalnya, orang Indonesia di Prancis bisa menyamakan keju asing dengan tahu, karena ia mengaitkan hal baru dengan yang sudah familiar.

Sejak lahir, manusia dan hewan punya insting untuk membedakan mana yang sesuai dengan dirinya dan mana yang tidak. Bayi, misalnya, akan memilih hal yang mendukung hidupnya dan menolak yang membahayakan. Inilah bentuk cinta diri yang menjaga kelangsungan hidup. Anak ayam pun tahu secara naluriah memilih makanan yang cocok untuknya.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xviii.

Saat dewasa, insting ini meluas: induk ayam atau manusia akan melindungi anaknya karena sadar kelangsungan dirinya bergantung pada keturunan. Bedanya, manusia dengan akalnya (logos) juga paham bahwa hidupnya terikat dengan orang lain di komunitas maupun seluruh kosmos.

Kaum Stoa membagi perkembangan oikeiôsis (kecenderungan alami) dalam beberapa tahap:

  1. Cinta diri: naluri untuk menjaga dan memelihara diri (oikeiôsis pros heauton).
  2. Memilah hal yang sesuai kodratnya: memilih apa yang cocok dengan dirinya.
  3. Cinta pada keluarga dan sesama manusia: solidaritas kemanusiaan (philanthropia).
  4. Cinta pada keutamaan: menyadari bahwa kebaikan adalah hal paling layak bagi manusia.
  5. Tingkat tertinggi: pemahaman mendalam atas tahap-tahap sebelumnya: memilih hal yang sesuai kodrat bisa dilakukan atau tidak, cinta keluarga bisa diperluas menjadi cinta pada seluruh umat manusia. Pada titik ini tercapai simpati universal (homologia atau commendatio).
Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xix.

Buku baru karya Yohanes Theo menambah wawasan tentang Stoikisme di Indonesia. Buku ini lahir dari studinya selama empat tahun di Program Magister STF Driyarkara (2017–2021). Kehadirannya patut disambut gembira karena memperkaya khazanah filsafat di tanah air.


Jakarta, 24 Januari 2022

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. xx.


Prakata Penulis
Yohanes Theo

Stoikisme kini kembali populer dan menarik perhatian dunia. Ajarannya dipraktikkan mulai dari masyarakat kota besar hingga para petinggi Google, Apple, dan perusahaan besar lainnya. Menurut laporan New York Times, sebagian dari mereka menjalani latihan tidak biasa: duduk di kursi tak nyaman, berhari-hari bermeditasi, menahan lapar, atau mandi air dingin. Semua itu dilakukan untuk melatih diri agar tidak mudah terganggu oleh hal-hal eksternal (apatheia). Lama-lama, praktik ini menjadi gaya hidup, sebagai cara agar mereka tetap waspada dan mau berefleksi di tengah rutinitas yang menuntut.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. 1.

Stoikisme diminati bukan sekadar karena tren, melainkan karena ajarannya membantu menerima kematian sebagai sesuatu di luar kendali kita. Hidup ini hanya “pinjaman” yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Pesannya jelas: jalani hidup dengan sungguh-sungguh dan sayangi orang-orang terdekat selagi ada. Meski begitu, mempraktikkannya tetap tidak mudah, apalagi saat benar-benar kehilangan orang yang dicintai.

Saya tak pernah membayangkan buku ini akhirnya bisa terwujud. Rasanya lega, dan terutama bersyukur atas proses jatuh bangun belajar, kesepian, hingga berbeda dari orang lain di hari libur demi mengenal diri lebih baik. Rasa terima kasih ini akan sempurna bila saya sampaikan kepada semua yang telah memungkinkan tulisan ini lahir.

Kepada Cucun dan Yani Sugiarto—orang tua saya yang selalu berusaha agar anaknya bisa sekolah setinggi mungkin, meski pendidikan mereka berhenti di SMP. Mama memang sudah tiada, tapi tetap hidup di hati saya. Dari teladan kesabaran dan keuletan merekalah saya mendapat kekuatan untuk menyelesaikan karya tulis ini.

Saya ingin berterima kasih kepada Ari Novita Sari atas kesetiaannya mendampingi saya menyelesaikan studi ini, dengan waktu, tenaga, pikiran, bahkan dana. Ia juga sabar membaca setiap bab tulisan ini dan memberi masukan berharga, meski harus menunda banyak kepentingannya sendiri.

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. 2.

Terima kasih juga kepada semua guru saya sejak TK hingga Perguruan Tinggi, terutama Dr. Agustinus Setyo Wibowo, S.J. Pertanyaan-pertanyaan tajam beliau memaksa saya membaca ulang, merenung, bahkan merevisi sebagian besar tulisan ini. Berkat kritik, saran, dan kesabarannya, karya ini bisa berbentuk seperti sekarang. Saya juga berterima kasih atas waktu beliau yang berharga, pinjaman buku-buku, serta pengantar untuk buku ini.

Ucapan terima kasih terakhir saya sampaikan kepada Cantrik Pustaka yang dengan tangan terbuka menerbitkan karya filsafat pertama saya. Banyak orang lain yang juga berjasa, meski tak bisa saya sebut satu per satu. Apa pun yang masih kurang dalam tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Perhatian, bantuan, dan kasih sayang yang saya terima sungguh besar, dan saya sangat bersyukur. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang lain.


Jakarta, Januari 2022

Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. 3.


Glosarium

Istilah-istilah berikut hanya yang berhubungan dengan tema tulisan ini. Daftar lengkap istilah filsafat Yunani bisa dilihat pada karya J. O. Urmson, The Greek Philosophical Vocabulary (London: Duckworth, 1990).

  1. Apropriasi, pemeliharaan diri, kasih (oikeiosis) adalah dorongan dasar semua makhluk hidup untuk memelihara hidupnya.
  2. Emosi (pathos) adalah gangguan pada jiwa karena penilaian yang keliru.
  3. Emosi baik (cupatheia) adalah emosi rasional yang didasari oleh penilaian yang tepat. Emosi-emosi itu adalah rasa gembira, sikap teguh berpengharapan dan waspada.
  4. Indifferent (adiaphoron) adalah kategori hal-hal eksternal yang tidak baik dan tidak buruk.
  5. Layak diminati (proegmenon) adalah subkategori indifferent yang diminati, meskipun kebaikannya terbatas.
  6. Keutamaan (arete) adalah disposisi batin yang sempurna, hanya keutamaan yang baik.
  7. Kewajiban (officium) adalah tindakan layak yang wajib dilakukan oleh peran tertentu.
  8. Kosmopolis (kosmos-polites) adalah Semua umat manusia adalah warga dari satu rumah yang sama, alam semesta.
  9. Nilai (azia) adalah ciri dari hal-hal yang layak diminati seperti kesehatan, kekayaan, reputasi, meskipun kebaikannya terbatas.
  10. Representasi melekat, representasi komprehensif (phantasia katalēptikë) adalah representasi yang muncul dari objek itu sendiri.
  11. Tidak layak diminati (apoproëgmenon) adalah subkategori indifferent yang dihindari, meskipun keburukannya terbatas.
  12. Tindakan yang benar (katorthoma) adalah tindakan layak yang sempurna. Berasal dari disposisi batin yang utama.
  13. Tindakan yang layak (kathëkon) adalah tindakan alami bagi individu yang mematuhi prinsip masuk akal, selaras dengan alam, dan layak diminati.
  14. Yang Berguna (utile) adalah hal-hal eksternal yang membawa manfaat.
  15. Yang Utama (honestum) adalah manusia utama (sehingga karenanya ia terhormat).
Yohanes Theo, "Filosofi untuk Hidup...", hlm. v-vi.


Daftar Isi:

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Histats

New Post

Dr. H. Supardin, M.H.I. - Penggolongan Ahli Waris Part 2

Penggolongan ahli waris yang diutarakan pada tulisan ini bersumber dari buku yang berjudul "Fikih Mawaris & Hukum Kewarisan (St...

Search